Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Lagi Ada Maunya


__ADS_3

Aku masih melihat Mas Dani duduk di kursi yang ada di lobi kantorku. Aku kira dia akan pulang, ternyata belum balik ke sekolahan.


“Gak jadi sama aku kan, Vit?” tanya Firda. “Tuh suaminya nungguin. Tumben sih dia mau antar kamu?”


“Orang lagi ada maunya, ya begitu Fir,” jawabku,


“Semalam Vita sedang meeting saja disusul kok Fir,” ujar Arif.


“Hmm ... sepertinya sudah ada perubahan nih?” ledek Firda.


“Perubahan apa, Fir?” tanya  Arif yang penasaran.


“Ya gitu, Rif. Biasanya aku pakai mobil sendiri, kalau meeting smapai malam pun aku tidak pernah di jemput. Ya mungkin dia khawatir, semalam kan aku tidur sampai malam, dia tidak memperbolehkan aku nyetir sendiri,” Jelasku.


Arif memang tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah tanggaku yang tidak baik-baik saja. Aku tidak mau orang lain tahu, hanya Firda yang tahu, orang yang sangat aku percaya. Orang tuaku dan orang tua Mas Dani saja tidak tahu masalah ini. Apalagi tahu Mas Dani yang akan memperdalam mempelajari perusahaan hanya untuk mendapat restu  menikahi Nadira, dan supaya saat menceraikanku, sudah ada Mas Dani yang sudah mengerti perusahaan.


“Ya sudah, Fir, Rif, aku duluan, ya?” pamitku.


Aku berjalan mendekati Mas Dani yang sedang membaca surat kabar. Aku duduk di sebelahnya, “yuk sudah mau jam sembilan,” ajakku.


“Sudah selesai?” tanya Mas Dani.


“Sudah,” jawabku singkat.


“Nanti malam jadi makan malam sama papa, kan?”


“Iya jadi, kenapa? Kamu ada janji dengan kekasihmu?”

__ADS_1


“Enggak, aku pengin bicara sama papa saja, kalau aku akan belajar soal perusahaan. Aku ingin papa tahu kalau aku sudah mau belajar perusahaan,” ucap Mas Dani.


“Terus mau bilang juga gak, tujuan kamu mempelajari soal peusahaan? Misal karena mau bercerai denganku, lalu menikahi Nadira?” ucapku.


“Ka—kalau itu, aku belum berani, mungkin kalau nanti aku sudah bisa membuat papa percaya kalau aku bisa. Kalau sekarang aku bilang, namanyan cari mati dong, Vit?”


“Ya kali saja sekalian bilang, aku akan bantu kamu bilang soal itu,” ucapku.


“Ya jangan, Vit!” tukas Mas Dani.


“Kenapa masih takut?” ejekku.


Aku diam sesekali melirik suamiku yang sedang fokus menyetir. Dia memang begitu tampan. Mungkin orang di luar sana mengira aku beruntung mendapat suami seperti Mas Dani. Pria tampan, kaya raya, sempurna, ramah, bijaksana,  itu di mata mereka yang tidak tahu sikap Mas Dani. Ya mungkin memang itu sikapnya, tapi denganku yang tidak dicintai, mana bisa dia bersikap baik padaku? Jadi yang terlihat di mataku, Mas Dani tidak ada baik-baiknya. Dia egois, keras kepala, pemarah, pemalas, manja, tidak bisa mengurus dirinya sendiri kalau tidak diladenin. Mungkin karena anak satu-satunya, jadi sampai dewasa dia dimanja.


Mas Dani memang bergantung dengan asisten pribadinya sejak kecil. Ia bergantung pada Mbok Sum, apalagi mama sibuk dengan kantor, jadi semua kebutuhan Mas Dani, yang mempersiapkan Mbok Sum. Itulah sebabnya, Mas Dani tidak bisa apa-apa. Ambil baju saja berantakan. Jangankan ambil baju, menaruh baju kotor di ranjang saja tidak bisa? Untung aku bisa semuanya, dan aku orang yang tidak suka sesuatu yang berantakan dan kotor.


“Bukan masih takut, Vit. Belum saatnya saja,” jawab Mas Dani.


“Ya aku juga menjaga hati mama dan papa, meski aku begini sangat tertekan dengan keputusannya. Aku sudah mengecewakan mama dan papa karena tidak mau mengikuti jejak mereka, jadi aku harus menuruti mereka soal perjodohan ini, meski aku benci sekali, menikah tidak dengan orang yang kucinta,” jelasnya.


“Kenapa tidak menolak? Kalau menolak kan aku bisa bebas, hidup semauku, mau apa juga tidak terkekang begini?”


“Aku kira kamu senang menikah dengan aku? Dapat mertua yang baik, dapat perusahaan, jabatan tinggi?”


“Semua tidak ada artinya, aku wanita biasa yang memimpikan pernikahan yang hangat dan indah layaknya pasangangan suami yang di luar sana. Tapi, impian itu musnah, saat pria yang menikah denganku, sama sekali tidak menginginkanku. Ya aku tahu, namanya juga dijodohkan, tapi banyak yang dijodohkan langsung bisa saling cinta, hidup bahagia, keluarga hangat, dan harmonis. Tapi, ada juga yan seperti kita, lalu berujung pisah. Dan kita memang sudah merencanakan itu bukan?” ucapku.


“Ya mau bagaimana lagi, Vit? Aku sudah bilang  sama kamu dari awal, aku tidak mencintaimu, dan aku tidak akan menyentuhmu,” ucap Mas Dani.

__ADS_1


Ucapannya begitu menohok. Tapi, memang sudah setelannya seperti itu. Setelannya tidak berperikemanusiaan. Biar saja terserah dia. Aku akan buktikan kamu akan jatuh cinta denganku, aku yakin itu.


^^^


Malam ini kami kembali ke rumah mama. Sudah jelas kami pasti menginap. Setiap malam sabtu kami menginap di rumah mama. Dan malam minggu kami pulang, karena Mas Dani mau jalan dengan Nadira. Heran saja, dia sama sekali tidak menghargaiku. Harusnya dia belajar menghargai dan menghormatiku. Dia seorang suami, meski tidak cinta apa tidak bisa belajar mencintai? Bagaimana mau cinta, kalau tidak mau belajar?


“Papa senang, mendengar kamu akan balajar perusahaan. Kalau bisa sih besok senin, setelah pulang mengajar, kamu ke kantor, temui papa di sana. Papa akan beri kamu jabatan di sana, lalu kamu belajar dengan Vita,” ujar Papa.


“Apa aku bisa, Pa?”


“Kamu ini niat mau belajar tidak? Kalau mau ya pasti bisa!” jawab papa tegas.


“Iya juga sih, jadi senin aku mulai ke kantor?”


“Iya, ke kantor saja, papa senin sehari di sana, papa sedang urus proyek baru dengan Vita,” jawab papa.


“Gitu dong, Dan? Kenapa gak dari dulu kamu belajar?” ucap Mama.


“Ya baru pengin sekarang, Ma,” jawab Mas Dani.


Itu saja ada maunya, kok? Coba saja kalau tidak ada niatan mau memperjuangkan hubungannya dengan Nadira, dan ingin pisah dariku, ya dia tidak akan seantusias itu belajarnya? Biar saja, semoga dengan seperti ini, Mas Dani bisa lebih dekat denganku, dan perlahan menjauhi Nadira. Meski tujuan Mas Dani tidak baik, semoga semua ini menjadi awal yang baik untuk rumah tanggaku.


“Kalian malam ini menginap, kan?” tanya mama.


“Ma, besok Dani ada rapat, jadi malam ini gak bisa menginap,” jawab Mas Dani. “Minggu depan ya, Ma?” imbuhnya.


“Ya sudah tidak apa-apa, sekalian saja biar minggu depan mama ajak Vita ke Salon, terus mama juga mau ajak kamu arisan. Mau kan, Vit?” tanya mama.

__ADS_1


“Iya, Ma. Vita minggu depan juga tidak ada acara kok,” jawabku.


Padahal aku malas kalau kumpul dengan teman arisan mama, apalagi tanyanya selalu cucu. Kok belum ada cucu jeng? Aku sudah dua lho cucunya? Kapan hamil? Mau satu tahun kok belum hamil? Pertanyaan menyebalkan itu selalu menjejali telingaku. Tapi, kalau habis arisan, pasti mama ajak aku ke mall, ke salon, jadi aku bisa fresh lagi pikirannya, dan tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan teman arisan mama lagi.


__ADS_2