
Malam ini aku tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah urusan dari pengadilan selesai, dan aku dan Mas Dani sudah konsultasi dengan pemuka agama, kami dinyatakan sah menjadi suami istri. Dari tadi Mas Dani tidak mau lepas dariku. Aku ke belakang dia membuntutiku, aku sedang beres-beres sisa makanan setelah makan malam, dia pun ikut membantu, dia menunggu aku sampai selesai aku mencuci piring. Aku benar-benar sedang dibuntuti sama anak kecil yang tidak mau kehilangan ibunya.
Aku masuk ke kamar, aku sebetulnya sudah pengin rebahan, badanku capek sekali, apalagi seharian mengurus ke pengadilan, sampai menemui pemuka agama, dan untungnya bisa diselesaikan hari ini juga. Aku lihat Mas Dani mengikutiku masuk ke kamarku.
“Mas ... kok buntutin terus dari tadi? Aku mau pup, mau ikut? Mules nih!” ucapku. Padahal aku hanya mau ke kamar mandi saja, menenangkan detak jantungku yang tidak karuan. Aku tahu Mas Dani ngikutin aku ya pengin mesra-mesraan, tapi aku takut sendiri.
“Ya sudah sana, pup dulu. Nanti tidur satu kamar, kan?”
“Ih enggak, lah! Tetap sendiri-sendir!” jawabku.
“Vit ... kok gitu? Kan kita masih suami istri?”
“Mas ini udah tahu kok tanya sih? Sudah ah aku mules, Mas!” Aku langsung masuk ke kamar mandi. Aku langsung mengunci pintu kamar mandi dan menyandarkan tubuhku di pintu. Rasanya tidak keruan sekali. Entah kenapa mendadak tremor saat Mas Dani bertanya haru tidur satu kamar malam ini.
Tadi di mobil saja kami seperti itu, apalagi di dalam kamar? Oh Tuhan ... siapkah aku menyerahkan semuanya untuk Mas Dani? Orang yang aku cintai, dan dia adalah suamiku? Aku takut, aku tidak sempurna memberikannya. Baru pertama kalinya aku begini, aku harus bagaimana?
Sudah lama aku di kamar mandi, memikirkan bagaimana nanti di dalam kamar, di atas ranjang, dan ada Mas Dani yang mungkin akan memelukku, menciumku, dan melucuti semua pakaianku. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana nanti. Aku belum siap, benar-benar belum siap untuk malam ini. Tapi, kenapa waktu Mas Dani masih cuek dulu aku malah berani pakai pakaian seksi? Padahal dia tidak melirikku sama sekali, tapi aku dengen percaya diri memakainya. Menantikan Mas Dani menyentuhku, membuka gaun seksiku itu. Sekarang, malah aku katakutan sendiri, aku takut sekali kalau Mas Dani melakukannya malam ini, aku belum siap. Tapi, siap tidak siap aku harus melakukannya kalau Mas Dani mau.
“Vita ... kamu pup lama sekali? Kamu gak pingsan, kan? Kamu gak kenapa-napa?” tanya Mas Dani dari luar.
“Ah ... iya, Mas! Aku gak apa-apa, kok. Sebentar lagi!” teriakku sambil mengguyur kloset, supaya tahu kalau aku sedang pup.
Aku mengusap dadaku, meredakan rasa gugupku, lalu aku keluar dari kamar mandi. Aku melihat lampu kamar sudah temaram, diganti lampu tidur. Dan, entah dari mana asalnya, ada bunga mawar putih dan mawar merah di atas tempat tidur. Di atas tempat tidur juga banyak sekali kelopak mawar merah dan putih, dan di lantai Mas Dani menyalakan beberapa lilin yang ia tata menjadi simbol cinta.
“I—ini apa, Mas?” tanyaku gugup.
“Sini, Sayang.” Mas Dani meraih tanganku, lalu memeluknya. “I Love You.” Bisiknya lalu mencium bibirku dengan lembut.
“Love you more ....” Balasku, lalu aku memberanikan diri mencium bibir Mas Dani lebih dulu.
“Pakai cincinnya lagi, ya?” Mas Dani memberikan cincin yang sempat aku kembalikan saat itu. “Sini jarinya.” Mas Dani menyematkan cincin itu lagi di jari manisku. “Kamu milikku selamanya, Revita Adriana,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Bibir kami saling bertaut lagi. Semakin dalam, dan aku semakin tidak mau melepaskannya. Aku mengimbangi pagutan Mas Dani, hingga kecapan bibir kami terdengar merdu, mengusik sepinya malam ini. Mas Dani membawaku ke atas tempat tidur. Mas Dani merebahkanku di atas tempat tidur. Dia menindih tubuhku dan masih memagut bibirku dengan penuh gai rah.
“Aku ingin melakukan percintaan kita dengan sempurna, Sayang?” Bisik Mas Dani, lalu tangannya mencari kancing piyamaku dan melepaskannya satu persatu.
Ya Tuhan, begini rasanya setengan badanku terbuka di depan laki-laki. Aku malu, aku masih memejamkan mataku, saat Mas Dani mencari pengait penutup dadaku, lalu melepaskannya.
Aku reflek menutup dadaku dengan kedua tanganku, seperti takut akan disentuh, padahal yang akan menyentuhnya adalah suamiku sendiri.
“Kenapa?” tanya Mas Dani dengan tetapan penuh gairah, wajahnya tampan, yang membuatku semakin jatuh cinta.
“Malu ....” Ucapku dengan menyembunyikan wajahku.
“Kenapa malu? Aku ini suamimu, Sayang?” ucap Mas Dani. “Jangan malu, ya? Aku akan membuatmu nyaman, dan aku akan menjagamu sampai sisa akhir hidupku, setelah aku tunaikan semua kewajibanku padamu, kamu adalah milikku satu-satunya, Sayang,” ucapnya.
Aku menyerah, setelah merasakan sentuhan lembut tangan Mas Dani ke sekujur tubuhku. Benar-benar aku menyerah. Membiarkan Mas Dani bermain dengan puas. Aku tidak menyangka tubuhku dan Mas Dani sudah sama-sama polos. Aku sama sekali tidak bisa menolak, aku pasrah di bawah kungkungan tubuh kekar Mas Dani yang selama ini hanya aku lihat sekilas saja. Sekarang tubuh kekar itu berada di atasku dengan begitu memesona.
“Boleh aku melakukannya sekarang, Vit?”
“Lakukanlah, Mas. Aku milikmu malam ini.” Bisikku dengan menahan gelora yang sudah ingin aku salurkan.
Mas Dani begitu piawai memainkan gairahku. Sampai-sampai tubuhku dibuat menegang, meminta sesuatu yang lebih pada Mas Dani. Paham dengan apa yang aku inginkan, Mas Dani terus memberikan sentuhan yang membuat aku semakin bergairah. ******* pertamaku lolos dengan lirih, menandakan aku menikmati apa yang Mas Dani lakukan.
“Aku mencintaimu, Vita ....”
“Aku juga mencintaimu, Mas.”
Dengan perlahan Mas Dani bersiap untuk melakukan penyatuan denganku. Sesuatu yang baru aku kenal dan baru aku rasakan mendarat sempura di tempatnya. Dengan perlahan dan pasti, Mas Dani melakukan penyatuannya dengan lembut, sambil memagut bibirku dengan lembut.
Sebuah penyatuan sempurna yang aku nantikan sudah cukup lama, akhirnya malam ini kami sama-sama menunaikan kewajiban yang tertunda hampir satu tahun pernikahan kami. Melalui banyak lika-liku menyedihkan, melewati jalan terjal nan berliku, juga berbatu. Malam ini kami melakukan penyatuan yang sangat sempurna, hingga aku rasakan sesuatu penuh pada pusat penyatuan kami. Sakit, perih, tapi setelahnya yang aku rasakan sungguh nikmat tiada tara yang belum pernah aku rasakan. Aku mencengkeram keras punggung Mas Dani, karena merasakan sakit yang baru pernah aku rasakan pertama kalinya.
__ADS_1
Benih cinta Mas Dani semuanya tertanam di rahimku. Aku merasakan penyatuan kami semakin panas saat Mas Dani menumpahkan benih cintanya dengan penuh gairah, dan aku pun menyambutnya dengan penuh gairah saat melakukan puncak penyatuan kami.
Kami sama-sama terkulai lemas, setelah melakukan penyatuan penuh cinta dan gairah. Aku masih memeluk Mas Dani, perlahan cengkeramanku aku lepas. Aku yakin punggung Mas Dani luka karena aku mencengkeramnya cukup kuat.
“Makasih, Sayang?” ucap Mas Dani, lalu menghujani wajahku dengan ciumannya.
“Sama-sama. Maaf, sepertiny punggung Mas terluka, aku mencengkramnya terlalu keras,” ucapku.
“Tidak apa-apa. Cengkeraman milikmu lebih kuat daripada cengkeraman tanganmu, Sayang.”
“Apaan sih, gak jelas banget!” ucapku dengan memukul lirih dadanya.
“Mandi yuk. Nih keringatnya banyak sekali,” ajak Mas Dani. “Padahal suhu AC sudah aku atur paling dingin.”
“Kamu terlalu panas, Mas.”
“Kamu yang buat aku kepanasan, Vit,” ucapnya. “Jangan tinggalkan aku ya, Vit?”
“Harusnya aku yang bilang gitu? Bukan mas. Aku malah takut mas yang meninggalkanku,” jawabku.
“Gak akan, Sayang ... Aku janji. Ayo mandi, terus tidur, terus nanti lanjutkan lagi,” ajak Mas Dani.
“Mas mau lagi?” tanyaku.
“Iya mau lagi.”
“Tapi jangan sakit-sakit, Mas. Tadi sakit sekali.”
“Kan baru pertama, Sayang?” ucap Mas Dani.
Aku digendong Mas Dani ke kamar mandi, karena pangkal pahaku sakit sekali untuk berjalan. Rasanya kakiku juga lemas, seperti tidak ada tulangnya.
“Mas, sini aku taruh keranjang. Besok aku cuci, itu ada darahnya,” pintaku.
“Jangan. Jangan dicuci, mau aku simpan sprei ini. Biar nanti kering dulu darahnya, lalu baru dicuci. Biar saja buat kenang-kenangan, kalau ini darah perawan istriku,” ucap Mas Dani dengan terkekeh, yang membuatku malu.
“Ih Mas ini aneh sekali!” ucapku.
“Biar saja, buat kenang-kenangan, Sayang? Sebentar aku ambil sprei, di mana kamu naruhnya?” tanya Mas Dani.
“Itu di lemari bagian bawah, ambil saja yang paling atas, Mas,” jawabku. “Hati-hati ya, Sayang? Jangan diberantakin.”
“Oke, cintaku,” jawabnya.
Oke, tidak berantakan. Dan, aku tidak menyangka Mas Dani juga menata sprei dengan cukup rapi. Padahal biasanya dia tidak bisa menata tempat tidur.
“Ayo istirahat,” ajak Mas Dani.
Aku beranjak ke tempat tidur dengan perlahan, karena kakiku masih terasa sakit. Mas Dani memeluku, mengusap kepalaku lalu menciumiku. Dan ... terjadi lagi penyatuan kedua kami. Dilanjutkan yang ketiga dan keempat. Tidak ada gunanya mandi, kalau Mas Dani minta lagi, dan lagi. Aku pun juga menginginkannya lagi.
Kami selesai hingga pukul dua dini hari. Kami yang lelah dan mengantuk, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi dan melanjutkannya besok lagi.
^^^
Pagi harinya, aku benar-benar kecapean. Kakiku sakit, lemas sekali. Sampai Mas Dani yang menyiapkan sarapan, dan akhirnya kami sarapan di kamar, karena aku kesusahn untuk berjalan.
“Maaf, kamu jadi kesakitan gini,” ucap Mas Dani.
“Gak apa-apa nanti juga sembuh,” jawabku.
“Jangan ke kantor dulu, ya? Aku juga izin tidak ke sekolah. Dan, aku rasa aku ingin pensiun dini, Vit.”
__ADS_1
“Kenapa harus pensiun dini? Itu kan impianmu? Jangan pupuskan impianmu, Mas. Aku akan mendukung apa yang terbaik untuk mas. Karena mas kan suamiku,” ucapku.
“Kamu tidak apa-apa kalau aku masih tetap mengajar?” tanya Mas Dani.
“Ya gak apa-apa? Masa suami punya pekerjaan mulia aku melarang?” jawabku.
“Terima kasih ya, Sayang?”
“Iya sama-sama ... kita itu harus sama-sama saling mendukung dalam kebaikan. Jalani apa yang kamu rasa itu baik, tinggal yang buruknya. Hidup kita akan nyaman kalau begitu, Mas,” ucapku.
“Kamu memang yang terbaik, Sayang. Ya sudah aku mau izin dulu, kalau aku tidak berangkat hari ini, kamu juga bilang sama Tantri atau papa, kalau kamu dan aku gak bisa ke kantor hari ini.”
“Iya ini aku mau telefon papa.” Ucapku. “Eh ... malah ini papa telefon? Aku angkat sebentar, ya?” Mas Dani menganggukan kepalanya. Aku sengaja loudspeaker biar Mas Dani mendengarnya.
“Iya, Pa gimana?” tanyaku.
“Vit, kamu bisa ke kantor? Kamu ajak Dani juga, telefon dia, ada kepentinga, Vit,” pinta papa.
“Ehm ... malah Vita mau izin, Pa.”
“Kenapa, Vit? Kamu sakit?” tanya Papa.
“Pa, ada perlu apa sih? Vita lagi sakit, Pa!” ucap Mas Dani.
“Sakit apa? Kamu sama Vita?”
“Kan kami memang masih tinggal serumah, Pa?”
“Kalian itu mau cerai masih tinggal berdua?”
“Ya memang begitu?” jawab Mas Dani.
“Itu Vita sakit apa, Dan?”
“Kakinya sakit, Pa. Gak bisa buat jalan katanya. Jalannya susah,” jawab Mas Dani. “Mas ....!” pekikku lirih.
“Habis jatuh atau bagaimana?” tanya papa panik.
“Gak apa-apa, habis keple ....”
“Habis pertama kali, Pa. Papa pasti tahu lah ya? Kalau pertama kali kan sakit sampai gak bisa jalan?” serobot Mas Dani.
“I—ini maksud kamu apa, Dani? Pertama kali sakit? Itu kamu ngapain sama Vita? Kalian mau cerai malah main-main!” cetus papa.
“Tenang, Pa ... tenang ... kami sudah rujuk kok, Pa, kami gak jadi cerai, jadi aku akan buatkan papa dan mama cucu banyak, biar rame,” ucap Mas Dani yang membuat aku malu.
“Ah ... ya sudah kalau gitu, kalian bersenang-senang saja. Biar nanti papa minta bantuan Arif dan Firda,” ucap Papa.
“Ya sudah, Pa. Jangan ganggu ya, Pa? Kita mau lanjut lagi.”
“Terserah kamu, Dani. Yang penting kasih papa cucu perempuan sama laki-laki!” pinta papa.
“Iya, nanti aku kasih perempuan enam, laki-laki enam!” Jawab Mas Dani.
“Kamu mau menyiksa Vita? Dua anak lebih baik. Atau empat deh banyak-banyak nya, jangan Cuma satu, nanti malah bandel seperti kamu!”
“Iya nanti bikin empat, ya sudah Pa. Nanti Dani ke rumah papa, kalau sudah selesai,” ucap Mas Dani.
Mas Dani mengakhiri telefonnya. Ada-ada saja Mas Dani ini. Aku jadi malu dengan papa. Pasti papa heboh sama mama. Belum juga nanti pasti bilang ibu sama ayah. Sejak aku memutuskan pisah, ibu dan ayah ada urusan ke luar kota dengan kedua kakakku, jadi ibu dan ayah tidak tahu kalau selama ini aku tinggal di rumah Mas Dani lagi, dan sampai aku rujuk pun ibu dan ayah tidak tahu.
Hari ini aku seperti diratukan oleh Mas Dani. Aku gak boleh turun dari tempat tidur, bahkan aku mau pipis pun, Mas Dani menggendongnya ke kamar mandi. Mas Dani yang memasak, yang menyapu, ngepel, dan bersih-bersih lainnya. Aku duduk manis sambil mengecek pekerjaanku saja di kamar. Kalau aku jenuh aku paling mainan ponselku atau tidur. Mas Dani tidak mengajakku melakukannya lagi, katanya menunggu aku tidak sakit lagi.
__ADS_1