Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
45# Ungkapan dari Ayah


__ADS_3

“ A, apa maksud ayah? “.


“ Biar saya pertegas lagi, kamu itu sebenarnya bukan anak saya, Aldo. Dulu, kala waktu kamu umur 3 tahun, saya pernah satu kali liat warna mata kamu yang berbeda, entah apa alasan ibu kamu nyembunyiin hal itu, tapi setelah saya cek karena penasaran, saya kecewa sama kamu, saya kecewa sama ibu kamu. Hasil tes DNA kita enggak cocok, yang berarti ibu kamu pernah berhubungan dengan pria selain saya “.


“ Entah sama siapa, tapi yang paling saya curigai, palingan ibu kamu berhubungan kotor sama di Banu brengs*k itu, dasar pelacur! “.


“ Ayah!, cukup... ayah gak boleh ngomong kayak gitu tentang ibu “.


“ Kenapa? emang faktanya kan? “.


“ Ta, tapi... ayah gak salah kan, mungkin aja ada kesalahan, Yah. Ibu gak mungkin berbuat hal haram kayak gitu, itu dosa. Bahkan ibu selalu bilang sama Aldo kalau mendekati aja gak boleh “.


“ Halah!, ibu kamu itu sok suci!, buktinya dia punya anak selain dari saya, dan asal kamu tau ya... sekalipun kamu adalah anak saya, gak gak sudi nerima anak pembawa sial kayak kamu! “.


Keyra mematung, bersamaan dengan perginya Fedrik dari pandangan, pria berusia 45 tahun itu meninggalkan tiga orang yang diam dengan wajah kesal. Seolah disambar petir tengah hari bolong, Keyra menunduk, perasaannya tak karuan dan penuh dengan tanda tanya, apakah ucapan ayahnya itu benar?, tidak mungkin dia sebenci itu kepada dirinya sampai tidak diakui sebagai anak kan?. Atau mungkin... apa memang karena dirinya yang bukan anak Fedrik membuat pria itu benci.


“ Aldo, kamu jangan dengerin ayah kamu ya, dia itu emang gak ada otak “. Ucap Ika berusaha menghibur Keyra, ia takut kalau ucapan suaminya menyakiti hati sang anak sambung, walaupun mau dilihat darimanapun, perasaan Keyra sudah benar-benar terkoyak.


“ Bang Kekey... “. Panggil Una dengan mata yang berkaca-kaca.


“ Aldo... “.


Tak mendapat respon dari orang yang bersangkutan, Una dan Ika memandang satu sama lain dengan khawatir, menambah rasa panik kala pemuda yang didepan mereka meluruh kebawah, posisi Keyra saat ini tengah berjongkok sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


‘ Hah... apa seburuk itu gua dimata Ayah? Lalu apa yang tadi gue denger? Gue bukan anaknya? ‘


Hati Keyra hancur bak kaca yang jatuh dari ketinggian lalu pecah hingga berkeping-keping. Pikirannya kacau, belum siap untuk menerima kenyataan yang baru ia dapat. Terlebih... selain dari ibunya yang berasal dari keluarga teman dekat Noland, Keyra tidak menyangka sama sekali kalau dirinya... bukanlah anak dari sang ayah. Ingin rasanya ia menangis, namun kenapa selalu begini?, air matanya tak kunjung keluar hingga menyebabkan dadanya sakit dan sesak secara bersamaan, terlebih nafasnya seakan tercekat, oksigen di sekitar seakan menjauh membuat nafasnya kian memberat. Sungguh sakit, sekali saja Keyra ingin mengeluarkan kesedihannya, namun kenapa tidak bisa?, apakah ia ditakdirkan untuk tidak menangis kala terpuruk. Ia juga ingin seperti orang-orang yang bisa meluapkan masalah mereka dengan cara menangis.


“ Aldo, yang sabar ya nak. Kamu gak sendiri, ada ibu disini... “.


Ika memeluk Keyra yang masih setia dengan posisinya, wanita itu merengkuh tubuh sang anak sambung sambil mengelus pelan punggung pemuda itu. Hatinya ikut terasa sakit kala melihat Keyra yang rapuh seperti ini, serta sama halnya dengan Una, gadis itu tidak ingin abangnya bersedih, namun hendak menghibur juga ia masih bingung.


Lama waktu berjalan, Keyra sudah lebih dari 10 menit diam dalam posisi tersebut, Una dan Ika sudah mencoba berbagai cara untuk mencoba Keyra berbicara, namun tak kunjung ada reaksi. Hingga sebuah helaan nafas pun terdengar, Keyra pun mengangkat pandangannya dan menurunkan tangan yang sejak tadi menutup wajahnya.


“ Aldo... “.


“ Bang Kekey... “. Panggil Ika dan Una secara bergantian, mereka menatap khawatir Keyra yang memasang wajah datar, namun selanjutnya mereka makin khawatir lagi melihat Keyra yang tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


“ Maaf ya bu, aku udah bikin ibu khawatir, Una juga... gue sekarang gak papa kok “.


“ Aldo... jangan ditahan, sayang. Sekiranya ini berat mending keluarin aja, nyimpen rasa sakit sendirian itu gak baik “.


“ Iya lho bang, bila perlu bang Kekey boleh banget curhat sama Una kalau engga sama bu Ika, Una gak mau bang Kekey sedih sendirian.


“ Haha... makasih banyak ya kalian udah perhatian, gue beneran gak papa Na, sekarang udah lebih baik kok, dan Ibu... tolong jangan pasang muka kayak gitu dong, aku jadi keliatan miris banget lho “.


Ika diam menatap Keyra yang berbicara seperti biasa, dengan Una yang sebagai lawan bicara, pemuda itu bersikap seolah dirinya tidak dalam masalah. Ika menyayangkan satu hal dari kesempurnaan Keyra, anak sambungnya itu sangat pintar menyembunyikan perasaannya, sangat sulit ditebak jika hanya melihat dari raut wajahnya saja, namun sebagai seorang ibu ia dapat merasakan sesuatu yang tidak orang lain rasakan, anaknya ini sedang dalam kondisi rapuh, namun dapat dengan mudah ditutup oleh wajah aktingnya.


‘ Aldo... hati kamu terbuat dari apa sih, nak? ‘ Batin Ika.


***


Di sebuah ruangan, dengan meja bundar besar dan banyak kursi ditengah-tengah, rak-rak buku tersusun rapi dipinggiran membuat kesan pertama yang didapat di ruangan ini adalah rapi, namun bukan berfokus pada tata letak dan barang yang ada disana, sudut pandang tertuju pada 3 orang pria yang kini tengah sibuk satu sama lain. Kalau ingin tahu, orang-orang itu adalah Erlang, Juan dan Razka. Dua anak dari kepala keluarga Elrahma dan satu cucu sulungnya.


“ Sial!, dia mainnya lihai banget sih “. Gerutu Razka kala jari pemuda itu tengah menari di keyboard laptopnya.


“ Gimana Ka?, apa kamu udah nemu titik terang? “. Tanya Erlang ditengah dirinya dan Juan yang memeriksa beberapa berkas.


“ Aku udah berusaha Yah, tapi kali ini gagal lagi... orang itu bisa banget nyembunyiin datanya, aku gak bisa ambil data lebih banyak dari yang tadi “.


“ Kamu udah pake kode itu? Yang guru kamu ajarin? “. Kali ini Juan yang berbicara.


“ Udah, Pah. Cuma tetep ga bisa “.

__ADS_1


“ Kalau gitu telpon Arid “. Bukan Juan, namun Erlang yang memberi instruksi tersebut.


“ Eh? Ayah yakin? Dia itu kan kartu AS kita “.


“ Ini mungkin beresiko, tapi... ayah nemu sesuatu yang mana kebenarannya bikin ayah sendiri kaget, dan itu perlu dipastikan benar apa enggak nya. Jadi tolong hubungi dia “.


“ Emangnya kakak nemu apa? “.


“ Mungkin... kakak ceritanya nanti aja “.


Erlang menghela nafas, sedikit enggan menceritakan hal yang ditemuinya tadi, takut hanya kebetulan belaka, namun apa yang dilihatnya sangat tidak bisa dibantah sama sekali. Membahas tentang apa yang dilakukan oleh ketiga orang ini, Erlang atau lebih tepatnya ayah dari Alfa mendapat perintah langsung dari Noland untuk mencari latar belakang Keyra dan keluarganya lebih detail, bersama dengan Juan dan Razka, ketiganya menemukan satu fakta yang membuat kaget bukan kepalang.


Kejadian dimana Keyra yang terkejut dengan wajah anaknya Dharma membuat sahabat dari Noland itu menyimpan kecurigaan. Kali saja dia mendapat petunjuk tentang anaknya yang sudah lama menghilang, selain mencari sendiri kebenarannya, Dharma juga meminta Noland dan para anak-anaknya untuk ikut membantu.


Hingga satu kebenaran pun terungkap. Hera, yang kita ketahui sebagai almarhum ibu dari Keyra itu... ternyata adalah kembaran dari Heni, otomatis wanita itu adalah anak kandung dari Dharma dan Yuli, yang mana kalau begitu sudah dipastikan kalau Keyra merupakan cucu mereka. Cucu dari keluarga Arkan.


Bagaimana kebetulan ini bisa terjadi?, sebenarnya bukanlah lah kebetulan, melainkan takdir yang mempertemukan mereka. Dari perginya Hera dari rumah untuk menikahi pria yang dicintainya, sampai pertemuan tak terduga Dharma dan Keyra yang tidak mengetahui fakta semuanya adalah takdir, tidak bisa dibilang hanya kebetulan.


Terlebih diketahuinya Keyra sebagai cucu Dharma, pria tua itu senang karena bisa bertemu dengan buah hati dari anaknya, meskipun tidak menutup kenyataan kalau dia merasa terpukul karena sang anak sudah lama meninggal dunia. Dan lagi informasi ini belum diketahui oleh para nyonya Elrahma, mereka berniat memberitahu setelah semuanya selesai.


Lalu, apa yang ditemukan oleh Erlang? Kenapa pria itu masih tidak mau memberitahu yang lain. Singkatnya dia menemukan fakta lain. Masih ingat dengan dirinya yang dulu pernah mencari latar belakang Keyra tanpa alasan? Sebenarnya pria itu juga dilanda rasa penasaran. Tepatnya kala kejadian penyerangan para anak tempo hari, yang mana Keyra kekurangan darah dan membutuhkan pendonor yang cocok, sejak awal ia merasa heran kenapa darahnya dengan pemuda itu sangat cocok.


 Asal kalian ketahui, tipe darah yang Erlang miliki itu cukup langka, bahkan ayah dan anaknya saja tidak memiliki darah serupa dengannya, yang mana pada kondisi ini ia tidak bisa menerima bahkan memberi jika itu beda golongan, mungkin darah yang golongannya sama hanya Selena dulu sebagai orang yang menurunkan gen tersebut. Namun anehnya kenapa darah Erlang dapat diterima oleh Keyra?.


Serta satu lagi yang menjadi pusat rasa penasaran Erlang. Warna mata Keyra, kenapa bisa sama persis dengan mendiang ibundanya?, apakah ini semua adalah kebetulan?. Tentu saja tidak!, karena baru-baru ini ia mendapat informasi kalau... tempat melahirkan nya Hera dan Veriska berada di rumah sakit yang sama. Ini memperkuat dugaan Erlang kalau... Keyra merupakan anaknya yang tertukar.


‘ Kalau misal Keyra bener anak aku... apa yang harus aku bilang sama Veriska? ‘


***


“ Bang Kekey... “.


“ Iya, kenapa? “.


“ Tenang aja, gue gak papa kok “.


Keyra tersenyum dan kemudian mengelus lembut kepala Una. Mereka kini sudah berada di dalam bis dalam perjalanan pulang, keduanya pergi dari rumah Ika setelah mereka pamit usai wajah Keyra terlihat lebih cerah, namun dibalik semua itu hatinya masihlah sakit, sangat sakit bahkan sesaknya sampai sekarang, meski pemuda itu dengan mudah menyembunyikannya dari orang lain lewat perubahan ekspresi.


Menit berikutnya Keyra dan Una sampai di halte pada pukul 04:30, untuk mencapai mansion keluarga Elrahma mereka masih membutuhkan kendaraan roda empat untuk sampai, sebagai media Keyra memesan sebuah taksi yang mengantar mereka pulang, hingga 15 menit kemudian keduanya sampai di gerbang dan disambut oleh satpam dan beberapa body guard.


“ Sayang... kok pulangnya lama sih? “. Devina memeluk Una, wanita itu sudah stand by di ruang tamu menunggu kedatangan putrinya, terlihat bukan hanya dia, ternyata di belakang ada keberadaan Veriska, Reza dan Alfa yang melihat kearah Keyra dan Una datang.


“ Em... tadi Una sama bang Kekey pergi ke rumah bu Ika, ma “.


“ Iya kah?, kalian kesana mau ngapain? “.


“ Itu_... “.


“ Saya sama Una cuma silaturahmi doang kok, tante... “. Keyra memotong ucapan Una sebelum gadis itu berbicara lebih banyak, ia enggan memberitahu kejadian tadi pada siapapun selain anak bungsu Devina. Bahkan dijalan tadi Keyra sempat meminta hal tersebut agar Una tutup mulut, hingga dijawab anggukan oleh orang yang bersangkutan, meskipun gadis itu menjawab sambil menunduk.


“ Ouh... main ya, gimana Una rasanya? Seneng gak bisa main sama bu Ika? “. Tanya Devina.


“ Una seneng kok, mah. Bu Ika orangnya baik, tadi juga Una dikasih banyak camilan “.


“ Yah... gak ngasih-ngasih kak Alfa gitu? “. Ucap Alfa.


“ Iya nih, kak Eza juga mau lho dibawain camilan sama Una dari bu Ika “. Lanjut Reza membuat Veriska terkekeh.


“ Kalian ini... padahal camilan banyak lho di dapur, masih mau dibawain sama Una? “. Ucap Veriska mengacak-acak rambut anak dan ponakannya bersamaan.


“ Ish... bunda, kan ini mah beda lagi “.


“ Sama aja deh perasaan “.

__ADS_1


“ Enggak dong, bun. Bagi kita camilan dirumah dan yang dibawa sama Una itu beda, apalagi yang buatnya bu Ika, beh... mantep deh pokoknya nya “. Kali ini Reza yang berbicara.


“ Ya udah. Iya, iya... gimana Alfa sama Eza ada deh, kalau gitu Una mandi dulu ya... look at this. Badan kamu udah lengket plus keringetan lho “.


Una mengangguk, meskipun sebelumnya diam sejenak sambil melirik pada Keyra, pemuda itu hanya tersenyum, dalam isyarat ia berkata kalau dirinya baik-baik saja, hingga kemudian gadis itu pergi bersama dengan mamanya, Veriska pun mendekat kearah Keyra yang masih berdiri ditempat.


“ Kamu juga cepet ganti baju ya, Key. Abis itu mandi biar seger “. Ucapnya sambil mengelus kepala pemuda didepannya.


“ Iya, tante... kalau gitu saya permisi dulu “.


Keyra pergi setelah ia pamit pada Veriska, dengan langkah pelan ia berjalan, dua tuan muda dibelakang merasa ada yang tidak beres dengan Keyra. Terlebih Alfa dapat melihat raut wajah Una yang khawatir sejak tadi, apakah ada sesuatu yang terjadi kala berada di rumah Ika?.


‘ Dia gak diapa-apain sama ayahnya kan? ‘. Batin Alfa.


***


Hari-hari selanjutnya Keyra jalani seperti biasa, meskipun dalam hati masih terkam jelas apa yang ia alami kemari sore, pemuda itu bersikap seolah semuanya berjalan dengan normal. Namun dari pandangan semua orang yang tidak mengetahui faktanya, Una sudah sejak pagi menempelinya dan bertanya sekedar bagaimana suasana hati Keyra saat ini, tentu saja kala itu ia menjawab semuanya sudah baik-baik saja, namun tetap tidak menutup kemungkinan gadis bungsu keluarga Elrahma itu masih tetap cemas dengan keadaannya.


Pagi hari Keyra jalani dengan membantu beberapa maid dan butler untuk membersihkan rumah, lalu siangnya ia bersama dengan Veriska membantu ibu ruah tangga itu untuk menyiram bunga. Sedikit info, rutinitas bunda dari si Alfa ini hampir sama dengan almarhum ibunya dulu, namun dengan media yang berbeda, tapi tetap saja pemandangan ini membuat Keyra tersenyum karena merasa familiar.


Hingga waktu menunjukan pukul 1 siang, Keyra diajak menonton televisi oleh Una bersama Reza dan Alfa di ruang tengah, alhasil keduanya ketiduran di atas karpet lembut yang tebal. Dengan posisi Keyra yang tidur bersandar ke sofa, Una berbaring berbantalkan paha Keyra menghadap kearah televisi.


“ Eh? mereka tidur? “. Ucap Devina, wanita itu baru datang dari dapur bersama Veriska yang berada di sampingnya.


“ Iya, Ma. Mungkin karena film nya gak kelar-kelar, jadi mereka tidur sebelum selesai “. Ucap Reza menjelaskan.


“ Yah... padahal bunda udah bikin banyak camilan lho, jadi ini siapa yang makan dong? “.


“ Bunda kayak punya anak si Keyra sama Una aja, kan masih ada kita. Calm down... bakalan abis kok “. Alfa bangkit dan mengambil pelan piring yang berada di tangan bundanya.


“ Ya udah deh, kamu juga makan ya, Za. Jangan sampe di abisin sendiri sama Alfa, dia kan perutnya melar “.


“ Bunda ngejek nih, gak seru ah “.


“ Eh, emang fakta kok “.


Alfa mengerucutkan bibir, membuat Reza tertawa sementara Devina dan Veriska hanya terkekeh pelan, suara mereka terlampau kecil, jadi tenang saja karena itu tidak akan sampai membuat dua orang yang tertidur itu bangun.


“ Oh, iya... tadi ayah nyuruh kita buat masuk ke ruang kerja “. Ucap Veriska, ia teringat permintaan Erlang yang menyuruh dirinya dan yang lain untuk masuk ke ruang kerja, lebih tepatnya perpustakaan di lantai satu tempat para lelaki rapat. Entah apa yang akan disampaikan, namun pendapat Veriska mengatakan bahwa hal ni cukup penting, bahkan anak-anaknya pun disuruh ikut serta untuk mendengarkan.


“ Mau ngapain kak? “. Tanya Devina.


“ Ga tau, katanya sih hal yang penting, dan ini... kayaknya ada kaitan sama anak pak Dharma yang sudah lama hilang itu.


“ Ini kita doang apa anak-anak juga pada ikut? “.


“ Mereka juga disuruh masuk “.


“ Emang sepenting itu ya sampai kita juga harus ngedenger? “. Tanya Reza.


“ Em... gak tau juga sih “.


“ Tapi, bun. Biasanya kan kalau masalah penting suka privat gitu “.


“ Udah lah, turutin aja kemauan ayah kamu, bunda juga gak tau. Jadi kita tunggu sampai dia ngejelasin ini sendiri “.


Memilih untuk tak membahas lagi, Reza dan Alfa serta Veriska dan Devina pun beranjak menuju ruang kerja. Untuk Una dan Keyra biarlah mereka tidur lebih lama, keempatnya tidak tega untuk membangunkan mereka, sebagai ganti dari itu, mungkin nanti salah satu dari mereka akan menyampaikan ulang informasi yang Erlang jabarkan.


Bersambung


Gimana nih chapter kali ini? Apa makin panas?... Aku lumayan susah lho ngerangkai alurnya, cukup nguras otak, tapi gak papa... Demi cerita ini jalan sampai ending.


Oh Iya, btw aku punya visual Kerya sama trio cucu Elrahma lho, mungkin terkesan telat banget, tapi gak papa deh ya. Kalau mau liat silakan mampir di ig aku. Namanya masih sama kayak id name mangatoon, 'al_setia19' ya... Meskipun aku cuma upload satu foto dari setiap karakternya. Mau sekalian follow juga boleh. Eh malah manjang, udah lah... Kalau gitu jumpa di chapter selanjutnya ya.

__ADS_1


Bye...


__ADS_2