
Open eye
Keyra membuka mata, dengan keringat dan suhu tubuh yang masih tinggi, pemuda itu tercengang dengan butiran-butiran bening yang mengalir dari matanya. Sambil sesekali mengatur nafas yang terengah, Keyra kembali diperlihatkan kilas balik kehidupannya saat kecil dulu.
“ Astagfirullah... “.
Pemuda itu mendudukkan badan, ia mengusap wajah sambil mengucap istighfar beberapa kali. “ Huft... hah... kenapa ya gue selalu mimpi hal itu pas mau masuk bulan lahir? “.
Melihat jam dinding, Keyra menemukan bahwa saat ini waktu menunjukan pukul 12:15, seingatnya dia tidur pada pukul 11:45, berarti bisa dibilang ia hanya tidur sekitar setengah jam saja.
“ Gue harus solat, kali aja hati gue bakalan tenang “.
Keyra bangkit dalam keadaan lemas, hal itu tidak menghalanginya untuk pergi ke kamar mandi meski dengan kondisi terhuyung, untung ada tiang infus, jadi Keyra bisa menjadikan benda tersebut alat penopang tubuh, terlebih entah kenapa badannya terasa amat berat, serta kepala pusing dan berkunang-kunang membuat Keyra seperti berada di wahana Kicir-Kicir.
Setelah mengambil abdas, pemuda itu kembali berjalan dan duduk sejenak di kasur, mungkin kali ini ia akan beribadah dengan posisi duduk, jika melakukannya seperti biasa, Keyra akan kesulitan dengan selang yang menjerat di tangannya.
***
“ Mama... kita kapan ke kamar bang Kekey nya?,ayo cepetan mah... ini udah lama “ Ucap Una merengek.
“ Sayang... bentar lagi ya nak, kamu harus nunggu setengah jam lagi supaya bisa ketemu Keyra “ Ucap Devina.
“ Yaaaaah... hiks, Una mau ketemu bang kekey mah, Haaaaa.... “.
Una, gadis yang saat ini menangis sedang berada di ruang makan setelah ia sudah melakukan kegiatan mengisi perut, bersama dengan anggota lain termasuk para lelaki dewasa yang baru pulang dari tempat kerja, semua orang menatap khawatir gadis bungsu mereka karena tidak kunjung tenang sejak tadi.
“ Za, lo bisa tenangin Una gak tuh? “ Ucap Alfa, ditengah kesibukan para orang tua menenangkan Una.
“ Gak tau Al, biasanya Keyra yang selalu nasehatin Una biar gak ngerengek, tapi...kan dia nya sakit, ya kali gue harus panggil dia kesini? “.
“ Iya juga sih... kadang gue suka bingung, meskipun gue kesel sama dia, tapi ternyata tanpa kehadiran tu anak si Una jadi kayak gini “.
Alfa dan Reza menyadari perihal ini, sedikit demi sedikit keduanya mulai menerima keberadaan Keyra. Jujur saja, meski terkadang merasa kesal dengan perilaku anak itu, namun disaat keberadaannya tidak ditemukan membuat mereka merasa sedikit kehilangan, yang mana jika Keyra ada di kursi meja makan nya pasti saat ini Reza dan Alfa sudah lama beradu mulut bahkan mencomooh pemuda tersebut, meski orang yang bersangkutan akan terus bersikap tenang sampai membuat kesal sendiri keduanya.
“ Jenguk dia kuy, gue mau liat mukanya masih ke mayat apa enggak... “ Ajak Reza.
“ Don't want!... entar anak itu malah ngira yang enggak-enggak “.
“ Yaelah... turunin dulu ego lo Al, kasih toleransi, dia kan lagi sakit plus masih bocah pula “.
“ Iya, iya gue ikut... “.
Alfa menyetujui usulan Reza, pemuda itu kembali memfokuskan diri pada gadis yang kini masih merengek sambil mengeluarkan air mata, sungguh pemandangan yang sudah lama mereka tidak lihat setelah keberadaan Keyra di rumah ini.
Beberapa menit kemudian, karena tidak kunjung tenang Devina pun mengijinkan Una untuk menjenguk Keyra, dengan syarat kalau gadis itu tidak boleh menganggu tidur pemuda itu, jika seseorang sedang sakit, tidur adalah cara yang terbaik untuk membuat mereka cepat sembuh, jadi sekali lagi dan Veriska peringati kalau Una tidak boleh sampai membangunkan Keyra kalau dia sedang tidur.
Una menjawab semua syarat itu dengan anggukan, sambil ditemani oleh kedua kakaknya yaitu Alfa dan Reza, gadis itu membuka perlahan pintu kamar Keyra setelah ia mengetuk pelan.
“ Eh? bang Kekey? “.
tidak menyangka, yang awalnya ia hendak masuk secara diam-diam guna membuat tidur abangnya tenang ternyata tak lagi berguna, saat ini Keyra sedang duduk selonjor dengan sarung yang masih dikenakan di pinggangnya, sepertinya pemuda itu sudah selesai melaksanakan solat Dzuhur.
“ Una?... bang Reza sama Bang Alfa juga?, ada perlu apa ya? “ Tanya Keyra lembut masih dengan wajah pucat nya.
“ Kok bang Kekey gak tidur?, kenapa?, apa sakitnya makin parah? “. Tanya Una mendekat diikuti kedua orang pria yang berada dibelakang.
“ Gue gak papa kok Na, uhuk... tadi kebangun buat solat dzuhur, toh sekarang udah jam 1 siang... “.
“ Ya udah kalau gitu... tapi bang Kekey gak papa kan? “
“ Tenang aja, gue udah baikan “.
Una berbicara, sementara Keyra baik Reza maupun Alfa hanya mendengarkan gadis ini yang terlihat antusias, untuk kedua tuan muda entah kenapa mereka bersikap tenang hari ini, apakah Reza dan Alfa merasa iba dan enggan mengganggu Keyra terlebih dahulu karena sakit?, jika memang kenyataanya seperti itu, berarti dua orang ini masih mempunyai hati nurani, terlebih saat sakit Keyra berada di puncaknya, mereka dengan sigap membantu dan membawa Keyra menuju rumah dengan selamat, meski mungkin para pemuda itu menganggap hal ini sebagai bantuan kecil, namun bagi Keyra yang mendapatkan bantuannya cukup membuat kesan baik mereka menjadi tinggi dibenaknya.
“ Lain kali, lo kalau lagi gak enak badan bilang Key... jangan sok kuat deh pake nahan-nahan segala “. Ucap Reza.
“ Nah tuh, apa yang diomongin Reza bener... masih mending lo tadi gak kenapa-napa, kalau pingsan terus dibawa ke rumah sakit?, emang lo mau hah? “. Susul Alfa.
“ Kak Eza... kak Alfa... bang Kekey tuh lagi sakit, masa kalian terus marahin abang sih?,... “.
“ Gak papa na, emang gue yang salah kok... oleh karena itu gue minta maaf ya karena udah egois, dan... makasih karena kalian udah nolongin Keyra “.
Keyra tersenyum tulus dan berterima kasih dengan kesungguhan yang langsung ia ucapkan dari hati yang paling dalam, mungkin ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan mereka, oleh karena itu Keyra bertekad untuk melindungi ketiga cucu keluarga Elrahma dengan segenap kemampuannya, terlebih orang-orang yang ada dihadapannya ini sudah Keyra anggap sebagai keluarga sendiri. Meski awalnya sempat ragu, Keyra semaksimal mungkin menyusun kata agar tidak terlihat memalukan, namun saat ia melihat reaksi para tuan dan nona muda yang tercengang dan membeku membuatnya bingung tak bisa membaca situasi.
Disisi lain, yang tepatnya dalam pandangan Una, Reza dan Alfa, mereka terkejut melihat senyum yang ditunjukan oleh pemuda didepan mereka, ketiganya tahu kalau Keyra merupakan orang yang memiliki senyum ramah, namun pertama kali dalam hidup mereka dari saat pertemuan pertama, pemuda itu menyebut diri sendiri menggunakan nama, bukan lagi dengan bahasa gaulnya.
“ Em... maaf semuanya, apa gue udah buat kesalahan? “ Tanya Keyra di tengah ketiga cucu keluarga Elrahma yang sedang mematung.
“ Hah? I, itu... mata lo merah Key, kita khawatir lo kurang tidur, kenapa lo gak baring lagi aja? “ Ucap Alfa gagap untuk mengalihkan perhatian.
Una dan Reza melihat kearah orang yang berbicara tadi, mereka heran dengan sosok Alfa yang perhatian pada Keyra, dimana Alfa yang selalu menggerutu jika pemuda itu menasehati Una dengan mulut bawelnya?, dan kenapa malah muncul Alfa dengan sifat yang berbeda seperti seorang kakak?.
__ADS_1
“ Lu tumben banget perhatian sama si Keyra?, kesambet apaan lo? “ Tanya Reza dengan senyum jahilnya.
“ Iya nih?, kenapa kak Alfa dari dulu aja perhatian sama bang Kekey, kan Una seneng lihatnya “ Susul Una.
“ Hah? Kalian berdua kenapa sih?, lo juga Eza... gue perasaan gak seperhatian itu, mana ada anjir? “.
“ Yaelah, ngeles aja lu jadi orang... pake ngelak segala, ngaku aja ngapa? “.
“ Heh... maksud lo apaan sih?, gue beneran kayak biasanya kok “.
Reza dan Alfa beradu mulut, dengan Una yang sekarang menjadi pengamat, Keyra hanya tertawa kecil meski kepalanya pening mendengar banyak ocehan dari berbagai mulut, terlebih kata-kata yang dikeluarkan Reza dan Alfa sangat banyak dan tak terhingga.
“ Uhuk, uhuk... “.
Keyra terbatuk, meski kedua kakak lelaki Una tidak menyadarinya, namun sang gadis memperhatikan dari awal dan merasa khawatir. “ Bang Kekey gak papa?, maaf ya kak Eza sama Kak Alfa malah buat berisik dikamar “. Ucapnya.
“ Ekhem... gak papa na, lagian gue udah baikan kok “.
Keyra tersenyum sambil mengucek matanya yang gatal dan sedikit mengantuk, mungkin tidurnya tadi tidak nyenyak dan kurang membuat tubuh pemuda itu membaik, bagi seseorang yang sakit mendapat tidur dengan kualitas tinggi adalah poin utama untuk sembuh, namun dalam kasus Keyra, bukannya tidur lelap, pemuda itu malah mendapat mimpi buruk tentang masa lalu kecilnya.
“ Kalau gitu bang Kekey tidur dulu aja ya, biar cepet sembuh... terus kedepannya biar Una jagain dan bangunin pas udah waktunya minum obat “. Ucap dengan perhatian.
“ Ya udah... maaf ya gue ngerepotin lo, dan jug__... Eh? lepas? “.
Keyra dan Una sama-sama terdiam, mereka tercengang saat melihat sebuah benda yang jatuh dari pupil mata pemuda itu setelah dirinya mengusap mata, dengan ekspresi tak terbaca dari Una ketika melihat warna mata Keyra yang berbeda, pemuda itu bingung dan panik harus menjelaskannya bagaimana.
“ KYAAAAA!!! “
Una berteriak, membuat Keyra baik itu Reza maupun Alfa menjadi terkejut, semua orang panik, terlebih teriakan gadis itu kerasnya bukan main.
“ Una kamu kenapa teriak?, ada apa sayang? “ Tanya Reza panik.
“ Kamu gak papa Una? Apa ada maling?, mata-mata? Penguntit?, atau kamu liat setan? “. Susul Alfa dengan kondisi yang sama.
“ Ma, ma, MATA BANG KEKEY LEPAS!!!!! “.
Una kembali meninggikan suara dengan menunjuk Keyra yang berada dihadapannya, segera setelah itu gadis tersebut berlari keluar sambil berteriak memanggil para orang tua. Reza mengejar, sementara Alfa melihat ke arah Keyra yang membuat Una seperti tadi, namun bukannya bertanya, Alfa dibuat terdiam dengan pemandangan yang ada dihadapannya.
Sebenarnya tidak ada yang berubah dari Keyra, pemuda itu masih berwajah normal, namun satu hal yang menarik perhatian, berbeda dengan beberapa menit yang lalu, mata kanan pemuda itu kini berubah yang awalnya berwarna coklat terang menjadi hitam pekat, sungguh perbedaan yang sangat jelas.
“ Mata lo... kenapa Key? “ Tanya Alfa berusaha menenangkan diri.
Keyra tersenyum canggung, ia tidak menyangka kalau rahasia kecilnya akan terbongkar di usia yang akan menginjak 16 tahun, sebelumnya ia memang pernah mengira akan ada masanya warna mata ini diketahui oleh orang lain, namun saat melihat orang yang melihat warna mata aslinya dengan reaksi yang seperti Una, Keyra tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya.
***
“ Jadi... Warna mata kamu itu beda dari lahir? “
“ Iya tuan... sebelumnya gak pernah ada yang tau selain keluarga saya dulu “.
Saat ini, Keyra tengah menjelaskan perihal warna matnya yang berbeda kepada seluruh anggota keluarga Elrama, Tidak hanya keempat cucu Noland, kedua anak dan menantunya pun ikut hadir di dalam kamar Keyra, sehingga sekarang ini ruangan terlihat nampak penuh dengan kehadiran mereka.
Beberapa menit yang lalu, Una adalah orang yang membawa semuanya menuju kamar Keyra, dengan keadaan panik dan tergesa-gesa, para anggota keluarga Elrahma mendapat kabar dari gadis kecil itu kalau pupil mata Keyra lepas dan terpisah dari rongga mata.
Reaksi mereka cukup terkejut saat pertama kali melihat warna matanya yang berbeda, namun beberapa menit kemudian semuanya menyadari kalau informasi yang disampaikan oleh Una adalah salah, mungkin gadis itu tidak pernah melihat orang secara langsung memakai softlens, jadi sudah wajar jika dia mengira kalau mata Keyra lepas.
“ Mamah... berarti mata bang kekey gak kenapa-napa? “ Tanya Una bingung.
“ Haha... gak papa sayang, yang lepas dari matanya Keyra itu cuma lensa kontak, jadi kamu gak usah khawatir ya “. Ucap Devina menjelaskan.
“ Tapi Keyra... kalau boleh saya tau, kamu punya mata kayak gitu dari orang tua kamu? “ Tanya Noland.
“ Em... saya kurang tau Tuan, di keluarga cuma saya aja yang kayak gini, bahkan ibu juga gak tau faktanya, kalau kata dokter sih mungkin ada sedikit kelainan genetik... “
Noland hanya mengangguk dan tidak lagi bertanya hal yang lain, pemuda itu memilih diam dan larut dalam pikiran yang ternyata tidak lepas dari warna mata Keyra. Sebelumnya, ada satu orang lagi yang mempunyai warna mata sama persis dengan pemuda itu, bukan orang asing maupun orang luar, orang yang bersangkutan itu adalah mendiang istrinya sendiri, yaitu Selena.
Selain memiliki warna mata yang mirip dengan Keyra, entah kenapa makin lama Noland mengamati, kemiripan istrinya dengan anak itu cukup banyak, dari mulai perilaku Keyra, sampai tahi lalat di pinggir matanya pun penempatannya sama dengan Selena, Juan dan Erlang juga menyadari hal ini, tidak terkecuali Devina dan Veriska yang sejak tadi menatap Keyra tak percaya.
‘ Apa mata gue keliatan serem?, kayaknya mending disembunyiin aja deh... toh reaksi mereka kayak yang kaget banget ‘ Batin Keyra.
“ Em... maaf semuanya, saya lagi-lagi bikin heboh di rumah ini, sekiranya mata saya kurang nyaman diliat... mending saya pake soft__... “
“ Eh? kenapa mau di tutup lagi bang?, padahal udah biarin aja... “ Ucap Una memotong kalimat Keyra sebelumnya.
“ Takut buat kalian gak nyaman Na, menurut geu warna mata yang beda itu cukup langka, gue takut kalau mata gue malah bikin lo takut “.
“ Kamu gak perlu khawatir Keyra, sebelumnya anggota keluarga kami juga ada yang punya warna mata beda kayak kamu “ Kali ini Razka yang berbicara.
“ Hah?, ekhem... beneran? “
Razka mengangguk dengan pertanyaan Keyra, pemuda itu lalu menjelaskan kalau orang yang memiliki kesamaan itu merupakan mendiang omanya, yaitu istri dari Noland. Dikatakan bahwa Selena, nama dari omanya mempunyai pupil mata coklat terang bagian kanan dan hitam pekat di bagian kiri, sama saja seperti Keyra, namun sebaliknya, hanya berbeda penempatan saja.
__ADS_1
“ Kalau dipikir-pikir... kamu agak mirip sama Ibunda ya? “ Ucap Erlang ditengah percakapan.
“ Bener kak, posisi tahi lalatnya juga sama persis... kok bisa kebetulan gitu? “. Susul Juan.
“ Ayolah... namanya juga manusia, ada banyak diluar sana yang mungkin lebih mirip sama ibunda kalian “ Kali ini Noland yang berbicara.
Tidak mempermasalahkan lebih lanjut, anggota keluarga sedikit demi sedikit menanyakan tentang diri Keyra, dari masa lalu nya baik di waktu SMP maupun SD, sampai menanyakan keseharian anak itu sebelum datang ke rumah keluarga Elrahma. Semuanya Keyra jawab dengan seadanya ditengah rasa lemas yang melanda, banyak diantara mereka yang merasa kasihan karena sudah mendapat banyak cobaan di usia kecil, namun disamping itu, Keyra ternyata baru pertama kali membagi cerita hidupnya selengkap dan sebanyak ini, sebelumnya dekat dengan Qian dan Linda pun tidak sampai menceritakan perihal kapan dan dimana kematian ibunya.
“ Ya ampun... berarti ulang tahun kamu udah deket dong Key? “ Tanya Veriska tiba-tiba.
“ Uhuk... iya nyonya “.
“ Wah... gak nyangka ya, tanggal berapa nak? “.
“ di tanggal 19 bulan ke 10 kalau gak salah... “.
Semua orang terdiam, berbeda dengan Erlang dan Veriska yang saling memandang, baik itu Juan, Devina, Noland dan ketiga cucu keluarga Elrahma membungkam mulut secara mendadak, hal itu membuat Keyra heran, apa ada lagi yang salah dengan ucapannya?.
“ Hm... berarti Oktober? kalau diinget-inget... ultahnya bang Kekey sama dede Gino hampir sama ya? “
“ Gino? “.
“ Iya... itu adiknya kak Alfa “.
“ Ouh... gue baru tau kalau bang Alfa punya adik, kok gak ikut kesini? “.
“ Em... dede Gino udah meninggal sejak kecil bang, kalau kata mama... sehari setelah bunda Veri lahiran, dede wafat di ruang penempatan bayi... “.
“ I,itu... gue minta maaf Una, dan... nyonya Veri juga... maaf saya gak sengaja “.
Keyra menunduk, ia tidak tahu kalau orang yang disebut sudah tidak ada sejak lama, mendengar Una membahas perihal adiknya Alfa membuat ia penasaran dan berujung bertanya, namun siapa sangka ternyata fakta yang ia tanyakan bisa saja membuat keluarganya sedih.
“ Kamu gak salah Key, buat apa minta maaf?, toh anak saya udah bahagia di alam sana... “ Ucap Veriska dengan senyuman.
“ Tapi tetep aja nyonya, saya__... “.
“ Bang Kekey, bisa gak abang jangan manggil bunda Veri pake sebutan ‘nyonya’?, terus ke mama... papa... ayah Erlang... bahkan ke opa pun bang Kekey manggil pake bahasa formal, kenapa gak samain aja kayak Una?, kan keliatannya lebih akrab “. Ucap Una memotong perkataan Keyra.
“ Hm... betul juga tuh, toh kamu udah lama tinggal disini Key, iya gak semuanya... “ Kali ini Juan yang berbicara dan mendapat respon anggukan dari semuanya.
“ Hm... kayaknya gak bisa deh Na “.
“ Eh? kenapa bang? “.
“ Gue masih sadar diri Na, disini itu gue tinggal sebagai pekerja, sama kayak maid dan butler yang lain, bedanya profesi gue itu sebagai body guard... uhuk, uhuk... kayaknya agak kurang pantes deh, masa gue yang bukan siapa-siapa di rumah ini nyebut panggilan akrab sama majikannya?, orang lain nanti mikir kayak gimana? “.
Pernyataan Keyra adalah fakta, hal itu tidak bisa dibantah meskipun mereka tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana Keyra memanggil mereka, kehadiran Keyra sebagai pekerja entah kenapa terkesan berbeda dengan yang lain, mungkin efek Una yang memperlakukannya dengan sepesial di awal pertemuan, jadi orang yang ada di keluarga ini baik itu para majikan maupun para pekerja menganggap pemuda tersebut sebagai orang yang kurang pantas untuk diperlakukan sebagai bawahan.
“ Yah... kok bang Kekey gak mau sih?, hiks... padahal Una udah nganggep bang Kekey sebagai keluarga lho, apa selama ini bang Kekey gak suka Una dan keluarga yang lain? “.
Una merengek, dengan sedikit mengguncang tubuh Keyra sambil membujuk perihal permintaanya, pemuda itu memegang kepala sambil tersenyum kikuk ditengah rasa pusing hebat yang melanda.
“ Ok, ok... udah Na, jangan di guncang lagi, gue bakal nurutin perkataan lo “. Ucap Keyra.
“ Wah? Beneran bang? Asik!!!... akhi__... “
“ Tapi jangan seneng dulu “. Sela Keyra di tengah ucapan gadis disampingnya.
“ Gue gak bakal manggil tuan dan nyonya pake sebutan itu lagi... ekhem, dan juga gue gak bakalan manggil mereka mama, Bunda atau apalah itu yang mana biasa lo panggil sehari-hari... “ Susul Keyra.
“ Eh? terus lo manggil mereka apa? “. Tanya Alfa di tengah pembahasan.
“ Uhuk... contoh, gue gak bakalan manggil nyonya Devi dan tuan Juan pake sebutan mama/papa kayak Una, sebagai gantinya... gue bakalan manggil beliau pake sebutan om/tante, menurut gue sebutan ini pilihan yang terbaik... gak terlalu formal dan gak terlalu akrab juga, setidaknya dalam panggilan ini gue masih punya batasan sebagai seorang pekerja “.
Ulasan Keyra dengan cepat diterima oleh semuanya, meskipun Una masih kurang puas dengan saran tadi, tapi gadis itu berpendapat kalau panggilan Keyra sekarang lebih baik daripada sebelumnya.
“ Terus... kamu bakal panggil saya apa? “ Tanya Noland tiba-tiba.
Keyra baru menyadari, ternyata masih ada satu orang yang tidak terpikir di benaknya, dan orang itu adalah kepala keluarga, jika dirinya mengikuti panggilan Una... tidak, tidak... Keyra mana mau memanggil aki-aki itu dengan sebutan Opa, mungkin sebutan kakek lebih baik untuk pria paruh baya itu.
“ Kayaknya saya bakal manggil anda ‘kakek’ “ Ucap Keyra.
“ Panggilan itu terlalu kuno “.
“ Gimana kalau ‘sesepuh’? “.
“ Hah... yang tadi lebih baik “.
Pembahasan tentang bagaimana cara panggilan Keyra pada anggota keluarga sudah selesai, pemuda itu sudah dapat bernafas lega dan mulai bersandar ke kepala ranjang, sambil mendengarkan obrolan para orang tua dan anak mereka, Keyra perlahan tidur tanpa disadari oleh dirinya sendiri. Una yang pertama kali sadar menghimbau anggota keluarga untuk keluar tanpa bersuara, takut-takut membangunkan sang Abang, semuanya beranjak dari duduk terkecuali Una yang stand by di sisi pemuda itu.
“ Bang Kekey... cepet sembuh ya bang “ Gumam Una.
__ADS_1
Bersambung