
“ Fufu... ternyata kamu masih suka sama milkshake ya Una? “.
“ Iya dong oma, milkshake kan enak, apalagi rasa strawberry... em... manis “.
“ Wah, wah... Eza sama Alfa juga udah pada tinggi ya, hampir sama kayak opa “.
“ Opa bisa aja, kan nutrisi yang dikasih orang tua kita gak pernah kurang, iya gak Za? “.
“ Betul banget “.
Keyra diam memperhatikan situasi yang ada didepannya, niat awal yang ingin memperkenalkan Una dan para kakak ke pasutri Dharma dan Yuli hancur berantakan karena keempat orang itu sudah saling mengenal. Beberapa menit sebelum dirinya duduk ditengah reuni dadakan ini, Una bercerita kalau Dharma dan Yuli adalah teman sekaligus rekan kerja Noland di berbagai bidang, bisa dibilang keduanya merupakan orang penting yang bekerja sama dengan group El R.
“ Bang Kekey mau milkshake Una gak?, ini enak lho “. Ucapnya ditengah lamunan Keyra.
“ Gak usah Na, lo aja yang minum “.
“ Hm... dipikir-pikir nak Keyra ini temen kalian bukan? “. Tanya Dharma.
“ Bukan opa, bang Kekey ini abangnya Una “.
Seraya mendengar penjelasan Una, Dharma dan Yuli saling memandang satu sama lain, mereka tersenyum meski bingung dengan yang diutarakan gadis itu, mungkin satu hal yang pasti, keduanya hanya bisa menganggap Una dan Keyra adalah teman dekat sampai menganggap saudara satu sama lain.
Dari situ, untuk memperjelas guna mencegah kesalah pahaman, Reza membuka suara bahwa Keyra merupakan orang yang dipekerjakan di mansion keluarga Elrahma, profesinya sebagai body guard tidak banyak orang ketahui, biasanya orang lain menganggap Keyra sebagai asisten rumah tangga ataupun tukang kebun di rumah, terlebih disekolah Keyra dikenal sebagai pengasuh Una karena rumor yang beredar.
“ Wah... kamu diumur segitu udah jadi body guard? Apa enggak bahaya? Meskipun Noland si tua bangka itu agak ceroboh... tapi dia enggak mungkin asal ngerekrut orang tanpa kemampuan yang memadai, kamu pasti mahir dalam seni beladiri “. Ucap Dharma terkagum-kagum dengan Keyra.
“ Itu... kemampuan saya masih kurang kok tuan, mungkin karena kerendah hatian tuan Noland aja yang terlalu besar sampai ngerekrut orang kayak saya, terlebih bukan tuan Noland langsung yang rekrut, tapi Una yang buat saya bisa kerja sebagai body guard “.
Dharma tidak membahas lebih lanjut perihal pekerjaan dan kedatangannya di keluarga Elrahma, pria itu lebih penasaran dengan latar belakang keluarga Keyra, dari pertama kali bertemu, entah kenapa dirinya merasa kalau pemuda dihadapannya memiliki kebiasaan yang mirip dengan seseorang, terlebih seseorang yang disebut itu merupakan orang yang ia dan Yuli rindukan.
Sedikit contoh, kegiatan yang Keyra lakukan ketika ia minum sangatlah persis seperti 'orang itu’, dimana ketika tangan kanan kotor saat makan dan mengharuskan minum menggunakan tangan kiri, disini Keyra tetap ikut menggunakan punggung tangan kanannya sebagai penopang, hal ini cukup sepele, mungkin sebagian orang juga menggunakan adab minum yang sama, namun seperti yang dijelaskan tadi, entah kenapa pasangan suami istri paruh baya itu malah mengingat seseorang saat melihat Keyra.
‘ Hah... jadi nostalgia ‘ Batin Dharma dan Yuli secara bersamaan.
***
“ Hah? opa Dhimas sama oma Yuli? “.
“ Iya ka Azka, mereka ternyata udah ada di Indonesia lho “.
“ Kok enggak ngasih kabar dulu?, kalau tau pasti udah kakak jemput ke bandara pas mereka dateng “.
Saat ini, Una, Razka dan Keyra sedang berbincang seputar pasutri Dhimas dan Yuli, jika dilihat lebih lama keluarga Elrahma sudah seperti keluarga dekat dengan mereka berdua, Keyra menilai mungkin diantara cucu Noland yang paling dekat dengan keduanya adalah Razka, itu nampak jelas terpampang dari wajahnya yang antusias kala mendengar kabar tentang mereka. Cukup jarang melihat putra sulung Juan yang tersenyum lebar saat mengobrol, pria berkaca mata itu selain mempunyai kepribadian dingin adalah orang yang hebat bicara, meskipun tidak dengan keluarganya, namun perilaku Razka akan berpindah ke mode pria cool jika berbicara pada para pekerja dirumah, termasuk Keyra, meski tidak separah ke yang lain.
“ Hm... kakak jadi pengen pergi kesana, rumah oma sama opa jauh dari mansion gak? “ Tanya Razka.
“ Una gak tau tempatnya kak, tapi bang Kekey tau “.
“ oh, Keyra... apa rumah mereka masih sekitaran sini? “ Perhatian Razka kini teralih pada Keyra.
“ Hm... menurut saya gak terlalu jauh, bahkan kakak sendiri pernah kesana “.
“ Eh? emang iya? “.
“ Apa kak Razka masih inget rumah saya pas dulu ngontrak?. Nah, disitu tempatnya, cuma rumahnya dibongkar dan dibangun ulang “.
“ Hah? jadi meraka enggak tinggal di mansion Arkan?, kenapa? “.
“ Opa sama oma mau kehidupan sederhana katanya kak, mereka gak mau tinggal di rumah yang terlalu besar “. Kali ini Una yang mengutarakan argumen.
“ Lho, terus yang tinggal di sana siapa? “.
__ADS_1
“ Tante Heni sama anak dan suaminya “
Razka mengangguk dan memilih mempertanyakan keadaan Dharma dan Yuli pada kedua anak di sampingnya, mendengar cerita pasutri paruh baya itu sehat-sehat saja membuat hatinya tenang, ia jadi rindu di masa-masa saat dirinya kecil dan dimanja oleh mereka. Sedikit informasi, sebelum kelahiran Reza, Alfa dan Una, Razka merupakan harta yang paling berharga bagi keluarga Elrahma, selain menjadi cucu pertama keluarga, pemuda itu juga mendapat kasih sayang penuh tanpa diduakan oleh para orang tua, tidak terkecuali Erlang dan Veriska yang sebelumnya memang belum dikaruniai anak.
Selain dari kasih sayang keluarga, Razka juga mendapat kasih sayang berharga dari sahabat kakek dan neneknya dulu, dan benar, orang itu adalah Dhimas dan Yuli yang saat ini belum Razka temui setelah sekian lama. Ketiganya sangat dekat, berinteraksi sebagaimana keluarga kandung, pemuda itu merindukan sentuhan lembut seorang nenek yang ia dambakan setelah kepergian omanya beberapa tahun yang lalu.
Tapi untuk sekarang, mungkin dari faktor usia dan ditambah kehadiran ketiga adiknya, kasih sayang para orang tua harus dibagi sama rata, tapi itu tak masalah, Toh Razka sendiri sudah kenyang diperlakukan istimewa oleh keluarga selama bertahun-tahun, ia mewajarkan hal tersebut karena adiknya memang butuh kasih sayang lebih dan perhatian ekstra, terlebih ia tahu satu hal dengan pasti, keluarganya akan tetap menyayanginya sampai kapanpun meski dengan cara yang tak sama lagi.
“ Hm... kakak jadi pengen kesana, kira-kira minggu ini bisa apa enggak ya? “.
“ Kenapa kak Azka gak izin aja ke papa? “. Tanya Una.
“ Kak Azka kan harus tetep bantuin papa, sayang... “.
“ Sekali ini aja kak, lagian Una liat kak Azka selalu kerja, gak pernah tuh liat libur selain akhir pekan... yang ada bukannya istirahat, kakak malah kuliah online kan? “.
Pernyataan Una sepenuhnya adalah benar, selama ini Razka memang tipe anak yang paling rajin diantara para cucu keluarga Elrahma, tidak hanya aktif dalam menjalankan bisnis dan mengelola perusahaan, pemuda itu juga masih sibuk dengan kegiatan kuliah pasca sarjananya diusia 25 tahun, sungguh anak yang teladan.
“ iya juga ya... ok deh, entar Una temenin kakak ke rumah opa Dharma sama oma Yuli ya “.
“ Ok, siap... bang Kekey juga ikut ya kak “.
“ Iya... “. Jawab Razka dengan senyuman.
***
Pagi ini, di hari Kamis dengan cuaca yang lumayan mendung, Keyra tengah berkutat dengan alat tulis yang sejak tadi digunakan untuk menyelesaikan tugas dari guru, sedikit informasi tambahan, jika dihitung dengan hari-hari sebelumnya, sekarang itu merupakan hari terakhir dirinya dan siswa lain mengikuti ulangan tengah semester. Meskipun bukan nilai untuk penentuan naik kelasnya atau tidak, setidaknya kegiatan ini dapat menambah nilai yang masih kurang dimata pelajaran lain.
Siswa dikelas ini tidak sepenuhnya mengerjakan soal dengan mudah, ada yang histeris dengan soal yang sangat tidak masuk akal, ada yang santuy saja dengan contekan yang sudah siap untuk dilihat, dan beberapa murid bahkan ada yang acuh tak acuh mengerjakan soal tidak peduli dengan jawaban mereka benar atau salahnya. Terkecuali Keyra, pemuda itu nampak tenang mengerjakan soal dengan seksama, mungkin karena sebelum ujian ia sempat belajar sebentar, soal ujian kali ini ia jawab dengan mudah dan cepat.
“ Ok, anak-anak... waktu pelajaran saya sudah habis, jadi tolong kumpulkan kertas ujian kalian didepan saya, setelah itu silakan keluar untuk istirahat “.
“ Baik bu... “.
“ Haduh... akhirnya selesai juga ni ulangan “. Ucap Bima meregangkan tubuhnya yang pegal karena sejak tadi duduk tanpa bergeser sedikit pun.
“ Untung aja gue sempet belajar, jadi jawabnya lumayan gampang, kalian gimana? “ tanya Salsa.
“ Kalau gue sih netral, gak terlalu susah dan gak terlalu gampang “. Jawab Lianza.
“ Wih... hebat lu, yakin deh kalau si juara kelas mah, kalau gue sih udah pusing dari awal, semua soalnya susah banget “. Kali ini Bima yang berbicara.
“ Ah... emang otak lu nya aja yang padet ke batu, dari SMP gak pernah berubah “. Celetuk Salsa.
“ Anjrit!... heh bambang, mau gimana lagi kan ya, soal ujiannya aja gak masuk akal kayak gitu, gimana gue mau jawab? “.
“ Setidaknya lu belajar dulu ke sebelum ujian, dari dulu alesannya ‘gue itu kurang cocok kalau baca buku’, nilai lu gak bakalan pernah naik lah kalau gitu “.
“ Nilai itu kan hanya sebuah angka, jadi gak perlu dipermasalahkan, lagi pula gue punya bakat di bidang lain kok, meskipun otak gua bloon sama pelajaran, setidaknya di bidang olahraga gue unggul “.
Bima membanggakan diri, sementara Salsa tidak mau kalah mengutarakan apa saja kelemahan dan keburukan pria itu, mereka beradu mulut seperti pengacara yang berdebat di meja bundar, Lianza dan Keyra menghela nafas dan memilih memisah obrolan dari kedua manusia berisik itu.
“ Ampun deh, mereka kenapa sih selalu aja adu cincong?, topik yang dibahasnya pun gak masuk akal lagi, gue yang ada dibelakang mereka jadi pusing, untung lo ada disebelah gue Key “. Ucap Lianza sedikit memijat keningnya.
“ Sama gua juga pusing, andai aja kita bisa pindah kelas “.
“ Iya juga ya, kayaknya seru deh pas belajar adem ayem gak ada mereka berdua “.
“ Tapi entar si Bima pasti mewek kalau gue tinggal “. Ucap Keyra sedikit terkekeh.
“ Iya lah, bank contekannya pergi, ya kali dia rela gitu aja lo pindah kelas “.
__ADS_1
“ Kan masih ada si Salsa “.
“ Yang ada kelas ini bakalan ambyar sih “.
Keyra dan Lianza tertawa, keduanya mengobrol ke berbagai arah dengan Bima dan Salsa yang masih stay beradu argumen, keempatnya sudah cukup dekat satu sama lain, dengan hubungan pertemanan yang hampir setengah tahun ini, Keyra menilai bahwa ketiga orang itu merupakan individu yang baik.
“ Misi bro, lo Keyra kan? “.
Ditengah kegiatan, dari banyaknya siswa yang setengahnya keluar istirahat menuju kantin, datang seorang siswa yang memanggil nama Keyra sambil menghampirinya. Seketika itu juga, atensi Keyra dan teman-temannya tertuju pada siswa tersebut.
“ Iya, ada perlu apa ya? “.
“ Lo dipanggil pa kepsek, sekarang lagi ditunggu di ruang guru “. Ucapnya menjelaskan.
“ Eh? kepala sekolah, mau ngapain? “.
“ Oh, kalau soal itu gue gak tau, beliau cuma nyuruh gue manggil lo “.
Keyra menaikan alis, heran dengan panggilan mendadak kepala sekolah, dirinya bingung apakah ia membuat kesalahan tanpa sadar?, perasaan dirinya sudah melakukan tugas sebagai murid yang rajin dan aktif dikelas, serta tidak pernah membuat kesalahan, kecuali terlambat 5 menit tempo hari, itu pun ulah dari para tuan muda gak ada akhlak.
“ Ya udah, gue kesana... makasih ya bro udah ngasih tau “.
“ Sama-sama, gue pamit dulu “.
Bersamaan dengan siswa tadi yang keluar kelas, Keyra pamit duluan pada temannya dan bergegas menuju ruang guru, dengan langkah cepat ia melewati beberapa kelas dan gedung untuk mencapai kesana, sungguh sekolah yang luas, ditengah rasa penasaran untuk apa kepsek memanggilnya, Keyra masih terkagum-kagum dengan fasilitas dan bangunan dari sekolah yang belum ia jelajahi sepenuhnya ini. Beberapa menit kemudian, pemuda itu tiba di pintu masuk ruang guru.
“ Permisi... “.
Keyra maju satu langkah setelah mengetuk pintu yang sejak awal terbuka lebar, saat melakukan kegiatan tersebut perhatian beberapa guru mengarah padanya, salah satu dari mereka ada yang memberikan senyum hangat dan beberapa lagi memilih untuk melanjutkan kegiatan. Seseorang kini menghampiri Keyra, beliau merupakan wanita yang anggun dan cantik, dengan nama ‘Tiara’ yang tercantum di name tage yang ia pakai, kaca matanya yang terpasang di hidung mancung, serta rambut hitam sebahu yang terurai sungguh memberikan kesan seperti wanita karir berdedikasi, Keyra yakin ketika beliau mengajar pasti membuat mood dan rasa antusiasme para murid meningkat pesat.
“ Ada perlu apa nak? “. Ucapnya dengan senyum ramah yang tak pernah lepas dari wajah.
“ Itu... saya kesini karena denger pak Kepala sekolah manggil saya “.
“ Iya kah? Nama kamu siapa nak? Dan dari kelas mana? “. Tanya bu Tiara untuk kedua kalinya.
“ Saya Keyraldo bu... dari kelas 10-3 di gedung 4 “.
Guru cantik itu berekspresi, seperti agak terkejut dengan ungkapan Keyra, dan tidak hanya dengan dia saja, beberapa guru yang mencuri dengar memiliki mimik wajah yang sama.
‘ Apa gue salah ngomong? ‘ Batin Keyra sedikit cemas.
“ Ya ampun... kamu Keyra yang ikut program ‘pertukaran pelajar’ itu ya? “. Ucap Guru cantik yang kini nampak antusias.
“ Eh?... Em, iya bu “.
“ Fufu... kamu terkenal dikalangan para guru lho, selain tampan, saya denger dari guru mapel lain kalau kamu itu anak yang cerdas “.
“ Hah? “.
“ Oh iya, kamu mau ketemu kepsek kan, ya udah biar saya anter... soalnya ruangan pak kepsek bukan disini “.
Mendapat anggukan dari Keyra, bu Tiara menuntunnya ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang guru. Ruangan itu terpisah, lebih tepatnya berada di bangunan yang berbeda, seolah bangunan itu dibuat khusus untuk ruangan kepala sekolah, dan dugaannya benar, dibalik Keyra yang sedikit bingung, bu Tiara menjelaskan beberapa hal mengenai penyebab ruangan kepala sekolah yang tidak bergabung dengan bangunan lain, ia bahkan mewajarkan kalau Keyra belum pernah masuk bahkan melihatnya, secara yang dapat masuk ke ruangan sepala sekolah hanya orang-orang tertentu saja, selain guru mungkin anggota OSIS yang berhak masuk kesana.
‘ Berarti siswa yang manggil gue tadi orang penting dong, terus kenapa juga gue dipanggil kesini? ‘
Setelah melihat bu Tiara mengetuk beberapa kali, wanita itu membuka pintu dan masuk ke ruangan dengan keyra yang mengekor dibelakang. Pertama kali melihat, pandangan Keyra menyisir ruangan yang bernuansa cat warna coklat, nampak antik dan elegan, terlebih dirinya kini menemukan seseorang yang duduk di kursi tengah berkutat dengan beberapa lembar berkas. Mungkin kepala sekolah itu adalah beliau yang disana.
“ Permisi pak Kepala, saya bawa anak yang bernama Keyra... “.
Perhatian kepala sekolah kini terfokus pada bu Tiara dan beralih pada Keyra yang langsung membungkukkan badan.
__ADS_1
‘ Hm... menarik´ batin Kepala sekolah
Bersambung