
Disebuah ruangan, dengan diameter ukuran 5x6, seorang pria tengah mengusap kepalanya kasar sambil menghela nafas dari waktu ke waktu. Bermodalkan komputer yang sejak tadi ia perhatikan dengan seksama, jemarinya berkutat cepat menari diatas keyboard hingga menimbulkan suara ketukan yang memenuhi ruangan.
Apa ada yang masih ingat dengan Banu? Orang yang dikunjungi oleh Keyra ketika pulang dari makam itu?, kalau sudah mengingatnya biar diperjelas lagi, saat ini orang itu tengah berada dalam suasana hati yang kacau. Mengapa? Karena satu dan lain hal, informasi yang ia jaga selama belasan tahun ini ternyata sudah dicuri oleh seseorang. Mulanya ia bisa mengatasi hal tersebut, tapi tidak lama setelahnya 1 jam kemudian datang serangan mendadak, kemampuannya lebih hebat dari terakhir kali, bahkan Banu sampai kewalahan dan berakhir dengan kecolongan data. Mana yang dicurinya hampir semua lagi. Dirinya kalut dan mengerang keras, tidak menyangka kalau wasiat yang dititipkan padanya akan gagal Banu jaga.
“ Kak... maafin aku yang gak bisa jaga data ini, sekarang... mereka pasti udah mulai bergerak “. Gumamnya dengan helaan nafas.
***
“ Jadi... informasi itu semuanya benar? “.
“ Iya, tuan. Terlebih anak bungsunya telah melakukan tes DNA terhadap anak dan orang itu, bila perlu saya akan kirimkan file nya supaya lebih jelas “. Susul suara seorang pria yang berada di sebrang telepon.
“ Kalau gitu siapkan rencana, saya sudah muak dengan wajah si tua bangka yang bawel itu, setelah melihat kebenarannya pasti dia bakal nangis keras “.
“ Baik tuan. Oh, ada satu hal lagi... bagaimana dengan... “.
“ Tak perlu dilayani, setelah semua ini selesai kita berantas orang itu. Paham? “.
“ Baik, tuan... kalau gitu saya permisi “.
Tut...
Sambungan telepon pun berakhir, membuat pria yang sebelumnya berbicara dengan orang di seberang telepon pun mengulas senyuman. Sorot matanya menampilkan wajah puas, senang dengan kabar yang ia dapat dari asistennya itu, hingga beberapa menit kemudian, lengkungan mulutnya kian mengendur kala seorang pria yang seumuran dengannya datang dengan senyum tipis, namun matanya tidak demikian.
“ Ho... gimana tadi rencananya, udah siap?... Cakra... “.
Deg
Degup jantungnya menjadi cepat, orang yang diketahui sebagai Cakra itu terkejut karena tidak menyadari bahwa ada seseorang dibelakangnya, padahal saat memeriksa keadaan tadi dirinya sudah memastikan tidak ada seorang pun yang berada disekitar.
‘ Gawat!, kenapa si Faren ada disini? apa… dia denger semuanya dari awal? ‘. Batin Cakra, melihat Faren yang merupakan salah satu teman Noland, lalu apakah pria itu merupakan temannya? Entahlah, yang pasti… Cakra membencinya.
“ Disaat yang lain udah kumpul sesuai instruksi, kenapa kamu malah masih di kantor sendirian, Cakra? Terlebih diam-diam menelpon orang di tempat sepi kayak gini… kayaknya kejadian 16 tahun yang lalu bakal kejadian lagi “. Ucap Faren.
“ Apa maksud kamu? “.
“ Maksud saya? Ya sudah jelas lah, kalau gak salah nebak, seseorang yang dulunya musuh kayak kamu mana bisa jadi temannya Noland ".
Cakra terdiam, dengan tatapan sedang namun tajam, matanya menatap lurus wajah Faren yang kini tersenyum kearahnya. Sebelumnya ia sempat menegang, apakah Faren mengetahui apa yang direncanakannya, tapi setelah mendengar apa yang diucapkan pria paruh baya itu, sepertinya Cakra dapat menghela nafas lega.
Tidak menanggapi lebih lanjut, Cakra melangkahkan kaki meninggalkan Faren yang nampak menggerutu, dari posisinya ia bisa mendengar kalau pria itu mengoceh untuk menyuruhnya berhenti, tapi bukannya berbalik dirinya malah mempercepat langkah meninggalkan Faren yang sekarang nampak kesal.
“ Sial!, rencana apa yang pria tua itu buat? “. Gumam Faren.
Bersamaan dengan perginya Cakra meninggalkan Faren sendirian, ganti posisi dari kantor tempat keberadaan Cakra dan Faren, lokasi kini berpindah menuju mansion keluarga Elrahma. Tepatnya ada di ruangan kerja perpustakaan, selain Erlang, Juan dan para istrinya, cucu keluarga Elrahma semuanya tengah berkumpul, terkecuali Una dan Keyra yang memang tengah tidur di ruang tengah. Satu lagi, disana mereka tidak melihat keberadaan Cilla, karena menurut informasi, wanita itu tengah berada di rumah sakit sedang melakukan sesuatu yang penting. Lalu mohon maaf karena ada yang terlewat, ternyata disana juga ada dua orang tambahan yang merupakan tamu undangan Noland, mereka tidak lain dan tidak bukan berasal dari keluarga Arkan, yaitu Dharma dan Yuli.
“ Ayah… ada apa ini? Kenapa semua orang di suruh kumpul? “. Tanya Devina, ketika semua orang sudah duduk di kursi masing-masing.
“ Sebenernya kita mau ngasih tau satu hal. Dan ini… mungkin bakalan bikin kalian kaget, karena awalnya ayah juga gak percaya “. Ucap Noland selaku orang yang memimpin pertemuan ini.
“ Memangnya kalian mau ngasih tau hal apa?, dan kenapa banyak banget berkas yang berserakan gini? “. Kali ini Veriska yang berbicara, membuat Reza dan Alfa mengambil salah satu kertas untuk dilihat, sekilas isi dari file itu hanyalah sebuah biodata diri seseorang beserta fotonya, namun yang menarik perhatiannya ternyata orang yang tercantum disana adalah… Keyra?.
“ Ini si Keyra? kenapa biodatanya ada di sini? “. Ucap Alfa, membuat orang disekelilingnya menoleh.
“ kenapa sama si Keyra, Al? “ Tanya Veriska.
“ Semua yang tertulis di kertas ini isinya tentang Keyra semua, Bun… dari tanggal lahir, alamat, latar belakang pendidikan, terus__...! “.
Alfa mematung, tidak melanjutkan ucapannya, pemuda itu malah terfokus penuh pada kertas yang dipegangnya dengan mata yang bergerak cepat seiring membacanya ia dalam pikiran. Hingga beberapa menit kemudian, sempat membuat Veriska dan yang lainnya bingung menunggu reaksi pemuda itu, Alfa kembali mengangkat pandangan bersamaan dengan Reza yang juga terkejut usai ikut membaca kertas tadi.
“ Opa… ini… beneran? “. Tanya Alfa dan dijawab anggukan oleh Noland.
__ADS_1
“ Hey… kamu kenapa Al?, terus apa yang kalian bahas? “.
“ Baik… mungkin biar ayah jelasin, tapi sebelum itu… apa Dharma sama Yuli mau menambahkan? “. Tanya Noland.
“ Mungkin setelah ini saya bakal ngomong sedikit, tapi untuk sekarang biar kepala keluarga Elrahma saja yang berbicara “. Ucap Dharma membuat semua orang terfokus pada Noland.
“ Baik… kalau gitu biar saya jelaskan “.
“ Pembahasan kali ini… kita berpusat sama seseorang, yaitu Keyra. Seperti yang kita tahu, dia itu merupakan anak yang ditinggal meninggal oleh nenek dan adiknya, tapi masih punya ayah dan ibu sambung dengan tempat tinggal yang berbeda, mungkin kalau dihitung… dia sudah setengah tahun tinggal di rumah keluarga Elrahma ini. Tapi satu hal yang perlu diketahui, ternyata masa lalu pemuda itu gak sesederhana yang kita kira “. Ucap Noland menjelaskan.
“ Memang apa yang membuat latar bekalang Keyra tidak sederhana? “ Tanya Devina.
“ Orang tuanya, kalian pasti inget kejadian waktu Heni datang ke acara syukuran Gino, Ika bilang kalau dia mirip sama almarhum ibunya Keyra, dari situ Dharma curiga dan melakukan pencarian, lalu hasilnya… ternyata benar, ibu Keyra adalah kembaran dari Heni, Hera Putri Arkan, anak perempuan yang dulu kawin lari dengan ayahnya Keyra “.
Noland kembali menjelaskan tentang seputar masa lalu Keyra yang sudah maupun belum mereka ketahui. Dari mulai bagaimana kehidupan yang pemuda itu jalani setelah ibunya meninggal, keadaan dimana dirinya yang harus banting tulang mencari nafkah diusianya yang masih belia, serta harus terpukul oleh kenyataan tentang kepergian adik dan nenek dari ayahnya, itu dia ceritakan dengan hati yang berdenyut sakit, ikut merasa tersiksa dengan cobaan besar yang menimpa Keyra, kalau dipikir-pikir sekuat apa hati pemuda itu sampai dirinya masih bertahan sampai sekarang?.
“ Dari situ Azka mulai ngerti, pantes aja nama Keyra ada unsur ‘Arkan’ di belakangnya… mungkin aja almarhum masih mencantumkan marga dari Opa Dharma “. Ujar Razka.
“ Kalau boleh tau… nama lengkap Keyra siapa, Ka? “. Tanya Yuli, suaranya terdengar agak bergetar.
“ Keyraldo Zeiran, Anjelody Arkan “. Jawab putra sulung Juan dengan melihat nama Keyra yang tertera di atas kertas, perlu melihat lebih dari satu kali untuk menghafal nama panjang anak itu.
“ Hah… baiklah, mungkin informasi ini adalah hal yang cukup besar buat kita. Maka dari itu, setelah ini saya akan memberitahu langsung pada Keyra perihal apa yang dibahas, serta… mungkin setelahnya… disaat Keyra sudah menerima ini semua… saya dan istri saya sepakat untuk membawa Keyra pulang “.
Braak!!!
“ GAK BOLEH!!! “.
Semua yang ada disana terkejut, kala suara bantingan pintu yang keras memenuhi suara, atensi orang-orang yang ada disana teralihkan pada individu wanita yang tengah dalam kondisi terengah-engah. Hingga baru menyadari kalau bukan dia seorang yang datang, terdapat satu remaja yang menyusul membuat mata mereka membola. Dan ya, sesuai perkiraan bahwa mereka berdua adalah Una dan Keyra.
“ Opa gak boleh bawa bang Kekey kemana-mana, kenapa segala ngomong pengen bawa pulang bang Kekey? Kenapa gak izin sama Una dulu? “ Ucap gadis itu.
“ U, Una sayang… sini bentar nak, kamu gak boleh bilang gitu sama Opa, dan lagi… sejak kapan kamu sama Keyra ada disana? “. Ucap Devina
Mendengar ungkapan Una, semuanya menatap khawatir Keyra yang kini memasang wajah datar, meski informasi yang barusan akan diceritakan pada pemuda itu, namun jika diketahui tanpa disengaja seperti ini… kesannya mereka menjadi merasa bersalah terhadap Keyra.
“ Keyra… I, itu… kami mau__... “.
“ Gak papa, Tuan “.
Ucapan Dharma terpotong oleh Keyra, membuat pria paruh baya itu makin gelisah, Keyra malah mengulas senyum lembut yang ia biasa tampilkan sehari-hari. “ Saya udah ngedenger itu semua tuan, terlebih sebelumnya pernah dikasih tau sama Ayah, tapi saya gak nyangka kalau tuan itu ternyata ayahnya ibu saya “.
“ Jadi… apa kamu mau pulang, nak? “. Tanya Dharma, membahas hal tersebut untuk yang kedua kalinya, namun saat ini ditujukan pada orangnya langsung, membuat Veriska dan Erlang entah kenapa melirik tidak suka.
“ Om Dharma, kalau menurut Erlang ini terlalu mendadak deh, kenapa gak biarin Keyra tinggal disini aja? Dia mungkin aja bakal kesulitan hidup di tempat baru? “. Ucap Erlang.
“ Be, bener banget, om… aku setuju sama mas Erlang, kalau enggak… mending kita tunggu beberapa saat buat Keyra berfikir “. Susul Veriska.
“ Maaf, Erlang… Veri… tapi Om gak bisa, hal yang paling om sesali adalah gak bisa bawa pulang Hera ke rumah, dia sudah lama meninggal, tapi sebagai gantinya, mau bagaimana pun itu om harus tetep bawa Keyra pulang “. Tegas Dharma, dari nada bicaranya terdengar tidak ingin dibantah. Juan yang bersimpati pada sang kakak hanya bisa mengelus pelan punggung Erlang, tidak tahu kenapa pria disebelahnya terlihat enggan membiarkan Keyra pergi.
“ Jadi… bagaimana, Keyra? Tapi… meskipun tanpa izin pun saya akan tetep bawa kamu ke rumah “.
Noland meringis, menggerutu dalam hati tentang kebodohan temannya, bisa ia lihat bahwa sekarang Keyra tengah mengerutkan alis tak suka. Dharma ini kadang-kadang suka tidak bisa membaca situasi, kalau ingin membujuk harusnya membujuk dengan benar, bukan maen asal jeplak sesukanya.
“ Tuan… bisa kita lupain aja? “. Ucap Keyra.
“ Maksudnya? “.
“ Tolong jangan bersikap kayak gini, saya… minta tolong buat semuanya bersikap biasa saja, tutup mata kalian soal saya yang statusnya cucu tuan Dharma, karena jujur… perasaan saya agak berat “.
“ Ta, tapi kenapa? Kita ini orang tua ibu kamu, Keyra… otomatis nenek dan kakek kamu, nak “. Kali ini Yuli yang berbicara.
__ADS_1
“ Saya ngerti, nyonya__ “.
“ Panggil Oma dengan benar, Keyra “.
“ Iya, saya paham… kalian pasti sedih karena kehilangan anak yang paling kalian sayangi. Saya ngerti, kalian pasti seneng karena dibalik meninggalnya anak kalian masih ada buah hati yang dilahirkan oleh beliau, tapi… untuk saya yang menjadi anak dari putri kalian… ini semua… gak mudah “.
“ Jadi… saya mohon, bisakah kalian bersikap seolah semua ini gak pernah terjadi? Anggap aja saya seperti biasa, si body guard dari keluarga Elrahma? “. Lanjut Keyra.
Tidak menjawab, Dharma dan Yuli menatap sedih Keyra yang sekarang tengah tersenyum, sedikit banyaknya mereka paham kalau pemuda itu masihlah syok dengan kenyataan yang ia terima, namun disaat bersamaan mereka juga merindukan sosok Hera di diri Keyra, karena tanpa orang lain ketahui, kebiasaan dan perilakunya terlihat sama persis meski dengan wajah yang berbeda.
“ Maaf, Keyra… kamu harus tetap ikut kami pulang “.
Dharma berkata dengan tegas, membuat Keyra kembali menghela nafas, sementara Una yang berada di sebelah pemuda itu menangis tanpa suara, hal itu membuat Reza mendekat untuk menghiburnya. Disamping itu yang lainpun nampak kacau, Noland dan Razka melihat satu sama lain dengan akhiran gelengan kepala, Alfa malah menatap lekat kearah Keyra yang masih diam disana, sedangkan Devina kala itu tengah menenangkan Veriska yang terlihat ingin berkomentar, lalu untuk Erlang… pria itu hanya diam menatap kertas yang ada di depannya.
“ Saya menolak Keyra ikut Om Dharma “. Beberapa detik waktu berjalan, Erlang membuka suara hingga atensi semua orang teralih padanya. Terlebih perkataan yang ia ucapkan membuat semuanya terkejut.
“ Erlang, apa maksud kamu ngalangin om buat bawa Keyra pulang? “. Tanya Dharma.
“ Itu sudah jelas, Om. Ini semua perlu waktu buat Keyra menerimanya, saran saya masih sama, kenapa gak om tunggu dulu sampai Keyra siap? “.
“ Sepertinya kamu terlalu ikut campur sama urusan ini, Erlang “.
“ Tapi bagaimana kalau Keyra itu anak kandung saya? “.
Lagi dan lagi ruangan menjadi hening, terkejut kembali dengan apa yang terlontar dari mulut Erlang. Sepertinya hari ini terlalu banyak kejutan yang menimpa mereka semua, terlebih untuk Keyra, pemuda itu sampai menyipitkan mata kala lontaran kata yang dikeluarkan oleh Erlang sangatlah tidak nyambung dan masuk akal.
“ Erlang, kamu sudah kelewatan, maksudnya apa nyebut Keyra sebagai anak kandung kamu? “. Kali ini Noland berniat menghentikan aksi anaknya.
“ Enggak, Ayah… aku seriusan, meskipun aku belum bisa mastiin, tapi… Erlang yakin kalau Keyra anak kandung aku “.
“ Mas… becanda kamu berlebihan, aku tau kamu gak mau Keyra dibawa sama Om Dharma, tapi gak kayak gini caranya “. Ucap Veriska.
“ Aku gak becanda, Veri “.
“ Ayah… jangan buat situasi jadi rumit “. Ujar Alfa, nampak pemuda itu menatap ayahnya dengan tatapan memelas.
“ Jika kalian masih gak percaya… saya bisa jelasin rinci-rincinya kok “.
“ Memang apa yang buat kamu yakin kalau Keyra itu anak kamu, sudah jelas kan kalau Keyra sendiri ngaku bahwa ibunya itu adalah Hera, anak saya? Kenapa kamu malah seenak jidat mengaku seperti itu, Erlang? “. Kali ini Yuli yang berargumen.
“ Baik, yang pertama… yang membuat saya pertama kali curiga kalau Keyra anak saya itu dari warna matanya, semua anggota keluarga Elrahma pasti tau kalau Keyra punya mata yang sama kayak ibunda. Maka dari itu… Keyra, bisa kamu lepas lensa kontak itu dulu, nak? “. Ucap Erlang. Keyra sedikit ragu, pasalnya ia masih tidak percaya dengan perkataan Erlang, namun dirinya tetap mengikuti ucapan pria itu dan melepas softlens yang terpasang dimatanya.
“ Lihat!, om Dharma dan tante Yuli bisa lihat, kalian tau kan kalau ibunda punya warna mata yang berbeda? persis sama kayak Keyra. Terlebih… selain ini saya masih ada hal lain yang memperkuat kalau Keyra adalah anak kandung saya “.
“ Kejadian penyergapan tempo hari, disaat Keyra kehilangan banyak darah karena udah nyelamatin Alfa, kalian tau siapa yang donorin darahnya waktu itu?... jawabannya adalah saya sendiri, karena secara ‘kebetulan’ golongan darah Keyra dan saya itu sama “.
Erlang menambahkan, karena selain golongan darahnya yang jarang ditemui, tipe yang ia miliki tidak bisa menerima maupun memasok darah selain dari darah yang sejenis, tambahannya lagi, meskipun melirik hubungan darah di keluarga Elrahma, hanya ibunya saja yang memiliki golongan serupa dengan Erlang sebagai pemberi gen tersebut, bahkan Noland dan Alfa tidak memiliki golongan yang sama dengannya, tapi dengan Keyra? Ia bahkan dapat memberikan darahnya tanpa kesulitan, terlebih kesulitan itu dialami oleh Keyra yang tidak bisa menerima golongan darah selain dirinya.
“ Cuku Erlang, kamu bilang tadi belum bisa memastikannya kan?, jadi mungkin aja itu hanya kebetulan… selangka-langkanya darah kamu, satu diantara orang di bumi ini pasti punya golongan darah yang sama meskipun dari keturunan berbeda “. Ucap Noland.
“ Tapi, Ayah… “.
“ Sudah, jangan diteruskan lagi. Kita disini tidak untuk merebutkan Keyra… kasian dia, apa kalian tahu gimana perasaannya saat ini?, sudah pasti syok bukan? “. Tanyanya, sementara yang lain hanya diam melirik sejenak pada Keyra yang juga ikut diam.
“ Baik… mungkin pertemuan kali ini dicukupkan sampai disini, untuk perpindahan Keyra kita bahas dilain hari. Maka dari itu… saya akan menutup__... “.
“ Tunggu! “.
Ucapan Noland dipotong oleh sesorang, bukan oleh Erlang maupun Una yang tiba-tiba masuk sambil menggebrak pintu seperti tadi, orang yang satu ini datang dengan selembar map coklat ditangannya, terlebih masih dengan seragam putih dokter lengkap, dia adalah Cilla, anak bungsu dari kepala keluarga.
“ Ayah, tunggu dulu… aku mau ngasih tau satu hal, dan kak Erlang… aku udah bawa hasilnya “
__ADS_1
Bersambung