Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Ada Yang Camburu


__ADS_3

“Pasti ada yang kebakaran jenggot tadi lihat aku di sekolah kamu?” ucapku.


Aku sedikit puas karena melihat Nadira yang sepertinya menampakkan wajah kecewa dan marah saat  melihat aku ada di sekolahannya dengan Mas Dani. Biar saja, biar dia paham aku yang harusnya mendampingi  Mas Dani bukan dirinya. Aku ini pilihan kedua orang tuanya, jadi mau bagaimana pun, aku yang menang. Tapi, bodohnya aku, aku mengalah karena aku tahu Mas Dani tidak akan pernah mencintaiku, jadi untuk apa aku lanjutkan hubunganku dengan Mas Dani? Ya mungkin saja aku bisa meluluhkan hatinya, tapi kalau Nadira masih ada di depannya bagaimana bisa luluh?


“Ya begitu, dia cemburu,” jawab Mas Dani.


“Cemburu? Cemburu kok sama istri sahnya? Lucu, ya?” ucapku.


Mas Dani hanya diam, dia mungkin bingung mau menjawab apa. Apalagi memang kenyataannya aku ini istri sahnya.


“Vit, kira-kira aku bisa tidak memegang pekerjaan kantor, yang sepertinya kok rumit sekali?” tanya Mas Dani.


“Bisa, kalau mas niat,” jawabku singkat. “Kalau mas gak sanggup ya sudah, mas tidak usah memaksakannya, lagian kalau memang aku dan mas harus pisah, ya pisah. Tapi, mas bicarakan baik-baik dengan mama dan papa, kalau mas sudah ingin mengkahiri semuanya, jadi kita pisah secara baik-baik, sama-sama lega antara dua keluarga,” jelasku.


“Apa papa dan mama akan setuju kalau kita pisah?” tanya Mas Dani.


“Ya pikir sendiri jawabannya, Mas. Aku tidak bisa menjawab soal itu, lebih baik mas kasih soal matematika atau apa, sini aku kerjakan,” jawabku.


“Memang bisa?”


“Aku juara satu olimpiade matematikan tingkat internasional, Mas,” jawabku membanggakan diri. “Mau mengujiku, Pak Guru?” ucapku dengan sedikit mendekatkan wajahku di depan Mas Dani.


“Boleh nanti malam di rumah!” jawabnya.


“Oke, aku tunggu tantangan anda, Pak Danial,” ucapku.


Biar saja, biar dia tahu siapa yang berkualitas antara aku dan Nadira, dia bisa mengalahkan aku karena dicintai Mas Dani, aku yakin aku bisa mengalahkan Nadira, dengan membuat Mas Dani kagum padaku. Ya aku tidak akan melepaskan Mas Dani begitu saja, ini memang trikku, supaya Mas Dani dekat denganku, dan Mas Dani tahu siapa diriku, apa pantas diperjuangkan sebagai istrinya atau akan dibuang karena memilih kekasihnya.


“Mas, jangan ke kantor papa dulu, aku ke kantor papa biasanya jam sembilan, soalanya papa kan ke kantor siangan, lagian tidak ada pekerjaan di kantor papa, bisa antar aku ke alamat ini?” pintaku.


Aku memang mau bertemu Firda di kantorku. Mungkin Mas Dani sudah tahu, karena pernah mendengar aku memiliki usaha sendiri dengan Firda.


“Ini kantormu dengan Firda?” tanya Mas Dani.

__ADS_1


“Iya, Mas. Itu berdiri sejak aku belum diutus papa kamu di kantor. Jadi itu modal mutlak dari tabunganku dengan Firda, bahkan itu sebelum aku kuliah di luar negeri aku sudah punya itu,” jelasku.


“Kamu hebat ya, Vit?”


“Semua itu karena dukungan ayah dan ibu, tapi mereka tidak tahu sih aku punya ini dengan Firda,” jelasku.


“Ini yang makanan dan minuman kekinian yang terkenal itu, kan? Mitranya sepertinya sudah ratusan orang, Vit? Teman guru juga banyak yang ikut franchise itu?” ujar Mas Dani.


“Iya, Mas. Alhamdulillah, dari keisengan aku dan Firda, terciptalah seperti itu, ya dengan begitu kan semua orang bisa berjualan tanpa ribet, semua sudah kami siapkan, dan ada pelatihannya juga,” jelasku. “Sebetulnya bukan hanya ini saja yang kupunya dengan Firda, masih ada lagi meski usaha yang cukup kecil, belum ramai, masih dalam progres.”


“Sama Arif juga?”


“Ya, dia ikut andil di sini, dan kita mau bertemu membicarakan semua ini.”


“Apa papa gak marah kamu juga memiliki usaha sendiri?” tanya Mas Dani.


“Marah kalau aku kerjanya gak benar! Kerjaku saja papa gak pernah komplain, papa selalu puas dengan cara kerjaku, aku sih ada tujuan ingin memberitahukan semua ini, tapi belum ada waktu,” jelasku.


“Tuh pacarmu,” ucap Dani.


“Emang aku ini kamu, Mas? Sudah menikah punya pacar!” tukasku.


“Ya kan dia suka kamu?”


“Suka atau cinta tidak harus memiliki kan, Mas?” jawabku.


“Kamu ke kantor papa dengan siapa?” tanya Mas Dani.


“Taksi banyak, gak usah khawatir aku diantar Arif, aku bisa menjaga batasanku berteman dengan siapa, apalagi denan lawan jenis, aku ini sudah bersuami, aku masih bisa menghargai dan menghormati suamiku, juga menjaga kehormatanku sebagai seorang istri, Mas. Jadi jangan khawatir,” jawabku tegas.


Aku masih diam di dalam mobil, aku membiarkan Arif masuk ke dalam lebih dulu, karena aku tidak mau meladeni pertanyaan-pertanyaan dia yang kritis. Aku malas dengan hal yang seperti itu. Padahal aku sudah menekankan padanya, kita bisa bicara dan kumpul bersama karena pekerjaan, bukan masalah pribadi.


“Kenapa masih diam? Gak turun? Apa tunggu aku membukakan pintu?” tanya Mas Dani.

__ADS_1


“Nanti, sebentar lagi, aku mau balas pesan dulu,” jawabku pura-pura, padahal aku menunggu Arif masuk ke dalam lebih dulu.


“Kamu kenapa? Sepertinya takut sekali lihat Arif?” tanya Mas Dani.


“Malas saja, kalau dia tanya-tanya yang di luar pekerjaan,” jawabku.


“Soal pribadi?”


“Lebih tepatnya,” jawabku.


Aku turun dari mobil mas Dani, karena aku sudah tidak melihat Arif di luar. Sepertinya dia sudah masuk ke dalam bertemu dengan Firda. Aku menoleh ke belakang, ternyata Mas Dani mengekoriku, aku tidak tahu apa tujuannya, dia malah ikut masuk ke dalam.


“Mau apa ikut masuk?” tanyaku.


“Antar kamu ke dalam, nanti malah di ganggu orang,” jawab Mas Dani.


“Gak perlu, sana berangkat, nanti kamu terlambat,” titahku.


“Jam pertama kedua sampai jam sembilan, habis itu jam ketiga PAI, jadi aku masuk kelasnya paling nanti jam sebelas,” jawabnya.


“Enak ya jadi guru, pasti kalau lagi gak ada jam bisa ngobrol, bisa pacaran juga sih lebih tepatnya,” ucapku.


“Gak gitu juga. Sudah sana masuk, aku tunggu kamu, nanti aku antar kamu ke kantor saja, yang penting aku sudah absen, dan sudah dapat izin dari Kepala Sekolah, dia gak akan marah, aku ini sedang mengantar siapa,” ucapnya.


“Ih jangan pertaruhkan aku dong!” tukasku. “Sana balik ke sekolahan, jangan mentang-mentang lagi gak ada jam. Disiplin dong?” tuturku.


“Gak begitu, kau bercanda. Tenang saja, daripada di kantor nganggur, pekerjaan juga sudah selesai dari kemarin,” jawabnya. “Sudah sana, aku tunggu di sini, kamu bilang jam sembilan ke kantor papa, kan?”


“Iya, ya sudah aku sudah ditunggu Firda dan lainnya,” ucapku. “Dasar pemakan gaji buta, makan gaji uang negara saja!” umpatku lirih.


“Tadi kamu bilang apa?” tanya Mas Dani yang mungkin mendengar aku bicara.


“Gak ada, itu tadi ngomongin orang lewat!” jawabku, lalu pergi meninggalkan Mas Dani.

__ADS_1


__ADS_2