
Ditengah perjalanan menuju rumah sakit, rasa panik melanda saat Alfa tengah menggenggam tangan seseorang disampingnya dengan erat, sambil ia netralkan nafas memburu karena amarah satu dan lain hal, pemuda itu menatap khawatir wajah pucat Keyra si bodyguard Una dengan sesekali mengusap tangan yang digenggamnya agar senantiasa hangat, namun apalah daya, suhu tubuh anak itu tak kunjung meningkat, malah kian menurun.
“ Aunty Cilla... tangan Keyra dingin banget aunty, gimana ini? “. Tanya dia pada gadis yang bersangkutan ketika auntynya itu tengah sibuk mengobati luka-luka Keyra.
“ Terus gosok-gosok tangannya, Alfa... dan juga baby, tolong tahan kesadaran kamu ok, kakak mohon meskipun kamu ngantuk, jangan pernah tidur ya... “.
Keyra mengangguk pelan, dengan keringat dingin yang mengucur deras di bagian pelipis dan seluruh badan, pemuda itu menahan sekuat tenaga agar tetap sadar ditengah rasa kantuk berat yang melanda. Meskipun rasa sakit yang dominan menguasai tubuhnya, tapi Keyra tetap membuka mata walau tidak terlalu lebar, sedikit terdengar nafas yang ia keluarkan begitu lemah dari biasanya, hingga membuat Alfa, Cilla maupun Noland kini khawatir bukan main dengan jantung yang berdegup kencang. Cara mengemudi kepala dari keluarga Elrahma ini seperti orang yang tengah kesetanan, ia menginjak gas dan melesat diatas rata-rata masih dengan memperhatikan kenyamanan penumpang dibelakang, dan terbukti ketiga keluarganya itu tidak terganggu dengan caranya berkendaranya.
“ Ssht... “.
Pemuda itu mendesis, mendapati luka diperutnya menjadi lebih sakit dari beberapa menit yang lalu, dengan menggigit bibir bawahnya ia sedikit lelah dengan rasa sakit yang melanda tubuh, terlebih mata kanannya terasa sangat tidak nyaman, mungkin karena lensa kontak yang ia pakai kurang terpasang dengan benar.
“ Bang... Alfa “. Lirih Keyra, membuat Cilla terusik dari fokusnya sementara orang yang dipanggil pun merespon cepat.
“ Iya, Key... ada apa? apa luka lo makin sakit? “.
“ Lepasin... tangan gue dulu... bang “.
“ Hah? “.
Tanpa menunggu lebih lama, dengan gerakan pelan Keyra mengangkat tangan kanannya dan mengambil sesuatu dari daerah mata, meskipun kesusahan, Alfa dengan inisiatif tinggi pun mengerti dan mulai membantu pemuda disampingnya, ia membuka mata Keyra lebih lebar setelah izin sebentar, lalu mengambil softlens yang tertempel dengan tangan yang satunya lagi, tentu saja ia mengelap terlebih dahulu tangannya, meskipun tidak terlalu higenis karena media yang ia pakai adalah bajunya sendiri.
Hingga kegiatan yang Alfa lakukan pun selesai, pemuda itu kembali memegang tangan dingin Keyra yang ia gosok-gosok berharap agar sedikit menghangat.
‘ Keyra... please lu jangan kenapa-napa, lo harus kuat Key, kali ini aja... tolong kabulin permintaan gue yang egois ini ‘ Batin Alfa.
~
“ Hah... kenapa perasaanku gak enak ya? Kira-kira Aldo lagi ngapain ya? “.
Seorang wanita kini tengah duduk di atas kasurnya dan belum memejamkan mata meski malam sudah larut, sejak 1 jam lalu dirinya dilanda perasaan cemas, entah kenapa perasaan itu datang dengan tiba-tiba, seolah memikirkan orang yang ada dibenaknya tidak baik-baik saja, wanita itu menepis pikiran kotor dan meyakini bahwa firasat itu hanya kecemasan normal semata. Hingga waktu menunjukan pukul 01:00 malam, orang yang diketahui namanya adalah Nikael ini ternyata adalah ibu sambungnya Keyra.
“ Kamu kenapa sayang? “. Tanya pria di sampingnya yang terbangun dan menyadari kalau istrinya terjaga.
“ Entah kenapa agak gelisah... “.
“ Emang kamu gelisah kenapa?, jangan banyak mikirin yang enggak-engga, itu gak baik buat bayi kita “.
“ Aku juga pengennya gitu, mas Fedrik... tapi perasaan ini gak pernah hilang “
“ Ya udah, iya... tapi saran aku nih ya, mending kamu tidur lagi aja, percuma kan mikirin hal yang gak berguna kayak gitu, terlebih sekarang masih malem “.
Ika terdiam, menatap sang suami yang merupakan ayah dari anaknya yang sedang ia kandung, wanita itu berpikir dan mencerna satu hal dengan otaknya, jika ia saja sebagai ibu sambung merasa gelisah dengan keadaan Keyra, apakah Fedrik yang merupakan ayah kandung pemuda itu akan merasakan hal sama?, namun jika dilihat dari perilakunya sekarang... pria itu ternyata tetap seperti biasanya, cuek bahkan tak peduli dengan keadaan anak laki-lakinya.
Sudah sejak dulu Ika tahu kalau Fedrik sangat tidak suka dengan Keyra, bukan hanya tidak peduli dan acuh, pria disampingnya ini bahkan sampai main tangan disaat Keyra kecil dulu, itu pun tak luput dari ocehannya yang terus memanjang saat memarahi anaknya tanpa sebab, meskipun Ika sudah lelah dan jengah menasehati suaminya, namun tetap saja kepala Fedrik itu sangat keras layaknya batu, terlebih wanita itu masih belum mengetahui sebab dia membenci anaknya.
“ Udah tidur sana, kamu mau bikin muka aku bolong? Kenapa liatin aku kayak gitu? “.
“ Gak kenapa-napa sih, tapi apa kamu gak ngerasa ada sesuatu yang ngeganggu gitu? “.
“ Enggak tuh “.
“ Ya udah “
Tidak memperpanjang obrolan, Ika dan Fedrik sama-sama memilih berbaring untuk tidur kembali, percakapan yang sebelumnya mereka bahas akan dianggap tidak pernah terjadi, toh tidak terlalu penting bagi Fedrik, namun lain hal nya dengan Ika, wanita itu jadi mengetahui seberapa tidak pedulinya sang suami terhadap anaknya.
***
__ADS_1
Minggu, pukul 8 pagi
Una kini sedang bersiap di dalam kamarnya hendak ke suatu tempat, dibantu oleh beberapa maid dan butler yang menyiapkan perlengkapan, gadis itu diam tanpa ekspresi karena tidak menemukan orang yang biasa menemaninya bermain di minggu pagi.
Perubahan sikap Una yang seperti itu sangat terlihat jelas dan membuat beberapa pekerja di rumah menjadi khawatir, pasalnya kabar tentang Keyra yang dibawa ke rumah sakit telah menyebar ke seluruh mansion, hal yang wajar jika gadis itu bersikap demikian, namun tetap saja para orang tua nampak cemas dibuatnya.
Hingga beberapa menit kemudian, datang seorang wanita dengan pria yang lebih tua berjalan mengekor dibelakang, dan seperti yang diduga, kedua orang itu adalah mama dan papanya Una, yang tidak lain adalah Devina dan Juan.
“ Pagi sayang... “.
Una menoleh kebelakang, seketika itu juga senyum mengembang diwajahnya dan ia beranjak ke pelukan Devina. “ Mama... aku udah siap, kita jadi kesana kan?, kita jadi jenguk bang Kekey kan? Apa kita berangkat sekarang aja?, Una udah gak sabar liat bang Kekey... “. Ucapnya dengan melontarkan banyak ucapan.
“ Fufu... iya, iya kita bakalan jenguk Keyra, tapi sebelumnya kamu harus makan dulu ya, honey... “ Ucap Devina terkekeh pelan melihat wajah gemas sang putri.
“ Yaaah... kenapa gak sekarang aja mah, Una au ketemu bang Kekey “.
“ Una sayang... sini dengerin papa nak “. Juan mendekat dan menggenggam tangan Ua dan membungkuk hingga wajah keduanya cukup dekat.
“ Kamu harus sarapan dulu ya sayang... jangan bikin Keyra khawatir, dia pasti cemas kalau semisalnya Una sakit karena gak makan, apa kamu mau bikin Keyra strees? “.
“ Hah?! gak mau pa, Una gak mau buat bang Kekey strees “.
“ Mangkanya... Una sebelum jenguk Keyra harus sarapan dulu ya, biar nanti dia seneng, ok “.
Una mengangguk, gadis itu dengan cepat menerima bujukan ketika alasannya bersangkutan dengan Keyra, hal tersebut membuat Devina maupun Juan tersenyum lembut, dan segera setelahnya ketiga orang itu turun ke lantai dua hendak sarapan.
Suasana meja makan kini berbeda dengan sebelumnya, tidak lagi penuh dengan canda tawa sebelum hikmat melakukan sarapan, beberapa orang yang seharusnya duduk di kursi biasa kini kosong beberapa, termasuk kursi kepala keluarga, dan yang muncul disana pun selain Una, Juan dan Devina hanya Erlang, Reza dan Razka saja, itupun wajah ketiganya tidak menampilkan mimik muka ceria seperti biasa.
Menambahkan beberapa Informasi, kemana perginya sebagian orang yang tidak ada disana?, mereka tidak lain ada di rumah sakit, menemani Keyra yang katanya baru sadar dari pingsan pukul 5 dini hari tadi, dan orang-orang tersebut diataranya adalah Veriska, Alfa, Noland dan satu lagi yang berprofesi sebagai dokter tidak lain adalah Cilla.
Diceritakan ketika sampainya Keyra di rumah sakit kemarin malam, pemuda itu tak lagi kuat menahan sakit dari lukanya yang meskipun telah mendapat pertolongan pertama dari Cilla, selain itu dia juga kehilangan banyak darah, itu terlihat dari setiap tetes darahnya yang mengalir dari dalam mobil melewati halaman rumah sakit sampai koridor menuju UGD.
Hingga beberapa menit kemudian, datanglah seseorang yang tengah berlari dengan posisi sedang menggendong gadis di pangkuannya. Pertama kali datang ia muncul dengan nafas yang terengah, dan ketika mendengar penjelasan tentang golongan darah yang sama dengan Keyra tidak memiliki stok di rumah sakit ini, pria itu terkejut dan segera mengajukan diri sebagai pendonor, karena meskipun tidak menyangka hal tersebut, golongan darahnya ternyata sejenis dengan Keyra yang sekarang tengah berbaring. Serta sesuai dengan semua dugaan, pria itu tidak lain adalah Erlang, anak pertama dari Noland dan almarhumah Selena.
Kembali ke waktu sekarang, setelah semua orang selesai dengan acara sarapan, mereka beranjak dari duduk dan bersiap hendak pergi ke rumah sakit, awalnya para pekerja juga ingin menjenguk Keyra dan sempat meminta izin, namun Noland belum memperbolehkan hal ini sebelum kondisi pemuda itu membaik.
Waktu berjalan selama 15 menit, jarak antara rumah sakit dari mansion Elrahma cukup dekat hingga tidak memakan waktu lama untuk sampai, lagipula rumah sakit ini merupakan rumah sakit yang didirikan oleh keluarga Elrahma, jadi tidak heran jika bangunan ini dinamakan ‘RS Rahma’.
Masuk dilantai pertama, Una dan Devina berjalan lebih dulu karena gadis kecil itu ingin segera bertemu dengan abangnya, mereka memasuki lift dan berhenti dilantai 5, yang mana lantai tersebut hanya anggota dari keluarga Elrahma lah yang dapat memasukinya, dan lagi lift yang dipakai pun bukan yang biasanya dipakai oleh orang umum, melainkan VVIP hanya untuk Elrahma.
Tok... tok... tok...
Una mengetuk pintu sebelum di detik kemudian membukanya, hingga benda yang menghalangi tadi terbuka lebar, air mata Una mengalir dikala seorang lelaki tengah menggeleng lemas sambil bersandar di atas brankar. Tangan pemuda itu tertusuk jarum infus, didepan hidungnya bertengger nasal canula yang nampak risih meski hanya melihatnya, dengan posisi duduk lelaki tersebut seperti sedang menolak suapan dari pemuda yang berada disampingnya, serta tidak jauh dari mereka berdua, tengah duduk seorang wanita dan pria paruh baya yang duduk di sofa.
“ Hiks... bang Kekey... “.
Tangis Una pecah, atensi semua orang kini mengarah padanya ketika ia bergegas lari menuju pelukan orang yang ada di ranjang. Meski saat pertama agak meringis, namun pemuda yang diketahui sebagai Keyra itu memilih menikmati pelukan yang entah kenapa membuatnya lega.
“ Hiks, hiks... bang Kekey... bang Kekey... “.
“ Syut... udah, gue gak papa kok Na, jadi... lo jangan nangis lagi ya “.
Keyra mengelus punggung gadis yang tengah menangis di pelukannya, dengan semua orang yang berada di ruangan memerhatikan kearah mereka, Una berhenti menangis dikala gadis itu sudah puas menumpahkan rasa sedih dan khawatirnya.
“ Hiks... bang Kekey... bang kekey gimana keadaannya?, apa perut abang masih sakit? “. Tanya Una.
“ Gue udah baikan kok Na “.
__ADS_1
“ Beneran gak papa?, muka bang Kekey pucet banget lho... terus kenapa bang Kekey masih pake infus? “.
Keyra tersenyum, sebenarnya ia ingin menjawab kekhawatiran gadis itu, namun rasa lemas yang masih melanda sejak tadi menahan suaranya dan menyangkut di tenggorokan, hingga pertanyaan-pertanyaan ke depannya digantikan dengan Alfa yang sejak tadi duduk disamping brankar besarnya itu.
“ Ouh... jadi bang Kekey masih pake infus supaya lebih sehat? “ Tanya Una lagi memastikan perkataan Alfa.
“ Sure, jadi Una cantik gak perlu cemas ok... “.
“ Oh iya, Alfa... by the way, dimana Cilla, mama gak liat dia dari semenjak datang “. Tanya Devina ketika yang lain tengah bercengkrama.
“ Aunty masih ada diruang kerjanya ma, tapi Alfa sempat kesana sebelum kalian datang... dia lagi meriksa setumpuk berkas “.
“ Eh? apa si aunty masih ngurus perusahaan walaupun sudah jadi dokter? “. Bukan Devina, melainkan Razka yang sejak tadi mendengarkan.
“ Ya kali lah kak, menurut Eza sih itu pasti dokumen rumah sakit “. Ucap Reza.
“ Gak tau kak, tapi yang pasti Alfa liat muka aunty Cilla lagi kayak pusing gitu “. Kali ini Alfa yang berbicara.
Razka, Reza, maupun Devina memilih tidak memikirkan hal itu lebih jauh, mereka tidak terlalu tertarik dengan seseorang yang berkutat dengan berkas, terlebih Razka dan Devina yang ikut membantu mengurus perusahaan pun sudah dibuat muak dengan yang namanya file. Namun untuk Reza, meskipun dirinya belum pernah melakukan kegiatan seperti kedua orang sebelumnya, satu hal yang harus diketahui itu ternyata walau pintar sebenarnya Reza adalah orang yang pemalas.
Waktu berjalan dengan cepat, hingga waktu memasuki menit ke 60, jam dinding pun nampak menunjukan pukul 9.
“ Em... sorry everyone, ngobrolnya udah dulu deh ya, Keyra sebenernya harus makan dulu “. Ucap Alfa sambil mengambil mangkok yang ia taruh tadi diatas nakas.
“ Bang Alfa... “.
“ Enggak Key, lo harus makan, yang tadi itu elu baru nelen satu suap “.
Keyra mengeluh, pasalnya dia tidak ingin makan karena rasa mual akan timbul tepat setelah ia menelan, namun disaat yang bersamaan, pemuda yang sedang menyodorkan sendok berisi bubur itu bersi kukuh untuk membuatnya memakan benda berwarna putih lembek itu.
“ Boleh nanti aja?, gue lagi gak nafsu bang “.
“ Harus makan, entar lo gak bisa minum obat kalau perut lo kosong “.
“ Oh, ayolah... gue ini lelaki kuat bang, jadi no problem lah “.Ucap Keyra dengan berbangga diri.
“ Caelah, kuat sih kuat... tapi penakut “. Ucap Alfa dengan senyum mengejek.
“ Lah? Apanya yang penakut? “.
“ Haha... emang lo pikir gue gak tau apa?, tadi sekitar jam 6, kan ada petugas yang kesini buat ganti lampu, gue liat lo gemeteran anjir pas ruangan ini jadi gelap, hahaha... Ternyata lo takut sama setan ya? “.
“ Apa-apaan? “. Reza dan Razka berusaha mungkin menahan tawa, sementara para anak dan menantu Noland hanya menatap senyum ke arah mereka, dan untuk si kepala Keluarga, pria paruh baya itu juga ikutan tersenyum, namun perhatiannya tak pernah lepas dari mata unik Keyra.
‘ Huh... dasar Alfa cung*k!, kalau aja dia bukan majikan gue, udah gue tendang juga kali... dasar emang, semua orang itu nyebelin anjir!, cuma ibu Ika yang paling__... ‘
Deg
Keyra mematung, mengingat suatu hal yang sudah sempat ia lupakan dan janjikan. Dibalik itu semua orang menyadari perubahan sikap Keyra yang mendadak, terlebih rasa khawatir juga kian menebal dikala Keyra tidak cepat merespon panggilan Una.
“ Bang Kekey “. Una menggandeng Keyra, digenggamnya lengan pria itu meskipun tidak terlalu kencang, hingga beberapa detik kemudian, Kera membuka suara dengan nada panik.
“ Una!, gue harus ketemu ibu hari ini! “
Bersambung
Halo semuanya, aku minta maaf ya karena telat Up, kenapa? Karena ada keadaan darurot, jadi tidak bisa up sesuai jadwal, tapi jangan kecewa ya, novel pesona Keyraldo aka tetap up kok
__ADS_1
Jadi jangan pernah lupa untuk meninggalkan jejak ya
See you next time