
“ Hm, kenapa ya mata si Keyra bisa mirip banget sama oma? “ Ucap Alfa yang kini sedang berada dikamarnya.
“ Kebetulan kali... emangnya sepenasaran apa sih sampe lo nanya hal itu berkali-kali? “ Jawab Reza dengan fokus kelayar ponsel.
“ Gue cuma kepo dikit “.
“ Kenapa gak nanya langsung aja ke si Keyra? “.
“ No!, I won’t... mana mau gue nanya sama si rese itu?, ogah banget! “.
‘ Dasar munafik ni orang, perkataan dan hatinya gak pernah sama ‘.
Saat ini, Alfa dan Reza tengah bersantai seusai pergi dari kamar Keyra, melihat bocah tengil yang menyebalkan itu kini terbaring sakit membuat hati mereka luluh dan enggan untuk menjahilinya sementara waktu, sebelumnya bahkan sudah terlihat jelas kalau pemuda tersebut sudah sangat payah menghadapi demamnya, ditambah terungkapnya warna mata yang ia miliki berbeda, semua anggota keluarga melemparkan banyak sekali pertanyaan ditengah kondisi suhu tubuh Keyra yang masih tinggi.
Beberapa jam setelahnya, ketika hari menjelang sore disaat mendung menghiasi langit, Keyra bangun dengan rasa sakit kepala yang cukup kuat, sambil ditemani oleh Una yang selama ini selalu berada disamping, pemuda itu meringis dengan upaya mengurangi rasa sakit. Dokter masuk ke ruangan, memeriksa keadaan anak yang terbaring dikasur dengan tangan dipegangi oleh seorang gadis, sungguh pemandangan yang cukup indah untuk dilihat oleh seorang pria yang menjelang usia tua ini, tapi tidak menghiraukan lebih lanjut, pria itu menemukan bahwa kondisi Keyra sedang dalam puncaknya.
Hal ini merupakan berita baik dan buruk, demam Keyra muungkin akan lebih baik setelah sakitnya memuncak, namun saat melewati masa puncak inilah yang membuat anak itu harus bertahan, kondisi biasanya pasti seseorang akan pingsan dan dirawat dirumah sakit karena suhu tubuh tinggi yang mencapai 39 derajat celcius, namun berbeda dengan Keyra saat itu, tidak hanya penahanan dirinya yang kuat, pemuda tersebut bahkan masih bisa berbicara untuk menangkan orang-orang disekitarnya, sungguh anak yang hebat, pikir dokter kala itu.
Beberapa hari kemudian
“ Demam kamu cukup parah, kalau dibandingkan dengan orang lain... kayaknya penahanan diri kamu kuat banget, semoga kedepannya kamu bakalan terus sehat... “ Ucap Dokter yang nama belakannya adalah Liam.
“ Makasih dokter, saya minta maaf karena 5 hari ini bikin dokter repot “. Ucap Keyra ketika infusan sudah tidak berada ditangannya lagi.
“ itu sudah tanggung jawab saya... lagipula 5 hari itu adalah waktu yang singkat, biasanya saya selalu kerja 2 minggu penuh buat ngurus demam cucu dari keluarga ini “.
“ 2 minggu?!, lama banget lho dok... apa sakit mereka parah? “.
“ Haha, dibanding sama demam yang kamu derita, mereka cuma flu biasa, tapi para orangtuanya aja yang terlalu khawatir “.
“ Ahaha... ternyata gitu ya, saya paham dokter... “
Keyra tersenyum canggung, ternyata dokter pribadi keluarga ini juga mendapati kesulitan selain dalam masa perawatan, sudah cape dengan pekerjaan, mungkin dirinya juga lelah dengan para orang tua yang terlalu banyak megoceh, serita itu sih pernah Keyra rasakan meskipun dalam keadaan lain.
“ Kamu boleh keluar untuk sekedar jalan-jalan, tapi ingat... jangan kecapean, badan kamu masih rapuh, jadi tolong jaga kesehatan ya... “ Ucap Dokter hendak pergi usai membereskan pelaratan.
“ Sekali lagi terima kasih dokter... “.
“ Sama-sama... “.
Dokter Liam pergi, dengan menahan pandangan beberapa detik ke arah warna mata Keyra yang indah, pria itu keluar dengan akhiran menutup pintu perlahan. Ruangan menjadi sunyi, saat ini tinggal Keyra seorang yang berada didalam kamar, beberapa hari kebelakang kamarnya selalu penuh dengan orang baik itu anggota keluarga Elrahma maupun para pekerja, khususnya Jola, Meta dan Toni, mereka menjenguk Keyra hampir setiap harinya, tidak terkecuali Una si gadis polos nan manja yang mungkin seharian penuh berada disisinya saat libut akhir pekan kemarin, namun gadis itu tengah sekolah mengingat sekarang merukapan hari ke 2 di minggu ke 4 bulan ini.
Keyra mulai merasa bosan karena hanya bisa bermain game dan membaca buku di dalam kamar, ia pun memutuskan untuk keluar ruangan hendak sekedar jalan-jalan di taman depan, tidak sedikit orang yang menyapa dan menanyakan keadaan pemuda itu, sepertinya selama beberapa hari ini Keyra sudah membuat banyak orang khawatir, terlebih Devina dan Veriska sampai menyuruhnya kembali untuk istirahat, namun dengan tenang Keyra menjelaskan bahwa kegiatannya ini bertujuan untuk rehabilitas dan terapi menurut anjuran dokter, mungkin karena penjelasan dari pemuda tersebut, kedua wanita yang menghalangi Keyra menghela nafas dan membiarkannya pergi, meski khawatir tapi mau bagaimana lagi jika itu anjuran dari dokter, mereka hanya bisa memperbolehkan jika itu akan berdampak baik bagi tubuh Keyra.
Tengah hari ini, Keyra jalan santai mengelilingi mansion sekitar satu putaran, hal yang ia lakukan cukup memmakan waktu dan jam hampir menunjukan pukul 2 siang, sepertinya Una dan kedua kakaknya akan oulang sebentar lagi, dan benar saja, ketika Keyra hendak masuk melewati pintu depan, datang sebuh sedan hitam yang kemudian muncul seorang gadis mengarahkan senyuman hangat pada Keyra, dan benar...orang itu adalah Una, adik dadakannya Keyra.
Keduanya masuk setelah menanyakan keadaan masing-masing, dengan diikuti oleh para tuan muda, Una banyak mengoceh dan bercerita banyak hal, mungkin anak itu sudah lama tidak berbicara banyak selama beberapa hari dengan Keyra, jadi sebagai gantinya, Una mungkin mengucapkan lebih dari 1000 kata setiap jam nya sampai hari menjelang sore.
“ Kamu udah baikan Key? “ Tanya Erlang di tengah kegiatan makan malam.
“ Alhamdulillah Tuan, maaf... maksud saya... saya udah baikan Om “ Ucap Keyra sambil sedikit memperbaiki kata, panggilan yang tiba-tiba diubah membuatnya cukup kesulitan.
“ Syukurlah kalau gitu, lain kali... kalau kamu ngerasa gak enak badan lagi, tolong langsung bilang yang lain “.
“ Betul Keyra... kami khawatir liat kondisi kamu beberapa hari yang lalu, jadi tolong jangan ulangi lagi ya “. Tutur Veriska dan dijawab anggukan oleh Keyra.
“ Nah... bang, nanti tolong jangan sembunyiin sesuatu dari kita lagi ya, kayak warna mata abang itu... kayaknya kalau benda yang abang pake gak jatoh Una sama yang lain pasti gak bakalan tau “. Ucap Una sedikit cemberut.
“ Iya deh... gue gak bakalan kayak gitu lagi “.
Semua orang menatap senang pemandangan hangat didepan mereka, termasuk Reza dan alfa, sepertinya kedua anak itu sudah menerima Keyra sebagai keluarga, terlebih mereka tidak merasa iri aupun kesal disaat para orang tua membagi kasih sayang mereka kepada anak itu, tanpa terkecuali Razka yang memang sudah sejak lama bersamaaan dengan kakeknya yag sudah menerima Keyra juga.
Dan beberapa menit kemudian, kegiatan makan berakhir dengan tawa dari anggota keluarga karena melihat tinggah gadis mereka yang lucu, sungguh suasana ruamh yang hangat, Keyra bersyukur karena dapat ikut serta disini menikmati kebahagian bersama mereka, namun satu hal yang ia sayangkan, ternyata bahagia dengan keluarga orang lain itu tetap saja membuat ia sedikit merasa tidak nyaman, sungguh saat itu Keyra merasa senang sekaligus sedihdisaat yang bersamaan.
***
Hari Jum’at
“ Bang Kekey mau ke masjid? “. Tanya Una ketika melihat abangnya yang sudah rapi dan wangi dengan sarung dan peci yang terpasang.
“ Iya... karena libur, gue yang biasanya jumatan disekolah harus pergi ke masjid kalau di rumah, dan ngomong-ngomong bang Reza sama bang Alfa nama? “ Tanya Keyra.
“ Oh... dia lagi main PS di kamar Key “ Kali ini Veriska yang menjawab.
“ Eh? belum siap-siap? ini udah mau telat lho “.
“ Mereka emang kayak gitu... tante udah dari dulu selalu nyuruh mereka pergi ke masjid, tapi bilangnya mending dirumah aja “.
“ Hm, padahal solat jum’at itu wajib lho, ya udah... biar saya aja yang nyamper mereka deh “.
“ Wah... bagus tuh, mohon bantuannya ya Key “.
Keyra berbalik dan menaiki tangga menuju lantai 3, yang mana lantai tersebut adalah tempat untuk kamar para cucu Elrahma, kalau orang tua?, ya... itu berada di lantai 4, khusus dan memang dibuat untuk mereka.
__ADS_1
Sambil menuju ke tempat yang hendak di masuki, Keyra tidak habis pikir kalau para tuan muda melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim, padahal solat jum’at itu diwajibkan untuk para lelaki, terkecuali ada uzur, atau keadaan yang darurat, maka setidaknya diperbolehkan untuk tidak melaksanakan kegiatan tersebut dengan ganti solat dzuhur seperti hari-hari biasanya.
Tiba di depan kamar Alfa, Keyra mengetuk pintu beberapa kali hingga seseorang membuka pintu, dan orang tersebut adalah Reza.
“ Oh, Keyra... lo ada perlu apa? “ Tanya pemuda tersebut.
“ Gue mau ngajak solat Jum’at bang... sekalian mau ngajak bang Alfa juga, kata tante Riska kalian lagi maen bareng “. Ucap Keyra.
“ Riska? Siapa tuh? “
“ Em... itu panggilan gue ke tante Veri “.
“ Oh, ok... tapi kayaknya gue mau solat dirumah aja deh, males ke masjid “.
“ Mana boleh gitu bang... cowok itu hukumnya wajib melaksanakan solat Jum’at, kalau lo cewek sih gue bodo amat “.
Reza sedikit kesal, setelah pemuda dihadapannya sembuh sifat menjengkelkannya muncul lagi seperti biasa, perkataanya mungkin memanglah benar, tapi ia sempat merasa malas untuk keluar rumah saat ini, namun jika harus menanggapi ocehan Keyra yang memanjang jika dirinya menolak, sepertinya Reza hanya bisa menghela nafas.
“ Yaudah gue siap-siap dulu, lo bangunin si Alfa sono, dia masih ngebo abis ngelarin game “.
“ Ok “.
Kedua orang itu masuk, berbeda dengan Reza yang masuk ke kamar mandi, Keyra kini mendekati Alfa yang tengah terkapar dengan kondisi mulut setengah terbuka dihiasi air liur yang menetes di tepi bibir, sungguh membuatnya geli, mungkin semua pemuda malas akan memiliki kondisi tidur yang tidak jauh berbeda dengan Alfa, terlebih posisinya sangat lah tidak estetik karena membirkan pakaian bagian bawah terangkat memperlihatkan area perut sampai ke dada.
Mengguncang badan Alfa, Keyra memanggil namanya dengan cukup keras guna membangunkannya, tapi bukannya membuka mata, pemuda itu malah mengubah posisi dan melanjutkan acara tidur nyenyak.
“ Ya ampun... ni orang tidurnya udah kayak ****** tau gak, susah bener dibangunin nya”. Keluh Keyra.
“ Bang... bang Alfa, woi... bangun bang, solat Jum’at ayo, entar tiket ke surga keburu abis lho... “ Susulnya lagi.
Masih belum bangun, dengkuran Alfa makin keras hingga membuat Keyra kesal.
‘ manusia model gini mah harus dikasih pelajaran sih... ‘
Menghela nafas, Keyra melihat sekitar dan menemukan sebuah benda yang menurutnya bagus untuk membangunkan Alfa, ia berjalan menuju meja dekat sofa dan kembali dengan membawa benda tersebut, sambil tersenyum jahil, pemuda itu mengibaskan tangannya yang sudah basah dengan air ke wajah cucu keluarga Elrahma satu ini.
“ Emh... Bun... gerimis bun “. Igau Alfa.
“ Hehe... bakalan seru nih “.
Keyra mendekatkan mulutnya ke telinga Alfa, mengambil ancang-ancang untuk menarik nafas, dirinya berteriak dengan menggunakan seluruh kekuatan. “ Bang Alfa!!!!!, BANJIR!!!!! “.
“ AAAAAARGH!!!!, selamatkan diri!... mana perahu, mana perahu?!, bawa semua barang ke atas!, cepet panggil HELIKOPTER!!! “.
“ Eh? banjir?, airnya kok gak ada sih? “ Ucap Alfa linglung.
Alfa bingung, tidak ada genangan air yang ia sangka telah memenuhi rumah, dimana banjir yang dimaksud?, yang ia temukan hanyalah Keyra yang sedang tertawa dan Reza yang memandangnya dengan tatapan meremehkan, dari situ dirinya sadar kalau sejak awal sudah dipermainkan oleh mereka berdua.
“ Dasar bangs*t!!!, ****** emang lo berdua, bisa-bisanya ngejailin gue pas lagi tidur “. Ucapnya Alfa emosi.
“ Haha... maaf bang, lagian sih... dibangunin buat solat Jum’at bukannya melek eh malah lanjut ngebo “.
“ Bisa gak lu pake cara yang laen?, janc*k emang lah “.
“ Sabar Al, lo mau ngoceh juga udah kejadian “. Ucap Reza.
“ Tapi muka hansome gue jadi basah Za “.
“ Yaelah, cuma basah doang mah ga papa kali, kalau sampe bohak baru lo boleh protes “
“ Awas aja lu key... gue kasih lo gambar lubang-lubang kecil entar “. Ancam Alfa yang kini sudah mengetahui tentang phobia Keyra.
“ Eh?, eh?, apaan tuh?, kok nyambung ke masalah yang ono? “. Protes Keyra sedikit merinding.
“ Udah... mending sono beres-beres, maki si Keyra bukannya seneng entar lo malah setres duluan Al “ ucap Reza memberi saran.
Sambil terus menggerutu, Alfa keluar dari kamar Reza dan memilih untuk bersiap, dan untuk Keyra ia masih tertawa lucu dengan ulahnya yang membuat kakak Una marah, serta pergi ke lantai bawah dan menunggu para tuan muda. Beberapa menit kemudian orang yang ditungu pun datang, mereka berangkat tanpa menggunakan kendaraan usulan dari Keyra, pemuda itu bilang jika pergi ke masjid alangkah baiknya berjalan kaki dari pada menggunakan mobil, menjalankan sunah tersebut dapat menambah pahala yang akan didapat, otomatis Reza dan Alfa menyetujuinya meskipun sedikit lelah karena jarak antara mansion keluarga Elramha dengan masjid terdekat cukup jauh.
Setelah mereka sampai dan masuk ke masjid, Keyra duduk disebelah kanan Reza yang berdampingan dengan Alfa, ketiganya menjalankan kegiatan beribadah dari awal mulai sampai akhir dengan khusuknya, jika diingat-ingat kembali, Reza dan Alfa sudah lama tidak pergi ke masjid dengan berjalan kaki seperti ini, mungkin jika Keyra tidak mengajak keduanya, mereka pasti akan terus meninggalkan kewajiban ini.
“ Hah... ok, sekarang ayo bal__ “.
“ Jangan pergi dulu bang, ada pengumuman tuh “.
Keyra menghentikan Alfa yang hendak bangun, ia menghimbau kalau pak Ustadz akan memberitahukan sesuatu sebelum para jamaah pergi, di beritakan kalau ada seorang warga membawa keluarganya yang meninggal dari rumah sakit, dalam isi pengumuman tersebut pa Ustadz meminta jamaah untuk ikut melakukan solat jenazah sebelum mereka pulang, ulasan itu dengan mudah diterima dan segera mayit yang sudah sejak tadi ada kini diletakan didepan imam.
Dari situ, banyak orang yang mulai membariskan dan mulai meluruskan saf nya, termasuk Keyra, Reza dan Alfa, namun terdapat satu hal yang membuat para tuan muda bingung, mereka baru pertama kali menyolatkan mayit, terlebih bagaimana niat solatnya?, apakah ada banyak rokaat? sempat belajar tapi mereka sudah lupa.
“ Za... niat solat mayit gimana? “ Bisik Alfa pada Reza.
“ Gak tau... ini pertama kalinya gue nyolatin mayat “. Jawab Reza bisik juga.
“ Hm... terus berapa rokaat?, gue bener-bener gak tau nih... “.
__ADS_1
“ 5 rokaat kali, supaya dosanya dikurangin sama yang nyolatin... “.
“ Emang bisa gitu ya? “.
“ Gak tau bloon... kan gue bilang ‘kali’, gak tau bener apa enggak “.
Reza dan Alfa terus berdiskusi, meski mereka berbisik tapi suaranya masih bisa terdengar oleh Keyra, dirinya cukup lucu mendapati kalau para tuan muda baru perdana melakukan solat mayit.
“ Solat mayit itu 4 kali takbir bang, yang pertama niat, terus di takbir pertama baca Alfatihah, keduanya baca solawat nabi sampai ‘filalamina inaka hamidummajid’, lanjut yang ketiga bacaannya kalau mayit cowok kayak gini nih... 'Allahummagfirlahu warhamhu waa’fihi wa’fuanhu’, dan yang terakhir di takbir ke 4, kalian baca ‘Allahumma latahrimna ajrohu’ sampai selesai deh pokoknya “.
“ Yang terakhir gue gak hafal Key “. Ucap Reza.
“ Kalau gak tau gak papa, baca sedikit aja yang gue sebutin tadi “.
Mengangguk dengan ucapan Keyra, Reza dan Alfa mulai mengikuti solat setelah imam menyerukan takbir, di takbir pertama mereka khusuk dan tenang sambil mendengarkan lantunan surat Alfatihah, setelah selesai, lanjut ke takbir kedua yang membuat Reza dan Alfa memasuki posisi rukuk bersamaan, dalam hati keduanya berpendapat kalau solat mayit ini ternyata lebih mudah dari yang ia duga, jika diingat masihlah sama dengan solat lima waktu, tapi lama-kelamaan pemuda itu bingung, kenapa orang-orang tidak kunjung turun dan masih dalam kondisi tegap, dia menengok dan menemukan saudaranya yang juga memiliki posisi sama, wajah dan mata mereka bertatapan, dan sejauh mata memandang hanya mereka lah yang kini sedang dalam posisi tersebut.
Segera setelah itu keduanya langsung menarik tubuh dan kembali ke posisi tegap, mereka benar-benar malu, bisa-bisanya melakukan kesalahan di tengah-tengah solat, terlebih Reza menemukan bahwa ada beberapa orang yang berusaha menahan tawa melihat kegiatan mereka. Dua takbir selanjutnya, Alfa dan Reza mengerjakan solat dengan perasaan yang benar-benar sangat hancur, mereka tidak pernah menyangka kalau hal ini akan terjadi, sungguh pengalaman yang takkan pernah terlupakan.
***
“ Hahahahaha!!! “.
Suara tawa menggelegar dari seorang pria yang kini tengah duduk di ruang keluarga, tidak hanya dirinya, beberapa orang disebelah juga melakukan hal yang sama, disebutkan orang itu adalah Noland dan anggota keluarga lain yang sedang berkumpul, pria paruh baya itu baru pulang dari kerja akhir pekannya bersama 3 orang lain, yaitu Erlang, Juan dan Razka.
Mulanya sih mereka hendak langsung pergi ke kamar dan beristirahat, namun perhatiannya teralih disaat melihat Una, Devina dan Veriska yang sebelumnya selalu tenang menjadi tertawa keras sampai mengeluarkan air mata, pada posisi tersebut ada tiga pemuda yang duduk didepan mereka, orang itu tidak lain adalah Keyra, Reza dan Alfa. Keempatnya penasaran, dan setelah tahu lewat cerita Keyra, semua orang tertawa terkecuali dua tuan muda yang kini kesal sambil menahan rasa malu, siapa lagi orang itu kalau bukan para kakaknya Una?.
“ Pft....Ya ampun... bisa-bisanya kalian ngelakuin hal itu, lagian sih... pas dulu kakak suruh kalian pesantren pada gak mau, kan gini deh jadinya... “ Ucap Razka berusaha menahan tawa.
“ Wajar sih Ka... anak brandal mana mau masuk ke penjara suci “.Timpal Erlang.
“ Papa gak kebayang gimana rasanya jadi kalian, pasti pas disana muka kalian pada mateng “. Ujar Juan.
“ Bahkan ada bapak-bapak yang ngeledek mereka lho om, katanya ‘Solat mayit itu gak usah rukuk dek, terus kalau sampe kamu sujud, entar mayatnya kaget dan idup lagi’ “. Kali ini Keyra yang berbicara.
Mendengar hal itu semua orang kembali tertawa keras, orang yang bersangkutan hanya bisa diam sambil melihat jengkel semua orang, terlebih tatapan para tuan muda kini menjadi tajam saat mengarah pada Keyra.
“ Semua gara-gara lo Keyra! “. Ucap Reza dan Alfa bersamaan.
Obrolan berlanjut sedikit lebih lama, semua orang pun kembali ke kegiatan masing-masing saat pembicaraan usai, dan seperti biasa, sebagai seorang body guard Keyra sekarang sedang mengawasi Una yang berada di taman depan, jika dibilang mengawasi, kegiatan pemuda itu lebih tepat dibilang menemani bermain.
Duduk bersama Una di bawah pohon rindang beralaskan karpet, gadis manis itu mengoceh banyak hal sambil sesekali memasukan camillan kedalam mulut, Keyra yang bersandar ke batang pohon hanya menanggapi dan sesekali membalas argumen Una, terlebih suasana hari ini sangatlah cerah dengan langit biru dan angin sepoi-sepoi yang sejuk, sungguh membuat suasana hati menjadi damai.
“ Wah... udara hari ini seger ya bang “. Ucap Una.
“ Iya, pengen deh rasanya jalan-jalan keluar “.
“ Gak boleh... bang Kekey kan baru sembuh dari demam, jadi jangan dulu keluyuran ya “.
“ Haha... iya, iya, tenang aja gue gak bakalan kabur kok “.
“ Tapi kalau lama-lama disini bosen juga tau bang “. Keluh Una menundukan kepala.
“ Terus lo maunya ngapain? “.
“ Em... gimana kalau kita mabar aja? “.
“ Emang lu bisa main ML? “ Tanya Keyra dan dijawab gelengan dari Una sambil tersenyum kikuk.
“ Ok, ok... kita cari pemikiran yang lain, apa lo ada ide? “.
“ Berenang aja deh “.
“ Sekarang panas, entar kulit lu kebakar “.
“ Maen raket? “
“ Lapangannya kan lagi direnofasi “.
“ Gimana kalau main bola? “.
“ Om Juan sama tante Devi ngelarang gue buat ngebolehin lu maen ke gituan... “
Una menghela nafas, gadis itu menyerah memberikan pendapat, semua yang ada diotaknya sudah ia utarakan, namun tidak ada yang disetujui oleh abangnya karena berbagai alasan. Disela Una yang berbaring menatap keatas, Keyra mulai berpikir tentang apa yang harus ia lakukan agar gadis ini tidak bosan, apa dia harus melakukan sebuat antraksi atau semacamnya?, mungkin berubah sementara menjadi seorang badut?, tapi tentu saja pikiran itu segera ia hilangkan, mana mau Keyra menjadi penghibur orang dengan cara seperti itu?, atau mungkin bis__... tunggu, bukannnya Keyra sudah punya ‘itu’?, kenapa tidak menunjukannnya kepada Una saja, terlebih ia tinggal bermain seperti biasanya.
“ Una, Una.... “ Ucap Keyra sedikit mencolek pundak gadis yang berbaring.
“ Kenapa bang? “.
“ Lo mau liat gue atraksi gak? “.
“ Hah? “
Bersambung
__ADS_1
ngebahas tentang solat mayit, disini ada yang punya kejadian sama ke Alfa, Eza?