
Dia perempuan yang selama ini menemaniku. Dia mengabdikan hidupnya padaku, lelaki yang tidak pernah mencintainya sama sekali. Tapi, dia begitu sabar menghadapiku yang kadang kasar dengan dirinya, kasar karena aku benci dengan dirinya. Dia perempuan yang paling sabar, yang pernah aku miliki setelah mama. Padahal aku sering membuatnya kecewa dan menangis, tapi dia tetap sabar menghadapi semua perlakuanku padanya.
Aku tahu dia masih marah denganku karena kata dia tadi pagi saat aku memeluknya, aku menyebut nama Nadira. Dan, tadi aku mengajak dia makan di kedai bubur ayam langganan aku dengan Nadira. Lalu, pelayan di sana tidak percaya Vita itu istriku, karena aku pernah memberitahu pada pelayan di sana, kalau Nadira adalah calon istriku, dan sebentar lagi akan aku nikahi.
Memang tujuanku begitu, aku akan menikahi Nadira kalau sudah selesai urusan perceraianku dengan Vita. Tapi, dia malah mau pergi, meninggalkanku. Sekarang aku tidak tahu, menahan dia pun rasanya sangat tidak mungkin sekali.
“Vit, maafkan aku, ya? Sudah dong jangan diam begitu?” ucapku dengan menggenggam tangan Vita.
“Iya, sudah ah gak usah pegang-pegang!” Vita menyingkirkan tanganku dengan agak kasar.
“Vit, aku memang sering ke sana dengan Nadira, dan maaf aku memang bilang, kalau dia adalah calon istriku,” ucapku jujur pada Vita.
“Mau kamu mengenalkan dia calon istri, atau istrimu, aku tidak peduli!” tukas Vita. “Buruan ih nyetirnya, aku hari ini ke kantor, ada kepentingan. Mas aku tinggal sendiri di rumah tidak apa-apa, kan? Nanti siang aku pulang, aku bawakan makanan, dan siapin obat mas,” ucap Vita.
“Kamu mau ke kantor? Aku ditinggal sendiri di rumah nih?” tanyaku.
“Sebentar kok, paling jam sebelas aku balik. Aku mau ada perlu, tadi Tantri bilang banyak dokumen yang harus aku tanda tangani soalnya,” jelas Vita.
“Ya sudah, kalau sampai jam sebelas aku gak apa-apa, aku kira sampai sore?”
“Ya gak lah mas, kamu sedang sakit juga? Kalau mama dan ibu di rumah ya aku pasti minta tolong mama atau ibu buat jagain kamu, sayangnya mereka sedang sibuk,” jelas Vita.
“Gak apa-apa aku sendirian, yang penting jangan sampai sore, ya?” pintaku.
“Iya, Mas.” Jawab Vita.
Sesampainya di rumah, Vita langsung menyiapkan obatku, dan setelah itu, dia langsung bersiap-siap untuk ke kantor. Dia memakai stelan baju kantor dengan bawahan celana panjang. Dia terlihat begitu cantik dan anggun sekali. Aku melihat dia mengambil helm.
“Vit, kamu paka sepeda motor?” tanyaku.
“Iya, biar cepat, Mas. Ini sudah siang, kadang macet, Mas,” jawab Vita.
“Kamu hati-hati, ya? Jangan ngebut pakai motornya?”
__ADS_1
“Iya, Mas. Kamu ih, kek gak pernah lihat aku pakai sepeda motor saja?” ucap Vita.
Vita mencium tanganku, lalu aku kecup keningnya. “Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai kabari aku langsung lho?” pintaku.
“Iya, mas, iyaaa ...,” jawabnya.
“Jangan iya, iya saja, Vita?”
“Mas Dani cerewet ih!” tukas Vita. “Sudah aku berangkat. Sudah diminum kan obatnya?”
“Sudah dong?”
“Ya sudah sana mas istirahat, aku gak lama di kantornya kok, paling jam sebelas aku pulang, atau lambat-lambatnya jam satu siang,” ucap Vita.
“Oke, aku tunggu kamu pulang.”
Vita tersenyum, lalu ia keluar mengambil sepeda motornya, dan mengendarainya ke kantor. Aku melihat Vita sampai Vita tidak terlihat oleh mataku.
Siang ini, aku menunggu Vita pulang. Katanya jam satu dia pulangnya, karena ada meeting dadakan di kantor dengan para staf dan kepala divisi. Jadi ia terlambat, tapi sudah mau jam satu dia belum juga pulang?
Aku menunggunya di ruang tengah, aku hubungi dia, ponselnya juga tidak aktif. Mungkin dia belum selesai meeting atau sedang di jalan menuju ke rumah. Aku mendengar suara motor di halaman rumah, aku bergegas ke depan membukakan pintu, pasti itu Vita yang datang. Tapi ternyata bukan.
“Widih ... langsung sehat, Pak? Tahu nih Bu Nadira mau ke sini? Langsung deh gitu semangat!” ucap Heru.
“Ih kamu itu, ya? Ngapain pada ke sini?”
“Katanya kamu sakit? ya ke sini dong, Pak Dani?” jawab Pak Irsya. “Sekalian aku mau lihat istri Pak Dani yang cantik, kayak Song Hye-Kyu ... cantik sekali,” imbuhnya.
“Dia istri orang, gak level sama duda tua!” gurau Pak Roni.
“Ayo masuk, Vita belum pulang, aku malah mengira kalian ini Vita, dia pakai sepeda motor tadi berangkatnya, makanya aku nungguin, katanya jam satu mau pulang ini malah belum pulang?” jelasku.
“Ditungguin juga ternyata, aku kira kamu itu gak peduli sama istrimu, Dan?” ucap Pak Irsya.
__ADS_1
“Sudah ayo masuk, paling juga besok aku masuk kok,” ucapku. “Nad, ayo masuk, jangan di situ saja, gak kangen sama aku?” ucapku.
Entah kenapa aku jadi seperti ini. Melihat Nadira, aku malah ingin memeluknya. Apa karena aku masih sangat mencintainya, dan aku tidak rela melepaskan dia untuk menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya?
“Lan, masuk ayo? Ayo Bu Azizah, Bu Nia, masuk juga.” Aku mempersilakan mereka masuk ke dalam. Semuanya masuk, dan hanya Nadira yang masih menatapku dengan tatapan sendu.
“Kenapa sakit?” tanya Nadira dengan khawatir.
“Gak apa-apa, sakit biasa saja kok. Gak usah nangis,” ucapku sambil menyeka air matanya, lalu memeluknya.
“Aku kangen, aku sayang kamu, maafkan aku kemarin,” ucap Nadira.
“Iya, sudah jangan nangis, aku juga kangen, Nad.” Ucapku dengan memeluknya erat, lalu aku kecup keningnya. “Ayo masuk,” ajakku.
Aku masuk dengan merangkul Nadira. Sudah biasa sih aku melakukan itu di depan teman-temanku.
“Pasti cipika cipiki dulu nih orang?” ujar Pak Irsya. “Sudah lepaskan Bu Vita saja lah, Dan!”
“Husss ... jangan berisik!” tukasku. “Ayo, Nad, bantu aku bikin minum untuk mereka.” Aku ajak Nadira ke dapur untuk membuatkan minum.
Aku melihat Nadira yang sedang membuatkan teh. Aku peluk dirinya dari belakan. Aku memang kangen dengan dia. Jujur aku masih belum bisa melupakannya, melupakan semua tentang Nadira, tapi aku pun tidak bisa melepaskan Vita, karena aku sangat mengaguminya. Aku dilema di antar dua perempuan dalam hidupku.
“Jangan begini, aku susah ini lagi bikin minum?” ucap Nadira.
“Aku kangen.” Ucapku.
“Kamu sakit pasti karena aku?” tanya Nadira.
“Ya begitu, Nad.” Jawabku.
Setelah selesai, Nadira membawa teh ke depan, dan kami duduk bersisian. Aku tidak bisa melepaskan Nadira dari pelukanku. Aku peluk dia terus, aku kangen sekali dengannya, aku ciumi keningnya di depan teman-temanku, karena mereka sudah biasa melihatku seperti itu dengan Nadira.
“Aku pulang ....”
__ADS_1