Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
32# Penanganan


__ADS_3

Keyra panik, alasannya ia takut jika luka jahit ini akan ketahuan oleh Ika, padahal sebelumnya ia sudah berusaha untuk tidak melakukan hal yang membuat curiga, namun entah dirinya yang terlalu ceroboh atau ibunya yang terlalu teliti, wanita itu tanpa Keyra sadari selalu mengamatinya setiap saat.


“ Udah ayo kita istirahat bentar, toh sekarang baru jam 1... ibu gak mau kamu sakit nak, sekarang aja tangan kamu udah panas, jadi tolong dengerin ibu ya “.


Setelah membujuk beberapa menit, Keyra kalah oleh argumen Ika hingga keduanya kini singgah disebuah kafe, sambil memesan beberapa minuman, Keyra yang sejak tadi tidak bicara diam-diam meremat perutnya pelan karena nyeri, sepertinya lukanya ini sedikit infeksi, terlebih area dada kirinya agak linu, ditambah nafas yang mulanya normal entah kenapa kian menyesak dari waktu ke waktu.


“ Aldo, nih minum dulu nak “.


Ika memberikan sebotol air mineral pada Keyra, ketika pemuda itu meneguk benda yang ia berikan, dirinya diam kala melihat sang anak dengan tatapan khawatir. Dilihat dari manapun Keyra ini sedang tidak baik-baik saja, sebagai seorang ibu instingnya mengatakan kalau anak itu tengah dalam kondisi buruk, terlebih wajah pucat nya tidak bisa disembunyikan hanya dengan menampilkan senyum lembut saja. Satu hal yang pasti, Ika sedikit kurang menyukai kebiasaan Keyra yang seperti ini, dimana ketika dirinya sakit tidak akan pernah memberitahu orang lain, padahal sakitnya parah tapi masih sempat-sempatnya bilang kalau dia baik-baik saja.


Pernah terjadi beberapa kali dimasa lalu, ketika Keyra sakit dan tinggal sendiri dirumah tidak lama setelah nenek dan adiknya meningal, Ika berkunjung tanpa sepengetahuan Fedrik untuk menjenguk Keyra. Diketuknya pintu beberapa kali tidak ada jawaban yang keluar dari sana, sampai ia mendorong pintu depan rumah, ternyata benda itu tidak terkunci, awalnya ia ragu untuk masuk, namun ketika Ika menelusuri tempat dan berakhir dikamar Keyra, wanita itu kaget karena menemukan Keyra yang sudah tak sadarkan diri dilantai karena demam tinggi, padahal sebelum dirinya kemari sempat menelpon sebentar dengan pemuda itu, bahkan tak luput dari canda dan tawa.


“ Udah enakan, sayang? “. Tanya Ika.


“ Aku gak papa bu “.


“ Kamu ini ya... kebiasaan deh, bilangnya baik-baik aja, eh pas pulang nanti malah tepar “.


“ Haha... masa sih?, emang aku kaya gitu ya? “.


“ Ya iya lah... meskipun ibu bukan mama kandung kamu, tapi ibu tau kalau sekalinya kamu sakit pasti bakalan jarang ngomong... “.


“ Tapi aku emang gak papa Bu “.


“ Iya bilangnya ‘gak papa’, tapi ibu tau kalau kamu itu lagi gak baik-baik aja, padahal kalau lagi gak enak badan gak usah maksain diri Do, ibu malah khawatir takut kamu kenapa-napa “.


Keyra terdiam, merasa bersalah sekaligus terharu karena memiliki ibu sambung yang baik seperti Ika, salah satu keberuntungan yang ia miliki saat ini adalah mendapat ibu sambung yang baik dan penyayang, banyak orang yang tidak seberuntung dirinya karena mendapat ibu tiri yang bisa dibilang kurang ramah, terlebih waktu SMP dulu dirinya memiliki beberapa teman dengan nasib yang sama, tapi tidak pernah mendengar hal baik tentang ibu atau ayah sambung mereka, bahkan diantara mereka ada yang iri.


Hingga beberapa menit kemudian, Ika menginstruksi Keyra untuk beristirahat sejenak di kafe ini, berjalan lama dibawah terik sinar matahari memang membuat kepala Keyra pusing, ia jadi mengetahui kalau kondisi tubuhnya saat ini sangatlah buruk, lagipula entah sejak kapan dirinya merasa diawasi oleh seseorang, pengamatan Keyra kini terfokus pada pemuda yang ada dibelakang Ika tanpa disadari oleh wanita itu. Dan benar saja, tidak lama waktu berjalan, seseorang memberi kode pada Keyra kalau sekarang waktu yang ia pakai sudah habis dan harus segera kembali ke mansion.


Sedikit informasi tambahan, orang yang memberikan Keyra kode itu adalah Alfa, kenapa pemuda itu ikut bersamanya?, alasannya cukup sederhana, syarat yang Noland maksud itu adalah ini, yaitu harus membawa beberapa orang untuk jaga-jaga, plus harus diawasi langsung oleh salah satu dari cucu lelakinya.


Awal mula Noland menunjuk Razka sebagai orang yang paling dipercaya, cucu sulungnya ini cukup kompeten jika sudah diberi kepercayaan dan selalu bertanggung jawab dengan tugas yang ia emban, namun dengan tiba-tiba Alfa mengajukan diri agar bisa mengawasi Keyra dari jauh, tidak hanya itu Reza pun saat itu entah kenapa ikut mengajukan diri agar bisa ikut dengan sepupunya. Sampai beberapa menit terjadi perdebatan diantara mereka, Keyra yang sudah dibuat pusing pun memutuskan untuk menjadikan Alfa dan Reza sebagai orang yang mengawasinya, toh jika itu Razka pasti akan merepotkan pemuda tersebut ditengah kesibukannya mengurus perusahaan.


Hingga sekitar 5 menit setelah instruksi dari Alfa, Keyra berpura-pura mendapat notifikasi pesan utuk segera pulang dan kembali bekerja, untuk Ika dia hanya percaya saja ditengah Keyra yang berbohong sejak tadi.


“ Ya udah... kamu baik-baik ya disana, jangan lupa sering kasih kabar ke ibu “, Ucap Ika beranjak dari duduknya.


“ Iya, tenang aja... oh iya, ibu mau Aldo anter?, mau sampai depan rumah juga boleh “.


“ Gak usah, kamu mending langsung pulang dan istirahat aja, ibu liat muka pucet kamu itu bukan main-main... kayaknya kamu emang lagi gak enak badan deh Do “.


“ Itu cuman perasaan ibu aja “.


“ Aldo... ibu tau kamu nak “.


Keyra tersenyum, mendengar celotehan Ika yang kembali memanjang karena dirinya, ia tidak risih dengan hal itu, malah senang bisa mendengar lebih lama ibunya berbicara, namun masalahnya ada di kondisi tubuhnya ini. Jika dilihat lebih teliti lagi, kemeja hitam yang Keyra kenakan kini menjadi basah tepat pada bagain perut, itu adalah hal yang berbahaya, ternyata luka jahitannya sudah terbuka sejak lama, terlebih kepala Keyra sudah terasa sakit dan pening sejak tadi.


“ Aldo? “.


Ika memanggil Keyra beberapa kali, namun pemuda itu tidak merespon dan hanya menatap kearah bawah sambil menunduk, ada apa dengan pemuda itu? Tidak biasanya dia mengabaikan panggilan sang ibu, namun sesaat kemudian Ika dikejutkan dengan tubuh Keyra yang huyung ke depan, untung saja sempat ia topang, kalau tidak mungkin saja anaknya sudah jatuh membentur meja.


“ Aldo?!, kamu kenapa nak?, apa kepala kamu pusing? “. Ucap Ika panik, sementara Keyra hanya memegang kepala masih dalam keadaan sadar.


“ I, Ibu... “.


“ Kamu mending duduk dulu “.


Ika mendudukkan tubuh Keyra, dirinya panik dan kembali memberikan air mineral pada pemuda tersebut, beberapa orang sempat memperhatikan mereka karena Keyra yang tiba-tiba limbung, bahkan ada sekitar satu-dua orang yang menanyakan keadaannya lewat Ika. Disamping menenangkan nafas Keyra yang terlihat memburu, dua orang pemuda tidak jauh dari posisi duduk Ika dan Keyra kini ikut khawatir memperhatikan mereka, dan ternyata kedua orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alfa dan Reza, yaitu cucu dari keluarga Elrahma.


Sejak memberikan kode pada Keyra beberapa waktu lalu, mereka sudah sadar kalau kondisi Keyra tengah memburuk mau dilihat dari mana pun juga, raut wajah dia yang pucat memberitahu kalau luka jahitnya itu kini kembali terbuka, darimana mereka bisa mengetahui hal itu?, tentu saja Keyra sendiri yang memberitahu mereka menggunakan isyarat, yaitu berupa gerakan tangan yang ia lambaikan beberapa kali kebawah sambil ditunjukan pada perut sebelah kanannya.


“ Eza, gimana nih?, apa kita samperin aja si Keyra?, gue khawatir ege... “. Tanya Alfa.


“ Tapi bakalan ketauan nguntit nya gak? “.


“ Bodo amat lah, dari pada tu anak kenapa-napa “.


Tanpa banyak kata, Alfa bangkit dari duduknya sambil melepas masker dan topi yang ia kenakan, diikuti Reza yang berjalan dibelakang sambil mengumpat pelan, kedua pemuda itu menghampiri Ika yang telah membubarkan kerumunan.


“ Permisi... maaf, ini... Keyra sama bu Ika? “. Ucap Alfa dengan nada seperti orang yang sedang bertanya.


“ Eh?... anak majikannya Aldo ya? Kalau gak salah nak Alfa sama nak Reza? “.Tanya Ika balik.


“ Hehe... iya, ibu apa kabar? “.


“ Alhamdulillah, baik kok nak... “.

__ADS_1


“ Syukurlah kalau begitu, kita seneng lho bisa ketemu ibu lagi, kapan ya terakhir kali kita ketemu? “. Kali ini Reza yang berbicara.


“ Udah lama juga sih nak “.


“ Ngomong-ngomong ibu lagi ngapain disini?, dan... lo kenapa Key? “. Tanya Alfa melihat Keyra lebih dekat, sementara orang yang bersangkutan menatapnya dengan datar.


Ika menghela nafas lalu menjawab pertanyaan Alfa tentang kondisi Keyra yang sedang kurang enak badan, karena selain suhu tubuhnya yang cukup tinggi, Ika juga menemukan bahwa nafas anaknya itu agak sedikit terengah, mungkin dadanya seperti terasa sesak, dan benar saja, dugaan Ika itu semuanya adalah fakta yang Keyra alami.


“ Ibu udah bujuk dia buat pergi kerumah sakit, cuma anaknya gak mau “. Ucap Ika sebagai pengakhir kalimat.


“ Aldo kayaknya cuma masuk angin biasa kok bu, gak perlu sampai kerumah sakit, padahal istirahat bentar aja nanti bakal sembuh sendiri... “.


“ Sayang, sekali ini aja... tolong dengerin permintaan ibu ya nak, kalau kamu gak mau kerumah sakit, ayo sekarang juga ibu anter kamu pulang kerumah “.


Perkataan Ika membuat Keyra sekaligus Alfa dan Reza menjadi terkejut, pasalnya mereka sudah susah payah mencegah wanita dihadapan mereka untuk tidak mengetahui tentang luka Keyra, namun apa-apaan ini?, bukan kah akan sia-sia jika Ika sampai ikut mereka ke rumah dan melihat Keyra yang pasti akan langsung ganti perban?.


Permintaan itu segera ditolak oleh Keyra dengan alasan tidak mau merepotkan, tentu saja bukan Ika namanya jika ia tidak memaksa kehendaknya sendiri, sampai beberapa menit kemudian, Keyra menyerah karena rasa sakit diperutnya kiat memuncak. Wajah pemuda itu nampak sangat pucat, hingga Ika pun dengan segera meminta tolong pada Reza dan Alfa untuk memberikan tumpangan.


“ Ya sudah, nak Reza dan nak Alfa mohon maaf ya ngerepotin kalian... awalnya saya mau bawa Aldo kerumah saya, tapi kaya dia bakal nolak “. Ucap Ika.


“ Eh? kita gak ngerasa direpotin kok bu, Keyra udah kita anggap sebagai keluarga sendiri soalnya “. Ucap Alfa ditengah Keyra yang tangannya ia lingkarkan ke bahu.


“ Haha... keluarga nih ceritanya... “. Celetuk Keyra dengan niat menggoda tuan mudanya ini.


“ Ya iya lah, mau gue anggap lu babu hah? “.


“ Lah? Gue kan nyatanya emang babu di keluarga kalian “.


Alfa terdiam, sementara Reza memalingkan wajah dan berniat untuk tidak nimbrung dalam obrolan, ucapan Keyra memang benar adanya dan ditambah itu adalah fakta. Meskipun semua orang kini melanjutkan aktivitas dan masuk ke mobil menuju mansion Elrahma, di perjalanan entah kenapa Alfa merasa sesak kala mengingat ucapan Keyra yang sejak tadi ia pikirkan, jika dilihat dari sudut pandang lain, Keyra ini seolah enggan mengakuinya sebagai keluarga, apakah perkiraannya benar atau bukan?, sekarang ini ia masih belum bisa mengerti semua ucapan Keyra meski kalimat yang dilafalkan terdengar jelas.


“ Do... apa kepala kamu masih pusing? “. Tanya Ika kala Melihat Keyra yang sejak tadi memijat kepala.


“ Aldo baik-baik aja bu “.


“ Kalau boong ibu bakalan pecat kamu jadi anak! “.


“ Kepala Aldo sakit bu “ Ucap Keyra cepat dengan ekspresi memelas.


Ika terkekeh, sifat kekanak-kanakan Keyra akhirnya muncul walau harus dipacu oleh ancaman, dan benar saja, segera setelah itu perilaku Keyra berubah menjadi anak manja yang tadinya seorang pemuda mandiri. Hal itu tidak luput dari perhatian Reza dan Alfa yang ada di kursi depan, mereka cukup terkejut melihat sisi Keyra yang satu ini, sepertinya kedua orang itu memiliki bahan bullyan dan aib tambahan untuk menyerang Keyra nanti.


Hingga waktu menunjukan pukul 2 siang, mereka berempat pun sampai di mansion keluarga Elrahma, kesan Ika yang pertama kali datang hampir sama dengan Keyra dulu, takjub dan terpana dengan bangunan yang megah ini, namun bedanya fokus wanita itu kini masih tertuju pada sang putra.


“ Bisa kok bu, padahal ibu gak usah repot-repot anterin lho... “.


“ Gak papa nak, ibu malah masih pengen lama-lama sama kamu “.


“ Em... kalau gitu mau mampir sebentar? “ Tanya Keyra.


“ Emang boleh? “.


“ Boleh dong bu, kenapa juga enggak “.


Bukan Keyra yang menjawab, melainkan adalah Reza yang baru keluar dari mobil setelah ia menyerahkan kuncinya pada supir. “ Emang gak papa ya nak? Saya agak gimana gitu dateng tiba-tiba kayak gini “. Ucap Ika bimbang.


“ Gak perlu sungkan bu, lagian rumah kita ini bukan kandang hewan buas, aman pokoknya... “. Ucap Alfa yang membuat Keyra memutar bola matanya dengan malas, apanya yang aman?, saat dia pertama kali datang kesini saja sudah seperti ingin dimangsa, mendapat tatapan tajam dari seluruh penghuni rumah, bukankah kandang harimau itu definisi yang tepat untuk rumah ini.


“ Kenapa lo mendelik gitu? “. Tanya Reza melihat ekspresi Keyra.


“ Gak papa, cuma inget masa lalu aja “. Jawab Keyra singkat.


Dengan Keyra yang digandeng oleh Ika, Reza dan Alfa berjalan terlebih dahulu sebagai pemandu. Mereka berempat masuk ketika pintu dibukakan oleh beberapa maid, dengan aktivitas biasa dari para pekerja disana, beberapa orang menyapa Alfa, Reza dan Alfa yang lewat untuk sekedar mengucapkan selamat siang, hingga keempatnya sampai diruang tamu, seorang wanita mendekat kala Reza memanggilnya dengan sebutan ‘mama’.


“ Kalian udah pulang, nak?... dan Keyra, gimana kondisi kamu? “. Tanya wanita itu yang diketahui sebagai Devina.


“ Saya gak papa kok tante “.


Keyra menjawab dengan senyum tipis, hal itu membuat Devina tetap menatapnya khawatir meski orang yang dikhawatirkan bilang tidak apa-apa, walau begitu dia tidak bisa bohong dengan raut wajahnya yang pucat, sudah pasti Keyra saat ini tengah dalam keadaan buruk. Namun mengesampingkan hal tersebut, fokus Devina kini terarah pada wanita yang kini mulai melepaskan tangannya dari lengan Keyra.


“ Itu... maaf karena saya gak nyapa ibu duluan, selamat datang dirumah kami bu... “. Ucap Devina sedikit menundukkan kepala.


“ Oh, justru saya yang minta maaf karena tiba-tiba datang kesini, nyonya... “.


“ Eh, jangan panggil saya nyonya bu, kesannya kayak gimana gitu ya... “.


“ Haha... gak papa nyonya, nyonya ini kan majikan dari anak saya, jadi gak masalah... toh itu cuma cara panggilan saja “.


Devina tersenyum, dan segera mempersilakan Ika untuk duduk disofa, wanita hamil sepertinya tidak terlalu baik jika berdiri lama-lama, jadi segera setelah duduk bersebrangan dengan Ika, Devina menyuruh seorang maid agar menyiapkan makanan dan minuman untuk disuguhkan.

__ADS_1


Sementara keduanya mengobrol dengan Keyra yang izin ke kamar dulu, pemuda itu bergegas menuju lantai dua dibantu oleh Alfa dan Reza yang memapahnya. Dari sejak beberapa jam yang lalu ternyata luka Keyra sudah infeksi akibat jahitannya yang terbuka, terlebih darah yang semulanya sedikit kini terlihat berceceran hingga menyebar ke pakaian Alfa yang bersentuhan dengan jaket Keyra.


Setibanya didalam kamar, Reza berlari keluar untuk memanggil Cilla yang memang sengaja tidak pergi kerumah sakit, alasannya jika Keyra pulang dengan keadaan buruk, ia bisa langsung bergegas melakukan penanganan, dan untungnya prediksi yang ia buat itu sangatlah tepat dengan kejadian sekarang.


Berbeda dengan lelaki yang berlari keluar kamar tadi, tuan muda Keyra yang satunya yaitu Alfa kini membaringkannya di kasur. Ia membuka jaket dan kemeja yang pemuda itu kenakan, dan betapa terkejutnya dia kala melihat darah yang sudah meluas mewarnai perban putih itu, Alfa mengelap sebagian noda warna merah dengan tangan yang gemetar. Sebelumnya ia tidak pernah bersikap seperti ini, menjadi anak nakal membuatnya sering mengalami tauran dan perkelahian, oleh karena itu dia tidak akan asing dengan luka lebam maupun luka sayat atau bacokan dari senjata tajam, namun apa yang terjadi saat ini, jantung Alfa berdegup kencang kala melihat Keyra yang menutup mata dengan nafas tak teratur, terlebih mungkin karena saking sakitnya luka yang ia derita, tangan pemuda itu mengepal keras hingga luka sayat ditangan kiri Keyra mengeluarkan darah.


“ Keyra... atur nafas lo key, jangan buru-buru... slowly “. Ujar Alfa mengintruksikan.


Mengikuti perkataan pemuda itu, Keyra menetralkan nafas meski agak sulit, sesak di dadanya ini bukan main, tubuh bagian atasnya seolah ditimpa oleh benda keras dan berat, terlebih ada rasa yang menusuk di bagian perut kanan yang kini permukaannya lembab.


Hingga beberapa saat kemudian, Cilla datang bersama Reza dan dua orang tambahan, mereka itu tidak lain adalah gadis bungsu keluarga Elrahma serta bunda dari Alva, yang tidak lain adalah Una dan Veriska.


“ Bang Kekey... “. Panggil Una yang tangannya masih digenggam oleh Veriska.


“ Ya ampun Keyra luka kamu!... Alfa, kenapa darah di perban luka dia sebanyak itu? “. Tanyanya panik.


“ Dia terlalu memaksakan diri Bunda “. Jelas Alfa.


“ Oh my... sejak kapan jahitan di perut Keyra kebuka? “. Tanya Cilla ditengah menangi pemuda itu.


“ Aku gak tau aunty, tapi sepengamatan Alfa sama Eza, si Keyra udah sering megangin perutnya bahkan sebelum solat dzuhur di masjid umum “.


“ Ck, kamu ceroboh baby “.


“ Biar Aku bantu tante “. Kali ini Reza yang berbicara dan langsung mendekat.


Tanpa menunggu lebih lama, kedua tuan muda kini membantu Cilla untuk mengobati perut sekaligus tangannya yang kembali berdarah. Dengan sedikit obat bius tingkat rendah, Alfa memasang masker oksigen agar nafas Keyra tak memburu, sementara Reza mengganti perban ditangan kiri dengan Cilla yang masih sibuk pada luka perut Keyra. Untuk Una dan Veriska, kedua wanita itu tengah mengambil air hangat untuk mengompres Keyra, karena setelah dicek beberapa waktu yang lalu, Cilla menemukan bahwa anak ini terserang demam dengan suhu 38,7 derajat, itu cukup tinggi.


Walaupun demikian, Keyra malah sempat-sempatnya menolak untuk diinfus, karena dalam kondisi buruk seperti ini, pemuda itu harus segera kembali dengan keadaan baik seolah tidak terjadi apa-apa, sang ibu sedang menunggu diruang tamu, tak mungkin kan ia tinggalkan wanita itu sendiri dirumah yang baru pertama kali ia datangi. Hingga sekitar 15 menit waktu berjalan, Cilla dan yang lain sudah menangani Keyra yang kini bersandar ke kepala ranjang.


“ Semuanya... makasih ya udah ngobatin saya, terlebih saya minta maaf karena udah ngerepotin “. Ucap Keyra pelan namun masih terdengar jelas oleh para orang didepannya.


“ Kamu gak usah berterima kasih Keyra... yang penting sekarang kamu istirahat dulu aja “. Ucap Veriska.


“ Bang Kekey... bang Kekey jangan kemana-mana dulu dong, nanti sakit lagi, Una sedih liatnya... “ Ucap Una dengan linangan air mata.


“ Iya... setelah ini gue bakal istirahat, tapi bentar dulu ya, gue mau nemenin ibu gue dulu, kasian dia dari tadi ditinggal sendiri “.


“ Lo gak usah khawatir Key, gue sebelumnya di mobil udah ngomong ke mama buat nemenin bu Ika ngobrol, semenjak tau kalau kondisi lo lagi gak beres, kita minta kerjasama mama ngulur waktu dan buat alasan biar pas lo diobatin ibu lo gak curiga “. Ucap Reza dan diangguki oleh Alfa.


“ Hah... kalau gitu makasih lagi ya bang “.


“ Eh? bentar, bentar... ‘ibu’ yang kalian maksud itu siapa? “. Tanya Veriska heran, sama halnya dengan Una dan Cilla yang memang belum tahu tentang keberadaan Ika.


“ Oh... itu ibunya Keyra, Bun... dia ikut kesini buat nganter ni anak “. Ujar Alfa.


“ Ouh... bu Ika ya kak Alfa? “ Tanya Una dan dijawab anggukan oleh kakak sepupunya.


Veriska mengerutkan alis, sebelumnya ia tidak pernah tahu kalau Keyra masih punya seorang ibu, bukankah dulu dia bilang kalau ibunya meninggal tepat dihari ulang tahunnya?, lalu siapa ‘ibu’ yang dimaksud oleh para anaknya tadi.


“ Em... Keyra, perasaan kamu pernah bilang kalau ibu kamu itu udah meninggal kan?, tapi kok... “. Veriska tidak melanjutkan ucapannya dan memilih melihat Keyra dengan tatapan meminta penjelasan.


“ Ah, itu... untuk hal ini maaf saya belum kasih tau, sebenernya saya punya ibu sambung yang bisa dibilang cukup dekat, terlebih dulu saya tinggal sama beliau walau sebentar “.


“ Ouh... ibu tiri ya? “.


“ Iya, tante... dan sekarang ibu saya lagi nunggu dibawah, jadi... boleh kan saya pergi sebentar? “.


“ Emang kamu bisa jalannya baby? “.


Bukan Veriska, melainkan adalah Cilla yang kini menjawab argumen Kera, sejak tadi wanita itu memang hanya menyimak pembicaraan saja, namun satu hal yang membuatnya penasaran, meski tidak terlalu jelas, entah kenapa Cilla merasa bahwa sorot mata Keyra sedikit berbeda kala membahas perihal ibu sambungnya itu.


“ Saya udah lebih baik dari sebelumnya kak “.


“ Dengan luka yang baru diobatin tadi?, kakak liat luka di perut kamu itu melebar, baby... ditambah bukan itu aja, aku duga dada kamu bagian kiri pasti lebih nyeri daripada sebelumnya kan? “.


Keyra tidak menjawab, ucapan dokter cantik didepannya adalah fakta dan benar apa yang sedang ia alami sekarang ini, namun meskipun begitu dirinya tetap bersikukuh untuk menemui ibunya, waktu yang ia butuhkan kala diobati sangatlah lama, karena sudah pasti dan Keyra berani bertaruh, Ika itu adalah wanita yang cerdas, alasan macam ini pasti sudah membuat ia curiga sejak lama. “ Sekali ini aja kak, sampai ibu saya pulang... abis itu saya bakalan istirahat full “.


Tidak memikirkan hal itu lebih jauh, Cilla menghela nafas kasar dan berakhir mengizinkan Keyra untuk turun kebawah. Segera setelahnya senyum di bibir pemuda itu menjadi lebar, ia pun melepas masker oksigen yang semula menyangkut di hidung dan mulut lalu beranjak menuju lantai 1, tentu saja Keyra sebelumnya sempat berganti pakaian, serta saat ingin menemui Ika pun anak itu tak luput ditemani oleh banyak orang, mereka tidak lain adalah Veriska, Una dan Cilla sendiri. Untuk Reza dan Alfa?, pemuda itu diperintahkan oleh sang bunda agar berganti pakaian dan mandi terlebih dahulu, terlebih darah dari luka Keyra masih menempel di busana mereka.


Ting


Bunyi lift terdengar saat Keyra dan ketiga wanita disampingnya sampai dilantai pertama, hingga beberapa langkah mereka berjalan kedepan, Devina dan Ika yang ada didepan memfokuskan diri kearahnya yang baru datang setelah beberapa menit menghilang. Kala itu Keyra hendak menemani ibunya yang duduk bersebrangan dengan mama Una, namun dirinya menemukan hal yang janggal, kenapa tatapan sang ibu nampak sedang kaget melihat sesuatu.


“ Veri?! “ “ Ika?! “


“ Hah? “.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2