Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
9# Menunggu seseorang


__ADS_3

Akhir pekan ini, Keyra sudah sejak pagi keluar rumah untuk lari sebentar, guna menjaga badan tetap bugar, dirinya melakukan beberapa putaran mengitari rumah ini, meski hanya sekeliling mansion, luas area yang Keyra lewati sangatlah luas, jika diibaratkan seperti mengelilingi komplek sejauh 3 kilometer.


Berhenti di pukul 7 pagi, Keyra masuk ke rumah untuk rehat sejenak, disana ia melihat keadaan masih sepi, mungkin anggota keluarga yang lain belum bangun, dan hanya nampak beberapa maid saja yang lalu lalang tengah membereskan barang, dari situ, muncul selewat pemikiran di kepalanya untuk melakukan kegiatan lain.


Keyra naik ke lantai tiga dengan lift, ia sudah terbiasa dan tidak takut lagi, ini mungkin adalah sebuah kemajuan bagi dirinya. Sejenak menunggu, pemuda itu pun sampai di lantai tiga dan menuju ruangan yang terpaut 3 kamar dari sana, ternyata ruangan yang hendak Keyra kunjungi adalah kamar Una.


Tok, tok, tok...


“ Una... ayo keluar, udah jam 7 nih... lo udah bangun kan? “ Ucap Keyra sambil mengetuk pintu kamar.


Belum ada jawaban, Keyra sudah menduga kalau gadis itu masih tidur, seharusnya meskipun akhir pekan, seorang wanita harus tetap bangun pagi untuk kebiasaan baik, minimal orang tuanya yang siap stand by untuk membangunkan, tapi ini malah tidak, orang tua dan anak sama saja. Tepat ketika Keyra mengetuk pintu untuk kedua kalinya, pintu terbuka dengan kondisi Una yang baru bangun dan masih berantakan.


“ Hoam... pagi bang Kekey “ Ucap Una mengusap matanya yang masih lengket untuk terbuka.


“ Juga... lo baru bangun? “


“ Iya... abang kenapa nyari Una pagi-pagi?, ada hal yang penting kah? “ Tanya Una yang mulai sadar sepenuhnya.


“ Gak ada hal tertentu kok, gue cuma mau ngajak lo jalan pagi aja... kalau bisa sih joging, kan lumayan baik buat kesehatan. “


“ Hah? Jalan pagi?, Una mau bang, Tapi... ini masih pagi lho, apa enggak bisa siangan bentar? “.


“ masih pagi dari mananya?, liat noh matahari udah tinggi gitu... lagian jalan pagi itu seger lho, sambil hirup udara segar bisa bikin badan rileks “.


“ Yaudah... bang Kekey tunggu bentar di bawah ya, entar Una nyusul “ Ucap gadis itu yang kemudian kembali masuk kamar setelah Keyra mengiyakan.


Sementara Una tengah bersiap, Keyra kembali ke lantai bawah dengan menuruni tangga. “ Hm... apa gue ajak dia keluar aja ya? “ Gumam Keyra.


***


Di sebuah ruangan, terdapat seorang pria sekitar umur 40an sedang duduk di kursi meja kerjanya, orang itu cukup rupawan meski sudah ada keriput di wajah, dengan setelan jas hitam dan dasi biru tua motif garis-garis besar, penampilannya sungguh maskulin di kalangan pria seusianya. Ia menggerakkan jari tangan di keyboard laptop, disertai perhatian yang terfokus pada layar monitor, telinganya kini mendengar suara ketukan pintu dan segera mempersilakan orang tersebut untuk masuk.


Orang yang dibalik pintu kini muncul, dia terlihat seperti seorang siswa dengan seragam yang dipakai, badan nya tinggi sedikit berisi, serta berambut hitam kecoklatan yang kalau terkena sinar matahari akan nampak sedikit kemerahan.


“ Morning ayah... “ Ucap siswa tersebut.


Menyadari yang masuk ternyata adalah anaknya, fokus pria itu sedikit terbagi dan tidak lagi terpaku penuh pada pekerjaan. “ Pagi juga Alfa... eh? Kok pake seragam? Ini kan weekend... “ Ucap pria itu menyebut siswa tadi sebagai Alfa.


“ Ets, tuan Erlang... siapa bilang aku mau sekolah?, look exactly what I'm wearing... “ Unjuk siswa itu.


Menutup laptop, pria berjas yang namanya adalah Erlang itu kini melihat secara seksama seragam yang dipakai oleh Alfa, dan setelah diamati sejenak, dirinya merasa bahwa seragam tersebut terasa familiar. “ Eh? Bukannya itu seragam sekolah Eza sama Una ya? “ Tanya Erlang.


“ Yups... si cewek cerewet itu nyuruh aku buat pake dan nunjukin ke ayah, kan besok kita mau pulang ke Indonesia, dan otomatis aku bakalan balik lagi ke sekolah itu “ Ucapnya.


Namun tidak seperti yang Alfa harapkan dari respon Erlang, pria dewasa itu kini menyipitkan mata padanya dengan tatapan seolah Alfa itu bersalah. “ Em... ada apa Yah? “ Tanya Alfa masih belum tau dimana letak kesalahannya.


Erlang menghela nafas, ia hanya bisa menggelengkan kepala karena sikap anak semata wayangnya ini, bukan hanya berperilaku seenaknya, Alfa juga merupakan orang dengan mulut yang jarang disaring perkataanya.


Meski lahir dari keluarga yang terpandang baik, kelakuan Alfa sangat berbeda jauh dari Erlang sendiri maupun ibunya, pemuda itu keras kepala, pemarah dan pemberontak, di sekolah pun hampir sama, karena setiap semesternya ia akan membuat masalah sampai membuat Erlang dipanggil berkali-kali oleh Kepsek. Untung saja ia masih bisa mempertahankan anak itu karena kebetulan kepala sekolahnya adalah teman dekat Erlang sendiri.


“ Lang... kamu bisa gak jangan manggil Bunda kamu ‘cewek cerewet’? “ Tanya Erlang dengan ******* panjang.


“ Tapi kan itu kenyataan Yah... Alfa gak ngada-ngada lho... “


“ Kamu hormat dikit kek... Ayah pusing denger ocehan Bunda yang ngadu soal kenakalan kamu... “


“ Aku nakal pas sekarang doang kok, nanti di masa depan juga bakal berenti “ Ucap Alfa duduk di meja kerja Erlang.


“ Pas SMP juga kamu ngomong ke gitu... tapi sampai sekarang belum tobat-tobat juga... “.


Erlang sedikit mencibir Alfa dengan tatapan meledek, anak itu mungkin sudah mengatakan satu hal tersebut berkali-kali, namun masih belum terbukti sampai sekarang, bahkan Alfa malah berperilaku makin jadi setelahnya, jadi tak jarang sang Bunda akan mengadu pada Erlang sehingga Alfa sendiri membuat sebutan ‘cewek cerewet’ pada Veriska, yaitu nama dari istri Erlang karena terlalu banyak bicara.


“ Oh... ayolah, Alfa cuma becanda doang kok, lagian dianya gak tau ini kan? “


“ Ekhem... siapa bilang orang yang kamu maksud gak tau? “.


Muncul seseorang dari balik pintu, wajahnya cantik dan ayu meski dilihat dengan sekilas, senyumnya sangat teduh sehingga membuat hati orang sekitar yang melihatnya menjadi damai, dan seperti yang di duga-duga, wanita tersebut adalah Veriska, Istri dari Erlang sekaligus ibu kandung Alfa.


Alfa mematung, sementara Erlang berdiri dan membalas senyuman istrinya, pagi-pagi seperti ini entah kenapa dirinya sudah menemukan sesuatu yang akan membuat sakit kepala. Berbeda dari kenyataan, mungkin jika orang sekitar sedang mengamati situasi Veriska saat ini, mereka berpikir bahwa wanita itu hanya menyapa anak dan suami seperti kebanyakan istri lainnya, namun di situasi yang sebenarnya, senyum yang Veriska tunjukan adalah senyuman petaka.

__ADS_1


Jika ditunggu sebentar lagi, mungkin rumah ini akan segera hancur jika tidak dihentikan. “ Pagi sayang... kamu ada perlu apa? “ Tanya Erlang.


“ Aku cuma mau ngasih tau kalian bahwa makanannya udah siap, tapi entah kenapa... aku kayaknya ngedenger sesuatu yang seharusnya gak di ucapin sama kamu Alfa “ Ucap Veriska masih dengan senyum lembutnya.


“ I, itu... perasaan Alfa gak ngomong apa-apa kok Bun, cuma ngebahas sesuatu sama Ayah “.


Alfa berkeringat dingin, tangannya gemetar meski tidak terlihat karena disembunyikan di belakang tubuh, sejak awal... meski dirinya nakal dan bermulut ringan, dari dulu pemuda itu tidak pernah melawan perkataan Bundanya, selain membuat onar disekolah. Detailnya, Alfa bisa dibilang sedikit munafik pada Veriska, ketika didepan jika dapat perintah dari Bundanya, ia akan senang hati mengiyakan dengan senyum lebar di wajah, namun saat di belakang, pemuda itu akan mengeluh ini itu pada Erlang sebagai media pelampiasan, sungguh anak yang tidak sopan bukan?. Tapi, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Alfa sangat menyayangi Bundanya lebih dari siapapun, karena ia tau, meskipun terkadang rewel, wanita itu melakukan hal tersebut karena demi dirinya agar tidak terlalu salah jalan.


“ Really?, tapi Bunda denger... kayaknya kamu tadi bilang gini nih ‘Yups... si cewek cerewet itu nyuruh aku buat pake dan nunjukin ke ayah, kan besok kita mau pulang ke Indonesia’, iya kan nak?... “.


Ruangan semakin mencekam, Erlang yang ada disana hanya bisa menghela nafas sambil menutupi sebagian wajahnya dengan tangan, ia tidak mau terlibat perdebatan antara istri dan anaknya ini, lebih baik mundur saja deh, pikir Erlang.


‘Gawat... ‘ Batin Alfa.


***


“ Bu Jola... liat si Keyra gak? “ Tanya Reza yang sejak tadi belum menemukan pemuda yang di carinya.


“ Oh... Tadi sih nak Keyra pergi keluar bareng nona Una... “.


“ Hah?, mau ngapai keluar pagi-pagi? “


“ Bilangnya mau joging, katanya jam 9 juga bakalan pulang “


“APAAAA!!! “


Pagi ini, dihari yang masih sama, Reza keluar dari kamar dengan kondisi baru bangun tidur pada pukul 08:30, dia terjaga karena mendapat panggilan dari salah satu teman nya, yaitu Mark, dikabarkan karena sudah memasuki awal semester pertama, siswa kelas 1 akan mengadakan kegiatan PTA ( Penerimaan Tamu Ambalan ) untuk menjadi anggota baru pramuka disekolah, meskipun ekskul tersebut tidak wajib, namun untuk acara kempingnya diwajibkan bagi seluruh siswa kelas 10, terlebih menteri pendidikan sudah sejak lama menganjurkan kegiatan ini agar diwajibkan di setiap sekolah, hanya saja sekolah yang Reza tempati tidak menerapkan hal tersebut, itu dikarenakan tidak kondusifnya siswa yang ikut kegiatan ini nanti.


Tapi terlepas dari itu, alasan Reza mencari keberadaan Keyra karena ingin memberitahu informasi tersebut, terlebih dirinya yang kelas 3 terpilih menjadi panitia acak meski hanya sebagai pembantu saja disana.


“ Dasar anak rese... bisa-bisanya dia manfaatin keadaan buat ngajak Una pas gue lagi tidur, awas aja lo kalau ketemu Keyra... gue bejek-bejek lu! “ Ucap Reza *******-***** tangannya sementara Jola yang melihat hanya tersenyum canggung.


Setengah jam kemudian, Waktu sudah menunjukan pukul 9, dan disaat yang bersamaan Keyra dan Una pulang ke mansion dengan keringat memenuhi tubuh mereka, seperti ucapan pemuda itu, dirinya kembali tepat waktu usai berolahraga. Ini cukup menyenangkan bagi keduanya, terutama Una yang sudah nampak antusias dari berangkat sampai pulang kembali, katanya ini adalah pertama kali dia joging keluar area mansion, biasanya jika ingin lari pagi Una hanya bisa mengelilingi rumah besar ini saja sambil diawasi oleh beberapa Body guard. Karena hal itu membuat Una kesal, ia pun tidak pernah lagi berencana untuk lari pagi.


Semuanya nampak lancar pagi ini, hanya saja tidak dengan ocehan Reza yang ketika mereka baru sampai sudah melontarkan banyak bac*tannya, entah kenapa pemuda itu tidak pernah lelah untuk berbicara banyak dan sepanjang itu, serta Keyra sendiri belum pernah melihat laki-laki bawel dan cerewet seperti Reza, dia ini dapat gen dari siapa sih?, padahal Keyra lihat kedua orangtuanya tidak banyak ngomong, bahkan kepala keluarga juga sama.


“ Una, lo masuk kamar dulu aja, kalau misal badan lu gerah, langsung mandi juga boleh kok... tapi tunggu keringet nya kering dulu “ Ucap Keyra selagi Reza berkicau seperti burung.


“ Eh? Una mana? Kok ngilang? “ Ucap Reza menengok kanan dan kiri mencari keberadaan adiknya.


‘ dasar kakak bloon ‘ Batin Keyra menatap Reza tanpa ekspresi.


“ Lo kenapa natap gue ke gitu? “ Tanya Reza.


“ Gak papa... “. Hanya menjawab singkat, Keyra menghela nafas dan ingin pergi ke dapur, namun kegiatannya terhenti oleh Reza yang menghalangi jalan.


“ Apa lagi sih bang... gue mau ke dapur nih, mau bantu para maid “ Ucap Keyra malas.


“ Bentar dulu... gue ada info tentang sekolah “


“ Sekolah?, emang ada apaan? “ Tanya Keyra mulai memfokuskan pendengaran pada ucapan pemuda dihadapannya.


“ Entar minggu depan, bakalan ada kemping mengenai PTA, semua kelas satu wajib ikut katanya... jadi lo harus mulai siap-siapin barang dari mulai sekarang “ Ucap Reza.


Rasa antusias Keyra naik, ia sudah lama tidak mengikuti kegiatan kemping di pramuka, sejak dulu dirinya selalu aktif di ekskul ini, bahkan pernah menjadi dewan ambalan saat SMP dulu.


“ Ok... makasih infonya, dan... apa Una ikut? “.


“ Kalau kelas 2 sih gak wajib, tapi tergantung Unanya sih, menurut gue dia bakalan ikut kalau ada lo “


“ Hm... tapi nih ya, menurut gue mending Una gak usah ikut... “ Ucap Keyra sedikit memelas.


“ Kenapa?, apa lo gak mau ngurus dia?... Atau... Ouh... jangan-jangan lo mau gunain kesempatan ini buat ngedeketin cewe lain?, Heh!... ini tuh acara sekolah, gue gibeng juga lu kalau mau niat cari doi “


Pemikiran Reza melenceng jauh dari apa yang ada di kepala Keyra, sejak awal ia menyuruh Una untuk tetap di rumah karena rawan dan berbahaya jika ikut kesana, pasalnya... selain acara kemping ini dilarang membawa asisten, Keyra sebagai body guard gadis itu tidak bisa mengawasi dan selalu didekatnya setiap saat, selain dari agenda kegiatan yang padat nanti, Keyra juga kurang leluasa jika tenda antara Pria dan Wanita beda area.


“ Lu ngawur banget sih, gue kan cuma gak mau Una dalam bahaya, pemikiran lo travel terlalu jauh tau “.


“ Kirain... kali aja lo gak mau ngurus adik gue karena bosen, kalau bener iya... lu sebagai cowok gak tau diri banget... bisa digandeng cewek cantik kayak Una tiap hari, tapi masih ada niatan cari pacar, keliatan bangs*t nya tau gak... “ Ucap Reza dengan anda sedikit merendah dari sebelumnya.

__ADS_1


“ Ya enggak lah, ngapain juga gue nyari doi?, gak ada faedahnya banget... justru gue minta Una buat gak ikut karena demi keselamatan dia sendiri, kan lebih baik mencegah dan gak ambil risiko “.


“ Hm... gue sih setuju-setuju aja sama pemikiran lo... tapi...”. Reza tidak melanjutkan ucapannya, ia malah menggaruk bagian belakang kepala yang mungkin tidak merasa gatal.


“ Tapi... apa lo bisa bujuk Una biar gak ikut? “ Tanya Reza.


Keyra dan Reza saling memandang diam, mereka baru menyadari hal ini tanpa memikirkannya, jika hanya sekedar membujuk untuk segera bangun pagi dan jadi anak yang baik sih masih bisa di handle oleh Keyra, namun melarang Una agar tidak ikut kegiatan sementara ada keberadaan Keyra disana, rasanya akan menjadi hal sulit bagi Noland sekalipun untuk ikut membujuk.


***


Keesokan harinya...


Razka tengah sibuk dengan laptop yang ada di meja, sambil melihat berbagai file di sana, tangannya bergerak sangat cepat menyentuh tombol keyboard. Tidak sendiri, pemuda berusia 25 tahun itu kini duduk bersama dengan kakek tercinta di ruang kerja mansion keluarga, bahkan di hari Minggu pun mereka tetap saja bekerja meski sebagian orang akan berlibur pada hari itu.


Melihat cucu pertamanya tidak bergeming dan tidak berpaling sedikitpun dari kegiatannya, Noland berinisiatif untuk menyuruhnya istirahat. “ Azka.. kenapa hari ini kamu gak istirahat aja?, Opa liat beberapa hari ini kamu banyak kerja “ Ucap Noland mengkhawatirkan pemuda tersebut.


Diam saja, Razka tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Noland, sebenarnya seberapa fokus sih pemuda ini?, sampai-sampai tidak menggubris pertanyaan dari kepala keluarga Elrahma karena terpaku pada benda lipat itu.


“ Razka... “ Ucap Noland masih belum dijawab.


‘ Ni anak tuli mendadak bukan sih? ‘ Batin Noland.


“ Razka!!! “.


“ KUCING LONCAT!!!!... “. Latah Razka.


Noland memanggil Razka sekali lagi dengan keras sambil mendekatkan bibir ke telinganya, sontak hal itu membuat Razka melompat linglung setelahnya. Sementara sang cucu tengah mengusap telinganya yang berdengung efek suara keras tiba-tiba masuk ke telinga, serta tangan yang satunya lagi mengusap dada karena jantungnya berdegup kencang, Noland malah tertawa terbahak-bahak sampai kertas yang ia pegang jatuh ke lantai.


“ Opa... kaget tau, gak lucu ih... Azka kan lagi kerja nih... “ Ucap Razka kembali duduk namun berbeda dengan sebelumnya, saat ini ia malah menutup laptop.


“ Hahaha... Kamu sih terlalu fokus sama tu benda, Opa ngomong malah gak didengerin, ya udah... sekalian iseng aja tadi “. Ucap Noland masih tertawa.


“ Ya jangan kayak gitu juga kali, Opa kan bisa nepuk pundak Azka... atau apa ke selain ngagetin kayak tadi “. Gerutu Razka.


“ Haha... iya, iya... Opa minta maaf, dan lain kali kamu tolong jangan terlalu fokus kalau lagi kerja... bisa-bisa kalau rumah kebakaran kamu gak bakal nyadar deh kayaknya... “.


Razka terus menggerutu, sementara Noland dengan asik menggoda cucu pertamanya ini, sudah cukup lama ia tidak bermain-main dan bersantai bersama anak-anak, mungkin karena sudah beranjak dewasa, mereka bukan lagi anak kecil yang imut dan bergantung padanya lagi, meskipun ada satu orang masih ia anggap kecil, dan siapa lagi orang itu kalau bukan Una.


Semenjak pertemuannya dengan Keyra, Una jarang mengunjungi Noland yang mana setiap akhir pekan akan mengajak pria paruh baya itu untuk bermain. Biasanya gadis itu akan membawa Noland ke kamarnya untuk bermain boneka tau sekedar bercerita, namun rutinitas itu sudah hampir sebulan ia tidak lakukan dan membuat dirinya merindukan kenangan tersebut.


“ Ekhem... kamu kalau mau kerja boleh aja, tapi jangan lupa Istirahat Azka “


“ Tenang... kan entar ada maid yang ngingetin, paling dia nyamperin kesini kalau udah masuk jam makan siang “.


“ Ya udah... berhubung sekarang udah jam 10, Opa duluan ya, dan jangan sampai lupa... mereka bakalan dateng hari ini “ Ucap Noland beranjak dari duduknya.


“ Ok... hati-hati Opa “


Noland keluar dari ruangan, Ia turun dari lantai 4 menuju lantai 2 dengan lift, pekerjaan hari ini cukup sedikit karena sudah keburu diselesaikan oleh Razka, meskipun sekretarisnya saat ini adalah Juan, namun Razka merupakan asisten langsung anaknya sehingga dapat ikut membantu Noland secara langsung juga, dan kasihannya... karena ada kepentingan di luar kota, Juan harus berangkat sejak Jum’at kemarin untuk meeting dengan rekan kerja perusahaan lain, namun beruntungnya pria itu bisa pulang hari ini sebelum jam 12 siang.


Namun disamping itu, hati Noland saat ini sedang dalam suasana yang baik, karena menurut gosip dari para maid di rumah ini, anak pertama dari kepala keluarga akan pindah dan tinggal sementara di Indonesia sampai urusan bisnisnya selesai, dan yang membuat Noland senang, anak pertamanya beserta istri dan anaknya akan berdiam di rumah ini selama beberapa tahun.


Keluar dari lift, Noland sesekali tersenyum simpul memikirkan bagaimana pertemuan dirinya nanti dengan sang anak, karena sudah lama, bisa dibilang Noland agak rindu pada anak menyebalkan itu.


Ditengah pemikiran dan berjalan menuju kamar, Noland menemukan ada seorang remaja yang kini bersandar di dinding dengan posisi membelakanginya, remaja itu tertunduk serta badannya membungkuk seperti postur tubuh seorang petani yang menanam padi, dan setelah dilihat lebih teliti lagi, ternyata remaja itu adalah Keyra.


“ Keyra... kamu ngapain disini? “ Tanya Noland mendekat dan menepuk pundak pemuda itu.


“ Eh? Tuan Noland? “.


Sejenak menatap Noland, Keyra tidak lagi bersandar dan menegakan tubuh, meskipun itu hal yang tidak istimewa, namun Noland menemukan keanehan pada Keyra, kenapa wajah pemuda itu nampak putih sekali?, dan apa penyebab warna bibirnya membiru seperti itu?.


“ Keyra... kamu gak papa? Saya liat muka kamu kurang baik hari ini “ Ucap Noland tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


Memang benar, apa yang diucapkan oleh Noland tadi bukan hanya basa-basi atau bualan, saat ini wajah Keyra nampak sekali pucat, selain bibirnya yang membiru, banyak keringat menetes dari pelipis, bahkan kerah bajunya juga sampai basah saat itu.


“ Saya gak papa tuan... tadi abis olahraga, terus belum cuci muka...“ Jawab Keyra singkat.


“ Em... baik kalau gitu, kamu istirahat dulu aja... “. Keyra mengangguk dan setelahnya pergi, sementara Noland hanya melihat pemuda itu menjauh dari belakang sampai punggungnya tidak lagi terlihat.

__ADS_1


‘ Anak itu kenapa?, kayak ada yang aneh... ‘. Batin


Bersambung


__ADS_2