
Beberapa hari kemudian tepatnya di hari Kamis, Keyra bangun lebih pagi dari biasanya dan bersiap memakai seragam setelah pemuda itu melaksanakan solat subuh. Sambil bersenandung ria membenarkan seragam pramuka standar nasionalnya, Keyra tengah merasa senang karena hari ini merupakan hari yang paling ia tunggu-tunggu. Kenapa? karena sekarang pemuda itu sudah dapat kembali bersekolah setelah meminta izin pada Noland untuk kesekian kalinya.
Jika ingin tahu, membujuk kepala keluarga Elrahma itu sangatlah menguras banyak tenaga dan pikiran, tidak hanya harus pintar mencari alasan jika ditanya tentang suatu alasan, Keyra juga harus menahan banyak tekanan kala berbicara dengan pria paruh baya itu.
“ Sip... lo makin ganteng aja Key, wajar aja para kaum hawa hampir semuanya klepek-klepek sama elu “. Gumam Keyra sambil melihat pantulan dirinya sendiri dari cermin.
Setelah merasa semua persiapan telah selesai, Keyra mengambil tas yang ada dimeja belajar lalu beranjak keluar ruangan. Dan seperti biasa, rutinitas yang ia lakukan kala sebelum ke ruang makan pasti akan menjemput Una terlebih dahulu, namun tidak lagi harus menaiki tangga ataupun lift, Keyra hanya perlu meyusuri lorong dan melewati 1 ruangan hingga sampailah di depan pintu kamar Una. Semuanya entah kenapa menjadi lebih mudah.
Tok, tok, tok...
“ Una, lo udah siap belum? “. Ucap Keyra setelah mengetuk pintu beberapa kali.
Beberapa detik keheningan mengisi atmosfir disekitar Keyra, tak lama kemudian pintu didepannya pun terbuka menampilkan senyum manis dari seorang gadis yang kini terlihat sudah siap dengan seragamnya. Dengan tatanan rambut yang dibiarkan terurai, serta tas punggung yang berwarna lilac seolah menambah kesan imut sekaligus anggun dari gadis itu.
“ Pagi bang Kekey... “. Ucapnya yang tidak lain adalah Una.
“ Pagi juga... dah siap kan? Mau langsung ke ruang makan? “ Tanya Keyra sambil mengelus kepala Una pelan, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan baru untuknya.
“ Boleh, tapi bang Kekey sekarang baik-baik aja kan?, lukanya masih sakit gak? “.
“ Enggak, malah udah sembuh... noh liat, luka ditangan gue aja udah kering.
Keyra memperlihatkan tangan kirinya, hal itu membuat Una memperhatikan sejenak dan berakhir timbul helaan nafas lega. Wanita itu cukup tenang kala menemukan luka yang Keyra dapat sudah semakin membaik, itu terbukti dari permukaan kulitnya yang mengering meski ada juga sebagian yang masih sedikit basah, lalu bagaimana untuk luka tikaman diperut Keyra?, kalau kata Cilla sih area itu masih sedikit sensitif, karena kasusnya luka tersebut masih belum sepenuhnya sembuh dan masih harus memakai perban agar tidak infeksi, selain itu Keyra juga dihimbau agar tidak terlalu melakukan banyak aktifitas dan diliburkan dari tugasnya sebagai bodyguard.
“ Bang Kekey nanti jangan cape-cape ya, kalau ada perlu apa bilang ke Una aja, entar Una bantuin kok “. Ucap Una sedikit mendongkakkan pandangan karena tubuh Keyra lebih tinggi.
“ Iya... toh gue juga lagi gak pengen ngapa-ngapain disekolah, cuma kangen belajar aja “.
“ Bener ya, janji? “.
“ Janji... “.
Setelah obrolan singkat yang dilakukan oleh Keyra dan Una, kedua orang itu beranjak menuju lantai 2 hendak sarapan, namun kala itu tidak hanya mereka berdua saja, muncul beberapa orang tambahan beberapa saat yang lalu baru keluar dari kamarnya. Orang itu tidak lain adalah para cucu keluarga Elrahma, yaitu Razka, Reza dan Alfa, serta satu orang tambahan lagi, dia adalah nona muda yang kini menggandeng tangan Keyra lekat bersamaan dengan Una yang sama-sama dengan posisi serupa. Hingga tibalah keenamnya di ruang makan, disana sudah ada para orang tua yang menyambut mereka dengan senyum hangat.
Keyra duduk di tempat biasa, tepatnya di kursi paling ujung dengan Una yang berada disebelahnya, pemuda itu duduk berhadapan dengan kursi yang biasanya kosong kini terisi oleh Cilla.
“ Keyra... gimana keadaan kamu?, apa udah baikan? “. Tanya Erlang kala para maid dan nyonya-nyonya Elrahma sedang mempersiapkan makanan.
“ Alhamdulillah, Saya udah sehat om “.
“ Tapi tetep harus hati-hati ya, baby... jangan banyak tingkah pas lagi disekolah, soalnya luka kamu butuh sekitar 35 persen lagi untuk pulih sepenuhnya “. Ujar Cilla.
“ Baik, kak “.
“ Hm... dipikir-pikir daya penyembuhan Keyra itu ekspress juga ya “.
Tadi itu adalah Razka yang berbicara, sehingga perhatian semua orang kini tertuju kearahnya. “ Maksudnya gimana kak?, apa luka Keyra cepet sembuhnya gitu? “. Tanya Devina ketika dirinya sudah selesai berkegiatan.
“ Bisa dibilang iya ma... soalnya liat aja luka gores yang ada di lengan si Alfa, padahal udah dua minggu lebih, tapi masih belum kering sempurna walaupun lukanya agak kecil, dan juga lebam di muka Eza itu, meskipun udah gak keliatan tapi rona birunya masih ada kan? “.
“ Iya, ya... lo makan apaan Key bisa cepet sembuh kayak gitu? “. Tanya Alfa.
“ Ya nasi lah bang, terus makanan gue kan sejenis sama yang lo makan “.
“ Dia punya ilmu pemulihan cepat kali Al “. Kali ini Reza meracau tak jelas.
“ Ouh... bisa jadi, beladiri yang dia kuasai kan ilmu silat, jadi gak heran kalaupun dia punya yang kayak gituan “.
Keyra menghela nafas lalu kemudian menggelengkan kepala, dirinya tidak habis pikir dengan pandangan dari kedua orang itu, selalu saja membahas perihal ilmu atau ajian dan sejenisnya, apakah para anggota keluarga disini sangat tertarik dengan yang namanya sihir?, dan lagi kenapa kepala keluarganya pun juga sama sebelas dua belasnya dengan sang cucu.
“ Kalian ini... masa sih Keyra punya ilmu kayak gitu?, pasti nya enggak lah, jangan suka ikutin kebiasaan opa kalian “. Ucap Juan dan mendapat tatapan tajam dari orangnya.
“ Ouh... jadi yang nyebar virusnya itu ayah ya?, wah.. gak bisa dibiarin nih, pokoknya Una sama baby Keyra yang belum terjangkit jangan deket-deket sama ayah ya, entar nasibnya kayak Alfa sama Eza “. Ujar Cilla.
__ADS_1
“ Lu juga sama kok Aunty, gak ngerasa udah ketularan ya? “. Ucap Razka.
“ Gue gak ketularan ya Ka, cuma ikut-ikutan dikit aja “.
Alfa, Reza dan Una tertawa, sementara Razka, Keyra dan para orang tua hanya terkekeh dan beberapa ada yang tersenyum mendengar ucapan Cilla. “ Hahaha... itu sama aja, faktanya kalau kamu sejenis kayak ayah gak pernah berubah Cilla “. Ucap Juan diselingi tawa ringan.
“ Udah, udah... jangan dilanjutin, kasian tuh muka Cilla udah cemberut kayak gitu “.
Veriska menengahi rundungan Juan dan Razka pada sang adik ipar, wanita itu kemudian menghimbau agar acara sarapan segera dimulai, dilihat waktu yang sekarang sudah menunjukan pukul 06:35, dirinya khawatir jika para anak akan terlambat karena sesi obrolan tak jelas ini.
Sampai suasana hening hanya menyisakan suara dentingan sendok, semua orang kini telah selesai menyantap makanan di menit ke 15. Berhubung hari ini adalah hari pertama Keyra sekolah lagi, Noland memberitahu pemuda itu agar dirinya menemui kepala sekolah sebelum masuk kelas, kenapa?, karena menurut informasi yang pria paruh baya itu berikan, Faren, atau yang lebih dikenal sebagai kepsek di sekolah meminta Keyra untuk segera masuk ke kelas 11 hari ini juga, karena ada suatu alasan, teman dari Noland itu mempercepat kembali rencananya yang akan menaikan Keyra di semester 2 menjadi sekarang saja.
Alhasil Keyra hanya dapat mengangguk dan menerima pemberitahuan itu lalu berpamitan pada para orang tua untuk berangkat menuju sekolah. Ia semobil dengan nona dan tuan muda, dengan Alfa yang menyetir dan Reza yang duduk disebelahnya, Keyra duduk dibelakang dengan Una yang menggandeng tangan pria itu seperti biasa.
Sekolah Keyra berjalan dengan lancar seperti biasa, berawal dirinya yang diantar dari ruang kepala sekolah oleh bu Tiara, dia masuk ke kelas 11-3 yang posisinya bersebelahan dengan Una di kelas 11-4. Kala tiba di kelas tersebut, Keyra memperkenalkan diri sebagai murid pertukaran yang mendapat beasiswa, sekaligus murid yang naik kelas lebih cepat atas rekomendasi langsung dari kepala sekolah.
Berbagai respon pun banyak Keyra dapat ketika dirinya duduk dibangku tengah dekat dengan jendela, ada yang menyambutnya dengan senang hati sampai mengobrol akrab, ada juga beberapa siswa yang menatapnya sinis dengan pandangan seolah tak suka karena kehadirannya.
“ Jadi... lo loncat kelas karena kepsek sendiri yang minta? “ Tanya Habibi, orang yang menjadi teman pertama Keyra dikelas ini, sekaligus teman sebangkunya.
“ Iya, gue juga gak nyangka bisa naik kelas lebih awal kayak gini “.
“ Wah... kalau bisa naik kelas cepet gitu berarti lu pinter dong, lo pasti sering rangking satu “.
“ Alhamdulillah, gue bersyukur akan hal itu “.
Tidak hanya Habibi, Keyra juga mendapatkan teman lain yang bisa dibilang langsung dekat, mereka bercerita dengan antusias mengenai kepopuleran Keyra yang bahkan ia sendiri tidak tau. Dari cerita mereka, para siswa yang lebih dominan kaum hawa tengah panas-panasnya membicarakan seorang siswa yang mengikuti program pertukaran pelajar, katanya Keyra terkenal dengan senyum teduh yang ramah kala berinteraksi dengan orang lain, orang-orang sempat penasaran dengan individu yang pamornya sedang naik itu, bahkan beberapa murid ada yang saking kepo nya sampai beberapa kali masuk kelas untuk melihat wajah Keyra, namun sayang karena orang yang bersangkutan tidak masuk selama hampir 3 minggu karena sakit, otomatis bukannya nama Keyra redup, para wanita malah mengirimkan banyak hadiah ucapan ‘semoga cepat sembuh’ di loker Keyra setiap harinya, tentu mereka meletakan hadiah-hadiah itu di kelas Keyra yang sebelumnya.
“ Haduh... Kok mereka mau sih repot-repot ngirim hadiah?, padahal gue ini cuma murid beasiswa lho, udah pasti bukan dari keluarga orang kaya “. Ucap Keyra memijit pangkal hidungnya.
“ Yaelah, lo terkenal bukannya bersyukur malah ngerasa heran “. Ujar Habibi.
“ Ya maksudnya buang-buang uang aja gitu, ngasih hadiah ke gue itu gak ada faedahnya lho bang “.
“ Hehe, gue udah kebiasaan, aslinya lo itu kan senior gue, plus masih gak enak juga manggil langsung nama lo “.
“ Udah... lu harus mulai biasain manggil nama langsung, ogah gue dibilang abang sama elu, terus... kalau lu pindahan dari kelas 10, berarti lu sekitaran 16, 17 tahun dong “.
“ Em... kalau sekarang masih 15 “.
“ Eh?, muda amat lu jadi orang, gue aja udah mau jalan 18 “.
“ Udahlah, kan umur itu cuma angka “.
Tak terasa, obrolan Keyra dengan temannya terus berjalan hingga jam memasuki waktu istirahat, dari situ keduanya mulai berniat pergi ke kantin bersama, berbicara berbagai hal tadi cukup membuat tenggorokan mereka kering, untungnya saja jam pelajaran tadi tengah kosong, jadi Keduanya dapat dengan bebas berbagi cerita satu sama lain.
Kini Keyra dan Habibi hendak pergi ke kelas sebelah.
“ Lo mau jemput si Una? “. Tanya Habibi.
“ Iya, biasanya kan dia yang selalu jemput gue, jadi gak papa kalau sekarang biar gue yang jemput dia “.
“ Hooo... hubungan lu deket juga ya sama tu cewek, lo itu sebenernya kerja jadi apa di keluarga Elrahma, banyak rumornya kalau lu itu pekerja disana, tapi gak tau secara detail “.
“ Gue cuma pekerja biasa, yang lebih tepatnya kayak butler gitu, plus punya job tambahan buat jagain dia disekolah “.
Habibi ber oh ria, pemuda itu mengangguk dan memilih mengikuti Keyra yang kini berhenti dan sedikit menjulurkan kepalanya ke dalam kelas yang di tuju, dari situ mata Keyra menelusuri ruangan, banyak orang yang secara acak menyapanya dengan senyum ceria, sementara Keyra sendiri hanya membalasnya dengan senyuman walaupun tidak tau mereka itu siapa.
“ Bang Kekey! “.
Pandangan Keyra dan Habibi kini tertuju pada wanita yang tengah duduk lesehan dibawah lantai beralas karpet, bersama dengan dua orang yang belum begitu mereka kenali, Una melambaikan tangannya menyuruh Keyra untuk masuk kedalam.
“ Em... permisi, saya izin masuk kedalam ya kak “. Ucap Keyra pada beberapa siswa/siswi dekat pintu masuk, dan mereka mempersilakan hal itu dengan senyum yang ramah.
__ADS_1
“ Lo gak ke kantin Na? “. Tanya Keyra ketika dirinya sudah berada didekat gadis itu.
“ Una gak boleh keluar kelas dulu bang, soalnya kak Alfa sama kak Eza bilang kalau mereka lagi gak bisa nemenin Una “. Ucapnya.
“ Kan ada gue, emangnya mereka kenapa “.
“ Lagi ada persiapan buat ujian di semester depan, terus Una gak mau bikin bang Kekey sakit, abang kan belum sembuh “.
“ Gue baik-baik aja kok “.
“ Tapi tetep aja bang “.
“ Ya udah iya, iya... “.
Keyra dan Habibi ikut bergabung atas permintaan Una, ditambah kedua teman gadisnya yang mulai mengajak pemuda itu berkenalan, tidak dengan Habibi, teman baru Keyra ini sudah kenal dengan ketiganya sejak lama ternyata. Teman Una memperkenalkan diri mereka sebagai Arum dan Hyurin, para gadis itu merupakan teman dekat nona muda Keyra yang sudah sekelas sejak kelas 10, kepribadian mereka yang ramah dan perhatian membuat Una nyaman berteman dengan keduanya, terlebih dilihat dari manapun juga, si Arum dan Hyurin ini nampak sangat memanjakan Una.
“ Hoo... jadi Keyra itu abangnya Una? “ Tanya Arum setelah mendengar cerita dari Una.
“ Iya, Una seneng deh Rum, karena selain baik, bang Kekey juga udah ngajarin banyak hal sama Una, dari mulai solat... ngaji... pokoknya banyak deh “. Ucapnya antusias, oleh karena itu banyak orang disekitar menatapnya dengan gemas.
“ Hihi, kita seneng liat kamu ceria gini Na, terlebih... pantesan aja kita agak heran sama satu hal, dulu itu kamu manja banget sama kita, tapi makin kesini jadi agak mandiri, ternyata ini toh alasannya “. Ucap Hyurin menatap Keyra dengan senyum jahil.
“ Iya yah, gue baru sadar lho... lo juga sekarang jadi jarang nangis Na, jadi gak cengeng lagi “. Kali ini Habibi yang berbicara.
“ Ih... siapa bilang Una cengeng, dari dulu Una gak suka nangis kok, kalau Habibi gak percaya... tanya aja sama Arum “.
Arum dan Hyurin tertawa kecil, sementara Habibi dan Keyra saling melirik sambil sesekali menghela nafas pelan tanpa sepengetahuan orang lain, serta pada saat itu mereka cukup bingung, mau mengikuti kode dari Arum yang menyuruh mereka mengikuti alur, atau mengatakan hal yang sebenarnya untuk mengingatkan Una bahwa dulu itu dia cengeng, tapi ya sudahlah, pada akhirnya mereka hanya diam, daripada membuat masalah hingga membuat Una bersedih, Keyra dan Habibi kini kembali mengikuti obrolan dengan ditemani riangnya tawa gadis didepan mereka.
***
“ Wah... gak nyangka ya lo bakalan lompat kelas gini “. Ucap Bima, dengan tas yang sengaja ia tenteng di tangan kanan.
“ Haha... walaupun kita turut seneng, tapi gak bisa gabung lo sesering sebelumnya agak sedih juga, iya gak Sa “. Ujar Lianza pada Salsa yang ada disebelahnya.
“ Iya, bener... gue agak kehilangan pas dikelas gak ada lo, Key “.
Sepulang sekolah, Keyra kini sedang mengobrol dengan Bima, Lianza dan Salsa yang sebelumnya menjadi teman sekelas di kelas 10. Beberapa waktu yang lalu, mereka bertiga menghampiri Kerya yang tengah menunggu Una di koridor bawah lantai 1, karena jalan dari gedung kelas 10 melewati gedung kelas 11 kala menuju gerbang, otomatis mereka sebenarnya bertemu tanpa disengaja.
“ Ya ampun... gue ini cuma pindah kelas, bukan pindah sekolah... jadi kita masih bisa kumpul bareng kok “. Ucap Keyra.
“ Iya juga sih... Btw lo udah baikan?, gak sekolah hampir tiga minggu karena sakit, gue kira lo lagi sekarat “. Bima bicara sambil terkekeh pelan.
“ Enak aja, gue sakit gak separah itu...”.
“ Emang lo sakit apa Key? “. Tanya Lianza.
“ Itu... em... gue kena gejala tipes “.
Keyra berbohong, meski awalnya bingung mau menjawab apa, tapi untungnya ia teringat tentang demamnya dulu yang hampir mendekati gejala penyakit tersebut, jadi tak apalah ia pakai alasan itu untuk kasus yang ini, toh kenyataannya dia benar-benar sakit, namun dengan kondisi yang berbeda.
“ Ya ampun... lo harus jaga kesehatan lebih ketat lagi deh Key, kalau dihitung lo udah dua kali absen karena sakit, mana sekalinya gak masuk lama banget lagi ”. Kali ini Salsa yang membuka suara.
“ Namanya juga sakit, padahal gue udah jaga pola hidup sehat lho, olah raga gak pernah ketinggalan, soal makanan gak usah ditanya karena gue kerja di keluarga Elrahma, emang kurang apalagi? “.
“ Hm... kurang kasih sayang kali? “.
Deg
“ Ngarang lu Bim, ya kali kurang kasih sayang bikin orang sakit sih? “.
Salsa banyak bicara, gadis itu mengomentari perkataan Bima yang bisa dibilang cukup tidak masuk akal baginya, masa kesehatan disangkut pautkan dengan kurang kasih kayang, namun dibalik itu, ternyata perkataan Bima sedikit ngena pada Keyra yang menatap ketiga temannya dengan mulut tersenyum, namun entah kenapa sorot mata pemuda itu malah terlihat kosong.
‘ Haha... kurang kasih sayang ya? ‘ Batin Keyra.
__ADS_1
Bersambung.