
Dengan langkah gontai, seorang pemuda tengah berjalan menyusuri trotoar yang ada di jalan raya, pandangannnya kosong kala menatap lurus kedepan, padahal sekarang ini cuaca nampak mendung, namun dia tidak menghiraukan hal itu meski pun nantinya akan turun hujan sekalipun.
Warna mata yang berdeda tanpa ada binar cahaya, orang yang disebut itu tidak lain adalah Keyra, ya benar... Keyra yang kita kenal, yaitu Keyra si body guard keluarga Elrahma, yang mana beberapa saat sebelumnya menemukan kebenaran kalau dia merupakan anak dari sang majikan, terlebih otomatisnya dia bukanlah anak dari mendiang sang ibu, Hera. Pantas saja Fedrik marah dengan hasil tes DNA yang dia lakukan, karena mau bagaimanapun caranya mereka tidak akan pernah cocok meski Keyra lakukan tes yang sama dengan Hera sekalipun. Kenyataannya mereka memang tidak punya hubungan darah.
Terus berjalan tanpa arah, Keyra masuk ke kawasan yang minim pemukiman, yang tidak sadar oleh dirinya sendiri ternyata Keyra datang ke tempat pemakaman umum, tempat dimana ibunya dimakamkan. Dan sekarang pemuda itu sudah duduk ditepi batu nisan sang ibu, dirinya lelah, bukan lelah dalam hal fisik, namun lelah secara batin dan pikiran, jika boleh membandingkan... kehidupannya kala masih menjadi sebatang kara lebih mudah daripada seorang body guard yang menemukan fakta tak terduga di balik latar belakangnya.
Sungguh miris, Keyra pikir harusnya ia bahagia karena dapat bertemu dengan orang tua yang asli, harusnya ia bahagia kala Dharma dan Yuli mengajaknya pulang sebagai permintaan maaf kepada mendiang Hera untuk tebusan, harusnya ia bahagia karena akan dapat keluarga baru yang mungkin menyayanginya sepenuh hati.
Tapi... apa ini? kenapa dada Keyra mencelos perih, ada rasa tersayat dalam hati kala mengetahui kalau dirinya bukan anak kandung Hera, padahal... dulu ia sangat bangga mempunyai ibu seperti beliau, selain baik dan cantik ibunya itu pekerja keras, ramah, penyabar, serta selalu bersikap lembut. Namun apa kenyataannya?, dia bukan anak kandung wanita itu?. Sungguh?.
" Ibu... Aldo mampir kesini lagi, tapi maaf ya... aku datang gak bawa apa-apa ". Ucap Keyra sambil mengelus nisan yang berada didepanya.
" Aldo sebenernya gak ada niatan mampir, tapi entah kenapa kaki aku malah ngarah kesini... dan juga... Aku boleh curhat sedikit gak bu? hari ini Aldo lumayan cape, enggak... malah cape banget. Jadi gak papa kan cerita sedikit? ".
Keyra mulai berbicara, mengenai hal tadi yang ia alami sebelum datang kesini, pemuda itu menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Pertama dari kejadian tempo hari dimana dia menemukan seseorang yang mirip dengan sang ibu, lalu kemarin ketika sang ayah memberitahu kalau dia bukan anak kandungnya, hingga Dharma dan Yuli yang mengungkap kalau dia merupakan anak dari putrinya yang hilang, otomatis dia adalah cucu mereka, sampai yang terakhir fakta bahwa Keyra adalah anak kandung Erlang dan Veriska yang tertukar, ternyata anak mereka yang meninggal itu sejatinya adalah anak Hera yang asli.
" Aku sebenernya gak mau percaya ini semua, tapi... informasi yang mereka dapet, tes DNA yang mana aku itu beneran anak kandung Om Erlang, terus... kenyataan kalau aku bukan anak ibu... itu semua aku gak mau percaya bu, Aldo gak mau percaya ". Gumam Keyra, tanpa sadar air matanya keluar tanpa permisi.
" Aldo bingung bu, kenapa ya ini semua Aldo alamin sekaligus? padahal aku udah bahagia hidup sebagai anak ibu, tapi... kenapa kenyataan nampar aku bertubi-tubi kayak gini? ". Tanya Keyra yang pasti tidak akan ada orang yang menjawabnya.
" Ibu kenapa gak jawab Aldo sih? ngomong dong sesekali... aku pengen denger suara ibu, aku pengen denger nasehat dari ibu, supaya aku gak salah langkah... suara ibu itu lembut banget tau, bikin nyaman... hiks... bikin tenang... Hiks, hiks... Aldo kangen bu, Aldo kangen suara ibu, Aldo... pengen ketemu ibu ".
Keyra terisak, pemuda itu tidak bisa membendung lagi semua kesedihannya, lama menahan penderitaan yang selama ini bertumpuk, akhirnya ia lepaskan di depan makam sang ibu. Pemuda itu meraung, manangis keras ditemani rintik gerimis yang lama kelamaan berubah menjadi hujan. Alam seakan tahu kalau Keyra sedang bersedih, lalu dia pun mengikuti suasana hati pemuda itu dan menurunkan butiran air hujan. Sungguh... hari ini terasa berat, sangat berat hingga seorang Keyra tidak kuat lagi untuk menopang semua beban, lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bersikap baik-baik saja, Keyra pun menangis, menumpahkan, menyalurkan, mengeluarkan semua luka, didepan makam sang ibu yang sejatinya sudah lama pergi meninggalkan dunia ini.
***
" Mas, kita susul Keyra aja, ayo... aku khawatir, di luar hujan lebat, aku takut dia kenapa-napa ".
" Tenang, Veri... Alfa, Reza sama Razka ada buat ngikutin Keyra, anak kita bakalan baik-baik aja, jadi jangan terlalu panik, ok? ".
Erlang berusaha menenangkan Veriska yang meracau, sejak tadi wanita itu tidak berhenti mengkhawatirkan Keyra yang tiba-tiba pergi dari mansion, terlebih bukan hanya mereka berdua, Noland, Dharma dan Yuli pun ikut khawatir memikirkan pemuda itu, termasuk Cilla, Juan dan Devina, ketiganya malah disibukan untuk membuat Una tenang, gadis itu langsung menangis kala melihat abang kesayangannya lari tanpa menoleh ketika dipanggil, ia takut kalau pemuda itu tidak akan kembali lagi.
" Hiks... Mama, bang Kekey kenapa?... tadi Una panggil bang Kekeynya gak jawab dan langsung pergi, Hiks... ". Isak Una, kondisi gadis itu tidak jauh berbeda dengan Veriska.
" Shut... don't cry, Una. Keyra gak bakal kemana-mana kok, tadi dia cuma keluar bentar nanti juga balik lagi, jadi jangan sedih lagi ya, sayang... ". Kali ini Juan yang berbicara.
" Nah, bener tuh kata papa kamu, jangan nangis lagi ya, cantik... tenang aja, abang kamu pasti balik lagi ke rumah kok ". Susul Cilla.
Dalam pelukan Devina, Una masih belum menghentikan tangisannya, Noland yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas sambil sibuk melihat ponsel, pria tersebut tengah menunggu kabar dari Razka dan para bawahannya mengenai situasi Keyra, karena tidak menutup kenyataaan kalau dia sama khawatirnya dengan yang lain. Terlebih sekarang ini Dharma dan Yuli banyak mengeluh karena menyesal, mereka sepertinya terburu-buru dalam bertindak tanpa memikirkan bagaimana perasaan Keyra.
" Noland... saya minta maaf untuk semua ini, kayaknya kami tadi terlalu buru-buru, kalau aja saya ngasih waktu buat Keyra membuat keputusan, mungkin sekarang ini gak bakal terjadi ". Ucap Dharma, pria itu berdiri di samping kanan Yuli.
" Kamu gak sepenuhnya salah, kami juga disini ikut terlibat. Terlebih mungkin yang paling buat Keyra tertekan itu informasi dari Erlang, karena jujur... saya juga kaget pas denger kalau Keyra itu cucu saya ". Balas Noland.
" Mas, Keyra bakalan baik-baik aja kan? aku khawatir dia kenapa-napa. Diluar lagi hujan soalnya ". Yuli menarik lengan baju Dharma, sementara matanya melihat ke arah jendela. Hujan diluar kali ini cukup deras.
" Kami juga sama, Yuli... tapi sebisa mungkin bawahan Noland sekarang lagi mencari keberadaan Keyra, terlebih aku juga ngirim beberapa orang buat bantu mereka, karena menurut informasi... lokasi keyra sekarang sudah ditemukan ". Ucap Dharma, pria itu berbicara setelah ia melihat sejenak notofokasi dari ponselnya.
" Beneran, Dharma? Keyra sekarang dimana? ". Bukan Yuli, melainkan Noland yang bertanya kala itu.
" Dia ada di... makan Hera ".
" Tunggu? di makam? di tengah hujan lebat kayak gini?! " Kaget Yuli.
" Aku gak tau pasti, tapi menurut salah satu bawahan, dia ngeliat Keyra masuk ke tempat pemakaman umum, sudah pasti dia dateng ke makam anak kita ".
__ADS_1
" Hah... setelah ini apapun yang terjadi kita harus bawa Keyra pulang terlebih dahulu, kalau misal benar anak itu pasti lagi hujan-hujanan... Kita gak boleh biarin Keyra sakit ". Ucap Noland.
" Aku setuju, jadi nanti kamu yang atur ya, Mas... tapi ingat, jangan paksa dia lagi ". Yuli sedikit mengsiniskan suaranya.
" Iya, aku minta maaf... ".
" Ya sudah, kalau gitu kita_... "
kring....kring... kring...
Ketika Noland hendak melanjutkan ucapannnya sebuah dering telepon membuat ia harus berhenti dari kegiatan, kali ini suara itu bukan berasal dari ponsel pribadi, melainkan dari telepon rumah yang tidak jauh dari ruang tengah, hingga suara nyaringnya membuat perhatian semua orang tertuju pada benda tersebut, salah satu maid menganggat telepon dan segera menghampiri Noland untuk berbicara dengan orang yang diseberang.
" Halo? ". Ucap Noland sebagai awalan.
" Halo, Noland... ini saya! ".
" Eh, kamu? kenapa nelpon ke no rumah? ".
" Gawat, Noland... ini gawat!, si tua bangka itu mulai nunjukin taringnya! ".
" Apa?! ".
***
Cuaca setelah hujan, dimana udara terasa dingin sampai membuat nafas terlihat berasap, kebanyakan orang memilih untuk diam dirumah sambil menggelung tubuh dengan selimut, mungkin beberapa ada yang tidur dan sebagian juga ada yang duduk menikmati pemandangan ditemani secanggkir teh dan kopi hangat. Namun berbeda dengan sekelompok pemuda yang kini berada dalam mobil, mereka tidak sedang bermain maupun bersantai, melainkan... tengah mengawasi, mengawasi seorang pemuda yang letaknya cukup jauh dari lokasi mereka, namun terpantau oleh benda pipih besar yang dipegang salah satu orang tertua dari mereka.
Ketiganya tidak lain adalah Razka, Reza dan Alfa, para cucu keluarga Elrahma yang sedang memantau pergerakan Keyra si bodyguard, tidak!, anak itu sudah menjadi keluarga mereka, meskipun baru terungkap beberapa jam yang lalu.
" Kak, Keyra masih diem disana? ". Tanya Alfa, padahal tadi pemuda itu sudah bertanya hal itu lebih dari 4 kali.
" Aku khawatir sama dia, kak... orang itu kalau hujan ya neduh, tapi dia malah diem aja nyampe bucis kayak gitu ".
" Masalahnya elu itu terlalu berisik, Al... kalau mau tau lo udah nanya 3 kali tentang si Keyra masih diemnya apa belum ". Reza yang berada di belakang menatap Alfa malas, dirinya sama-sama risih kalau Alfa sudah berada dalam mode bawel seperti ini.
" Kita samperin aja deh yu ". Ucap Alfa, hal itu sukses membuat Razka dan Reza menoleh kaget.
Plak
" Adaw!... sakit, kak! kenapa maen geplak aja sih? "
" Kamu mau dia gak pulang ke rumah? yang ada dia malah kabur kalau kita samperin kesana ". Razka menggeplak kepala Alfa, lama-kelamaan dia bisa stres kalau begini caranya.
" Terus gimana dong? ".
" Udah tunggu aja, kita liat sekitar beberapa menit lagi, kalau Keyra tetep diem ditempat, kakak bakal gunain plan B ".
" Waw... punya rencana lain nih? emang plan B nya apaan, Kak? ". Tanya Reza, perasaan mereka hanya mempunya satu rencana saja.
" Entar pas udah jadi, soalnya kakak mau bikin dulu ".
" Yaelah... kirain dah jadi! ".
Alfa dan Reza kesal bersamaan, niat hati hendak mengagumi kelakuan Razka yang keren malah terpatahkan kala mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan, siapa sangka kalau sang kakak bilang ingin menggunakan plan B sementara rencananya saja dibuat secara dadakan. Kadang-kadang si sulung yang satu ini pintarnya suka pending.
memilih tidak memikirkan hal itu, Reza dan Alfa ikut memperhatikan Keyra kembali yang berada di layar tabel, lima menit kedepannya pemuda itu masih duduk diam ditempat tanpa bergeming, hingga ketika waktu menunjukan pukul 3 sore, terlihat bahwa keyra mulai bangkit dari tempatnya dan berjalan keluar tempat pemakaman.
__ADS_1
" Keyra keluar, Keyra keluar tuh... ". Alfa kembali ribut, membuat Razka mengambil ponselnya dan segera menekan salah satu nomor yang tertera.
" Halo?, kamu liat Keyra udah keluar dari pemakaman? ". Tanya Razka pada orang yang berada diseberang.
" Sudah, Tuan muda... sekarang saya liat tuan muda Keyra pergi kearah yang bukan jalur pulang, tapi se arah sebaliknya... ".
" Terus dia mau mau kemana? ".
" Kalau perkiraan saya tidak salah, tuan muda sekarang ini sedang menuju rumah ibu sambungnya, tapi letaknya cukup jauh jika ditempuh tanpa transfortasi ".
" Emang dia gak naik taksi gitu? ".
" Tidak tuan, tuan muda Keyra masih tetap jalan sampai sekarang ".
" Ya sudah, kamu tetep terus awasi dia, ya... jangan sampai lepas dari pandangan ".
" Siap Tuan. kalau begitu saya permisi... ".
" Ok ".
Razka menutup panggilan telepon, setelah mengetahui Keyra bergerak kearah mana, pemuda itu mengintruksika Reza dan Alfa untuk bersiap keluar mengikutinya. Dengan penjelasan singkat dan padat, Razka bilang bahwa mengintai langsung lebih baik daripada melihat lewat tablet.
" Kalian belok kanan, abis itu lurus aja sampai nemu Keyra yang lagi jalan di sebrang jalan, kakak mau ngasih mobil ke salah satu bawahan dulu ".
" Ok kak ".
Tanpa berbasa-basi lagi, dua sejoli Reza dan Alfa pun mulai berjalan sesuai arahan sang kakak, dengan langkah cepat dan besar, tanpa membutuhkan waktu lama keduanya dapat menyusul Keyra yang ada didepan sana pada menit ke lima. Sebisa mungkin mereka bersikap biasa saja tanpa terlihat seperti orang yang mencurigakan, takut-takut ada orang di sekitar, nantinya mereka dituduh sebagai penguntit bagaimana? bisa gagal rencana untuk mengawasi Keyra nanti.
Disituasi yang berbeda, kini Keyra terus melanjutkan langkah ditengah rasa dingin yang melanda, badannya terlihat gemetar, jemarinya yang putih kian mengerut sampai wajah pemuda itu juga nampak pucat dengan pakaian yang terlampau basah. Sudah dipastikan jika orang lain melihatnya akan dikira kehujanan. Namun jika melihat sekitaran... jalanan ini nampak sepi, jadi kemungkinan orang melihat cukup tipis.
" Hah... abis ini gue harus kemana? selain keluarga Elrahma gue gak punya tempat tinggal, mau ke rumah bu Ika pasti bakal ketemu sama ayah, mau balik ke kontrakan dulu tapi udah jadi rumahnya tuan Dharma... ".
Keyra memutar otak, memikirkan harus kemana dia sekarang untuk singgah sejenak, pemuda itu sudah beberapa kali mempertimbangkan rumah siapa yang ingin ia kunjungi. Tidak untuk rumah Boy teman lamanya karena jaraknya cukup jauh, lalu rumah yang sebelumnya ia tinggali bersama nenek dan sang adik karena kunci rumahnya ia tinggalkan bersama semua barang pribadi, termasuk juga ponsel hingga membuat Keyra pusing sendiri, pemuda itu merasa miris karena disakunya hanya ada sisa uang 30 ribu.
Sampai sebuah ingatan terlintas dikepalanya, Keyra baru sadar kalau dulu dia mempunyai sepasang bos yang baik hati, masih ingat dengan Qian dan Linda? benar, Keyra bisa menginap sebentar di cafe mereka, mungkin saja keduanya akan memperbolehkan Keyra untuk singgah sejenak.
Kala suasana hati Keyra mulai naik, pemuda itu melangkahkan kaki lebih cepat agar sampai di tempat tujuan, sebenarnya ia sudah sedikit tidak tahan dengan rasa dingin yang membuat tubuh menggigil, karena mau bagaimanapun efek hujan-hujanan itu sudah mulai terasa, kepalanya sudah agak pening sejak tadi, ditambah hidungnya yang kian menyumbat, Keyra bertaruh kalau dirinya pasti akan terkena flu malam ini. Mungkin... Keyra akan sedikit tidak tahu diri meminta direbuskan air hang__...
Broooom
Broooom
Suara deru mobil tiba-tiba membuat perhatian Keyra terfokus ke sumbernya, dengan cepat ia menoleh ke belakang pemuda itu menemukan sekelompok orang berbaju hitam yang keluar dari kendaraan, perasaannya mendadak buruk, mereka itu mengingatkan Keyra pada kejadian penyerangan malam hari saat bersama para nona dan tuan muda Elrahma.
' Gawat! '
Bersambung
Dikit ya? Kalian mungkin bacanya sebentar, tapi aku nulisnya berhari-hari lho, otak ku ngebul gaes...
Huhu, tapi gak papa... Demi Keyra! aku rela buat dia bahagia meskipun banyak melalui proses yang berbelit-belit. Intinya doain aku ya ges, moga sukses tanpa ekses...
Jumpa di chapter selanjutnya...
Jejaknya, jejaknya mana nih?
__ADS_1