Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
31# Bertemu dengan Ika


__ADS_3

“ Hah? maksud lo apa Key? “.


Alfa bertanya, melihat dari raut wajah Keyra yang gelisah meski tak terlalu jelas, pemuda itu bingung dan heran kala mendengar ucapan dia yang sebelumnya, kenapa dia memanggil Una sebelum kepanikannya datang?, dan siapa ‘ibu’ yang Keyra sebut?, terlebih saat mendengar rengekan Keyra yang ingin meminta pulang sejak itu juga makin membuat Alfa penasaran.


Menyadari keributan yang tercipta, para orang tua pun menghampiri mereka. “ Waw... ada apa ini?, kayaknya ada hal serius yang kalian bahas “. Ucap Erlang yang pertama kali bicara dari kalangan orang tua.


“ Itu, Yah... Keyra tiba-tiba pengen minta pulang ke rumah sekarang “. Jawab Razka.


“ Hah?, kamu kenapa buru-buru?, luka kamu itu masih sangat-sangat rentan, terlebih kondisi kamu juga belum membaik, Keyra “. Ujar Veriska yang kini berdiri disamping Razka.


“ Saya udah baikan kok tante, terlebih kakek juga pasti sadar karena luka saya ini lebih cepat kering daripada orang lain, iya kan? “. Ucap Keyra melihat kearah pria baruh baya itu.


“ Kamu memang benar, tapi tetap aja... kamu gak boleh pulang sebelum sembuh total “.


“ Kakek... kali ini aja mohon ijinin saya pulang lebih awal, saya janji bakalan jaga kesehatan kok, mungkin sekitar 6-7 hari istirahat dirumah akan membaik, paling nanti bakal keluar sebentar karena ada sedikit__... Aakh! “. Pemuda itu meringis sampai membuat orang disekitarnya khawatir, mungkin karena banyak bicara setelah sekian lama diam, luka diperutnya kembali sakit seiring tarikan nafas yang Keyra lalukan.


“ Ok, ok... calm down boy, jangan dulu banyak bicara, luka kamu masih basah... “.


“ Ta, tapi Kek... “.


“ Saya bakal mempertimbangkan permintaan kamu, tapi satu hal sebagai syarat, kasih tau saya alasan kamu pengen pulang, gak mungkin kan kalau kamu tiba-tiba ngerengek sementara tadi diem-diem aja “.


Noland menatap Keyra lurus, meski dengan pandangan yang lembut, hal itu kini membuat Keyra bingung dan bimbang akan menceritakan hal yang sebenarnya atau tidak. Namun setelah beberapa saat berkutat dalam pikiran, Keyra pun memberitahu alasan dirinya yang ingin cepat pulang ke rumah.


Sebenarnya, tujuan Keyra ingin pulang itu hanyalah alasan ia untuk bisa keluar dari rumah sakit, apakah kalian ingat chat antar pemuda itu dengan Ika kemarin malam kala sebelum penyerangan?, dari situ mereka sudah janjian dan akan bertemu pada pukul 10 pagi, dan lihat jam yang ada didinding itu, jarum pendeknya sudah mengarah ke angka 9, otomatis waktu yang ia perlukan untuk bersiap sangatlah tipis.


“ Keyra, kami tau kamu mungkin udah kangen dan pengen ketemu sama bu Ika, tapi liat kondisi kamu son, kamu punya luka sayat dan tikaman di tangan dan perut, belum lagi Cilla bilang kalau tulang rusuk kamu sedikit retak, kalau kamu memaksakan diri waktu itu juga, bukannya membaik, badan kamu malah akan makin rusak “. Ucap Veriska panjang lebar.


“ Luka saya udah lumayan membaik, tante... “.


“ Kalau udah membaik, lo gak bakal meringis di setiap menitnya Key... gue liat dengan jelas, meskipun muka lo datar, tapi mata lo gak bisa boong “ Kali ini Alfa yang berbicara.


“ Bang Kekey... “. Una berucap sambil menatap abangnya penuh harap.


Keyra dibuat diam, meskipun yang lain hanya memperhatikan interaksi para orang yang berbicara tadi, mereka merasa kasihan pada pemuda itu yang tidak boleh keluar menemui ibunya, walaupun tidak menutup kemungkinan mereka juga memihak Alfa dan Veriska yang bersikap demikian demi kebaikan pemuda itu.


Suasana hening selama beberapa saat, ini kali pertama keluarga Elrahma melihat Keyra yang menunduk seperti anak kecil tengah dihakimi oleh orang tuanya, namun beda konsep, lain halnya merajuk, pemuda itu kini memasang ekspresi datar dengan tangan yang sengaja ia sembunyikan dibalik selimut. Segera setelahnya Noland, Erlang dan Juan menghela nafas secara bersamaan, dibalik itu Razka, Reza dan Alfa memilih untuk membawa Una keluar meski awalnya menolak, hingga ketika kepergian mereka berempat, di ruangan rawat Keyra ini hanya tersisa Noland dengan kedua anak dan menantu-menantunya.


“ Jadi, apa kamu masih belum berubah pikiran? “. Tanya Noland sekali lagi.


“ Ijinkan saya pulang lebih cepat kek, saya janji bakal jaga diri baik-baik “.


“ Sebenarnya boleh-boleh aja sih... “.


Ucapan kepala keluarga Elrahma memuat semua orang yang ada disana terkejut, pasalnya dia dengan mudah mengijinkan Keyra pulang ditengah kondisinya yang masih belum membaik, apalagi Veriska dan Erlang saat ini tengah menatap tak suka dengan keputusan pria tua itu.


“ Ayah... Keyra itu masih belum sembuh, masa maen ijinin dia keluar gitu aja? “ Protes Erlang.


“ Bener kata mas Erlang, Yah... diluar itu bahaya lho, gimana kalau nanti bakal ada orang yang nyerang Keyra lagi?, ditambah kondisinya yang lemah ini, Keyra bahkan belum bisa jaga dirinya sendiri “.


“ Tapi tante, saya__... “.

__ADS_1


“ Tolong Keyra, ini demi kebaikan kamu... “.


Keyra menggigit bibirnya, tak menyangka jika keluarga ini begitu protektif, pemuda itu sedikit gelisah dengan janji temunya dengan Ika yang kemungkinan akan dibatalkan. Selama ini, Keyra telah menunggu momen tersebut karena tahu kalau kedepannya ia tidak akan bisa bertemu Ika dalam waktu dekat, terlebih ia sudah sangat rindu dan ingin bertemu dengan ibu sambungnya itu.


Karena tak kunjung mendapat keputusan, sementara para orang tua disana malah berdebat meski tidak dengan menaikan suara, Keyra kesal dan mencopot nasal canula yang terpasang di hidungnya, tak hanya itu, pemuda itu juga menarik paksa infusan yang terpasang ditangan hingga berdarah dan beranjak dari duduknya.


“ Keyra!!! “.


Sontak para orang tua dibuat terkejut dan bergegas menahan Keyra yang berjalan cepat hendak mendekati pintu keluar. “ Keyra, what are you doing?, itu bahaya nak, lihat tangan kamu sampai berdarah kayak gitu “ Ucap Devina.


Keyra masih terdiam, membiarkan lengannya dicekal oleh Veriska dengan Juan yang mengambil tisu dan membersihkan darah diarea tangan, Noland dan Erlang yang berada dibelakang hanya melihat saja dengan tatapan khawatir.


“ Sebenarnya kamu mau apa sampai kayak gini Key, apa hal itu sangat penting?, kalau iya tolong kasih tau alasannya biar lebih jelas “.


“ Ini cuma masalah biasa Om, saya bahkan gak bakalan pulang sampai larut malam “.


“ Iya... mangkanya ayo cerita, kita butuh penjelasan dari kamu “.


Juan menginstruksi, hingga membuat pemuda didepannya menghela nafas dan mencoba untuk lebih tenang, sebelum menjelaskan tentang dirinya yang hendak bertemu dengan Ika, Keyra meminta maaf karena sudah membuat keributan di ruangan ini dengan nekat melepas infusan dan alat pernafasan. Dari situ alasan Keyra sangat ingin menemui Ika dikarenakan sudah pasti kedepannya ia tidak akan bisa selalu bertemu, kondisi Keyra yang sekarang mengharuskan pemuda itu istirahat selama 24 jam penuh, maka dari itu, selagi tubuh Keyra belum drop akibat efek samping dari tikaman pisau, anak itu akan menghabiskan waktunya dengan Ika meski hanya dengan mengobrol saja.


“ Kapan kamu buat janji sama ibu Ika itu? “. Tanya Noland.


“ Jam 10, dan sekarang udah jam 9, jadi saya mohon sekali lagi... saya mohon untuk izinin saya pulang buat beres-beres, saya gak mau luka saya ini ketahuan ibu “. Keyra membungkuk dengan susah payah, semua orang tua nampak kasihan sekaligus masih khawatir dengan keadaannya, dia bilang ingin menyembunyikan lukanya dari sang ibu, apakah ia bisa, terlebih cuaca hari ini cukup terik dan berbahaya bagi seorang pasien sepertinya. Hingga suasana mendadak hening sementara, Noland, Erlang, maupun Juan, Devina dan Veriska pun berakhir dengan mengangguk serempak.


“ Ok, ok... angkat badan kamu Key, jangan memaksakan diri “ Ucap Noland dan mengarahkan Keyra agar duduk di atas ranjang.


“ Kalau gitu kek, saya harus pulang sekarang, karena waktunya gak cukup... “.


Keyra menghela nafas lega dan setelahnya tersenyum lembut sebagai ucapan terimakasih pada Noland. Ia bersyukur karena si kakek itu adalah orang yang paling berpengaruh di keluarga ini, jadi meskipun terlihat jelas jika keempat orang lainnya kurang setuju dengan mengijinkan dia keluar, mereka tidak bisa dengan mudah mengubah keputusan Noland yang bisa dibilang mutlak.


***


Ditengah panas terik yang menyorot, langit biru dipukul 10 pagi ini sangatlah indah dan bersih, sedikitnya awan yang muncul membebaskan mentari untuk menyebarkan cahayanya yang terang ke permukaan bumi, ditambah semilir angin sepoy-sepoy yang menerpa kulit dengan sejuk, seseorang pasti akan mengira kalau hari ini adalah salah satu hari terindah di tahun ini.


Disamping membahas tentang cuaca yang indah, tengah duduk seorang wanita yang nampak ayu di kursi taman, letaknya ada dibawah pohon, dengan perut yang besar dan tengah bersandar penuh dibadan kursi, orang yang dibahas itu nyatanya adalah Ika, yaitu ibu sambung dari Keyra.


“ Hm... sekarang udah jam 10 lewat 20 menit, apa Aldo telat karena sibuk ya?, setahu aku dia orangnya on time banget “.


Ika bergumam, sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari kedatangan sang putra, wanita itu sudah menunggu selama 30 menit dari sejak ia sampai di tempat ini, awalnya ia menyangka kalau Keyra sudah ada disana sebelum dia, mengingat kepribadian sang anak yang selalu tepat waktu bahkan sel ter alu datang lebih awal jika sudah melakukan janji temu, Ika sedikit heran dikala Keyra sudah telat selama 20 menit dari waktu yang dijanjikan, lebih ia sudah menghubungi Keyra beberapa kali sebelumnya, namun ponselnya tidak aktif.


Tidak memikirkan hal itu lebih lanjut, Ika menikmati kegiatan menunggunya sambil melihat sekitar, diperhatikan nya seorang anak yang sedang bermain dengan sang ibu, Wanita itu tersenyum sambil kemudian mengelus perutnya yang buncit tengah mengandung, dilihat keseruan dari interaksi mereka, Ika sendiri cukup tidak sabar untuk segera melahirkan sang buah hati.


“ Ibu... “.


Ika menoleh, menatap seorang pemuda yang kini tersenyum lembut kearahnya, rupa dari wajahnya sangatlah tampan, dengan rambut yang hitam mengkilap dan pupil mata berwarna coklat terang, sudah dipastikan kalau pemuda itu adalah orang yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi, siapa lagi pemuda itu kalau bukan Keyra.


“ Halo nak?, ini jam berapa ya? “. Ucap Ika dengan senyum jahil berniat untuk menggoda Keyra.


“ Itu... maafin Aldo ya bu, tadi aku gak sempet ngabarin karena ada kerjaan “.


“ Hm... kerjaan atau kerjaan? “. Susul Ika lagi.

__ADS_1


Mengerti dengan maksud yang Ika utarakan, Keyra mendekat perlahan dan mulai memeluk ibu sambungnya yang bangkit dari duduk, mereka cukup lama dalam posisi tersebut, hingga satu menit kemudian Keyra dan Ika pun sama-sama duduk.


“ Kamu gimana kabarnya, sayang? Sehat-sehat aja kan? “. Tanya Ika sebagai orang yang membuka obrolan.


“ Alhamdulillah, bu... aku baik-baik aja, dan ibu gimana kabarnya? Si debay ini anteng-anteng aja kan? “.


“ Tenang aja, dia baki-baik aja... tapi kamu perasaan nanyanya tentang si debay mulu, enggak nanya tentang ibu nih? “.


“ Udah kok, malah Aldo nanya tentang kabar ibu duluan, tapi ibu malah jawab keadaan si debay dulu “.


“ Hm?, enggak deh perasaan... “.


“ Mau aku panggilin tukang CCTV di taman sini? “. Ucap Keyra dengan nada bercanda.


“ Haha, mana ada CCTV yang dipasang ditengah lapang?, gak ada kerjaan banget deh “.


“ Ada kok, tapi nanti... pas kita ketemu lagi biar Aldo suruh orang buat pasang “.


“ Fufu... kamu ini ya... “.


“ Kenapa?, Aldo ganteng ya bu “.


“ Hih, dasar narsis... “.


Keyra dan Ika mengobrol dan saling bertukar sapa satu sama lain, dilihat dari interaksi mereka, orang-orang yang berlalu lalang menilai kalau mereka adalah seorang anak dan ibu yang harmonis. Pembawaan Keyra yang hangat dan Ika yang ceria membuat keduanya nampak sangat akrab, terlebih beberapa gadis yang lewat banyak yang menatap lekat kearah Keyra, mereka seolah seperti sedang melihat aktor film terkenal.


Beberapa jam selanjutnya, Keyra dan Ika menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan ditaman, mereka pergi ke berbagai toko dan warung jajanan pedagang kaki lima, sambil terus dengan obrolan canda dan tawa mereka, semuanya terlihat seperti normal-normal saja. Tapi ketahuilah, dibalik senyum penuh Keyra, tersembunyi suatu keadaan yang membuatnya menarik nafas dengan berat.


Dari pertama kali bertemu dengan Ika, luka Keyra sudah terasa agak nyeri dan panas, terutama luka jahit diperutnya, hingga waktu terus berjalan, keringat dingin mengalir dari pelipis pemuda itu hingga membuat Ika menyadari hal tersebut. Sempat bertanya karena melihat tangan kiri Keyra yang diperban, sang anak menjawab kalau dirinya ceroboh dan menyayat tangannya hingga terluka kala sedang memasak di dapur. Meski berawal curiga, namun Ika mengabaikannya, toh buat apa juga Keyra berbohong.


“ Aldo, kamu baik-baik aja nak? “. Tepat pada pukul 1 siang, Ika dan Keyra berhenti disebuah toko kue, kedua orang itu tidak melanjutkan perjalanan karena melihat wajah anaknya yang sedikit pucat, meski awalnya tidak terlalu jelas, namun di berbagai situasi Ika dapat melihat Keyra yang beberapa kali meringis dan mengelus pelan perutnya.


“ Hah... aku agak cape bu “. Jawab Keyra dengan senyumnya.


“ Iya kah? Kalau gitu kita istirahat dulu aja yu “


“ Eh, gak usah... mending kita lanjut lagi aja, nanti waktunya keburu abis... kan ibu harus pulang jam 3 nanti “.


“ Kesehatan kamu lebih penting Do, ibu liat uka kamu pucet sejak kita ketemu, kayaknya kamu lagi gak enak badan deh “.


“ Aldo sehat kok bu “.


“ Kamu gak pandai booingin ibu nak, sejak tadi ibu heran... kenapa suhu tangan kamu lebih panas dari biasanya, terlebih dari tadi ibu terus mergokin kamu selalu megangin perut, apa ada yang kamu sembunyikan? “.


‘ Gawat...’


Bersambung


Maaf lagi gaes.


btw selamat hari raya idul Adha bagi yang merayakannya ya

__ADS_1


__ADS_2