
Aku akui, Mas Dani memang pintar, pekerjaan yang sudah selesai, sama sekali tidak ada revisi apa pun. Hanya bebrapa yang belum ia kerjakan karena tidak paham dan memang belum aku jelaskan soal itu.
“Terniat sekali! Good job, Pak Dani! Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu direvisi. Tinggal ini, saya ajari sini,” ucapku.
Bagaimana dia tidak niat? Semua ini kan untuk Nadira? Orang yang sangat ia cintai, wajar kalau dia dengan cepat menyerap semua ilmu yang baru aku ajarkan. Aku mengajarinya lagi, menerangkannya dengan perlahan supaya dia memahaminya.,
Aku menjelaskannya panjang kali lebar, tapi Mas Dani hanya diam saja, tidak menjawab, tidak bertanya, tidak bicara. Aku meliriknya. Aku kira dia diam saja karena sedang memahami dan mendengarkan apa yang sedang aku jelaskan, tapi dia malah menatap lekat wajahku.
Tuhan, sungguh indah cipataan-Mu yang sekarang tepat berada di depanku, dan sedang menatapku lekat. Dia begitu tampan sekali.
Demi apa jantungku berdendang saat Mas Dani menatapku seperti itu. Tapi aku sadar, dia mungkin hanya menatap saja, tidak mungkin dia suka, atau bahkan jatuh cinta. Jangan berharap yang berlebihan dan belum pasti Vita.
“Mas Dani? Hei ... paham tidak?” tanyaku, tapi dia masih menatapku lekat. “Mas, paham tidak?” ulangku, tapi masih tetap saja Mas Dani dalam posisinya.
“Ahww ....” Pekik Mas Dani lirih saat aku menjentikkan jariku ke keningnya.
“Makanya kalau aku sedang menjelaskan, lihat ke sini, bukan lihatnya aku! Kau seperti baru melihat orang cantik ya, Mas!” ucapku dengan pede, dan tersenyum puas melihat Mas Dani kesakitan menyentuh keningnya.
“Tapi jangan gitu juga kali, Vit? Sakit tahu!” ucapnya.
“Gatian dong! Tadi juga kamu gitu?” protesku. “Sudah kembali ke jalan yang benar. Kerjakan semua ini, sekarang!” titahku.
“Aku belum paham, Vit.”
“Aku sudah capek jelasinnya, Mas. Kamu malah gak serius!”
“Kamu cepat-cepat jelasinnya sih,” jawabnya.
“Sudah kerjakan dulu, aku lihatin, kalau ada yang salah aku betulkan,” ucapku.
Mas Dani dengan serius mengerjakannya. Aku melihat dia memang sungguh-sungguh ingin belajar. Ada rasa senang dia mau meneruskan jejak papa, tapi dengan seperti ini berarti aku akan kehilangan dia. Selamanya. Karena setelah dia menguasai semuanya. Aku akan melepaskan semua tanggung jawabku, termasuk selesai menjadi istrinya.
Biarlah, aku tidak mempermasalahkan semua itu. Yang penting, aku sudah memberikan yang terbaik untuk Mas Dani. Aku sudah bersikap baik selama menjadi istrinya.
“Mas sebentar ini ada yang kurang pas. Sebentar aku ambil pulpen.” Aku meraih pulpen yang ada di sebelah Mas Dani, pun Mas Dani, jadi tangan kami bergenggaman.
“Ih Mas Dani ...,” ucapku.
__ADS_1
“Maaf, aku gak sengaja,” ucapnya.
“Okay, gak masalah. Yuk lanjut lagi, ini lho seperti ini yang benar,” tuturku.
“Oke, thanks, Vit,” jawabnya. Dan Mas Dani kembali mengerjakannya.
Aku duduk di sebelahnya. Dia sibuk mengerjakan semuanya. Aku lihat dia serius sekali, dan aku yakin dia melupakan makan siangnya, karena dari tadi aku mendengar perutnya berbunyi.
“Ini sudah Vit,” ucapnya.
“Iya aku teliti nanti. Ayo kamu ikut aku sebenter mas,” ajakku.
Aku mengajak dia makan siang lebih dulu. Makan siang yang sudah bukan lagi jadwal makan siang, karena ini sudhah jam empat lebih.
“Ini mau ke mana, Vit?” tanya Mas Dani.
“Kamu jangan menyiksa dirimu sendiri kalau mau berjuang seperti ini mas!” jawabku.
“Maksudmu?” tanya Mas Dani kebingungan.
“Kamu belum makan siang?” tanyaku.
“Perutmu dari tadi bunyi. Kita makan dulu ke depan. Kerja itu gak boleh kosong perutnya, nanti gak konsentrasi kerjanya!” ujarku.
“Iya sih lapar, tapi kan sedang kerja Vit?”
“Iya tahu sedang kerja! Tapi aku bukan bos yang menjajah stafnya, ada staf dan karyawan lapar di suruh kerja!” ucapku.
Kami makan siang menjelang sore di kantin yang ada di depan. Aku memesan makanan untuk Mas Dani.
“Ini kantin, Vit?”
“Iya lah kantin? Memang mas kira ini sekolahan?” jawabku.
“Ya aneh saja, kamu seorang bos makannya di sini?” ucapnya.
“Memang gak boleh? Sudah makan dulu jangan banyak bicara!” ucapku.
__ADS_1
“Kamu gak makan?” tanya Mas Dani.
“Sudah tadi, sebelum kamu ke sini,” jawabku.
“Ya sudah aku makan dulu, Vit.”
“Iya silakan, Mas.”
Aku melihat Mas Dani makan dengan lahap. Dia pasti lapar, karena pikirannya terkuras habis untuk mengerjakan pekerjaannya. Ini baru setengah hari dengan Mas Dani. Dia tidak begitu mengecewakanku. Dia juga profesional dalam bekerja. Aku yakin, kamu akan bertahan di sisiku, Mas. Aku akan perjuangankan pernikahan kita. Tapi, kalau memang kamu tetap pada pilihanmu bersama Nadira, berarti kita tidak jodoh untuk ke depannya. Tapi, aku yakin, pilihan orang tua itu yang terbaik untuk kita.
Setelah selesai makan, aku sedikit bincang-bincang dengan Mas Dani. Banyak yang kami bicarakan, dari pekerjaan hingga hobi kita. Ya, aku merasa Mas Dani sudah tidak canggung lagi mengajak bicara denganku, dan sudah tidak dingin lagi sikapnya. Biar, biar terus seperti ini. Setangah hari, Mas Dani ada dalam kendaliku. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati Mas Dani, karena aku berhak atas itu. Aku istri Mas Dani. Hanya aku yang berhak memilikinya, bukan orang lain, atau Nadira.
Nadira hanya masa lalu yang masih jadi benalu di hati Mas Dani. Tahu kan, benalu harusnya diapakan? Diberantas! Ya aku akan memberantas benalu di hati Mas Dani, supaya bersih dari nama Nadira! Aku yakin Mas Dani akan bisa menerimaku menjadi istrinya. Dia akan melupakan Nadira, dan tetap bersamaku.
“Besok ada meeting dengan klien jam lima sore. Kamu besok ikut, Mas. Kan gantiin papa,” ucapku.
“Oke, aku ikut, kalau memang sudah pekerjaannya,” ucap Mas Dani.
“Ya kamu harus mulai belajar seperti ini. Nanti minggu depan, kamu kerja sendiri bisa, kan? Biar Tantri yang membantu. Aku sudah bilang papa, aku ada project dengan Arif dan Firda, dan tempatnya di anyer. Kalau mas mau datang, ya ikut saja sama papa. Papa juga datang sih,” ucapku.
“Itu project perusahaanmu?” tanya Mas Dani.
“Ya kantor papa, lah?”
“Kok sama Firda?”
“Dia itu brand ambasador untuk perusahaan kita. Jadi ya ada Firda juga,” jawabku.
“Oh, pantas saja,” ucap Mas Dani.
“Tapi acara itu kami menginap semalam, ya untuk persiapan lah,” ucapku. “Boleh, kan? Pasti boleh dong? Kamu kan jadi bebas di rumah, mau di rumah Nadira sampai jam berapa pun, aku tidak di rumah? Asal jangan bawa dia ke rumah!” ucapku.
“Ih ngomongnya? Aku tahu batasan dong pacaran sama dia?”
“Ah masa? Sedekat itu tanpa bersekat masa tahu batasan?” ucapku.
“Aku sama dia gak pernah ngapa-ngapain, Vit,” ucapnya, entah itu jujur atau tidak.
__ADS_1
Aku sengaja memancing dia, biar dia jujur bagaimana dia pacaran sama Nadira. Ya aku agak percaya kalau dia tahu batasan. Tapi ya gak tahu kenyataannya.