Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
41# Ayah


__ADS_3

“ Za, lo tau gak siapa yang nelpon? “.


Alfa bertanya sambil memperlihatkan ponsel Keyra yang masih berdering, otomatis pemuda yang ada disampingnya pun mengernyitkan alis kala membaca nama kontak yang tertera disana, semenit kemudian pemuda itu tertawa membuat Alfa menatapnya bingung.


“ Apa yang lucu ngaco?, you're crazy? “. Tanya Alfa menatapnya tajam.


“ Haha. Alfa, Alfa… itu nyokap lu bloon, sama bunda sendiri gak kenal, parah... “.


“ Hah?, sejak kapan bunda gue ganti nama? “.


“ Kan nama bunda elu, Veriska Wulandari. Ada unsur ‘ Riska’ nya, jadi ya gak ganti lah… “.


“ Oh… begono toh “.


“ Oh, ah, Eh, Oh… cepet buruan angkat, entar keburu ngamuk dia “.


“ Eh, iya bener juga “.


Sesuai instruksi Reza, Alfa pun mengangkat panggilan yang dilakukan oleh sang Bunda, saat telepon tersambung, Veriska sudah terlebih dahulu berbicara seolah lawan percakapannya adalah Keyra, terlebih Alfa tidak diberi kesempatan saat itu meski hanya untuk mengucapkan ‘Halo’.


“ Bun… ini aku “. Ucap Alfa tiba-tiba dan sukses membuat Veriska berhenti bicara.


“ Eh? Alfa?, kok kamu yang angkat, Keyra nya mana? “.


“ Dia lagi beli minum bareng Una terus hp nya ditinggal deket Al, karena Bunda yang telpon ya udah aku angkat aja “.


“ Yeee… bukannya bilang dari tadi “.


“ Siapa orang yang gak ngasih Al kesempatan ngomong?, bahkan aku gak sempet bilang halo, eh… bunda udah nyerocos aja “.


“ Iya deh, iya… kira-kira si Keyra bakal lama gak, AL? “.


“ Hm… gak tau juga sih, kalau Al liat kayaknya masih lama, antriannya lumayan panjang. Emang ada apa bun? “.


“ Itu… tadi bunda bilang ke ibunya Keyra kalau sekarang kan ada acara syukuran ulang tahun adik kamu itu, otomatis bunda juga ngundang beliau buat datang ke rumah, dan untungnya orangnya mau… jadi bunda mau ngasih tau Keyra buat jemput ibunya nanti pulang sekolah “.


“ Langsung abis pulang sekolah?, gak pulang ke rumah dulu? “.


“ Gak usah... takut keburu sore, nanti kamu berdua sama Keyra kesana ya “.


“ Al sih oke-oke aja, terus entar si Eza sama Una gimana? “.


“ Tenang, nanti ada yang bakal jemput “


“ Ya Udah, entar Al bilangin ke si Keyra nya “.


“ Ok, kalau gitu mama tutup telponnya dulu ya, sayang… semangat belajarnya… “.


“ Sekarang lagi istirahat, Bun “.


“ Hehe “.


Veriska memutus sambungan telepon, membuat Alfa meletakan ponsel Keyra kembali ditempatnya, ia menunggu sejenak sambil melihat kearah Reza yang baru selesai dengan acara makannya, lalu kemudian menghabiskan minuman lain yang kali ini milik Mark.


“ Hm... kenapa ya gue rasa si Keyra itu mirip sama elu Al “. Celetuk Emil membuat Reza, Mark dan orang yang disebutnya mematung sejenak.


“ Mirip gimana maksudnya? “. Tanya Alfa.


“ Ya mirip... dari postur badan sama kerangka wajah, entah kenapa kalian berdua itu hampir sama, lo gak jarang kan liat gue salah manggil orang kalau kalian berdua rendengan?, niatnya manggil elu, eh malah noel si Keyra “.


“ Itu cuma perasaan elu aja kali “. Tutur Reza, pemuda itu menopang dagu sambil melihat Keyra dan Una yang hendak kemari.


“ Ih, ya kali salah sih?, gue ngaku kalau gue itu rabun parah, tapi lo tau gue kan Za... pengamatan gue itu jarang banget meleset “.


“ Hm... gue juga kadang ngerasa gitu lho mil “. Kali ini Mark ikut nimbrung.


“ Tuh, kan... bahkan si Mark aja setuju “.


Emil kembali mengoceh, dengan Mark sebagai orang yang membenarkan, Reza disana hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk malas tanpa membantah, namun berbeda dengan mereka bertiga, Alfa kini menatap Keyra yang sudah duduk di seberangnya cukup lekat. Ternyata memang benar ya, kalau dilihat lebih lama wajah Keyra itu sedikit mirip dengan dirinya, apa ini sebuah kebetulan?.


“ Lo kenapa liat gue ke gitu, bang? “. Tanya Keyra, membuat Alfa tersadar.

__ADS_1


“ Nothing, gue cuma lagi merhatiin muka lu aja “. Jawab Alfa singkat.


“ Emang muka gue kenapa? “.


“ Kata si Emil elu mirip si Alfa “. Bukan Alfa, namun Mark yang menjawab.


“ Ah, masa sih? Mata lu rabun kali bang “. Ucap Keyra.


“ Gue kan emang rabun “.


“ Ya udah, salah liat kali... dan ini buat lu bang, gue liat dari tadi lu haus mulu kayak cebong “. Ucap Keyra sambil menyodorkan segelas jus pada Alfa.


“ Waw... tumben baek bener, thanks kalau gitu “. Ucap Alfa dan dijawab anggukan oleh Keyra.


“ Oh iya, tadi bunda nelpon ke nomor lu “.


“ Tante Riska? “. Tanya Keyra melihat Alfa yang kini mulai menyeruput jusnya.


“ Iya, bunda bilang kalau dia ngundang bu Ika buat hadir diacara entar sore, terus disuruh jemput beliau pas pulang sekolah nanti “.


“ Pas abis pulang sekolah banget?, gak pulang dulu ke rumah? “.


“ Takut kesorean, jadi langsung gas aja kesono, tapi kita berdua aja... si Eza sama Una suruh pulang duluan “.


“ Eh, kok Una gak diajak? “. Una akhirnya membuka suara ketika sejak tadi hanya memperhatikan.


“ Una cantik, dengerin kak Al ya... kata bunda, Una harus cepet pulang, kan harus siap-siap juga “. Ucap Alfa.


“ Yaaah... hiks, padahal Una mau ikut ama bang Kekey, kok gak boleh sih? “.


Una hendak menangis, membuat Reza, Alfa serta Mark dan Emil dibuat panik olehnya, sementara Keyra?, pemuda itu hanya menghela nafas dan mulai mengeluarkan jurus membujuk Una dengan senyuman, tentu perlu waktu beberapa menit sampai membuat Una mengangguk dan menurut untuk pulang duluan saat pulang nanti.


Sampai tak terasa waktu terus berjalan, bel istirahat pun sudah berbunyi menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai. Otomatis Keyra, Una serta Reza and the gang pun beranjak menuju kelas.


‘ Kira-kira... apa dia bakalan ada dirumah pas gue jemput ibu?’ Batin Keyra kala dirinya menuju kelas.


***


“ Abis ini lewat mana Key? “. Tanya Alfa, kala dirinya melihat persimpangan di depan sana.


“ Belok kanan, terus lurus aja sampe nemu pertigaan lagi baru belok kiri “.


“ Oh, lumayan jauh juga ya, kita udah jalan hampir 30 menitan ini “.


“ Wajar aja sih, kan udah lewat kecamatan “.


“ Eh, iya lho... berarti lo dulu tinggal disana dong, kok bisa pindah ke kontrakan yang sekarang jadi rumahnya opa Dharma? “.


“ Ngikut nenek, sebelum ibu meninggal gue masih satu rumah sama ayah, yang sekarang ditempatin sama bu Ika “.


Alfa mengangguk dan tidak menanyakan hal lain lebih lanjut, sementara Keyra yang ada disampingnya hanya mengalihkan pandangan menghadap kearah jendela. Sedikit hal yang perlu diketahui, sebenarnya tadi itu Keyra berbohong, meskipun benar kalau dia langsung tinggal bersama nenek dan sang adik kala ibunya meninggal, namun tinggalnya itu bukan dikontrakan yang terakhir ia tempati, melainkan rumah lain yang mungkin sekarang ini tidak berpenghuni. Lalu kapan pindahnya Keyra ke kontrakan sebelum ia bekerja di keluarga Elrahma, yaitu tepat seminggu setelah kecelakaan yang menimpa sang dik dan neneknya, Keyra merantau meskipun tidak terlalu jauh guna menghilangkan perasaan sesak kala tinggal di rumah yang kini tinggal kenangan.


“ Key, udah belok kiri nih, terus kemana lagi? “.


Ucapan Alfa membaut Keyra tersadar, ternyata jalanan sini sudah sedikit lagi sampai menuju perumahan tempat ibu sambungnya tinggal. Bergegas menghilangkan rasa tak nyaman kala mengenang masa lalu tadi, Keyra memberitahu Alfa untuk masuk ke gang yang terdapat gapura 10 meter didepan sana.


“ Berenti disini bang “.


Mobil yang mereka tempati pun berhenti di tepi jalan, tepatnya didepan sebuah halaman rumah yang terlihat elok dan rapi menurut penilaian Alfa, meskipun Mansion keluara Elrahma berpuluh-puluh kali lebih besar, namun nuansa yang sejuk karena keberadaan pohon mangga di kedua sisi rumah membuat rumah ini sangat terasa nyaman.


“ Lo mau ikut kesana apa disini bang? “. Tanya Keyra kala mereka sudah keluar dari mobil.


“ Ikut aja deh “.


Keduanya pun berjalan menuju teras, sebelum mengetuk inu, sekilas alfa dapat melihat Keyra yang menghala nafas sejenak nampak sedang gugup, bukankah pemuda itu hanya menemui ibu dan ayah nya saja, kenapa terlihat begitu tegang, seperti hendak mengetuk pintu rumah pujaan hati saja.


Tok, tok, tok


“ Assalamualaikum... Permisi “.


Keyra mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu mengucap salam dan menunggu sejenak, secara samar ia dapat mendengar suara seseorang menjawab salamnya, namun hal itu sukses membuat tubuhnya menegang.

__ADS_1


Pintu pun terbuka, menampilkan seorang pria berusia sekitar 45 tahunan keluar dari rumah, perawakannya tidak terlalu tinggi namun masih membuat Keyra sedikit mendongkak kala melihat wajahnya, dengan wajah yang sudah sedikit kerupuk, pria berkacamata itu sedikit mengerutkan dari kala tatapannya bertemu dengan Keyra.


“ Kamu? “.


“ Assalamualaikum, Yah... “.


Keyra menggigit bibir dalamnya tanpa sepengetahuan orang lain, satu detik kemudian pemuda itu sedikit membungkuk dan mengulurkan tangan untuk salim pada pria yang ada didepannya, namun tak lepas dari pandangan Alfa, tuam muda dari Keyra itu mengernyit alis kala melihat kejadian yang ada dihadapannya. Fedrik, ayah dari Keyra itu tidak menyambut baik uluran tangan sang anak, bahkan lama Keyra melayangkan tangannya pun tetap tidak dia raih. Sampai pada akhirnya Keyra mengerti, pemuda itupun menurunkan tangannya sambil mengulas senyum lembut.


“ Halo, Yah... apa kabar? “. Tanya Keyra.


“ Kamu mau ngapain kesini? “.


Bukan menjawab pertanyaan Keyra, Fedrik malah balik bertanya dengan nada yang kurang mengenakan, terlebih raut wajahnya nampak seperti tidak menyukai Keyra, dalam hati Alfa bertanya-tanya, apakah hubungan antara anak dan ayah itu kurang baik?.


“ Aldo mau jemput ibu... soalnya mau ada acara, jadi aku disuruh kesini sama__... “.


Ucapan Keyra terhenti, bukan karena ada yang memotong maupun menyela, pemuda itu menghela nafas kala Fedrik malah masuk kedalam tanpa menunggunya selesai bicara, agak nyesek, namun Keyra sudah terbiasa.


“ Key, you okey? “. Tanya Keyra dengan nada dan raut wajah khawatir, kali ini Keyra sedikit malu karena hubungan buruk antara dirinya dengan sang ayah diketahui oleh orang lain.


“ Haha, gak papa bang... aling entar dia balik lagi “.


Sesuai perkataan Kyra, Fedrik kini kembali masih dengan raut wajah yang tidak bersahabat, namun kalai ini dia tidak sendiri, melainkan dengan keberadaan seorang wanita hamil yang semula mengikuti dari belakang lalu muncul keluar.


“ Ya ampun... kamu ternyata udah sampe Do, kenapa gak ngabarin ibu dulu? “. Ucapnya yang tidak lain adalah Ika.


“ Tadi abis pulang sekolah Aldo langsung kesini bu, jadi gak sempet ngabarin juga “. . Ucap Keyra setelah ia salim diikuti Alfa yang melakukan hal serupa.


“ Ya ampun, berarti kalian gak pulang dulu ke rumah dong, pantes aja masih pada pake seragam... oh iya, sebenernya Ibu udah siap tinggal berangkat aja, tapi apa kalian mau mampir sebentar buat istirahat dulu?, takutnya cape, sekarang juga belum terlalu sore ini “.


Ika menawarkan, sementara Keyra cukup bingung bagaimana cara ia menjawab, niat dari hati sih pemuda itu mau-mau saja singgah di rumah ini, toh Ika akan menjamunya dengan baik, namun satu hal yang tidak dapat ia abaikan, Keyra takut kalau ayahnya akan merasa terganggu dengan kehadirannya, mau menolak merasa tak enak pada ibunya, tapi kalau menerima pasti Fedrik akan melakukan hal yang tak terduga.


“ Em... bu Ika, kalau saran Alfa sih... mending kita langsung berangkat aja deh, sebenernya bunda sempet nelpon sebelum kita kesini, katanya jangan terlalu sore pulangnya, soalnya liat waktu juga, kita takutnya bu Ika malah bisa pulang malem nanti “.


Alfa membuka suara, argumennya membuat Ika dan Keyra mengangguk setuju. “ Ya udah... kalau gitu kita berangkat sekarang yuk. Mas... aku berangkat ya “. Ucap Ika sambil mencium tangan sang suami.


Keyra pun melakukan hal yang sama seperti ia pertama bertemu tadi dengan Fedrik, yaitu mengulurkan tangan untuk sekedar salim, ia tidak terlalu berharap ayahnya akan menyambut uluran tangan ini, tapi berbanding terbalik dengan dugaan, Fedrik membiarkan tangannya dicium Keyra sebelum pria itu masuk tanpa sepatah katapun.


Ika hanya menghela nafas, sepertinya kebiasaan buruk sang suami belum hilang meskipun anaknya sudah beranjak dewasa. “ Maafin ayah kamu ya Do, manusia itu emang harus di pukul dulu baru sadar “. Ucap Ika membuat Keyra dan Alfa sedikit lucu.


“ Haha... emangnya anak kecil dipukul, yang ada nanti ibu gak dapet uang bulanan “. Ujar Keyra.


“ Eh, mana bisa, kalau bener ayah kamu gak ngasih uang bulanan... mending ibu usir aja dia biar tidur diluar “.


“ Ibu bisa aja, udah ah... mending kita langsung berangkat, udah mau Ashar nih, iya gak bang? “.


“ Yoi, tapi mau agak santai juga no problem “. Alfa menjawab usulan Keyra.


“ Ok, ok... kalau gitu kita berangkat deh, ngomong-ngomong makasih ya udah mau jemput ibu “.


“ Sama-sama “. Jawab Keyra dan Alfa bersamaan.


***


Keyra, Alfa dan Ika sampai di mansion keluarga Elrahma pada pukul 3 lewat 25 menit, masuknya mereka disambut hangat oleh penghuni rumah terutama Veriska yang menunggu kedatangan sang sahabat. Tidak hanya itu, ternyata tuan Dharma dan Nyonya Yuli sudah berada disana kala Keyra masuk ke ruang tengah lebih dalam, keduanya menyapa Keyra dan Alfa untuk sekedar menanyakan kabar. Disamping itu, Keyra juga menemukan beberapa orang baru yang wajahnya masih terasa asing.


Dimana ada seorang pria seumuran Noland tengah mengobrol dengan pak Faren si kepsek Bina Gemilang High Scholl, Keyra melihat dari keakraban mereka, mungkin orang itu adalah salah satu manusia yang dapat memanggil Noland dengan sebutan ‘si tua bangka’ seperti pak Faren dan tuan Dharma.


“ Keyra, Alfa... kalian mending bersih-bersih dulu sana, abis itu balik lagi kesini ya, kita bakalan makan bersama soalnya “. Ucap Veriska yang berada disebelah Ika.


“ Ya udah, Al ke kamar dulu deh, mau mandi, terus lo mau gimana Key? “. Tanya Alfa pada Keyra yang masih mengobrol dengan sang ibu.


“ Em... kayaknya gue juga deh, tapi... em... ibu mau ikut ke kamar Aldo gak? “.


Atensi beberapa orang kini terfokus pada Keyra kala pemuda itu menawarkan sang ibu untuk masuk ke kamarnya, bukan karena satu dan lain hal, orang-orang disana cukup tahu kalau Keyra adalah pemuda yang jarang sekali membiarkan orang lain masuk ke kamarnya, bahkan para maid pun tidak banyak yang mengetahui isi kamar Keyra, karena urusan membersihkan dan lainnnya akan dikerjakan oleh pemuda itu sendiri bahkan para anggota keluarga Elrahma pun sangatlah jarang masuk ke kamarnya. Mungkin yang sering itu hanyalah Una, Si dua sengklek tuan muda dan Veriska saja, itu pun bisa dihitung seminggu sekali.


“ Eh, emang gak papa ya, Do? “ Tanya Ika.


“ Boleh kok, masa enggak sih?, Kan? “. Ucapan Keyra diakhiri dengan nada bertanya yang ditunjukan pada bunda Alfa, otomatis wanita itu hanya tersenyum sambil mengangguk membuat mata Keyra sedikit berbinar, hingga detik berikutnya terjadi, Alfa, Keyra dan Ika pun pergi menuju ke lantai 3, tidak lupa dengan Una yang selalu ngintil kemanapun Keyra berada, oh, satu lagi... ternyata Reza juga ikut naik, tapi berniat pergi ke kamar Alfa, bukan ke kamar Keyra layaknya Una dan Ika.


‘ Hah... liat Keyra manja ke Ika entah kenapa buat aku cemburu, pengen deh rasanya anak itu ikut manja juga kayak Al sama yang lainnya ‘ Batin Veriska, melihat kepergian para anaknya lewat lift yang mulai tertutup.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2