
Setelah acara memperingati ulang tahun mendiang anak Veriska, semua orang pulang esok harinya setelah semalam menginap, dengan dihadiahi sebuah bingkisan sebelum pulang, bersamaan dengan itu Ika pun pamit pada seluruh anggota keluarga Elrahma, khususnya pada Keyra sang anak.
“ Ibu pulang dulu ya, kamu yang rajin belajarnya, supaya di sma kali ini bisa dapet rangking 1 seangkatan lagi “. Ucap Ika tersenyum, hingga membuat Una yang disebelah Keyra cukup terkejut akan sesuatu.
“ Bang Kekey bener pernah juara satu seangkatan, bu Ika? “. Tanyanya.
“ Iya dong, gimana? Hebat Kan abang kamu ini? “.
“ Wah... bang Kekey hebat, pantes aja abang juara satu seangkatan, orang bang Kekeynya pinter banget “.
“ Haha... lo bisa aja Na, dan ibu lagi... aku gak sehebat yang ibu kira “. Keyra menimpali sambil berusaha tersenyum, walaupun kenyataannya ia kurang nyaman dengan tatapan lekat dari Reza, Alfa dan beberapa tatapan para orang tua, entah apa yang mereka lihat, mungkin ikut penasaran dengan dirinya yang pernah juara satu seangkatan.
“ Ibu muji kamu sesuai fakta lho, jangan terlalu merendah gitu deh... merendah boleh, asal jangan kelewatan, paham? “. Ucap Ika, sambil mengelus kepala Keyra.
“ Iya deh, paham “.
“ Ya udah, kalau gitu ibu pamit ya... permisi semuanya “.
Ika sedikit membungkukkan badan lalu setelahnya masuk ke mobil yang telah disiapkan, kala roda benda itu berjalan, sedikit banyaknya Keyra dapat melihat Ika menyunggingkan senyum penuh arti yang mengarah padanya, sementara respon Keyra saat itu hanya bisa tersenyum kikuk, sepertinya sang ibu telah mengucapkan kalimat yang akan membuat semua orang bertanya beberapa saat lagi.
“ Elu pernah juara satu seangkatan Key? “. Tanya Alfa, orang yang langsung to the point.
Benar kan?, apa Keyra bilang, hal yang paling tidak ia sukai itu menjadi pusat perhatian, karena dilihat dari sudut pandangnya, tidak hanya Una, Reza dan Alfa, 3 orang yang dibelakang pun ikut ingin mendengar jawaban Keyra, siapa lagi mereka kalau bukan Cilla, Veriska dan Razka. Entah karena apa tiga orang itu menjadi dekat dengan Keyra akhir-akhir ini.
“ Itu dulu bang... udah lama “.
“ Kapan? “. Kali ini Reza yang bertanya.
“ Em... pas kelas smp? “.
“ Wah... kamu hebat Key, bisa juara satu dari seluruh angkatan itu mah jenius namanya “. Veriska ikut nimbrung, memuji Keyra dengan mata yang berbinar.
“ Hm... kalau itu Keyra, aku gak bakalan heran sih “. Ujar Razka.
“ Iya, bener... otak si baby itu bagus tau Ka, gue liat hasil Rontgen dia tempo hati dan gak sengaja ngeliat itu “. Susul Cilla.
“ Eh?, beneran? “.
“ Ya kali gue boong sih? “.
Menanggapi pujian yang diberikan oleh salah satu dari mereka, Keyra hanya mengulas senyum sebagai jawaban, ia cukup bingung dengan situasi saat ini, terlebih melihat alfa yang sejak tadi menatapnya lekat membuat wajah Keyra seakan bolong.
“ Em... ada apa bang? “. Tanya Keyra ditengah yang lain sedang membahas perihal tadi.
Tidak langsung menjawab, Alfa mengerjap matanya beberapa kali seolah sedang membandingkan sesuatu. “ Kalau diliat-liat lagi... kok elu agak mirip sama gue ya, Key? “.
“ Eh? “.
***
Disekolah, Keyra belajar dengan giat seperti biasanya. Jadwal UTS yang sebentar lagi akan tiba membuat semua murid ikut serius dalam menimba ilmu, sebagian orang mungkin ada yang masih leha-leha tak peduli, namun itu semua tidak Keyra hiraukan sebab bukan urusannya.
Tidak hanya pemuda itu, Una sama halnya dengan Keyra tengah bersiap untuk melaksanakan ujian tempo hari nanti, tidak terkecuali Reza dan Alfa, dua tuan muda itu malah lebih sibuk dengan kegiatan mereka akhir-akhir ini. Tidak dengan ujian, mereka disibukan dengan LES tambahan serta persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi nanti di semester depan. Ini mungkin cukup menguras kinerja otak, tapi mau bagaimana lagi, demi asa yang cerah~ masa depan ku nanti~... sesuai lagu, mereka akan menimba ilmu apapun situasinya.
Dibalik sibuknya Keyra dengan yang namanya belajar, pemuda itu diam-diam masih terpaku dengan kejadian paska peringatan ulang tahun anak Veriska, yang mana terdapat keberadaan Heni si individu mirip mendiang ibunya itu, Keyra berencana singgah sejenak ke rumah Ika untuk memastikan satu hal.
Apa tujuannya?, tentu saja Keyra akan bertanya pada sang ayah tentang ibunya dimasa lalu, melihat kemirian sang ibu yang sangat mirip dengan anak dari Dharma itu membuat Keyra sangat penasaran, apakah ini hanya kebetulan belaka?, atau memang ada hal tersembunyi yang tidak ia ketahui selama ini. Keyra tidak sebodoh itu untuk percaya bahwa ini hanya kebetulan saja, jika berpikir menggunakan logika, Heni yang ia lihat sudah seperti kembaran sang ibu, bahkan jika bukan pun, kemungkinan lainnya yang Keyra pikirkan adalah kalau Heni merupakan orang yang sama dengan ibunya, lebih jelasnya bahwa Heni itu adalah Hera. Ini memang tidak masuk akal, maka dari itu tujuan Keyra ingin bertanya pada sang ayah adalah untuk memastikan hal ini.
“ Bang Reza, boleh berenti sebentar? “.
Jum’at ini, setelah pulang dari sekolah pukul 2 siang, Keyra meminta Reza untuk memberhentikan mobil di tengah perjalanan.
“ Lo mau ada perlu? “. Tanya Reza setelah pemuda itu menepikan mobil.
“ Iya, mau ke optik bentar, soalnya softlens gue udah kurang enak “. Jawab Keyra.
“ Ouh, ya udah kalau gitu, mau ditunggu? “.
“ Gak usah, lagian gue mau singgah ke tempat kenalan, dah izin ke kakek juga kok “.
“ Jangan sore-sore lu pulangnya, gue heran kenapa elo selalu pergi ke optik pas mau ujan mulu “. Kali ini Alfa yang berbicara.
“ Ah, itu mah kebetulan doang kali “.
__ADS_1
“ Una ikut bang “. Celetuk Una.
“ Jangan ya na.. gue kan bakal lama, elu duluan aja sama bang Alfa, sama bang Reza “
“ Yah... sekali ini aja deh bang, Una janji gak bakalan ngerepotin, terus setiap abang pergi kenapa selalu larang Una sih?, jangan bilang mau ketemu sama pacar dibelakang Una “.
Ucapan gadis itu membuat Keyra dan kedua kakaknya terbelalak, sejak kapan Una tahu dengan yang begituan?, apakah lingkungan dikelasnya mempengaruhi pola pikirnya?. Namun setelah dipikir-pikir lagi Keyra pun menghela napas wajar, si Una ini kan sudah berusia 17 tahun, jadi maklum-maklum saja jika dia sudah paham dan menanyakan hal itu. Namun sepertinya berbeda para tuan muda, entah kenapa mimik wajah keduanya sangatlah buruk.
“ U, Una sayang... emang kamu tau apa itu pacar? “. Tanya Reza.
“ Tau, pacar itu orang yang terkasih, kak. Kalau disamain hubungan yang namanya pacaran hampir kayak suami istri, jadi kayak pasangan laki-laki dan perempuan yang saling suka, tapi gak boleh berlebihan “.
‘ Waw... si Una ternyata gak sepolos yang gue kira ‘. Batin Keyra.
Seketika wajah para tuan muda langsung menegang, keduanya saling memandang dan masing-masing memasang wajah memelas, sepertinya Keyra akan melihat tingkah mereka sebagai seorang kakak yang... terlihat menyedihkan?.
“ Eza, ternyata adek gue udah gede “. Ucap Alfa dramatis.
“ Dia adek gue Al, tapi apa yang lo omongin bener... Una sekarang bukan Una kecil kita lagi “. Susul Reza, yang mana di detik kemudian mereka seolah sedang bersedih sambil menceritakan pertumbuhan Una dari kecil hingga sekarang.
“ Mereka kenapa sih, bang?. Kok kayak yang sedih gitu liat Una udah gede, apa ada yang salah? “. Tanya Una.
“ Hahaha, biasalah Na... mereka itu terlalu sedih akan satu hal. Udahlah, kalau gitu gue berangkat dulu ya? “.
“ Una ikut dong bang, kali iniiii aja... ya... toh abang gak pernah ngajak Una juga, lagian kak Eza sama kak Alfa lagi sibuk gitu, jadi gak bakalan ikut “. Ucapnya yang membisik di kalimat
Keyra berpikir sejenak, sebenarnya ia agak ragu untuk mengajak gadis ini, seperti hal yang diterangkan tadi, jika Una ikut, maka Reza dan Alfa pasti akan menyusul, namun jika melihat situasi sekarang, sepertinya tidak salah ikut mengajak Una ke rumah Ika untuk menanyakan hal itu, untuk selanjutnya ia bisa meminta dia untuk menutup mulut, paling yang tahu hanya Noland karena mendapat laporan dari bawahannya yang mengawal Una.
“ Ya udah deh, tapi gue perginya agak jauh dari rumah, gak papa? “.
“ Gak papa “.
Setelahnya, Keyra pamit pada Reza dan Alfa yang kini terlihat berdebat, dengan membawa Una dan sudah memberitahu mereka, pemuda itu keluar dengan memegang tangan sang nona muda agar tidak terpisah. Sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih, namun dari perilaku Una yang manja dan terlihat antusias, pendapat pun berubah kalau gadis itu pasti adalah adiknya, kalau bukan mungkin tidak akan semanja itu.
Diperjalanan menggunakan bis umum, Keyra memberitahu Una bahwa mereka akan pergi ke rumah Ika, pemuda itu memilih terus terang dan memberikan alasan ingin bertemu kembali hendak membicarakan sesuatu, dan Una pun hanya mengangguk sebagai respon, gadis itu lebih sibuk memerhatikan sekitar yang mana terasa sangat baru. Keyra cukup paham, mungkin nona mudanya ini baru pertama kali naik kendaraan umum, itu terpampang jelas dari sorot matanya yang berbinar, Keyra merasa jadi seorang kakak yang mengajak adiknya jalan-jalan untuk pertama kali.
Hingga tiga puluh menit waktu berlalu, terlebih hari ini yang jalanan tidak terlalu macet, Keyra dan Una sampai di pemberhentian bus serta membutuhkan waktu 15 menit tambahan untuk sampai di rumah Ika menggunakan taxi.
“ Iya, gue sebelumnya udah ngasih kabar kalau mau kesini, jadi mungkin ibu mungkin udah nunggu di dalem “.
“ Hehe... Una seneng bisa ketemu bu Ika lagi “.
Tok, Tok, Tok
“ Assalamualaikum... bu, Ini Aldo “.
Keyra mengetuk pintu dan detik kemudian mengucap salam sambil memanggil ibunya, hingga sejenak mereka menunggu, pintu pun terbuka dengan menampilkan seorang ibu hamil yang tengah tersenyum kearahnya.
“ Kamu udah datang, Do. Eh? ada Una juga... “. Ucap Ika sambil mengeluarkan tangannya kala Keyra dan Una hendak menyaliminya.
“ Awalnya Aldo mau berangkat sendiri, tapi dia pengen ikut “.
“ Gak papa, ibu gak malah seneng kamu ada yang nemenin. Kalian kesini abis pulang sekolah banget ya?, masuk dulu deh yuk, istirahat bentar, kamu sama Una pasti capek “.
Ika membawa Keyra dan Una masuk kedalam, wanita hamil itu menyuruh Keyra untuk pergi ke dapur mengambil air minum di kulkas, sementara dirinya mengambil camilan yang berada tidak jauh dari sana. Interaksi antara ibu dan anak itu terlihat sudah terbiasa terjadi.
“ Hm... tata letak perabotan disini gak rubah-rubah ya, ternyata masih sama kayak dulu “. Ucap Keyra ditengah kegiatannya menuang air.
“ Ya ngapain juga dirubah, Do. Kan enak kayak gini, ruangan jadi gak kerasa sumpek “.
“ Kirain... biasanya orang-orang kalau bosen suka ubah tata letak “.
“ Haha... ibu lebih suka kayak gini, entah kenapa liat perabotan masih diem ditempatnya jadi keinget kamu dulu yang masih kecil, walaupun cuma sebentar, tapi momen itu masih tetep ibu inget lho “. Ucap Ika sambil mengulas senyuman.
“ Eh? masa?... aku tinggal bareng itu pas umur lima tahun lho bu, ingatan aku aja udah agak samar-samar “.
“ Yang samar-samar kan kamu, kalau ibu sih serasa baru kemarin kamu pindah dan tinggal bareng nenek. Ternyata kalau liat sekarang... kamu itu udah besar ya, nak “.
Ika memandang Keyra yang kini sedang tersenyum kearahnya, melihat pemuda yang dulunya mungil dan lucu sekarang sudah tumbuh menjadi remaja tinggi dan tampa membuatnya terharu, rasanya baru kemarin Ika menggendong Keyra yang menangis karena dibentak oleh ayahnya, tapi sekarang?, tinggi sang anak bahkan sudah melebihinya sedikit.
“ Ibu cuma ada camilan ini aja, moga kamu suka ya, cantik “. Ika meletakan piring berisi camilan dihadapan Una yang sejak tadi menunggu.
“ Gak papa kok bu, Una suka semua camilan “.
__ADS_1
Mereka bertiga mengobrol sambil menunggu, menurut Ika yang menjawab Keyra kapan Fedrik pulang, ayahnya itu biasa datang sekitaran ba’da ashar. Nampak dari luar Keyra menang terlihat mantap dan siap untuk berbicara dengan sang ayah, namun ketahuilah, sebenarnya Keyra juga sedikit merasa gugup. Hingga waktu hampir menuju pukul 4 sore, orang yang dibicarakan pun masuk setelah mengetuk pintu dan mengucap salam.
“ Kenapa dia ada disini? “.
Nada tak suka kembali terucap kala Fedrik melihat Keyra, pria paruh baya itu menaikan sebelah alis bergantian menatap sang anak dan Una yang berada di sebelah istrinya, otomatis Ika langsung menegur, lalu menjelaskan sedikit dari maksud Keyra datang kesini. Setelah beberapa menit bertukar argumen, Fedrik terlihat menghela nafas dan kembali memandang Keyra, dari situ ibu sambung Keyra langsung mengajak Una untuk berkeliling, yang sejatinya tidak ingin menganggu percakapan antara ayah dan anak itu.
“ Jadi... apa yang mau kamu tanya? “. Ucap Fedrik setelah pria itu duduk bersebrangan dengan Keyra.
“ Aldo mau nanya tentang keluarga ibu, sebelumnya aku minta maaf karena udah ganggu waktu ayah “.
“ Kamu memang menganggu watu saya, jadi tolong cepat “.
“ Itu... Boleh ayah ceritain tentang ibu dimasa lalu? “.
“ Apa untungnya bagi kamu? “.
“ Aldo mau mastiin satu hal, jadi aku mohon... tolong ayah kasih tau aku tentang ibu, termasuk masa lalu dan keluarganya “.
Fedrik diam sejenak, menatap mata Keyra yang terlihat bergetar walau sejenak, sekilas pria itu menghela nafas, lalu membuka mulut setelah beberapa detik bungkam.
“ Asal kamu tau... berbeda dengan saya yang dari keluarga sederhana, ibu kamu itu anak dari orang kaya, punya perusahaan besar dan keluarga ternama “. Jelas Fedrik membuat Keyra mendengarkan dengan seksama.
Melanjutkan dari ungkapan Fedrik, selain ibu Keyra yang dari keluarga tersohor, beliau juga merupakan seorang siswa yang sangat berprestasi, ahli di bidang bisnis dan memiliki keterampilan tangan yang menakjubkan, tak jarang kala masa mudanya dulu wanita itu sering mendapat berbagai penghargaan di berbagai bidang. Memiliki karir dan pamor yang baik tentu membuat Fedrik yang dulu masih bujang menyukainya, dan hal yang tak di sangka nya ibu dari Keyra itu pun menyukainya juga. Namun karena perbedaan status sosial yang terlalu jauh, pihak keluarga Hera melarang hubungan mereka. Sampai keduanya memutuskan kawin lari, Fedrik dan Hera hidup selama 3 tahun sebelum akhirnya dikaruniai anak, yaitu Keyra sendiri.
“ Jadi hubungan ayah sama ibu gak direstui? “.
“ Jelas iya, mana mau si tua Dharma itu ngakuin saya sebagai menantu “.
“ Tunggu, Dharma? “.
“ Andharma Arkan, itu nama kakek kamu... “.
Deg
Keyra mematung, seolah dadanya terhantam batu besar, pemuda itu terkejut dengan nama yang disebutkan oleh ayahnya, bukankah itu... nama dari tuan Dharma teman dari Noland?. Apakah ini sebuah kebetulan?, apa hanya namanya saja yang terdengar sama.
“ Ayah, apa... ibu punya kembaran? “. Tanya Keyra lebih berani, dirinya memutuskan untuk mencari tahu lebih detail.
“ Oh, apa kamu udah pernah ngeliat mereka?, wajar aja sih, keluarga Arkan itu kan tersohor, terlebih berita tentang mereka tersebar dimana-mana “.
“ Ja, jadi... orang tua ibu itu bener tuan Dharma yang temen deketnya kepala keluarga Elrahma? “.
“ Sepertinya kamu udah cari sebagian informasi, kalau begitu kita sudahi saja pembicaraan ini, kamu... silakan pergi “.
Fedrik bangkit dan berjalan menuju pintu depan mempersilakan Keyra untuk keluar, tentu saja kala itu Keyra kalap, belum selesai dengan fakta yang begitu mengejutkan, satu hal yang ingin ia tanyakan dari dulu belum terlontar dari mulutnya.
“ Tunggu, yah... aku masih belum selesai “.
“ Tapi waktu kamu disini sudah habis, jadi sebelum saya bertindak kasar, kamu lebih baik angkat kaki tanpa membantah “.
Keyra bersi keras dan membujuk agar Fedrik agar bisa berbicara lebih lama dengannya, namun ayahnya ini tetap teguh dengan pendiriannya, bahkan pria itu sampai menyeret Keyra untuk keluar. Hal itu sampai membuat Una dan Ika yang berada dikamar pun keluar dengan wajah panik.
“ Hey... kamu apain Aldo, mas?! Gak boleh kayak gini “. Ucap Ika sambil melepaskan cengkraman suaminya dari lengan Keyra, sementara Una hanya diam di belakang dengan tubuh yang gemetar, sepertinya gadis itu tengah ketakutan.
“ Waktu dia udah habis, jadi aku suruh dia pergi “.
“ Mana bisa gitu? kamu tega ngusir anak sendiri kayak gini?, sadar mas... kamu udah keterlaluan “.
“ Keterlaluan apa sih?, dia itu gak ada hak buat manggil aku ayah “.
“ Maksud ayah apa? “.
Keyra tersentak dan tanpa sadar mengucapkan hal tadi, pemuda itu membeku, apakah seburuk itu ia dimata ayahnya sampai tidak diberikan hak untuk memanggil ayah?, padahal kan sudah kewajiban bagi seorang anak. Dan lagi meskipun sudah tak tinggal bersama, hubungan anak dan ayah mau sampai kapan pun dan mau bagaimana pun tak akan pernah terputus.
“ Ayah, Aldo gak tau maksud ayah kenapa kayak gitu? tapi... minimal jelasin alasannya, yah. Apa alasan ayah benci banget sama Aldo?, apa alasan ayah gak peduli sama Aldo?, dan... tolong jelasin kenapa ayah bahkan gak dateng acara pemakaman ibu? “.
“ Kamu mau tau?, kamu mau tau hah?! “. Fedrik meninggikan suaranya, membuat Una hampir menangis, dari situ Ika langsung memeluk dan menenangkannya, sementara Keyra sudah menatap lekat wajah sang ayah.
“ Ok... biar saya jelasin!, dari dulu alasan saya benci sama kamu itu... karena kamu bukan anak saya! “.
Bersambung
Aku lagi usahain nulis sampai end gaes😭
__ADS_1