
Pukul 11 siang, Alfa tengah duduk di kursinya sambil melihat kearah jendela, tidak ada yang sepesial pada hari ini, apalagi di waktu istirahat tadi, biasanya saat beberapa hari kebelakang waktu istirahat itu adalah waktu paling ditunggu-tunggu olehnya, karena bisa melihat dan bermain bersama gadis imut kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Una, namun sekarang, rutinitas itu sedikit terganggu, jangankan berbicara, menyaut ucapannya pun tidak, sepertinya gadis itu benar-benar marah karena ucapannya tempo hari.
Hanya melamun dengan dagu yang ditopang tangan, Alfa khusuk pada kegiatannya ditambah mapel jam saat ini sedang kosong karena gurunya berhalangan hadir, pikirannya melayang, benaknya berputar mengingat-ingat kejadian-kejadian kebelakang, pemuda itu berpikir sebenarnya apa sih kelebihan Keyra dibanding dengan dirinya?, apakah dari wajah?, sehingga orang lebih suka melihat mukanya yang rupawan?, tapi perasaan rupa dari wajah Keyra dengan dirinya tidak jauh berbeda, meskipun Alfa sedikit mengakui kalau Keyra memiliki senyum hangat yang teduh, sampai-sampai membuat para wanita terpesona karenanya, itu kata kebanyakan orang sih.
“ Heh... lo ngapain bengong Al?, mulai nyerah deketin Inez? “ Tanya seorang siswa yang mana pria itu adalah Mark, temannya.
“ Apaan sih?, sampai kapanpun kalau tentang Inez gue gak bakalan nyerah... “ Ucap Alfa memfokuskan kembali pandangannya keluar jendela.
“ Terus lo kenapa?, atau jangan-jangan... lo galau karena Una marah ya?, gue penasaran lho dari awal, emang lo berdua kenapa bisa berantem sih? “.
“ Itu... kemaren-kemaren gue kayaknya udah kelewatan ngomong deh “.
“ Ngomong apaan? “. Tanya Mark lagi yang duduk di kursi depan Alfa menghadap kebelakang.
“ So... mungkin karena emosi... gue... tanpa sadar ngatain yang jelek-jelek tentang si Keyra didepannya “.
“ Ouh... pantes aja, itu sih elu yang salah bro... “.
Alfa melihat cepat kearah Mark, dirinya menatap tajam pria dengan perawakan besar itu, tak percaya dengan opini temannya yang malah menyalahkan juga, Alfa bertanya dengan nada kesal.
“ Gue salah dari mananya Mark?, apa tindakan gue kurang tepat meskipun berusaha waspada guna ngelindungi keluarga gue?, kalau lo jadi gua... gue yakin lo bakal lakuin hal serupa “. Ucap Alfa kesal.
“ Hah... Alfa, ngedenger lo ngomong kayak gitu jadi inget gue yang dulu tau gak? “
“ Hah? Maksudnya?“.
Alfa heran, sementara Mark mulai menjelaskan tentang sikapnya yang tidak jauh berbeda dengan Alfa beberapa bulan kebelakang, saat pertama kali bertemu dengan Keyra, pemuda itu juga sepemikiran dengannya yang meng judge kalau Keyra itu adalah orang yang sudah mencuci otak Una, karena bukan hanya merasa nyaman di pertemuan pertama, Una bahkan sudah seperti ketergantungan pada Keyra menurut penjelasan dari Reza, awalnya Mark sempat berpikir kalau Keyra sudah memakai ilmu hitam untuk berbuat jahat pada keluarga Elrahma dengan cara membuat Una patuh pada dirinya.
Namun, suatu hari datang ketika Mark dan Emil nekat untuk bertanya kepada paranormal mengenai Keyra, mereka bertanya pada salah satu teman dekat bawahan dari papanya Emil, dan hasil yang mengejutkan pun terungkap, ternyata Keyra merupakan orang yang bersih dari ilmu-ilmu hitam maupun yang terkait, dan sejak hari itu mereka mulai berusaha untuk mempercayai Keyra, terlebih anak itu tidak pernah berbuat hal buruk tanpa sepengetahuan keduanya.
“ Mungkin hal ini bakalan agak berat di awal... tapi percaya deh, lama-kelamaan juga lo bakalan terbiasa dengan kehadiran anak itu... bila perlu, karena lo tinggal serumah sama dia, kenapa lo gak mantau pergerakannya aja? “.
Mark memberi saran, sementara Alfa masih terdiam mencerna ucapan pemuda itu, tips yang bagus untuk melakukan hal tersebut disaat Alfa hendak memantau pergerakan Keyra di kesehariannya, namun untuk mengumpulkan keberanian tersebut, dirinya cukup takut mengingat konsekuensi yang akan didapat jika sampai ketahuan. Bukan takut ketahuan oleh Keyra, baik oleh para orang tua maupun kepala keluarga, tapi Alfa takut jika tujuan yang awalnya ingin memergoki kelakuan jahat pemuda itu malah menemukan hal yang sebaliknya, ia tidak ingin memiliki perasaan bersalah pada Keyra, namun karena rasa penasarannya mengalahkan keraguan, Alfa memutuskan untuk menggunakan metode yang disarankan oleh Mark tadi.
“ Saran lo brilian Mark, makasih karena udah bantu gue... sekali ini aja, untuk pembuktian, gue bakalan mantau anak itu... “ Ucap Alfa membulatkan tekadnya.
***
“ Hachim!!!, uhuk, uhuk... haduh, kayaknya ada yang ngomongin gue deh “.
“ Lo gak papa Key? “ Tanya Lianza khawatir.
Saat ini, Keyra sedang mengerjakan tugas kelompok bersama dengan ke tiga teman dekat, tapi bukannya mengerjakan, Keyra malah disibukan dengan hal lain selain mencatat, pemuda itu bersin dan batuk dari waktu ke waktu, hidungnya merah dan wajahnya memucat, sudah sangat jelas kalau anak itu sekarang sedang tidak enak badan.
“ Mending ke UKS aja deh... gue liat lu kayaknya lagi sakit deh “ Ucap Paden.
“ Uhuk... gak papa, ini cuma pilek dikit kok, gak perlu sampe ke UKS segala... tapi sorry ya karena udah ngeganggu kalian, gue bukannya bantuin malah ngerecokin “. Ucap Keyra sambil menyusut hidung dengan tisu yang Lianza berikan.
“ Kita gak masalah lu bantuin apa enggaknya, lagian gue gak ngerasa keganggu kok, kita cuma khawatir aja sama keadaan lo... entar takutnya nambah parah lho “. Kali ini Salsa yang berbicara.
Beberapa kali Keyra meyakinkan kalau dirinya tidak perlu pergi ke UKS, hanya terkena flu biasa tidak akan membuatnya meninggalkan pelajaran, meski dibujuk kesekian kali dengan orang yang berbeda pun sama saja, pemuda itu tetap berada dikelas untuk belajar, sungguh anak yang terlalu rajin.
“ Dari pada ke UKS, gue izin ke toilet bentar ya, kacamata gue ngembun, sekalian mau cuci muka juga... “.
Tidak menunggu respon dari ketiganya, Keyra bangkit dan pergi keluar setelah dirinya meminta izin pada ketua kelas. Ia turun dari lantai 3 gedung ke 4 yang jaraknya cukup jauh dari gerbang, untung sekolah ini adalah sekolah elit, jadi setiap gedungnya difasilitasi toilet dengan banyak bilik untuk digunakan para siswa.
Suasana nampak sepi, itu merupakan hal yang wajar karena *** sedang berlangsung, terkecuali beberapa siswa disana yang sedang mengobrol asik, Keyra mengira kalau para pria itu sedang membolos kelas dengan alasan pergi ke toilet, ia berani menjamin kalau mereka akan kembali setelah guru mata pelajaran selesai mengajar, tak menghiraukan hal itu lebih jauh, Keyra berdiri di depan wastafel dan mulai membasuh wajah, ia bercermin dan terkejut saat melihat rupa wajahnya.
Ternyata kondisi mukanya seburuk ini? pantas saja Bima dan yang lain terus mengoceh menyuruhnya untuk ke UKS, dilihat sekilas pun wajah Keyra sudah seperti mayat hidup, sangat pucat seperti tidak memiliki darah di kulitnya.
“ Anjir, gue udah kayak mayat baru mati, pantes aja mereka berisik dari tadi... aduh... gimana nih?, gue kalau udah sakit bakalan lama sembuhnya lagi “. Gumam Keyra menyusut hidung melernya.
Pemuda itu kembali ke kelas dengan wajah yang sedikit fresh, meskipun sejatinya merasa lemas dan mulai pusing, namun itu tidak menutup kemungkinan kalau Keyra harus bersikap seolah semua baik-baik saja. Una sempat bertanya ketika seusai sekolah perihal tangan Keyra yang menghangat, ditambah kenapa pemuda itu tumben-tumbennya menggunakan kacamata diluar pelajaran, alasannya sih cukup sederhana, Keyra ngeles kalau dirinya sudah terlanjur nyaman untuk melepas benda tersebut, namun sebenarnya ia hanya ingin menutup pupil mata yang nampak sayu.
Beberapa hari terus berlanjut, Keyra menjalani aktifitas seperti ala kadarnya, selain menemani Una bermain ketika di rumah, pemuda itu hanya melakukan kegiatan seperti siswa sekolah pada umumnya, meskipun dibandingkan dengan yang lain, Keyra sendiri memiliki tugas untuk melindungi Una ditambah dua saudara laki-lakinya. Berbeda dengan hari-hari setelah kepulangan mereka sejak kemping tempo hari, aksi para penguntit makin menjadi dari waktu ke waktu, tidak cukup hampir mencelakai Una, dan para kakak, saat ini Keyra pun terkena imbasnya sebagai orang terdekat sekaligus body guard mereka.
Diceritakan, ketika Keyra membeli es krim di kedai pinggir jalan bersama Una, mereka sudah mulai curiga dengan gelagat abang-abang yang melayani keduanya, selain tidak tau nama dan varian rasa eskrim, dia juga nampak sangat tidak profesional sebagai orang yang melayani pelanggan, pada saat itu Keyra dan Una enjoy-enjoy saja, mungkin si abang adalah orang baru yang bekerja disana, tapi hal buruk terjadi saat mereka sudah di mobil dalam perjalanan pulang, dari keempat eskrim yang dipesan tadi, milik Keyra terdapat banyak sekali jarum yang membuat bibirnya sedikit terluka.
Tidak hanya itu, banyak kejadian lain yang terjadi selama beberapa hari ke depan, dari mulai ban mobil Reza bocor karena banyak paku yang sengaja ditancap, bola yang sering Alfa mainkan terdapat tulisan ancaman dengan tinta warna merah, serta hantaman banyak batu yang entah muncul dari mana hampir melukai Una dan Keyra, untung mereka tidak terluka, meski Keyra yang saat itu sedang kurang vit dibuat pusing oleh para penguntit.
Akibat orang-orang sialan itu, Keyra yang biasanya memiliki waktu istirahat lebih diperintahkan untuk tidak melepas perhatian dan harus tetap dekat dengan Una, ini perintah langsung dari Noland, dan mungkin karena saat itu Keyra langsung menyetujui hal tersebut guna terjaminnya keselamatan Una, pemuda itu lupa bahwa sudah seminggu ini tubuhnya sedang dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
Disamping hubungan Una dan Alfa yang mulai membaik seiring waktu berjalan, Keyra adalah orang yang mendorong mereka untuk tidak saling bertengkar, ketika penguntit sedang usil-usilnya, Alfa dan Una tidak boleh berseteru dan harus melindungi satu sama lain, meskipun hubungan mereka kembali normal berkat bantuan Keyra, namun faktanya Alfa masih melanjutkan pengintaian terhadap Keyra. Kegiatan itu sudah dia lakukan sejak 3 hari sebelumnya, meski merasa bersalah, Alfa bertekad untuk memperhatikan pergerakan Keyra, dan selama pengintaian, dia tidak menemukan tuh hal-hal yang ia curigai sebelumnya, malah dengan melihat keseharian Keyra yang rajin belajar dan selalu melaksanakan kewajibannya dalam beribadah membuat Alfa mengubah pandangan dari yang awalnya negatif menjadi positif, bahkan pemuda itu jadi mengkhawatirkan Keyra yang mungkin sedang dalam keadaan tidak sehat akhir-akhir ini.
Sekitar pukul 06:30 pagi di hari Kamis, Una menjemput Keyra ke kamarnya untuk sarapan sebelum berangkat sekolah, tidak seperti di hari-hari kebelakang, biasanya sejak dini hari Keyra sudah menunggu gadis itu didepan pintu kamar, namun tidak dengan sekarang, ini adalah kali pertamanya Una memanggil Keyra yang masih belum keluar, apakah abangnya bangun kesiangan?, tumben-tumbennya pria itu telat. Sebelumnya gadis itu pergi ke ruang makan terlebih dahulu, namun saat menyadari seluruh anggota keluarga ada, tapi Keyra belum terlihat membuatnya agak heran.
Tok, tok, tok...
__ADS_1
“ Bang Kekey... ayo sarapan bang, yang lain udah nunggu... “ Ucap Una setelah ia mengetuk pintu beberapa kali.
Tidak ada jawaban, Una menempelkan telinga ke badan pintu untuk mendengar apakah ada suara susulan atau tidak, namun hanya keheningan yang ia temukan. “ Hm... bang kekey udah bangun apa belum sih? “. Gumam Una.
Gadis itu hendak mengetuk ulang pintu, namun belum sempat ia melakukan niatannya, benda yang sebelumnya menempel dengan telinga Una terbuka dengan muncul seseorang di baliknya.
“ Pagi Una... “ Senyum Keyra.
“ Pagi juga ba__... Eh? bang Kekey?! “.
Una terkejut, bukan melihat hantu ataupun hewan buas, ia kaget karena melihat raut wajah Keyra yang sedang dalam kondisi tidak baik, wajahnya pucat pasi dan bibirnya kering, apakah abangnya ini sedang kurang enak badan?, tidak... bukan tidak enak badan, tapi pemuda itu memang sakit.
“ Ya ampun, bang... bang Kekey sakit?, kok gak bilang sih?... coba sini Una periksa dulu “.
Una hendak meletakan tangannya di kening Keyra, namun belum sempat sampai, pemuda tersebut menahannya dengan menghentikan gerak tangan gadis itu, ia bilang kalau semua baik-baik saja dan tidak usah ada yang dikhawatirkan, namun bukannya tenang, Una malah kembali terkejut karena tangan orang yang saat ini menggenggamnya terasa sangat panas.
“ Bang Kekey... gimana Una gak khawatir?, tangan abang aja panas banget, terus muka abang, pokoknya abang istirahat dulu, Una mau bilang ke mama buat bawa bang Kekey ke dokter ya “. Ucap Una hendak pergi namun ditahan oleh Keyra.
“ Gak papa na, gue baik-baik aja kok, ini cuma flu biasa “.
“ Apanya yang flu biasa bang? abang itu lagi demam... hiks, nanti kalau nambah parah gimana?, Una gak mau abang sakit... “.
Hendak menangis, Keyra dengan segera menenangkan gadis itu.
“ Gue gak papa Na, pokoknya lo jangan bilang sama yang lain tentang hal ini ya... uhuk, kalau semua orang tau, gue pasti gak bakal diizinin sekolah, dan gak bisa jagain lo dong kalau gitu... “
“ Una bisa izin buat nemenin abang kok, lagian yang punya sekolahnya kan Opa “.
“ Jangan suka ngegampangin, sekolah itu penting, toh bentar lagi kan kita bakalan ada ujian... jadi tolong ya... jangan kasih tau para orang tua tentang kondisi gue “.
“ Hiks... tapi Una khawatir bang Kekey kenapa-napa “.
“ Gue bakalan hati-hati kok, sekiranya kalau badan gue gak kuat... gue bakalan pergi ke UKS dan nelpon lo nanti, jadi gak usah khawatir “.
“ Bener ya, kalau ada apa-apa langsung panggil Una... bang Kekey harus janji “. Ucap Una dengan menekan nada.
Keyra tersenyum dan mengelus rambut gadis yang menatapnya khawatir, meski bilang kalau dirinya baik-baik saja, namun fakta bahwa tubuh yang sekarang sangat kurang baik tidak bisa dibantah, mungkin karena menyepelekan flu beberapa hari yang lalu, Keyra tidak rutin minum obat dan membuat sakitnya parah, meskipun dimasa lalu ia pernah mengalami hal serupa, tapi jika dibandingkan dengan sekarang sepertinya keadaan Keyra agak buruk.
‘ Kayaknya... hari ini gue gak boleh berlebihan ‘ Batin Keyra.
***
“ Jangan dimainin terus, kenapa gak lo makan? “.
Alfa bertanya kepada Keyra yang sejak tadi hanya memainkan makanan, pemuda itu bahkan tidak mencicipi sedikit pun kuah bakso yang ada di mangkuk. Sejak pagi tadi, Alfa memang sudah merasa heran dengan gerak-gerik Keyra, tidak lagi banyak omong untuk menasehati Una dalam setiap situasi, anak itu hanya sedikit berbicara sejak pertemuan mereka di ruang makan sebelum berangkat sekolah.
“ Gue gak laper bang, ini buat Una aja deh... “ Ucap Keyra mendorong mangkuknya ke arah Una yang berada disamping.
“ Kok abang gak makan?, baksonya masih utuh lho... “.
“ Udah kenyang duluan Na, dan gue liat... kayaknya lo gak makan banyak deh pagi tadi, jadi tolong abisin punya gue ya, biar lo bertenaga... “.
“ Ya udah, tapi bang Kekey juga makan ya “.
“ Iya... sini gue suapin “.
Keyra mulai menyuapi Una, sementara ketiga pria yang lain hanya melanjutkan obrolan sambil tidak melepas perhatian dari keduanya, sama seperti Alfa, baik itu Reza maupun Mark dan Emil merasakan hal yang sama tentang Keyra, dilihat sekilas saja mereka sudah tahu kalau anak itu sedang tidak sehat, wajahnya yang pucat tidak bisa ditutupi hanya dengan kacamata yang melekat dan senyum hangat setiap saat.
Beberapa menit kemudian, waktu istirahat bagi para siswa sudah usai, kini Keyra dan kelima orang lainnya hendak masuk kelas, namun disaat pemuda itu beranjak, ia diam mematung sambil menahan tubuh dengan tangan yang menopang pada meja. Dunia seakan berputar, adalah sensasi yang pertama kali Keyra rasakan saat bokongnya meninggalkan tempat duduk, disusul rasa sakit dan pening yang memenuhi kepala, pemuda itu memejamkan mata sejenak dan setelahnya menghela nafas untuk menetralkan rasa penat.
“ Lo kenapa Key? “ Tanya Reza, dengan nada rendah serta wajah yang sedikit khawatir walau tidak terlalu nampak.
“ Bang Kekey... “ Lanjut Una dengan kondisi tidak jauh berbeda dengan kakaknya.
Keyra masih diam, ia tidak mempunyai tenaga untuk membalas, hanya bisa menunduk sambil berusaha agar tubuhnya tidak tumbang, Keyra sekuat tenaga mengangkat wajahnya dengan menampilkan senyum seperti biasa. “ Em... maaf semuanya, kayaknya gue duluan masuk kelas ya, dan Una juga... maaf gue gak bisa bareng, mending lo pergi sama__... “.
Limbung...
Perkataan Keyra terhenti di langkah pertama dan pandangannya kembali menggelap hingga membuat tubuhnya oleng, untung saja Alfa dengan sigap menopang tubuh pemuda itu meskipun yang terhuyung tidak cukup kuat untuk berdiri.
Keyra terduduk tanah, dengan keringat yang mengucur deras, Una dan yang lain khawatir melihat keadaannya, termasuk beberapa murid yang ada di sekitar, kini tempat Keyra berada lama kelamaan berubah menjadi kerumunan.
“ Keyra, lo kenapa? “.
Alfa meletakan tangannya di kening Keyra, rasa panas yang menyengat menyentuh kulit tangan pemuda itu sampai membuatnya kaget, apa-apaan suhu tubuh seperti itu?, ini sudah kelewat parah!.
“ Keyra kenapa Al? “. Tanya Reza ketika melihat Alfa yang meringis sambil mengibaskan tangan kanannya karena panas.
__ADS_1
“ Dia demam Za, suhu badannya tinggi banget “.
“ Pantes aja lo aneh banget hari ini, lo seharusnya bilang kalau lagi sakit Key... Alfa, cepet panggil orang rumah sekarang, lebih baik manggil dokter pribadi keluarga aja... “. Ucap Reza menyuruh Alfa.
“ Ok “.
“ Hah?, jangan bang... gua gak pap__... “.
“ Bang Kekey... udah, Una mohon kali ini aja tolong dengerin kak Alfa sama kak Eza, hiks... Una gak mau bang Kekey kenapa-napa “.
Una menangis dengan Reza yang menenangkannya, sementara Alfa sedang menelpon seseorang agar menyiapkan mobil untuk mereka pulang, Mark dan Emil terlihat sedang menjelaskan situasi pada siswa sekitar agar tidak membuat kerumunan, saat itu Keyra tertunduk, sepertinya dia sudah bersifat sok kuat selama ini, niat yang awalnya tidak ingin membuat Una dan yang lain khawatir malah membuat semuanya kerepotan, mungkin setelah ini dia harus introspeksi sedikit.
“ Itu... semuanya... “.
Keyra membuka suara hingga membuat Una, Reza dan Alfa memfokuskan diri pada dirinya. “ Gue minta maaf karena udah bikin kalian repot “. Ucap Keyra.
“ Udah... lo gak salah, yang penting sekarang kita harus pulang, dan gue mohon kerja samanya... demam lo lumayan parah, jadi tolong dengerin omongan gue, Reza termasuk Una juga “ Ujar Alfa yang mendapat anggukan.
Setelah merasa semuanya terselesaikan, Keyra pergi dengan dipapah Alfa menuju mobil yang sudah disiapkan oleh salah satu orangnya Juan, kakak sepupu dari Una itu sebelumnya sudah menghubungi pihak rumah perihal Keyra yang sedang sakit, dan menurut penjelasannya, orang-orang rumah panik dan segera menyiapkan perlengkapan untuk Keyra di rumah nanti, seperti memanggil dokter pribadi keluarga, serta menyiapkan peralatan terbaik untuk jaga-jaga.
20 menit perjalanan dari sekolah menuju rumah, Keyra keluar dari mobil dengan Una yang memegang erat tangannya, gadis itu hampir menangis di setiap menitnya saat melihat kondisi Keyra, namun ditengah sakit payah, pemuda itu masih sempat menenangkan Una yang tengah dilanda rasa khawatir.
“ Bunda... Kita pulang “. Ucap Alfa bergegas menghampiri bundanya.
“ Alfa... Keyra mana?, Bunda disuruh nunggu kalian disini, sementara mama Devi ada dilantai atas lagi sama dokter buat nyiapin semuanya “.
“ Keyra ada diluar Bun, dia lagi dipapah sama Una bareng Eza “.
“ Ok, kalau gitu kamu istirahat dulu ya nak... biar bunda yang ngurus Keyra “.
Alfa mengangguk, sementara Veriska yang berada di ruang tengah bergegas menuju ruang tamu untuk menyusul Keyra dan lainnya, ketika wanita itu menemukan orang yang bersangkutan sedang duduk di sofa, Veriska mendekat mengawali kegiatan dengan bertanya pada Reza.
“ Eza, Una... kenapa kalian bawa Keyra kesini? Kenapa gak langsung ke kamarnya? “. Tanya Veriska mendekat.
“ Bunda Veri... hiks, Una sebenernya pengen cepet-cepet bawa bang Kekey ke kamar, tapi katanya abang mau duduk sebentar “. Ucap Una yang berada di sebelah Keyra.
“ Keyra... kamu gak papa nak? “.
Veriska berlutut di depan Keyra, wanita itu sedikit kaget melihat wajah anak itu yang sudah sangat pucat, namun di situasi seperti ini Keyra masih saja menampilkan senyum teduh dan berkata bahwa semua tidak perlu terlalu khawatir.
“ Nyonya gak perlu khawatir, saya bak-baik aja kok... dan lagi secara pribadi, saya minta maaf karena udah bikin semua orang jadi repot “. Ucap Keyra dengan nada rendah.
“ Kamu gak perlu minta maaf Keyra, gak perlu... kamu gak salah, yang penting sekarang apa kamu masih kuat jalan sampai lantai dua? “ Tanya Veriska dan dijawab anggukan oleh Keyra.
“ Ok,... Una sama Eza istirahat duluan ya, biar Keyra Bunda Veri yang urus ok “.
“ Tapi Una pengen terus sama bang Kekey... “.
“ Una, denger ya sayang... kamu juga harus istirahat, biar Keyra bunda Veri yang anter aja ya “ Ucap Reza.
“ Tapi... “
“ Gue gak papa na, lo mending istirahat aja gih... jangan maksain diri kayak gue ya, entar kalau gue dah sembuh... nanti kita main bareng lagi “.
Keyra membujuk Una dengan elusan tangan yang gemetar, itu membuat hati Una teriris melihat abangnya menderita, dengan berat hati serta bujukan dari pemuda tersebut, Una pergi ke lantai 3 bersama Reza untuk sekedar berganti pakaian, gadis itu berkata akan kembali menjenguk Keyra ketika dirinya sudah selesai.
“ Hiks... kak Eza, bang Kekey bakalan sembuh kan? “ Tanya Una yang sekarang tengah berada di dalam lift.
“ Tenang aja sayang... Keyra itu kuat, kakak yakin dia bakalan sehat lagi “. Reza meyakinkan Una bahwa Keyra akan baik-baik saja setelah mendapat perawatan, namun dibalik hati yang paling dalam, ia pun juga sama khawatirnya seperti Una, meskipun pernah merasakan demam, Reza tidak pernah melihat orang dengan suhu tubuh sepanas Keyra, sepertinya sakit anak itu lumayan parah, bahkan hanya menyentuh kulitnya saja sudah membuat tangan seperti terbakar ketika memapah Keyra tadi.
‘ Moga lo baik-baik aja Key, sekali ini aja... gue mohon supaya lo gak kenapa-napa ‘ Batin Reza.
~
Keyra sampai di kamarnya sambil dipapah oleh Veriska, kondisi pemuda itu buruk, namun penahanan dirinya cukup kuat karena masih sempat menenangkan orang yang sedang khawatir. Suhu tubuhnya tinggi hingga mencapai 39 derajat, dokter pribadi keluarga Elrahma menambahkan kalau Keyra harus segera diinfus, namun tanpa basa-basi lagi Devina dengan segera mengijinkannya agar kesehatan pemuda itu membaik.
Tangan Keyra disuntik dengan jarum yang mengalirkan mineral untuk masuk ke dalam tubuh, sementara keningnya terdapat kain putih sebagai kompresan guna membuatnya sedikit sejuk, pemuda itu menutup mata hendak tidur, namun rasa sakit di kepalanya menghalangi untuk ia pergi ke alam mimpi.
“ Dokter Li, gimana kondisi Keyra?, apa sakitnya masih parah? “ Tanya Veriska di samping ranjang Keyra yang duduk di dekat Devina.
“ Syukurlah... Keyra baik-baik aja, untungnya dia langsung dibawa pulang ke rumah, kalau sampai telat sejam aja... kayaknya dia bakalan pingsan karena dehidrasi, dan juga... hey kamu anak muda, 3 hari ke depan kamu gak boleh bangun dari kasur, saya liat sakit kamu ini udah masuk ke gejala tipes, jadi harus tetep hati-hati “. Ucap Dokter itu menasehati Keyra.
“ Makasih banyak dokter, maaf saya udah ngerepotin “.
“ Ini sudah tanggung jawab saya, oh, dan satu hal lagi... para nyonya tolong nanti beri dia obat setelah satu jam diinfus, jangan lupa makan terlebih dahulu, biar saya ambil resep obatnya dulu “.
Pria itu pamit pada semua orang yang berada di ruangan, sepertinya dokter itu cukup sibuk, berbeda dengan Devina juga yang izin keluar hendak melihat anak-anaknya, Veriska tetap diam sambil terus mengamati Keyra yang seperti kurang nyaman karena keberadaannya.
__ADS_1
Bersambung