Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Kado Istimewa Dari Suami


__ADS_3

Kami bersiap untuk berangkat ke Anyer. Mas Dani juga ikut bersama, karena aku memang butuh bantuannya untuk masalah ini. Bagaimana pun Mas Dani yang menggantikan papa, dan aku lihat satu minggu ini kerja Mas Dani cukup baik, perkembangannya cukup baik, jadi aku sudah yakin dia mampu menjalankan tugas yang ia emban sekarang.


“Sudah tidak ada yang ketinggalan, Vit?” tanya Mas Dani.


“Tidak ada sepertinya,” jawabku.


“Kita berangkat berdua, kan? Tidak dengan Firda, Tantri atau Arif?” tanya Mas Dani.


“Tantri pakai mobil kantor dengan yang lainnya, kalau Firda dan Arif, ya mereka berdua berangkatnya,” jawabku.


“Ya sudah let’s go!” ajak Mas Dani dengan semangat.


Kami berdua menikmati perjalanan. Mas Dani memutar musik, ia memutar lagu yang cukup romantis, yang sedang terkenal saat ini. Ia sesekali ikut menyanyi, dan cukup bagus suaranya. Aku hanya mendengarkan saja. Biar saja, sepertinya dia terlihat sedang bahagia sekali hari ini.


^^^


“Vita, bangun Vit?” Samar kudengar Mas Dani memanggil namaku.


“Astaga ... aku ketiduran ya, Mas?”


“Kamu tidur dari tadi, aku tahu kamu capek, semalam kamu lembur di kantor, di rumah pun kamu lanjut lembur,” ucap Mas Dani.


“Iya aku ngantuk sekali,” ucapku dengan menguap. “Ini sudah sampai?” tanyaku.


“Sudah, itu semuanya sudah pada sampai juga,” jawab Mas Dani.


“Apa aku tidur lama, Mas?”


“Ya lumayan, Vit,” jawabnya.


Aku turun dari mobil, Mas Dani mengajakku ikut gabung dengan yang lainnya. Kami memang sudah reservasi kamar jauh-jauh hari, jadi tinggal pembagian kamar saja. Semua itu diurus oleh Tantri.


“Bu Vita, ini kunci kamar ibu sama Pak Dani.” Tantri memberikan kunci kamar padaku.


“Kok sama Pak Dani? Bukannya yang laki-laki gabung sama laki-laki, perempuan sama perempuan?” ucapku.


“Ibu ini aneh, ibu sama Pak Dani kan suami istri? Kalau kami semua bukan suami istri ya kami pisah-pisah dong?”


“Kamu lupa kita suami-istri, Vit?” tanya Dani.


“Ah iya juga sih?”


“Vita ... Vita ... makanya jangan tidur mulu, tuh sampai matanya begitu?” ujar Arif.


“Masih muka bantal banget bos kita?” ucap Firda.


“Semalam aku lembur, tidur jam dua, pagi hari harus selesaikan lagi pekerjaan, siangnya siap-siap ke sini? Bagaimana aku gak kurang tidur, Fir?” protesku pada Firda.


“Ya sudah sana, Bu Vita istirahat dulu, semua pekerjaan serahkan pada kita semua, tenang saja, jangan khawatir, pokoknya ibu bangun, sudah selesai,” ucap Tantri.


“Iya sana istirahat, sekalian bulan madu boleh juga, kan?” ujar Firda.


“Enak ya mereka? Kita kapan, Fir?” ucap Arif.


“Kita? Lo aja kali!” tukas Firda.


“Kalian selalu ribut kalau bareng! Awas nanti cinlok lama-lama?” ujarku.


“Ya gak apa-apa sih kalau cinlok sama dia? Daripada aku mengharap milik orang?” ucap Arif.


“Siapa yang Pak Arif harapkan?” tanya Mas Dani.


“Biasa Pak Dani, jangan didengar ucapan dia, sering ngawur dia!” ujar Firda.


“Kami biasa bercanda Pak Dani. Sudah silakan kalian berdua istirahat,” ucap Arif.


Mas Dani membawa koper kami. Aku tidak menyangka saja Tantri malah menyewakan satu kamar untuk aku dan Mas Dani. Padahal aku sudah bilang dengan dia, aku sekamar sama dia dan Firda. Ini pasti kelakuan Firda yang sengaja biar aku satu kamar dengan Mas Dani.


Mas Dani membuka pintu kamar kami. Yang pertama aku lihat adalah tempat tidurnya, dan benar ini kamar  pasti yang memesankan Firda. Masa hanya satu tempat tidur? Padahal saat reservasi kemarin aku minta twin bed, artinya dua tempat tidur, bukan double bed gini? Masa iya harus tidur satu ranjang sama Mas Dani? Mana Sofanya kecil, mana mungkin Mas Dani tidur di sofa? Kasian dong badannya pasti sakit?


“Ini orang pesan kamar pasti salah, aku minta kan yang twin bed? Masa double bed gini? Fix ini ada yang salah!” ucapku.


“Kenapa Vit? Ya gak apa-apa lah semalam berbagi tempat tidur denganku?” ucap Mas Dani.

__ADS_1


“Ish ... gak bisa dong? Ingat mas, kamu sudah mau menceraikan aku! Aku tidak mau ada kejadian gak ngenakin kayak kemarin di kamarku!” tukasku kesal.


“Ya sudah aku pesan bed lagi deh, atau ganti kamar yang twin, aku keluar, aku bilang sama resepsionis,” ucap Mas Dani.


Aku hanya diam, aku kesal saja pada mereka yang begini? Mas Dani benar keluar dari kamar. Mungkin dia juga tidak nyaman kalau tidur satu ranjang denganku. Aku duduk di tepi ranjang, sambil menunggu Mas Dani kemabali, aku chat Firda, menanyakan kamarku kok tidak twin bed. Dan memang dia sengaja, dia yang pesan kamar untuk kami. Aku melihat Mas Dani kembali ke kamar, dia mendekatiku dan duduk di sebelahku.


“Bagaimana, bisa ganti kamar?” tanyaku.


“Gak bisa, Vit. Penuh kamarnya. Gimana?” jawabnya.


“Huh ... ya sudahlah!” tukasku.


“Ada sofa, aku tidur di sofa,” ucap Mas Dani.


“Sofanya kecil mas, gak apa-apa sesekali berbagi tempat tidur sama kamu lah,” ucapku.


“Aku gak akan macam-macam  Vit, tenang saja. Aku tahu batasannya kok,” ucap Mas Dani.


“Kalau sama aku ya tahu batasan, kalau sama pacarmu ya gak ya mas?” ucapku.


“Kamu sama dia beda, Vit. Kalau kamu ....”


“Iya jelas beda, aku tidak kamu harapkan, tidak kamu cintai, hanya dia yang kamu harapkan dan kamu cintai.” Aku memotong ucapan Mas Dani.


“Ya seperti itu, tapi bukan itu juga, Vit,” ucapnya.


“Lalu?”


“Karena kamu perempuan yang sulit aku tebak, kamu perempuan yang sulit untuk ditaklukkan!” ucapnya.


“Bagaimana mau menaklukkan? Cinta saja enggak? Iya, kan?”


Aku beranjak dari tempat tidur, aku mengambil koper milikku dan milik Mas Dani, dan menata baju kami ke dalam lemari. Meskipun di rumah kamar kami terpisah, tetap saja semua baju Mas Dani aku yang menatakan, dari hal sekecil apa pun, aku yang mempersiapkan, dia tidak bisa apa-apa, dia benar-benar anak mami, sampai menata baju dan menyiapkan baju saja tidak bisa, jangankan menata baju? Ambil baju di lemari saja berantakan sekali.


Mas Dani hanya diam dan memandangiku saja dari tadi. Sepertinya sejak tadi berangkat, Mas Dani sedang ingin membicarakan sesuatu padaku, tapi dia mengurungkannya lagi, lalu malah membahas lainnya. Entah apa yang akan dia bicarakan.


Aku kembali ke tempat tidur, mataku rasanya masih berat, aku memang harus tidur dulu, sebelum nanti malam briefing untuk persiapan besok sambil makan malam. Rasanya tubuhku memang butuh istirahat, pegal semuanya, karena seminggu ini aku sibuk.


“Kamu mau istirahat?” tanya Mas Dani.


^^^


Malam hari setelah selesai briefing, Mas Dani mengajakku duduk di dermaga, dia bilang dia ingin bicara sesuatu denganku. Entah mau bicara apa aku tidak tahu. Mungkin ingin bicara penting. Kami duduk di kursi yang ada di dermaga itu, saling berhadapan dan hanya bersekat meja yang ada di hadapan kita.


“Mau bicara apa, Mas?” tanya ku.


“Vit, kemarin aku sudah menemui pengacaraku,” ucapnya.


“Pengacara apa ya, Mas?”


“Untug mengurus perceraian kita,” jawabnya.


Deg ... cerai? Jadi benar dia mau menceraikan aku? Iya, memang harus begitu, daripada pernikahan ini tetap kami lanjutkan, tapi tidak ada cinta, yang ada hanya penderitaan batin yang kudapatkan.


“Oh iya, terus bagaimana?” jawabku dengan tenang, meski hatiku bergemuruh, karena menangis.


“Aku sudah ajukan, sejak tiga hari yang lalu, dan ini surat gugatannya, kalau kamu iya, kamu bisa tanda tangani,” ucapnya dengan memberikan surat gugatan yang ia keluarkan dari saku kemejanya.


Aku menerimanya dengan tangan bergetar. Tapi, aku coba baik-baik saja di depan Mas Dani. Aku buka amplop cokelat itu, dan aku buka surat gugatan itu, aku baca perlahan, dan tidak teras air mataku membasahi surat itu. Aku tahu ini mauku juga, tapi rasanya sakit sekali melihat surat gugatan yang Mas Dani berikan.


Apa ini yang terbaik? Apa aku bisa menambah kebohongan lagi selama pada kedua orang tuaku dan orang tua Mas Dani? Kami harus berbohong lagi selama proses perceraian, karena kami harus tetap terlihat seperti suami istri di depan mereka selama proses perceraian berlangsung, dan kami akan memberiahu mereka kalau sudah selesai urusan perceraian kami.


Secinta itukah kamu dengan Nadira, Mas? Hingga kamu benar-benar melakukan ini padaku? Dengan datanganya surat ini, maka aku sudah bukan istri Mas Dani lagi secara agama.


Aku menyeka air mataku, Mas Dani menggenggam tanganku, ia mengusap air mataku yang membasahi pipi.


“Maaf, Vit. Benar kata kamu, untuk apa kita melanjutkan semua ini? Kita tidak saling cinta, meski aku sudah mencoba untuk meneria pernikahan ini, aku terus mencoba untuk mencintaimu, Vit. Tapi, aku tidak bisa,” ucap Mas Dani.


“Iya, Mas. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Terima kasih sudah mau melepaskanku, dan membebaskanku,” ucapku dengan suara serak.


Aku tidak bisa membendung air mataku. Aku harus bagaimana, harus senang akan dilepaskan Mas Dani, atau harus sedih, karena usahaku untuk membuat Mas Dani jatuh cinta padaku tidak bisa?


Aku usap semua air mataku, aku harus baik-baik saja. Masa depanku setelah ini masih panjang. Aku tersenyum di depan Mas Dani. “Huh ... aku tanda tangani ya, Mas?” ucapku dengan membuka tutup pulpen yang aku bawa. Entah kenapa aku seperti sudah merasa mau diberikan surat gugatan, pulpen setelah briefing masih aku pegang saja.

__ADS_1


“Ini sudah aku tanda tangani, kapan sidang cerainya?” tanyaku.


“Nanti nunggu kabar ya, Vit. Kalau sudah ada undangannya, nanti aku kasih tahu ke kamu,” jawab Mas Dani.


“Oke, sudah jam dua belas lebih, balik ke kamar saja yuk? Besok pagi pasti kita sudah direpotkan untuk acara besok,” ajakku.


“Iya, kamu harus istirahat, biar besok bisa vit,” ucap Mas Dani.


“Mas, kamu harus benar-benar belajar soal perusahaan, ya? Aku titip sama kamu, bagaimana pun kamu yang akan meneruskan perusahaan papamu, Mas. Bukan aku. Aku ini Cuma orang lain, sedangkan kamu, kamu adalah anak dari pemilik perusahaan ini. Harusnya kamu bangga, lapangan kerjamu sudah tercipta sejak kamu baru lahir, tapi kalau kamu memang pengin menentukan masa depanmu, ya harus cari pengalaman baru? Namun, tidak boleh kamu meninggalkan apa yang sudah diwariskan kedua orang tuamu, apalagi kamu anak tunggal,” tuturku.


“Iya aku akan belajar lebih dalam lagi. Selama menunggu proses cerai selesai, aku masih bisa belajar tentang perusahaan denganmu kan, Vit?”


“Ya boleh, Mas. Apa yang ingin kamu tanyakan, dan ingin kamu pelajari, aku akan membantumu,” jawabku.


“Ya sudah, kita istirahat, sudah jam dua belas lebih. Ayo ke kamar,” ajak Mas Dani.


“Oke, tapi jangan macam-macam, ya? Kita bukan suami istri lagi di mata agama, kan mas udah jatuhin talak?” ucapku.


“Iya enggak, mana bisa aku macam-macam? Masih jadi suami kamu saja aku gak berani?” jawabnya.


“Ya sudah yuk,” ajakku.


Saat kami akan melangkahkan kaki untuk kembali ke kamar, Tantri, Firda, Arif, dan lainnya berdiri di depan kami, dengan membawa kue ulang tahun, dan lilin dengan angka yang menunjukkan umurku sekarang.


“Selamat ulang tahun, Vita ....” Ucap Firda dengan mendekatiku membawa kue ulang tahun.


“Ulang tahun? Astaga .... ini tanggal? Ah iya aku sampai lupa tanggal lahirku sendiri,” ucapku. Memang aku lupa, kalau hari ini adalah hari spesialku, hari ulang tahunku. Saking sibuknya aku sampai melupakan itu, padahal jauh-jauh hari sebelum even dimulai, aku ingat karena tanggal even sama dengan tanggal lahirku.


“Make a wish dulu, Sayang ...,” ucap Firda.


Aku memejamkan mataku. Aku layangkan doa dan harapan yang baik di tahun ini, di hari ini, di mana hari ini umurku makin berkurang satu, dan hari ini juga aku mendapatkan kado terindah dari suamiku, yang tak lain adalah surat gugatan cerai. Jika perpisahan memang itu yang terbaik, pisahkan kami dengan sebaik-baiknya perpisahan. Jika memang harus bersama, bukakan pintu hati Mas Dani untuk bisa menerimaku, mencintaiku, dan menyayangiku, serta ia bisa melupakan masa lalunnya dengan Nadira. Hanya itu doaku. Aku buka mataku, aku tiup lilin, dan kupeluk Firda. Aku menangis dipelukan Firda, meratapi nasibku malam ini. Di hari ulang tahunku, aku mendapatkan kado istimewa dari suamiku.


“Kenapa, kok nangis?” Firda mengusap punggungku. Aku benar-benar tidak bisa membendung air mataku saat ini. “Vit? Kenapa?”


“Thank’s ya? Kamu selalu ingat, tapi malam ini kamu bukan yang pertama lagi yang ngucapin, sudah ada Mas Dani,” ucapku dengan tersenyum.


“Jadi kamu nangis karena ini? Karena aku bukan orang yang pertama lagi ngucapin selamat ulang tahun ke kamu?”


“Iya, Fir ....” ucapku sambil memeluk Firda lagi.


Bukan, bukan itu sebab aku menangis. Aku menangis karena hatiku sakit, hidupku hancur, aku tidak tahu lagi ke mana sakit ini akan kubawa pergi. Aku peluk erat Firda. Aku yakin dia tahu, bukan karena itu aku menangis, Firda memang selalu peka denganku.


“Sudah, jangan nangis, sudah dong, aku saja tidak apa-apa kamu sudah ada yang pertama ngucapin, kamu malah mewek,” ucap Firda dengan mengusap air mataku. “Ini kado buat kamu.” Firda memberikan paperbag padaku, selalu begini kalau aku ulang tahun, dia yang pertama kalinya mengucapkan, tapi aku bilang pada semuanya, kalau Mas Dani yang mengucapkannya lebih dulu, padahal bukan mengucapkan, tapi memberikan surat gugatan cerai.


“Selamat ulang tahun ya, Vit? Doa terbaik untukmu. Aku juga ikut turun pangkat nih, jadi yang ketiga orang yang ngucapin ke kamu,” ucap Arif dengan memberikanku kotak berwarna biru muda.


“Kamu bisa saja, Rif? Terima kasih, ini apa isinya?” tanyaku.


“Buka nanti saja,” jawab Arif.


“Oke, sekali lagi makasih, Rif,” ucapku.


“Bu Vita ... selamat ulang tahun ....” Aku dipeluk Tantri dan karyawan perempuan lainnya. Semua memelukku, mereka adalah kekuatanku saat ini.


“Iya terima kasih,” jawabku.


Aku pamit kembali ke kamar, dan aku juga meminta mereka untuk istirahat, karena besok acaranya akan padat sampai sore. Aku berjalan di sisi Mas Dani. Dia hanya diam dari tadi setelah semua mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Mungkin Mas Dani tidak ingat ulang tahunku, atau memang tidak tahu sama sekali, karena bagaimana pun dia tidak pernah mau tahu tentang aku. Jangankan tanggal lahirku, bagaimana perasaanku saja dia tidak mau tahu.


“Selamat ya, Vit? Aku tidak tahu kalau kamu hari ini ulang tahun,” ucap Mas Dani.


“Iya, Mas. Terima kasih,” jawabku. “Terima kasih juga kadonya,” imbuhku.


“Kado? Kado yang mana, Vit?” tanya Mas Dani.


“Ini, ini adalah kado yang bersejarah dalam hidupku, Mas,” jawabku.


Mas Dani tercenung menatap aku mengeluarkan surat gugatan itu lagi dari saku bajuku. Untung saja tadi saat Firda, Arif, Tantri, dan lainnya menghampiriku aku sudah menyimpan surat itu di saku bajuku.


“Satu tahun lalu, kado terindahku adalah cincin ini. Cincin yang mama sematkan di jari manisku saat melamarku untuk kamu. Dan, dua bulan setelah itu, aku dapat cincin ini, sebagai bukti bahwa statusku berubah menjadi seorang istrimu. Cincin yang kamu sematkan di jari manisku saat kita selesai akad. Di tahun ini, semuanya berubah. Aku mendapatkan kado ini, kado yang sangat bersejarah dalam hidupku, lalu mungkin dua bulan lagi, aku akan mendapatkan status baruku, menjadi seorang janda, janda kembang yang tak pernah disentuh oleh suamiku,” ucapku dengan tersenyum miris.


“Kadang aku pikir, dunia ini tidak adil bagiku. Aku ingin bebas masa remajaku, merajut mimpi sesuai dengan apa yang aku impikan, tapi kenyataannya aku tidak bisa meraihnya, aku terlalu menurut dengan orang tuaku, karena aku yakin pilihan orang tuaku itu lebih baik, tidak akan menyesatkan diriku. Dan inilah pilihan orang tuaku,” ucapku lalu berjalan lebih cepat mendahului Mas Dani.


Aku berjalan sambil menyeka air mataku yang tak kunjung berhenti, malah semakin daras, terus membasahi pipi. Aku masuk ke dalam kamar, kuletakkan kado-kado yang kubawa dari Firda dan lainnya, dan aku langsung ke kamar mandi.

__ADS_1


Aku selesaikan tangisanku, aku pun akan selesaikan rasa sakit ini hingga tuntas. Ini sungguh diluar dugaanku, aku mendapatkan kado istimewa dari suamiku. Surat gugatan cerai, dan aku tidak tahu kalau Mas Dani akan memberikan itu secepat ini. ia tidak bilang jauh-jauh hari kalau dia sudah menemui pengacara, untuk mengajukan gugatan cerai. Aku kira dia akan mengurus minggu depan atau bulan depan setelah selesai event, ternyata malam ini Mas Dani memberiku gugatan cerai, dan aku menandatanganinya.


__ADS_2