
Mas Dani menggenggam tanganku. Lalu menaruhnya di atas perutnya. Dia masih bersandar di lenganku, dan menyentuh cincin di jari manisku yang ia sematkan dulu saat setelah mengucapkan janji sucinya.
“Vit, maafkan aku, ya? Selama ini aku sudah banyak melakukan kesalahan padamu, tapi kamu masih baik sekali padaku. Bahkan di saat aku terpuruk begini karena perempuan lain, kamu masih tetap bisa berada di sampingku,” ucap Mas Dani.
“Iya, aku ngerti kok. Cinta itu gak bisa dipaksakan, Mas. Mau bagaimana lagi? Iya, kan?” jawabku.
“Kalau Nadira benar pergi, Vit?” tanya Mas Dani.
“Ya aku tidak tahu, itu kan urusan mas dengan dia? Selesaikan baik-baik, Mas. Gak usah pakai emosi,” tuturku.
Kalau Nadira pergi ya udahlah, pergi saja? Mau gimana lagi? Itu sudah yang terbaik untuknya, daripada merebut suami orang? Belum tentu nantinya mereka bahagaia kalau menikah? Belum tentu juga Nadira bisa menjadi istri dan menantu yang baik? Apalagi cara mereka menikah dengan menyingkirkan aku? Jelas salah sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka saling cinta?
“Vit, apa kamu mencintaiku?” tanya Mas Dani.
“Kenapa tanya itu lagi? Sudah tahu kemarin malam jawabannya apa, kan?” jawabku.
“Apa memang kamu pilihan mama dan papa, Vit? Sampai setiap apa yang akan aku lakukan dengan Nadira, selalu bayanganmu yang muncul?”
“Maksudnya melakukan apa, Mas?” tanyaku.
“Melakukan hal yang tak semestinya aku lakukan pada Nadira,” jawabnya. “Kamu selalu menyelamatkanku, Vit.”
__ADS_1
“Mungkin saja, saat mas akan melakukannya, mas teringat dosa mas pada mama dan papa, yang selama ini sudah mas bohongi,” ucapku.
“Bisa kita perbaiki pernikahan ini, Vit?”
Perbaiki pernikahan? Aku senang sekali mendengarnya, tapi aku tahu, paling ini hanya emosi sesaat Mas Dani, karena kemarin mendengar kabar bahwa Nadira akan dijodohkan. Apa aku iyakan saja permintaan Mas Dani ini? Bisa jadi kalau aku mengiyakan, Mas Dani akan berubah, dia bisa mencintaiku, dan menjadikan aku satu-satunya perempuan yang ada di hatinya. Tapi, kalau hanya emosi sesaat? Aku akan terluka lagi pastinya.
“Kalau kamu ingin memperbaikinya apa kamu bisa konsekuen dengan permintaanmu itu, Mas? Maksudku, kalu semisal Nadira tidak jadi pergi, apa kamu akan tetap ingin memperbaiki pernikahan kita? Apa kamu tidak akan berubah pikiran?” ucapku menegasi permintaan Mas Dani.
Aku tidak mau, ketika aku iyakan, dia mulai belajar menerimaku dan mencintaiku, dia malah goyah lagi dengan pendiriannya. Aku tahu Mas Dani ini mudah goyah, dia piln-plan sekali orangnya, masih seperti anak kecil yang labil.
“Tidak mungkin kalau Nadira gak jadi pergi, Vit. Karena surat kepindahan dia dari Dinas sudah turun, dan dia bulan depan sudah mulai mengajar di sekolahan baru yang dekat dengan rumahnya. Dan, setelah itu dia akan menikah dengan laki-laki yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya,” ucap Mas Dani.
“Vit, aku sadar, selama ini aku salah. Aku punya sosok perempuan di sampingku yang begitu sempurna, aku punya perempuan yang mengerti keseharianku, mengerti semuanya tentang aku, padahal aku tidak mengenalmu dari dulu, hanya tahu kamu ini Vita, kamu itu perempuan yang dijodohkan denganku, aku tidak tahu kamu seperti apa, tapi kamu begitu paham tentang diriku. Tidak ada perempuan sepertimu, Vit,” ucap Mas Dani.
“Aku melakukan itu, mencoba mengerti kamu, karena kamu adalah suamiku, ladang pahalaku, meski kamu menolak keras adanya aku, dan tidak mencintaiku, aku bisa apa? Aku ini istrimu, dan tugasku adalah menghormatimu, menjaga nama baikmu, dan berbakti padamu,” ucapku.
“Tidak ada perempuan yang seperti kamu, Vit. Yang aku marahi, tapi kamu tetap bisa menahan tangismu di depanku, yang aku acuhkan, tapi kamu tetap bersikap baik padaku, mungkin selain kamu, perbuatanku ini sudah diadukan dengan orang tuamu, atau orang tuaku. Bahkan mungkin pada Arif, orang yang mungkin pernah kamu sukai saat dulu, tapi kamu lebih memilih memendamnya sendiri, dan mungkin hanya cerita pada Firda, itu pun tidak dengan gugatanku,” ucap Mas Dani.
“Untuk apa menceritakan aib pernikahan kita, Mas? Kalau memang seperti itu, ya aku hanya bisa menjalaninya, Mas. Kalau aku mengadu, sama saja aku menghancurkan hati orang tua kita, dan kalau aku sampai menceritakan pada Arif, yang ada akan menambah masalah baru. Aku ini wanita yang punya suami, ketika aku menceritakan masalah pernikahanku pada laki-laki lain, itu artinya aku sama saja mengundang orang ketiga dalam pernikahan kita, Mas. Cukup Firda saja yang aku bagi kesedihanku, dan aku yakin dia pun merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan. Hanya dia sahabat yang aku percaya, Mas,” ucapku.
“Aku kira kamu ini perempuan lemah, cengeng, dan tukang ngadu. Ternyata kamu perempuan yang langka di dunia ini. Saat badai menerpamu saja, kamu masih bisa berdiri tegar, kamu bisa tersenyum, dan semuanya percaya kalau kamu sedang baik-baik saja. Padahal aku tahu, malam itu saat aku memberikan surat talak, kamu sedang hancur, tapi pagi harinya, kamu begitu biasa saja, tampil di depan publik seperti tidak ada masalah, kamu bisa tersenyum, dan meyakinkan semuanya kalau kamu sedang baik-baik saja.”
__ADS_1
“Apa kalau sedang sedih, aku harus menampakkan kesedihanku di dahapan semua orang? Apa aku harus meratapi nasibku di depan semua orang? Tidak seperti itu kan, Mas? Aku tidak mau orang tahu luka hatiku, aku gak mau apa yang sedang terjadi padaku aku umbar. Aku punya ruang privasiku sendiri, dan aku punya satu ruang untuk aku bagikan priavasiku, yaitu hanya dengan Firda, dari dulu dia teman curhatku, sejak aku mengenalnya sampai sekarang, dan dia benar-benar menjaga amanahku dengan baik, itu kenapa aku mempercayainya, sangat mempercayainya.”
“Vit, mau kan kita perbaiki semuanya, aku akan bicara pada pengacaraku, dan kita temui pemuka agama, untuk konsultasi soal talak yang sudah aku ucapkan,” pinta Mas Dani.
“Kamu yakin itu? Sudah mantap dan tidak goyah?” tanyaku.
“Iya, aku yakin, Vit.”
“Mas, jangan pernah permainkan pernikahan. Kalau kamu yakin akan mencabut gugatanmu, aku harap kamu tidak melakukan hal yang sebelumnya pernah kamu lakukan. Aku harap kamu bisa melupakan semua masa lalumu, atau tuntaskan dulu masa lalumu, baru kamu pikirkan untuk melanjutkan pernikahan ini, karena aku tidak mau kamu goyah lagi, aku ingin kamu yakinkan hatimu dulu, untuk mencintaiku. Aku tetap pada pendirianku, aku tidak mau kamu sentuh, kalau kamu belum mencintaiku. Aku tidak mau, aku melakukannya hanya karena nafsu saja, bukan karena cinta. Meski cinta dan nafsu beda tipis. Malah kadang karena nafsu, akan tumbuh cinta. Tapi, aku tidak mau seperti itu, aku mau kamu mencintaiku dulu, lalu kita melanjutkan pernikahan kita. Kamu paham, kan?”
Biar saja, aku tetap pada pendirianku. Aku tidak mau asal disentuh, meski dia suamiku, tapi kalau tidak ada cinta untuk apa nyentuh? Memangnya enak disentuh tanpa cinta, dan hanya pakai nafsu saja?
“Iya, aku akan belajar mencintaimu, memantapkan hatiku untuk kamu. Aku akan mencabut gugatanku mulai hari ini, Vit. Bantu aku, supaya aku bisa mencintaimu,” pinta Mas Dani.
“Ya, aku akan membantumu, Mas. Mas harus ingat, aku ingin kamu mencintaiku dulu, baru kita lakukan itu, dan sebelum itu, kita ke pemuka agama, untuk bicara soal talak yang sudah kamu ucapkan,” ucapku.
“Terima kasih, Vit, kamu sudah memberikanku kesempatan,” ucap Mas Dani.
“Semoga mas tidak menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan ini,” ucapku.
Mas Dani mencium tanganku, lalu memelukku. Aku tahu hatinya sedang hancur. Dan, ini kesempatanku untuk bisa merebut hati dan cinta suamiku.
__ADS_1