
Pada hari Senin, semua siswa sekolah dasar maupun menengah pasti akan melaksanakan kegiatan yang namanya upacara bendera, Terlebih bukan hanya siswa saja, guru dan anggota yang berada di lingkup organisasi sekolah pun diwajibkan untuk mengikuti kegiatan tersebut, sama halnya dengan para cucu keluarga Elrahma, yang tidak lain adalah Una, Reza dan Alfa, mereka berdiri dibarisan peserta upacara dan mengikuti kegiatan hingga selesai.
Namun, berbeda dengan satu orang yang kini sedang duduk di balkon kamarnya, orang itu tidak lain adalah Keyra yang tengah termenung bosan di mansion. Pagi tadi, sebenarnya ia sudah meminta izin pada Noland untuk pergi ke sekolah, toh lukanya juga sudah mengering dan tidak terlalu sakit, namun bukannya memberi dia izin, pria paruh baya itu malah menceramahi Keyra panjang lebar dan menolak keras kalau dirinya belum diperbolehkan pergi kemana-mana.
Tentu saja pemuda itu juga tidak luput dari nasehat pendek dari para orang tua yang lain, terlebih Cilla yang disana sebagai dokter langsung melontarkan kata-kata nyeletit sampai membuat Keyra tidak bisa berkutik, masa wanita itu bilang ‘ Kalau kamu masih tetep maksa buat pergi ke sekolah, kakak bakalan kasih tau kak Ika kalau kamu sakit parah, toh badan kamu juga masih lemah, niat mau jagain Una sama yang lain entar gimana kalau endingnya malah ngerepotin?, sadar diri tentang kondisi kamu baby, jangan sok kuat dulu ‘. Sungguh kata-kata yang membuat senyum Keyra mengembang, ingin sekali dia unyeng-unyeng wanita itu ditengah rasa panas yang menjalar di kepala karena kesal.
“ Hah... jadi pasien itu bosen juga ya, seumur-umur gue belum pernah tuh rehat selama ini “. Gumam Keyra sambil memakan camilan diatas meja yang sengaja diletakan oleh maid beberapa saat yang lalu.
“ Haha, lagi bosen ni ye... “.
Keyra menoleh ke belakang, perhatiannya tertuju pada seseorang yang kini sedang menuju kearahnya dengan membawa ipad ditangan dan secangkir kopi ditangan yang satunya lagi. Orang itu tinggi dan memiliki tubuh yang bagus, dengan kaos putih polos serta celana pendek selutut layaknya baju santai di rumah, pemuda yang menghampiri Keyra sekaligus orang bertanya tadi ternyata adalah Razka, cucu sulung dari keluarga Elrahma.
“ Kak Razka kok ada disini?, gak kerja kah? “. Tanya Keyra tepat ketika Razka sudah duduk disampingnya.
“ Kakak lagi ambil cuti, toh di kantor juga ada Papa sama Ayah, dan juga kerjaan kali ini gak terlalu banyak... “. Jawabnya sambil meletakan penda pipih yang dipegang tadi diatas meja.
“ Ouh... lagi santai dong, kenapa gak pergi jalan keluar aja?, mumpung senggang lho “.
“ Males... kakak lebih suka ngabisin waktu di dalem rumah “.
“ Iya kah?, padahal selain main hp emang ada kerjaan yang bisa kak Razka lakuin? “
“ Ini ada... ngobrol sama kamu “.
“ Heee... kalau sekarang sih iya, saya kan lagi izin sekolah, tapi kalau biasanya pas semua orang gak ada dirumah pasti kak Razka agak bosen kan? “. Ucap Keyra yang kali ini berbicara sambil menopang dagu.
“ Iya juga sih, tapi kakak biasanya suka ngobrol bareng Arid “.
“ Arid? “.
“ Itu bawahan langsung kakak, cuma dia ambil cuti setahun karena satu alasan “.
“ Setahun?!, emang boleh? “.
“ Boleh aja, toh dia anaknya bu Jola, dan udah dari kecil juga tinggal dan sekalian kerja di group El R “.
“ Ouh... anak bu Jola ya, terus si kak Arid itu lagi kemana? “.
“ Dia lagi kuliah pasca sarjana di Jerman, dan mungkin gak lama lagi bakal pulang ke Indonesia “.
Razka bercerita pada Keyra tentang berbagai hal, dari mulai dirinya yang sekarang hendak kelulusan S2 semester ini, pemuda itu bilang kalau presentasi dirinya yang mendapat nilai tertinggi cukup besar di tahun ini, kenapa?, alasannya sudah diperkuat dengan nilai-nilai yang ia dapat sebelumnya selalu diatas angka 95, bahkan sebagian juga ada yang mendapat niai 100.
“ Hm.. berarti kak Razka sama si kak Arid itu seumuran dong “.
“ Dia emang lebih tua satu tahun dari kakak, tapi kita seangkatan “.
“ Kayaknya asik juga punya temen main seumuran, pasti tiap harinya gelud mulu “. Razka tertawa, lucu dengan perkataan Keyra yang memang adalah kenyataan.
“ Haha, kamu tau aja Key... kakak sama dia itu pada dasarnya emang kagak pernah akur kalau ketemu, udah kayak Tom and Jerry, tapi tetep ada momen dimana kita bakal serius saat itu “.
“ Pasti kalau lagi kerja, atau enggak pas lagi belajar, soalnya saya liat... orang yang bisa deket banget sama kak Razka itu biasanya sejenis, maniak belajar pas sekolah dan maniak kerja pas lagi di perusahaan “.
Putra sulung Juan menganggukkan kepala dan membenarkan perkataan Keyra, jika diperhatikan lebih lagi, dirinya merasa bahwa mengobrol dengan Keyra ini sangatlah asik, dengan otaknya yang bisa dibilang cerdas, Keyra yang usianya masih 15 tahun itu cukup pintar menyesuaikan obrolan dengan dirinya yang sudah berumur 25 an. Dari dulu, Razka memang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan anak yang berada dibawah umurnya, gaya bicaranya yang kaku dan tidak ekspresif kadang membuat suasana menjadi canggung secara alami, bahkan kala berbicara pada adik-adiknya pun tak jarang sering terjadi mati topik ditengah-tengah.
Dan satu hal yang pasti, kebiasaan Razka satu inilah yang membuat orang-orang merasa canggung pada dirinya, pemuda itu memiliki ekspresi yang sedikit, serta jarang tersenyum di luaran sana. Tapi kali ini, ia baru menemukan hal yang tidak dimiliki orang lain di diri pemuda yang ada disampingnya, karena selain bijak dan dewasa, Keyra itu merupakan pribadi yang dapat membuat orang disekitarnya terasa nyaman saat mengobrol, terlebih senyum teduhnya itu kadang membuat hati Razka menjadi hangat dan seolah bisa terbuka kapan saja dengannya, jika diibaratkan, senyum Keyra itu sudah seperti obat penenang bagi orang yang melihatnya.
“ Ngobrol bareng kamu asik juga Key, biasanya kakak gak pernah ngomong sebanyak ini bahkan sama keluarga sendiri “. Ucap Razka menyesap kopi yang kini tersisa sedikit.
“ Wajar-wajar aja sih... namanya juga udah gede, kadang saya juga ngerasa gitu, suka bingung mau curhat ke orang terdekat, tapi takut malah buat mereka repot “.
“ Kayaknya kita punya banyak kesamaan deh “.
“ Sama-sama suka nyimpen beban sendiri kan? “.
“ Hahaha... bener banget “.
__ADS_1
“ Ngomong-ngomong kalau saya ajak jalan-jalan, kak Razka mau ikutan gak?, soalnya duduk mulu kayak gini bukannya rileks, badan saya malah pegel, lama-lama bisa encok “.
“ Kamu jangan terlalu banyak gerak Key, nanti jahitannya bisa kebuka “.
“ Luka saya udah kering kak, ini udah dua minggu lho... “.
“ Tetep aja harus jaga-jaga, terlebih kalau aunty Cilla tau... emang kamu mau ngedengerin ocehannya yang panjang itu? “. Tanya Razka dengan senyum tak terbaca.
“ Hah... terus saya harus diem dikamar aja gitu?, entah kenapa rasanya kayak dipenjara di istana orang “.
“ Ok, ok... gimana kalau kakak temenin kamu main? “.
“ Main apa? “.
“ Terserah, main game, kartu atau catur juga boleh “.
“ Catur? “.
“ Iya, kamu bisa mainnya gak? Kebetulan saya suka ngajak bodyguard saya tanding “.
Keyra terkejut, pasalnya ia tidak menyangka kalau kakak sulung Una ini suka bermain catur dengan bodyguard nya, tidak, bukan terkejut dengan hal itu, namun lebih ke Razka yang suka main catur saja, kenapa?, jika ingin tahu, pemuda yang kini menatap Razka dengan mata yang berbinar sangat suka sekali memainkan permainan tersebut, bahkan saking senangnya, dia menjadi pemain hebat sampai pernah meraih juara satu kala mengikuti lomba di bidang itu.
“ Kamu kenapa natap kakak kayak gitu? “. Tanya Razka heran, serta dirinya cukup tidak nyaman ketika Keyra menatapnya lekat seperti itu.
“ Kak... “ Panggil Keyra setelah sekian lama diam.
“ Kenapa? “.
“ Mau taruhan gak? “.
***
Pada pukul 10 pagi, terlihat seorang pria yang kini tengah memegang beberapa lembar berkas dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan, sambil membalik halaman demi halaman yang ia baca di berkas tersebut, alis pria itu berkerut kala tidak menemukan hal yang selama ini membuat dia penasaran. Dipijatnya kening yang memang sudah terasa pening karena memikirkan kondisi perusahaan, pria itu menghela nafas kasar dengan melempar pelan kertas yang ia tadi pegang ke atas meja kerjanya.
“ Jangan terlalu dipikirin kak, apa segitu ingin taunya kakak sampai cari tau tentang dia dengan nyuruh bawahan terbaik perusahaan kita? “. Ucap seseorang yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“ Kakak awalnya cuma pengen cari tau, tapi setelah kejadian itu... aku mana bisa diam gitu aja, semuanya gak masuk akal, padahal dia itu dari keluarga sederhana, tapi apa saking sederhananya semua informasi tentang keluarga dia gak ada yang lengkap satu pun?, itu seolah ditutupin sama seseorang “.
“ Kak Erlang serius?, soalnya mana mungkin bawahan kita gak bisa nemuin informasi tentangnya, aset negara aja kita tau “.
“ Kamu pikir kakak becanda, Juan?... buat apa juga coba “.
Orang yang duduk di sofa dan diketahui sebagai Erlang itu kini menutup wajahnya dengan lengan sambil bersandar penuh ke badan sofa. Beberapa saat yang lalu, pria tersebut menerima berkas dari bawahannya perihal permintaan yang sudah ia ajukan sejak lama, namun bukannya mendapat informasi yang ingin ia tahu, Erlang malah dibuat kecewa dan kaget karena hal yang ingin ia gali baru kali ini tidak bisa dipenuhi.
Sehingga, Juan yang saat itu melihat kakaknya sedang rungsing hanya bisa menghela nafas, sepertinya dia akan mendapat banyak keluhan dari sang kakak, sudah lama pula pria didepannya tidak melakukan kebiasaan buruk itu, karena ketika tekad dan keinginan Erlang ada yang tidak terpenuhi, dirinya pasti akan mengeluh sehari suntuk sampai berhenti karena lelah sendiri.
“ Hah... Juan, coba kamu pikir, kenapa bisa informasi tentang Keyra gak bisa digali lagi? “. Ucap Erlang yang mulai meracau, sementara Juan memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
“ Data keluarga dia gak lengkap kali “.
“ Tapi kan seharusnya ada walaupun sedikit, bisa dari kartu keluarga yang didaftarin di data masyarakat, atau enggak dari data asuransi rumah sakit, tapi ini enggak ada Juan... “.
“ Anak itu kan kuat, gak perlu punya asuransi rumah sakit “.
“ Dikira para bodyguard bawahan kita ga punya asuransi?, justru karena mereka kuat dan punya profesi kayak gitu harus perlu yang namanya mengantisipasi kejadian tak terduga “. Ucap Erlang yang merubah posisinya menghadap pada Juan, sementara pria itu masih terfokus pada laptop yang ia gunakan.
“ Kakak lupa ya?, dia itu hidup sebatang kara, buat keperluan sekolah dan sehari-harinya dulu aja cukup susah, mana kepikiran buat bikin asuransi rumah sakit? “.
Erlang terdiam, cukup lama termenung dengan ucapan yang dikatakan oleh adiknya, pria itu kembali menghempaskan badan ke badan sofa dengan posisi bersandar. Setelah dipikir-pikir lagi, apakah benar bodyguard pribadi Una itu adalah orang dari keluarga sederhana?, ia memang tidak boleh menilai langsung dari penampilan. Satu rangkuman yang Erlang tangkap dari seorang Keyra, anak itu adalah orang yang memiliki banyak misteri.
Sedikit menjelaskan alasan kenapa pria itu mencari biodata tentang Keyra, Erlang merasa penasaran dengan latar belakang keluarganya, dari visual wajah, orang-orang pasti akan langsung menilai anak itu kalau dia berasal dari keluarga yang berada. Selain dari warna kulit Keyra yang putih dan bersih, pemuda itu juga memiliki karakter yang terdidik, disiplin bahkan berdedikasi saat bekerja diusianya yang masih cukup belia, terlebih tingkat kecerdasan pemuda itu cukup tinggi dengan kemampuan beladiri yang sangat baik.
‘ Apa informasi yang sedikit itu memang bener karena gak ada?, soalnya selain Keyra yang hidup sebatang kara, informasi yang muncul tentang dia itu cuma seorang murid beasiswa di SMA negri 1, semuanya rumit, jadi pusing mikirin ini semua ‘ Batin Erlang.
***
__ADS_1
“ SEKAK MAT! “.
Keyra meletakan bidak catur di antara kotak hitam putih papan permainan, dengan senyum lebar yang mengembang setelah tangannya terangkat usai memegang bidak Benteng, Razka yang menjadi lawan mainnya menekuk wajah sambil mengendus kesal. Bagaimana tidak, sejak dari pertama bermain, pemuda itu dibuat tegang, kesal bahkan greget sendiri karena permainan catur Keyra benar-benar menakjubkan, awalnya ia memang sedikit meremehkan anak itu, dengan beranggapan kalau dia hanyalah seorang pemain catur amatir, terlebih kala pertama kali main, Razka mengalahkan Keyra dengan rumus tiga kali jalan langsung kekak.
Hingga dua ronde lainnya dimenangkan oleh sang tuan muda sulung dengan mulus, Keyra mulai menunjukan taringnya di ronde ke 4 dengan senyum sumringah. Alhasil selama 10 kali bertanding, Kerya menang banyak dengan poin 7 menang dan 3 kalah, sementara untuk Razka?, sudah pasti kebalikan dari jumlah sebelumnya.
“ Kakak gak nyangka kamu bisa main sehebat itu, ikut les catur bukan sih? “. Tanya Razka yang kini menatap Keyra dengan mata yang menyipit.
“ Saya gak ikut les kayak gitu kok, cuma sering main pas lagi senggang aja, terlebih itu hobi yang paling saya suka “. Jawab Keyra, sambil sedikit membenarkan kaos baju bagian bawahnya.
“ Permainan kamu itu jago banget lho Key, kalau orang lain yang denger alasan kamu tadi, mungkin aja mereka gak bakal percaya “.
“ Wah... berarti kak Razka percaya sama saya dong, aduh jadi terharu “. Kali ini Keyra berbicara sambil tersenyum penuh makna pada Razka.
“ Percaya-percaya aja sih, toh kalau kamu boong bakal langsung ketauan “.
“ Jangan bilang kak Razka bakal ngorek data pribadi saya? “.
“ Gak perlu, orang dari dulu udah tau kok “.
Keyra menatap Razka malas, ia cukup kesal dengan fakta bahwa semua informasi yang berhubungan dengannya dapat diketahui dengan mudah, mungkin kalau mencakup keseluruhan, Keyra menduga bahwa semua keluarga Elrahma tahu tentang dirinya yang memiliki kehidupan pahit. Dari mulai bu yang meninggal ketika dirinya masih kecil, mempunyai ayah yang tak tanggung jawab hingga enggan merawatnya, serta fakta bahwa dirinya yang hidup sebatang kara dan berjuang sendiri setelah meninggalnya nenek serta adik, mereka pasti akan memberikan rasa empati sedikit banyaknya tanpa diketahui, itu mungkin adalah tindakan yang baik, namun ketahuilah satu hal, Keyra tidak suka dikasihani, kenapa? karena dirinya tidak ingin dipandang rapuh dan lemah.
“ Hah... ternyata gini ya nasib kerja di keluarga yang punya pengaruh besar, terlebih saya salut sama perusahaan El R, kayaknya sistem informasinya bagus bener deh “. Ucap Keyra.
“ Gak usah ditanya, bukannya mau berbangga diri, tapi karena ini adalah fakta, peretas terbaik di Asia itu hampir semuanya ada dibawah naungan Elrahma “.
“ Iya kah?, berarti hacker-hacker terkenal yang misterius itu apa dari keluarga Elrahma juga? “.
“ Iya, dan juga para pekerja disini ada yang double job, karena selain jadi peretas beberapa dari mereka bahkan ada yang kerja sambil jadi bodyguard “.
“ Hoo... Kemampuan mereka berarti gak main-main dong ya, mendalami ilmu IT dan beladiri secara bersamaan itu lumayan susah lho, apalagi belajar menembak, saya berani taruhan kalau semua bodyguard disini punya kualifikasi menembak yang baik dari yang terbaik “.
Razka tertawa kecil “. Terkadang Kakak selalu ngerasa kalau kamu itu seumuran, tapi selisih umurnya bahkan sampai 10 tahun “.
“ Hehe... “.
Kembali melanjutkan obrolan, Keyra teringat akan seorang kenalan yang juga hebat di bidang IT. Nama panggilan orang itu adalah Banu, usianya tidak beda jauh dengan mendiang sang ibu yang meninggal diusia 30 tahun, terlebih Keyra dengan pria itu bisa dibilang cukup dekat satu sama lain, karena tidak hanya memiliki hubungan sebagai junior ibunya, Banu juga merupakan salah satu sahabat sang ibu yang selalu membantunya ditengah situasi sulit, bahkan sampai sekarang Keyra masih berhubungan akrab dengan pria itu, hanya saja jarang bertukar kabar karena memiliki kesibukan masing-masing.
“ Hm... kira-kira kalau saya kenali om Banu ke kak Razka mau gak? “. Tanya Keyra.
“ Boleh aja, ngedenger dari kamu kalau dia itu lulusan dengan nilai tinggi di Universitas London, group El R pasti pengen banget ngerekrut pekerja kayak beliau, tapi... masalahnya apa dia udah kerja di perusahaan lain? “.
“ Tenang aja... Om Banu itu mata pencahariannya jualan kue di toko sendiri, dia gak gunain ilmu IT nya buat nyari uang, saya juga gak tau alasannya apa “.
“ Ya sudah, kalau gitu kakak minta bantuan dari kamu ya Key “.
“ Siap... “.
~
Setelah mengobrol asik dengan Razka, pemuda itu keluar dan pamit dari kamar Keyra karena mendapat panggilan dari seorang maid, jika saja tidak ada orang yang menyuruhnya keluar, mungkin saja obrolan dua pemuda itu akan berlangsung sampai pukul 2 siang. Dan berhubung sekarang waktu masih menunjukan pukul 12:15, Keyra beranjak dari duduknya untuk abdas dan melaksanakan solat dzuhur, dan apa rencana yang akan ia lakukan setelah sembahyang?, entahlah, toh nanti juga ide baru akan muncul.
Sekitar beberapa menit kemudian, Keyra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah karena air wudhu, pemuda itu melangkah ke samping ranjang yang sudah ia tempati selama 2 minggu ini. Jika ditanya nyaman atau tidaknya, sudah pasti Keyra akan menjawab sangat nyaman, kamar yang ia tempati ini 2 kali lebih luas dari kamar tamu yang sebelumnya ia tempati, dengan ukuran ruangan 7x8 ini, ruangan yang disebut kamar itu sudah seperti luas rumah di kontrakannya dulu, sangat luas.
Dibalik itu, Keyra ternyata sudah melaksanakan kegiatan ibadahnya dan tengah duduk bersila sambil memanjatkan doa, dari sekian banyaknya kegiatan, selain solat dan mengaji, berdoa merupakan kegiatan yang paling Keyra prioritaskan juga, kenapa?, alasannya cukup sederhana, karena dengan media tersebut, ia dapat mengirim doa agar para orang yang disayanginya ditempatkan di tempat terbaik di alam sana.
“ Ya Allah... mudah-mudahan doa hambamu ini dapat terkabul “. Ucap Keyra mengakhiri doa dan mengusap wajah dengan kedua tangan.
“ Hm... Bentar lagi kan hari lahir gue sama Bianca, apa sekalian aja ya gue ziarah ke makam mereka? “.
Keyra berpikir sejenak, sepertinya dia akan memiliki rencana untuk berkunjung ke makan keluarganya, karena jika diingat kembali, sekitar beberapa minggu dari sekarang ternyata adalah hari ulang tahunnya bersama dengan Bianca Maka dari itu Keyra pun membulatkan tekad untuk membawa seikat bunga dan berziarah ke makam dengan tujuan berhadiah puji, toh sudah lama juga dia tidak berkunjung kesana. Tapi ada satu hal yang kali ini membuat dia kebingungan, apakah Una akan tetap ngintil ikut dengannya meski dia pergi ke TPU.
“ Haduh... gimana nih? Kalau Una ikut gue ke makam, pasti dua orang rese itu juga pada ikut, terus... entar gue diijinin keluar enggak ya sama si kakek? “. Tanya Keyra pada diri sendiri sampai akhirnya menghela nafas gusar.
Bersambung
__ADS_1