Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
36# Jus Alpukat


__ADS_3

Keyra pulang pada pukul 2 siang bersama para tuan dan nona muda, mobil keempatnya melesat cepat ditengah terik panas matahari yang menyorot, entah karena ada hal apa, Una yang kini tengah dalam suasana hati yang bagus meminta agar singgah sejenak ke kafe pinggir jalan, katanya gadis itu hendak menikmati hidangan baru yang tersedia disana.


Untuk Alfa dan Reza sih langsung menyetujui hal tersebut, Kerya juga berakhir ikut walaupun sebenarnya ingin cepat istirahat di rumah. Jika ingin tahu, daya tahan dan kekebalan fisik pemuda itu merosot drastis, mungkin efek tubuhnya yang masih belum prima, Keyra jadi mudah cepat lelah dan lemas, belum lagi nyeri yang kadang tiba-tiba muncul, sensasi itu masih cukup baru karena sebelumnya ia tidak pernah terluka sampai separah ini.


Kembali ke kondisi awal, Keyra dan para tuan dan nona muda kini tiba di tempat yang sebelumnya Una bicarakan, mereka masuk kala Una menarik terlebih dahulu lengan Keyra untuk pergi kedalam, dan setelah beberapa menit mencari tempat duduk yang nyaman, mereka duduk di kursi lantai dua dekat dengan jendela yang menampilkan pemandangan indah. Sungguh tempat yang estetik, mau dilihat dari manapun posisinya, bangunan ini merupakan tempat singgah untuk orang-orang yang berdompet tebal, dan daripada cafe tempat ini lebih cocok dibilang restoran, dan sebagai orang yang bukan dari kalangan atas, Keyra memandang takjub akan kemewahan tempat tersebut dengan wajah tanpa ekspresi.


“ Nah... bang Kekey mau pesen apaan?, biar Una bayarin deh “. Ucap Una antusias.


“ Hm?, beneran nih mau bayarin?, emang lo bawa uang? “. Tanya Keyra.


“ Bawa dong bang, masa enggak sih? “.


“ Biasanya kan elu selalu dibayarin sama para kakak lo, dan gue belum pernah tuh liat lu bawa uang tunai “.


“ Sebenernya Una selalu bawa bang, papa kan rutin kasih Una jajan tiap harinya, cuma jarang dipake karena selalu kak Eza sama kak Alfa yang bayarin “.


“ Hooo... gitu yah “.


“ Ya udah, Bang Kekey mau pesen apa? “.


“ Nawarin Keyra aja nih?, ke kita enggak gitu? “.


Reza membuka suara, pemuda itu menampilkan wajah cemberut yang entah kenapa membuat Keyra merinding, terlebih tidak hanya dia saja, pemuda yang disampingnya pun juga sama, Alfa dan Reza ini kadang suka lupa diri kalau menyangkut tentang sang adik, umur mereka itu sudah mau 19 tahun, 19 tahun lho!, masa masih berani menampilkan wajah ngambek ala bocil?, namun bukannya jijik, para gadis yang berada disekitar mereka malah ada yang menjerit pelan karena merasa gemas dengan tingkah keduanya.


‘Jijik gue anjir!!!, howek...’ Batin Keyra dengan keringat dingin yang mengucur.


“ Hm... padahal kan kak Alfa sama kak Eza bisa pesen sendiri “. Ucap Una.


“ Tapi maunya dipesenin sama Una cantik “. Jawab Alfa.


“ Iya... masa Keyra doang sih yang dipesenin?, Una gak sayang sama kakak ya? “ Kali ini Reza yang berbicara.


“ Eh?, enggak... Una sayang kak Eza sama kak Alfa kok, ya udah sini Una pesenin... para kakak mau pesen apa? “.


Una menawarkan, sehingga dua pemuda yang tadi bersikap sedih kini kembali riang dalam hitungan detik, Keyra sampai menggeleng kepala dibuatnya, dasar para kakak yang sayang adik, meskipun dirinya juga sama, namun Keyra tidak terlalu semanja itu pada Bianca dulu, padahal kala itu ia masih SMP, tapi tidak tuh sampai berlebihan seperti para tuan muda didepannya.


Setelah menentukan makanan yang akan dipesan, Una memanggil waiter dan mulai menyebutkan macam makanan dan minuman, dari sekian banyaknya menu, gadis itu memesan 4 gelas jus alpukat kocok, 2 porsi steak daging dan 2 porsi sandwich sehat dengan eskrim strawberry sebagai makanan penutup.


Awalnya Keyra sedikit terusik dengan Una yang meyebut nama ‘jus alpukat’, karena tanpa ada seorang pun yang tahu, pemuda itu tidak terlalu mengindahkan jenis buah itu, sedikit banyaknya ia bahkan berusaha untuk tidak mengonsumsi buah tersebut karena satu dan lain hal.


Beberapa menit keempatnya menunggu, Reza dan Alfa nampak seperti biasa memanjakan Una dengan segala tingkah laku mereka, dari mulai menanyakan bagaimana pembelajaran hari ini, apakah ada orang yang mengganggunya atau tidak, apakah temannya bertambah atau berkurang, intinya banyak sekali ucapan yang terlontar dari mulut mereka, padahal kebanyakan dari pertanyaan yang keduanya ajukan itu adalah yang mereka tanyakan kala istirahat tadi disekolah. Sampai seorang pelayan datang membawakan pesanan, gadis disamping Keyra berhenti bicara dan mulai mengambil makanan.


“ Semua pesanannya sudah semua nona, tuan... jadi silakan menikmati hidangannya “. Ucap pelayan laki-laki itu dan pergi setelah mendapat anggukan dari Una, mungkin karena melihat senyum manis darinya, saat berbalik dia nampak tersenyum sambil menggenggam erat nampan yang ia bawa.


‘ Hm... kayaknya tu waiter terpesona sama senyumnya si Una ‘ Batin Keyra terkekeh lucu.


“ Kenapa bang? “.


Una bertanya, karena bingung melihat Keyra yang tertawa kecil tanpa alasan. “ Gak papa... gue cuma seneng liat makanan yang ada didepan ini, keliatannya enak “.


“ Langsung coba aja deh bang, yang bang Kekey kan pake daging ayam, jadi rasanya lebih ringan, beda sama yang punya Una, kalau punya Una kan isiannya dari daging sapi, jadi rasanya lebih kuat “. Ucap Una menjelaskan.


“ Iya kah?, Ya Udah... gue cobain dulu ya “.


Kerya dan ketiga orang disekitarnya mulai menyantap makanan setelah membaca doa di hati masing-masing, sensasi rasa pertama yang muncul di mulut sungguh membuat senyum Keyra mengembang, ia cukup puas dengan makanan yang ia santap kala ini juga, jadi kualitas rasa dan nama kafe ini sebanding dengan nama dan harganya yang lumayan tinggi.


“ Seenak itu kah?, kok gue liat lo kayak yang menikmati banget, padahal itu cuma sandwich lho “. Alfa berbicara, ditengah tangannya yang sedang memotong steak daging.


“ Hm... gue sih orangnya penikmat makanan bang, diliat dari manapun ni makanan kualitasnya tinggi banget, dari segi tampilan, rasa dan harga... gue kasih ratting 8/10 secara keseluruhan, soalnya rasanya beda jauh sama sandwich yang sering gue bikin di kafenya bang Qian “.


“ Eh?, lo pernah kerja di sebuah kafe? “. Tanya Alfa lagi.


“ Iya, kan sebelum gue kerja di keluarga Elrahma, gue udah jadi waiter hampir 2 tahunan “.

__ADS_1


“ Hm... diumur segitu lo udah kerja, apa gak cape gitu? “.


“ Kalau cape sih pasti, cuma yang namanya kebutuhan, gue kan harus makan dan bayar buat keperluan sekolah, jadi ya harus kerja lah mau gimana pun keadaannya “.


Alfa mengangguk-anggukan kepala, sedikit banyak ia mulai paham kalau sifat dewasa Keyra itu timbul karena keadaan yang memaksanya, mendengar dari sedikit cerita dari Keyra tadi, Alfa merasa kalau kehidupan pemuda itu tidaklah mudah, terlebih dia tahu kalau Keyra telah kehilangan keluarganya karena beberapa alasan, pasti hidup sendiri tanpa dorongan dari keluarga itu rasanya cukup berat.


Bersamaan dengan diamnya Alfa yang lanjut memakan hidangan, Reza juga berpikiran sama dengan sang sepupu mengenai Keyra yang sudah mandiri sejak dini, namun daripada memikirkan rasa ibanya, pemuda itu lebih terfokus pada Keyra yang sedang makan, entah kenapa hidangan yang disantapnya terasa menggoda hingga membuat Reza ingin memakannya.


“ Hm...rasa steak ini kok agak aneh ya “. Ucap Reza di tengah acara makannya.


“ Kenapa?, apa ada yang salah? “.Tanya Keyra.


“ Gak tau, rasa dari ni makanan agak gimana gitu “.


Keyra menaikan sebelah alis, apakah lidah para orang kaya sering menganggap makan mewah dihadapan mereka terasa aneh, terlebih tampilan dari hidangan steak yang Reza pesan sangatlah menarik, bau dari makanannya sangat harum bahkan sampai tercium oleh Keyra, tapi beberapa detik kemudian Keyra sedikit cemas dengan ungkapan Reza, jika rasa dari makanannya sedikit aneh, apakah ada sesuatu yang salah?.


“ Bang Reza, boleh gue cicip makanan lo sedikit? “.


“ Boleh aja, emang kenapa? “.


“ Gue mastiin sesuatu , takut ada apa-apanya “.


Reza mengangguk, dan saat itu juga Keyra mengambil sepotong daging yang ada di piring pemuda itu, diterka-terka olehnya, tidak ada yang salah dengan steak yang dibilang agak aneh oleh Reza ini, terlebih bukannya aneh, makanan yang Keyra cicipi ini terlampau enak. Awal tujuan dia meminta sedikit makanan ini sih karena ingin memastikan sesuatu, mengingat aksi para penguntit yang makin menjadi dari waktu ke waktu, Keyra takut jika pada makanan para tuan muda terkandung racun didalamnya, bisa jadi kan peristiwa serupa terjadi seperti saat dia membeli eskrim dulu.


“ Gak ada yang aneh bang, ni makanan ok-ok aja... gak ada racunnya kok “. Ucap Keyra.


“ Hm... padahal menurut gue aneh lho, kalau lo gimana Al? “. Tanya Reza pada Alfa, sementara pemuda itu diam sejenak beberapa saat sebelum ia menganggukkan kepala membenarkan pernyataan Reza.


“ Iya Key, gue juga sama, lo cobain juga punya gue deh “. Ucap Alfa dan Keyra mengikuti arahannya.


“ Hm... sama aja, cuma yang elu agak sedikit asam doang bang, kayaknya dominan pake saus tomat deh “. Ucap Keyra.


“ Wah... bang Kekey hebat ya bisa tau setiap detail dari rasa makanan “. Kali ini Una yang berbicara.


“ Ok, ok... berhubung lo udah nyicip steak punya gue, boleh gue nyoba makanan punya elo?, soalnya takut ada apa-apanya juga “. Ujar Alfa.


“ Iya gue juga mau “. Susul Reza.


Keyra mengedip beberapa kali, hingga beberapa detik kemudian dirinya mulai paham, sepertinya kedua tuan muda ini sedang dalam mode jahil, karena bukan tanpa alasan mereka menyuruh Keyra untuk mencicip makanan yang mereka punya, kedua pemuda itu berencana meminta makanan milik Keyra ketika dirinya sudah memakan makanan mereka, hingga tujuan pun terungkap, Reza dan Alfa nyatanya hanya ingin mencoba makanan milik Keyra.


“ Ya elah... kalau niatnya gitu harusnya bilang aja, gak usah pake pura-pura segala kali “. Ucap Keyra sambil memberikan sandwich pada Reza dan Alfa masing-masing satu potong.


“ Haha... jadi ketauan nih “. Alfa berbicara sambil cengengesan.


“ Gue kira lo bakal gak sadar, ternyata cerdas juga lu Key “. Ucap Reza.


“ Ya iyalah, kalau enggak mana bisa gue pindah kelas lebih cepet dari yang lain “.


Reza dan Alfa tertawa, sementara Una yang melihatnya hanya memperhatikan dengan ekspresi bingung, ia berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki disekitarnya ini, namun tidak memikirkan lebih lanjut, Keyra, Una serta Reza dan Alfa pun melanjutkan makan mereka hingga tuntas, tanpa orang-orang ketahui, ternyata Keyra tidak menyentuh sedikitpun jus alpukat yang tersedia.


***


Hari kini menjelang malam, pada pukul 8 tepat, Keyra kala itu baru selesai melaksanakan solat isya, itu terbukti dari dia yang masih sarungan dan tengah bersandar di badan sofa, sambil menunggu waktu makan malam, pemuda itu sesekali mengecek lukanya yang masih belum sembuh 100 persen.


“ Hm... ni luka dipikir-pikir kapan keringnya ya?, walaupun kata kak Cilla daya penyembuhan gue itu cepet, tapi tetep aja... kalau gini terus gue gak bakal bisa fokus penuh ngejagain para tuan muda “. Ucap Keyra ketika tangannya menyentuh area perban yang ada diperut.


Sambil melihat ke arah jam, Keyra pun memutuskan untuk pergi ke kamar Una sebelum makan malam dimulai, dari sejak tadi sebenarnya ia ingin membahas satu dan lain hal dengan gadis itu, namun terhalang oleh sesuatu yang mungkin masih berhubungan dengan para kakaknya, tapi tak terlalu penting juga sampai harus benar-benar dibahas, toh hal ini hanya obrolan ringan biasa.


Beranjak dari duduknya, Keyra keluar kamar masih dengan memakai sarung, tidak lupa untuk memakai kembali gelang peninggalan dari sang ibu, pemuda itu memang selalu melepasnya jika hendak ke kamar mandi, alasannya kenapa?, entahlah, yang pasti itu adalah bukti bahwa ia menjaga dengan baik benda tersebut. Ketika sampai di tempat yang ia tuju, Keyra mengetuk beberapa kali pintu kamar Una dan menunggu sejenak, mungkin kalau biasanya benda yang ada dihadapan Keyra akan langsung terbuka di hitungan detik ke lima, namun anehnya, walaupun sudah memanggil beberapa kali, gadis bungsu keluarga Elrahma ini tidak kunjung merespon panggilannya.


“ Hm?, apa Una gak ada di kamarnya? “.


Memilih untuk pergi ke lantai dua, Keyra menduga kalau orang yang ia cari sudah berada di ruang makan terlebih dahulu, namun belum sampai lima langkah ia berjalan, sebuah pintu terbuka yang mana kamar itu bukan milik Una.

__ADS_1


“ Hm? Bang Alfa... “.


Keyra bergumam, lalu memperhatikan pemuda yang kini menatapnya juga, dari sudut pandang dirinya, Alfa nampak terlihat sedikit lesu, apakah ia sedang dalam mode kalem?, biasanya kalau-kalau seorang Alfa tengah dalam mode biasa, pemuda itu akan berisik layaknya burung yang tengah berkicau diatas pohon, tapi apa ini?, tidak hanya diam-diam saja, rona wajah pemuda itu sedikit pucat.


“ Lo... kenapa bang? “. Tanya Keyra kala dia menghampiri pemuda itu.


“ Gak tau Key, tiba-tiba aja perut gue mules dan dari tadi udah bulak-balik kamar mandi, haduh... ampe keram kaki gue anjir “. Ucap Alfa ditengah tangannya yang tidak lepas memegang perut.


“ Lu salah makan?, apa sejauh ini lo makan makanan yang aneh-aneh? “.


“ Hm... enggak deh perasaan, malah gue hari ini gak makan yang pedes-pedes, paling makanan yang terakhir gue makan itu steak di kafe pas kita pulang sekolah “.


“ Tapi kalau gara-gara steak, pasti gue juga bakalan sakit perut, soalnya tau sendiri gue ikut nyicip pas disana, tapi gue baik-baik aja tuh “.


“ Iya juga sih... kira-kira gue makan apalagi ya? “


Ceklek


Tepat disaat Keyra dan Alfa masih mengobrol, terdengar bunyi pintu terbuka dan membuat fokus keduanya mengarah ke sumber suara, disana ternyata ada Reza yang baru keluar kamar dengan setelan kaos dan celana pendeknya, serta satu hal yang membuat Keyra maupun Alfa langsung mengerutkan dahi, mereka berdua heran melihat raut wajah Reza yang tak beda jauh dengan saat Alfa pertama kali keluar dari kamarnya tadi.


“ Bang Reza, lu udah kayak mayat... suer gue gak boong “. Ucap Keyra sambil menatap tak percaya pada orang yang bersangkutan.


“ Diem Key, gue lagi sakit perut nih “. Ucapnya mendekat lalu bersandar ke dinding.


“ Eh?, lu sakit perut juga Za? “. Tanya Alfa.


“ Iya nih, dari tadi gue gak bisa berenti boker, anjir emang, terus muka lu kenapa pucet gitu Al?, jangan-jangan... “.


“ Iya gue juga sama, aneh gak sih kita berdua sakit perutnya berjamaah kayak gini? “.


“ Ya aneh lah... ini pasti karena kita berdua salah makan “.


“ Tuh, Key... kayaknya bener deh masalahnya ada di makanan yang ada di kafe itu, soalnya gue gak makan apa-apa lagi setelah pulang sekolah “. Ucap Alfa sedikit meringis memegang perutnya yang kembali mulas.


Keyra memegang dagunya, berusaha untuk membenarkan atau tidak tentang pendapat Alfa dan Reza ini, mungkin dari hasil penelusuran, kemungkinan yang kedua tuan mudanya ungkap adalah hal yang paling tepat, namun masalahnya kenapa dia sendiri tidak ikut sakit perut seperti mereka, terlebih Una juga__...


Tunggu, Una?, apa wanita itu terkena sakit perut juga?.


Dengan segera dan langsung berbalik, Keyra bergegas menuju kamar Una dan mengetuk keras pintu tersebut hingga membuat Alfa dan Reza keheranan, kenapa pemuda itu tiba-tiba seperti orang yang tengah kesetanan?, memanggil nama Una berkali-kali sambil menggedor-gedor pintunya sedikit brutal, kedua tuan muda itu juga mulai merasa khawatir dan cemas dengan tindakan Keyra.


“ Una... Una... buka pintunya Na!, tolong buka bentar “.


“ Hey, lo kenapa tiba-tiba gini sih Key?, ada apa? “ Tanya Reza.


“ Una dalam bahaya bang “. Ucap Keyra masih dengan memanggil-manggil nama gadis itu.


“ Bahaya kenapa?, coba lo tenang dulu, bilang juga sama kita kalau lo itu lagi ngapain? “. Kali ini Reza yang berbicara.


“ Hah... fokus utama kita sekarang gimana caranya buka ni pintu, untuk alasan entar gue bakal kasih tau, jadi tolong bang... kalau bisa bantuin gue dobrak kamarnya si Una sekarang juga “.


Keyra berbicara dengan nada memohon, hal itu membuat Reza dan Alfa mengangguk bersamaan setelah saling memandang sejenak, kala itu mereka bertiga langsung bersiap dengan posisi bahu diarahkan kearah pintu, dimulai dari hitungan dari satu sampai tiga, tubuh mereka secara paksa menghantam benda penghalang itu dengan keras, namun gagal!.


Percobaan kedua, jarak ancang-ancang mereka di perpanjang hingga akhirnya menimbulkan suara keras, sampai-sampai Cilla dan Razka yang ada didalam kamar pun bergegas keluar dan terkejut melihat kelakuan ketiga pemuda itu.


“ Eza, Alfa, Keyra... kalian lagi ngapain ngedobrak pintu kayak gitu?! “ Ucap Razka.


“ Sekali lagi bang!!! “.


Keyra berteriak, hingga saat itu juga bersama Reza dan Alfa yang ikut bergerak, pintu pun berhasil terbuka dengan tubuh mereka yang terjungkal ke depan. Memang sakit bagi ketiganya kala kulit menyentuh lantai keras tanpa pertahanan, terlebih perut Keyra terbentur keras dengan posisi tersungkur tepat di bagian luka jahitnya. Namun bukannya mengurus rasa sakit yang dirasa, Keyra malah bergegas bangkit dan mencari keberadaan gadis yang ia cari.


Deg


“ UNA!!! “

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2