
Mama menemuiku di ruang meeting, ternyata dengan papa juga. Aku masih di ruangan meeting karena saking pusing kepalaku, aku tidak bisa jalan ke ruanganku. Aku masih menopang kepalaku dengan kedua tanganku. Kepalaku sakit sekali, pusing, berat, dan semuanya berputar.
“Dan ... kamu baik-baik saja?” tanya mama dengan mendekatiku.
“Cuma pusing biasa, Ma,” jawabku dengan suara sedikit parau.
“Pusing biasa sampai pucat begini kamu?” ujar Papa.
“Mungkin efek baru beberapa jam minum obat, lalu Dani langsung ke sini, karena di kantor gak ada siapa-siapa. Vita gak ada, Firda ya sedang ke luar kota, papa juga dihubungi gak bisa. Jadi aku ke sini, gantiin Vita untuk menemui klien,” jealasku. “Mama sama papa ke sini ada apa?” tanyaku.
Papa duduk di depanku, aku melihat wajah papa seperti menyiratkan kekecewaan padaku. Aku tengok mama di sampingku pun sepertinya sedang marah padaku, tapi belum diungkapkan saja karena melihat kondisiku yang begini.
“Dan, ada masalah apa kamu dengan Vita?” tanya Mama.
“Masalah bagaimana, Ma?” Aku balik bertanya, pura-pura tidak tahu.
“Kenapa kamu masih berhubungan dengan pacar kamu dulu, Dani? Kenapa kamu tidak bilang ke mama sama papa kalau kamu masih berhubungan dengan pacarmu! Seharusnya kamu bilang sama mama dan papa, kalau kamu masih bersama pacar kamu, jadi mama tidak membuat Vita seperti sekarang, Dan. Mama malu sama orang tua Vita, Dan!” ucap mama dengan sesekali menyeka air matanya. “Mama malu, mama malu sama mereka, karena secara tidak langsung mama pun ikut menyakitinya karena kamu!”
Aku tidak bisa menjawab apa-apa, aku hanya diam. Iya benar, secara tidak langsung mama dan papa juga seperti menyakiti Vita, karena sudah membawa Vita untuk masuk ke dalam kehidupanku.
“Dan, kamu itu laki-laki. Kamu seorang suami, dan saat ini kamu sedang menyakiti perempuan yang berstatus istri kamu. Apa kamu gak pernah mikir, kurang baik apa Vita sama kamu, Dan? Sampai hati kamu tidak mau menyentuhnya sampai saat ini? Dani ... pernikahan itu bukan untuk ajang permainan, kalau kamu gak mau kamu bilang sama papa!”
“Bagaimana Dani bilang sama mama dan papa, sedangkan papa dan mama selalu memojokkan Dani, mengecap Dani anak yang selalu membangkang, mama dan papa juga bilang, aku harus menikahi Vita, karena keputusan papa dan mama tidak bisa diganggu gugat, apalagi aku ini sudah menentang papa soal pendidikan dan pekerjaanku. Apa aku harus menentang lagi masalah jodoh? Dani gak bisa, Pa, Ma! Dani juga mikir, dengan Dani memilih profesi yang berbeda, yang tidak disetujui papa dan mama, Dani sudah mengecewakan mama dan papa. Dani hanya tidak mau membuat mama dan papa kecewa lagi, itu kenapa Dani menikahi Vita, dan alasan Dani belum menyentuh Vita, karena Dani tidak mencintai Vita. Dani tidak tega menyentuh wanita yang tidak Dani cintai, Pa, Ma!”
__ADS_1
Aku memang salah. Aku yang salah. Semua ini karena aku. Sungguh aku menyesal. Ingin kuperbaiki semua, tapi di mana Vita sekarang? Ya Tuhan, kenapa aku sekhawatir ini dengan dia. Padahal aku tahu papa dan mama pasti tahu Vita di mana sekarang.
“Dani memang sudah mengajukan gugatan pada Vita, kemarin saat di Anyer, saat Vita ulang tahun. Dani tidak tahu, kalau Vita ulang tahun malam itu. Dani merasa bersalah, Dani ajak Vita bermalam lagi di Anyer, tapi kami memang tidak saling menyentuh. Aku hanya ingin memantapkan hatiku, Ma, Pa, Aku sudah sayang sekali sama Vita, aku ini laki-laki bodoh. Kemarin aku sudah mencabut gugatannya, aku bilang aku akan belajar mencintai Vita, aku akan mempertahankan pernikahanku dengan Vita. Tapi, tadi siang, Nadira dan teman guru lainnya menjenguk Dani ke rumah, Vita lihat aku memeluk Nadira, mendengar semua yang aku ucapkan ke Nadira, kalau aku masih sangat mencintainya, dan seperti ini jadinya. Vita mengembalikan cincin nikah dan tunangan kita, lalu dia pergi. Aku tidak tahu dia di mana.”
Aku menangis, meraung, menyesali semua yang sudah terjadi. Aku benar-benar kehilangan Vita kali ini. Wanita yang sudah sedikit membukakan pintu hatiku, wanita yang sudah mengajarkanku tentang artinya sabar. Aku sudah menyia-nyiakan Vita.
“Mama tahu Vita di mana?” tanyaku.
“Tidak perlu kamu tahu, lebih baik dia pergi dari hidupmu. Nikahilah Nadira, dia wanita yang kamu cintai, bukan? Mama merestui Vita untuk bercerai darimu, dan merestui hubunganmu dengan perempuan itu! Setelah itu, silakan kamu hidup dengan dia, jangan mengenal mama lagi. Mama lebih baik kehilangan kamu, Dan, daripada kehilangan Vita yang sudah mama sayangi dari dulu, mama tidak mau kehilangan Vita. Silakan kamu nikahi perempuan itu, tapi setelah itu jangan pulang ke rumah mama.” Ucap mama dengan terisak.
“Ma, Dani gak akan menikahinya, Nadira sudah dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya.”
“Itu juga karena kamu gak melamar-melamar Nadira, kan? Jadi orang tuanya menjodohkannya dengan pria lain?” ujar mama.
“Dani tidak sampai melakukannya, Pa! Lagian wajar kami pacaran, Pa. Kami hanya saling menyentuh saja!”
“Kamu bilang wajar? Otakmu di mana, Dani?!” sarkas papa. “Papa tidak mau tahu, kamu harus nikahi dia, papa tidak mau mempertahankan Vita untuk hidup dengan laki-laki bejad seperti kamu!”
“Kamu tahu rumah orang tua dia? Antar mama dan papa ke sana!” pinta mama.
“Ma, aku gak akan nikahi dia, aku gak bisa, Ma!”
“Lalu kamu mau Vita kembali sama kamu? Kamu sudah terlalu menyakitinya, Dan! Vita gak pantas hidup dengan laki-laki seperti kamu, meski kamu anak mama!” teriak mama.
__ADS_1
Mama dan papa benar-benar sudah kecewa denganku. Aku tidak bisa begini, aku tidak bisa menikahi Nadira. Aku ingin Vita pulang. Aku tahu aku salah, tapi tidak seperti ini caranya. Aku tidak harus menikahi Nadira untuk menyelesaikan semua ini. Aku memang salah, aku sudah menyentuhnya, tapi Nadira masih utuh, belum aku sentuh hingga dalam.
“Ayo, antar papa dan mama ke rumah perempuan itu!” paksa papa.
“Pa, tapi gak seperti ini juga!”
“Kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri, Dan. Dari kamu SMA, papa sudah sering berdebat dengan kamu. Kita selalu beda pendapat, hingga sampai papa memilihkan kamu calon istri, dan kamu menerimanya, papa kira perseteruan kita, perdebatan kita selesai, karena kamu papa anggap mau menerima Vita dengan baik, dan karena adanya Vita kamu juga mau ikut andil di dalam kantor, kamu mau belajar sedikit demi sedikit, hingga kamu bisa dilepas memimpin meeting sendiri. Papa bangga sama kamu, tenyata sekarang papa dikecewakan kamu lagi. Kamu menyulut api perseteruan kita lagi, Dan. Hanya karena seorang wanita yang kamu cintai dari dulu,” ucap papa dengan penuh rasa kecewa.
“Mama kira, kamu sudah tidak berhubungan lagi dengan Nadira sejak kamu mengajak dia ke rumah, dan bilang pada mama kalau dia pacar kamu. Mama sudah bilang, sudah wanti-wanti denganmu tinggalkan mumpung masih baru pacaran, karena mama sudah menyiapkan Vita untuk dijodohkan dengamu, apa kamu tidak paham itu? Ternyata kamu malah melanjutkannya sampai sekarang? Mama kecewa denganmu, Dan!” Mama menangis, hingga tersedu-sedu. Mama benar-benar terlihat kecewa denganku.
“Sekarang antar kami ke sana, ke rumah perempuan itu!” pinta mama.
“Untuk apa, Ma. Sudah, sudah selesai semuanya!” erangku.
“Selesai? Selesai apanya? Kamu dulu bilang sudah selesai dengan dia, tapi apa? Sampai sekarang masih berhubungan!” cetus papa.
“Papa gak mau tahu, antar papa dan mama ke sana!”
“Untuk apa, pa? Sudah cukup, Pa! Aku tidak mau!”
“Kamu bilang tidak mau, tapi besok kamu masih menemuinya, itu sama saja! Antar papa sekarang ke sana!” bentak papa.
Aku tidak bisa menolak keinginan papa. Akhirnya aku antar papa dan mama ke sana, ke rumah Nadira. Aku tidak mau berlanjut bertengkar dengan papa. Biar papa dan mama mau bicara dengan Nadira bagaimana nanti.
__ADS_1