Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku


__ADS_3

Aku masih melihat-lihat isi ponsel Vita. Sebetulnya tidak boleh sih, karena ini adalah privasi Vita. Tapi, aku begitu penasara. Dia membuat aku semakin penasaran sekali. Aku buka galeri fotonya, dan lagi-lagi memakai sandi. Tapi, untung saja sandinya aku sudah hafal. Aku buka, dan aku lihat foto-foto Vita di dalam ponselnya. Tidak banyak foto dirinya. Paling beberap saja. Ada  satu foder foto, dan ia namai folder itu dengan nama love. Pandanganku langsung tertuju ke folder tersebut. Aku buka folder itu, dan aku melihat begitu banyak fotoku di dalamnya. Foto pernikahan pun ia tersimpan rapi, meski pernikahan ini tidak berarti apa-apa untukukku


Entah kapan dia mengambil foto-fotoku. Banyak sekali fotoku di galeri ponselnya. Bahkan dia punya fotoku saat tadi siang, dan tadi pagi. Tidak aku sangka dia seperti ini. Apa aku terlalu jahat padanya? Aku sudah menikahinya, tapi selama sepuluh bulan aku anggurin dia, aku diami da, aku cuek, dingin, dan tidak peduli perasaannya saat aku berkata kasar, atau saat membahas dan menemui Nadira.


Sudah cukup puas aku menjelajahi isi ponslnya Vita. Aku ke kamar Vita untuk mengembalikan ponselnya. Aku ketuk pintunya, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Sampai tiga kali aku panggil, tapi tidak ada sahutan, akhirnya aku putar handle pintunya, ternyata tidak dikunci pintu kamarnya, aku masuk ke dalam kamarnya. Aku melihat dia sudah meringkuk, dengan memeluk bantal guling. Tubuhnya tertutup selimut, hingga sampai kepala. Aku dekati Vita yang sudah tertidur pulas. Aku duduk di sebelahnya dengan hati-hati.


Aku melihat wajahnya begitu meneduhkan. Aku sentuh pipinya, baru kali ini aku benar-benar menyentuh dia karena hatiku yang ingin menyentuhnya. Pipinya basah, dan kelopak matanya juga terasa basah. Aku yakin dia habis menangis. Mungkin karena tadi dia melihat tanda merah di leherku karena Nadira.


“Maafkan aku, Vit.” Ucapku lirih, dengan mengusap kepalanya.


Aku letakkan ponsel Vita di meja sebelah tempat tidurnya. Aku masih duduk menatap wajah Vita, dengan tanganku masih membelai rambut Vita. Inilah istriku yang berjiwa besar, berhati sabar, yang selalu aku sakiti setiap hari dengan perkataan dan perbuatanku. Istri yang tak pernah ku anggap. Tapi, dia masih begitu baik padaku. Dia selalu memenuhi segala kebutuhanku tanpa aku minta.


“Maafkan aku, aku belum bisa menerima pernikahan ini, Vit. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menerima bahwa kamu adalah istriku. Aku selalu mencoba untuk mencintaimu, Vit. Tapi, aku tidak bisa, aku terlalu mencintai Nadira. Sangat mencintainya. Aku tidak bisa menjalin hubungan, dan melakukan hubungan lebih layaknya suami istri tanpa adanya cinta. Karena aku tidak mau menyakitimu, Vit. Aku tidak ingin membuatmu tambah sakit hati jika aku melakukannya tanpa cinta. Dan, aku tidak tahu kapan aku bisa mencintaimu? Itu pun bisa atau tidak aku tidak tahu, karena sampai sekarang aku belum merasakan ada cinta di hatiku untukmu,” ucapku dengan menatap wajah Vita dan tanganku masih mengusap lembut rambutnya.


Aku kecup kening Vita dengan lembut, entah ada dorongan di hatiku untuk mengecup keningnya, dan mencium pipinya. Aku beranjak dari tempat tidur Vita untuk keluar, tapi tangan Vita memegangi tanganku.


“Jangan pergi, Bu. Vita takut,” ucapnya dengan wajah yang memang ketakutan.


Aku mengernyitkan keningku, kenapa dia sampai mengigau seperti itu? Aku dekati lagi, dia masih memegang erat tanganku. Aku membiarkannya sampai dia melepaskannya sendiri. Lama sekali dia menggenggam tanganku, aku ingin melepaskannya, tapi masih sangat erat, sampai aku merasakan kantuk menyerang.


Aku terpaksa duduk bersandar di sandaran tempat tidur, dan membiarkan Vita menggenggam tanganku. Aku merasakan tangan Vita semakin dingin, entah dia mimpi apa, sampai keringat dingin keluar. Keningnya juga terlihat berkeringat, dia benar-benar ketakutan.


“Vita ... kamu kenapa? Kamu mimpi apa, Vit?” bisikku lirih di telinga Vita.


Vita tidak mendengarkanku bicara. Ia masih terlihat ketakutan, dan semakin erat menggenggam tanganku. Sudah aku biarkan saja, aku tidak mau mengganggu tidurnya. Tapi mataku semakin tidak bisa aku kendalikan. Aku ngantuk sekali, sementara tangan Vita masih mengenggam erat tanganku. Aku usap keningnya yang basah karena keringat dingin.


^^^


“Mas Dani! Ngapain di sini?” Tubuhku terasa di tepuk-tepuk seseorang.


Aku menggeliat, tubuhku rasanya pegal sekali. Aku mengerjapkan kedua matanya, dan melihat Vita duduk di sebelahku.


“Sudah bangun, Vit? Kamu kalau mimpi jangan nahan aku untuk tidur di sini, Vit! Semalam mimpi apa sih? Tanganku dipegang sampai aku ngantuk?” ucapku dengan suara parau.


“Lagian kok bisa-bisanya mas di sini?” tanya Vita.


“Naruh ponselmu, ketinggalan di meja makan. Getar terus, ada pesan dari Arif, dari Firda, dan gak tahu siapa lagi,” jawabku.


“Kalau Cuma naruh ponsel di sini? Kok bisa tidur di ranjangku?” tanya Vita.


“Ini ranjang kita, Vit!” tukasku.


“Apaan! Sejak kamu nyuruh tidur sendiri-sendiri, ini jadi tempat tidur pribadiku!” tukas Vita tak mau kalah.

__ADS_1


“Makanya kalau tidur berdoa! Jangan asal tidur, jadi gak mimpi buruk. Kamu mimpi apa sih? Keringat dingin keluar, sampai nangis, dibangunin gak bangun-bangun, dah gitu tanganku gak dilepas-lepas lagi?” ucapku.


“Ya mana kutahu aku mimpi apa semalam!” jawabnya. “Sudah sana keluar!” usir Vita.


Aku melihat jam di kamar Vita, masih jam tiga pagi Vita sudah bangun. Vita turun dari tempat tidurnya, dia langsung masuk ke kamar mandi. Masih pagi sekali dia terbangun, dan sepertinya dia tidak mau melanjutkan tidurnya. Aku masih duduk di atas tempat tidur Vita. Pinggangku sakit, tidur sambil duduk di sebelah Vita.


“Kamu masih di sini mas? Sana keluar, balik ke kamarmu!” titah Vita.


“Kamu mau tidur lagi, kan? Sini tidur di sebelahku,” candaku.


“Jangan bercanda kamu, nanti aku mau betulan, bagaimana? Buruan keluar!” usir Vita.


“Kalau mau ya ayo kita tidur bareng. Sini tidur lagi, aku peluk lagi,” ucapku.


“Mas keluar sana! Aku mau ngerjain pekerjaanku yang semalam gak aku kerjakan!” usirnya lagi.


“Aku sudah nyaman di sini, aku tidur di sini saja,” jawabku.


Aku tidak tahu, kenapa malah aku meringkuk di tempat tidur Vita, memeluk guling dan melanjutkan tidurku.


“Mas! Keluar!” teriak Vita tepat di telingaku. Sial! Telingaku sampai sakit.


“Gak mau, aku mau tidur sini! Sini tidur!” aku menarik tangan Vita, lalu ia terjatuh di sebelahku. “Tidur, masih petang!” Aku peluk dirinya.


“Tolong jangan seperti ini, Mas. Jangan membuatku semakin berharap lebih. Jangan tambah luka di hatiku, Mas. Kamu boleh tidur di sini, tapi lepaskan aku,” pinta Vita.


“Aku minta maaf, Vit. Aku memang sudah banyak membuatmu terluka, aku belum bisa menerima pernikahan ini, aku belum bisa mencintaimu, tapi tetap kamu itu istriku, Vit,” ucapku.


“Tolong kamu ingat kata-katamu kemarin, kamu secara tidak langsung sudah menalakku, Mas. Saat kamu ingin meminta cerai. Mungkin kalau kamu belum mengucapkan itu, aku masih bisa membiarkan kamu memelukku. Lagian untuk apa kamu lakukan ini, kalau pada akhirnya kamu melepaskanku?” ucap Vita.


Vita membalikkan tubuhnya menghadapku. Dia memandangi wajahku, jarak kami begitu dekat, hingga aku merasakan embusan napas Vita yang hangat, aku juga bisa memandangi wajahnya yang masih natural dan cantik.


“Jangan membuatku terbebani jika nanti kita berpisah, Mas. Mas sudah meminta pisah kemarin, dan sekarang mas ingat tujuan mas apa? Silakan lakukan tujuan mas. Aku tahu, kamu tidak bisa mencintaiku, kamu hanya mencintai Nadira, dan aku tahu, kamu tidak mau menyentuhku karena kamu belum bisa mencintaiku. Tapi, kalau mas begini, mas akan semakin menyakitiku. Tolong jangan seperti ini lagi, Mas,” pinta Vita. “Tolong jangan lakukan apa pun yang membuat aku semakin sulit melupakanmu, Mas. Satu hal yang harus kamu tahu, perpisahan dalam rumah tangga, yang paling terbebani adalah pihak perempuan, Mas. Apalagi kalau sudah pernah menampung benih dari suaminya, dan memiliki anak. Mungkin laki-laki yang pisah dengan istrinya, tidak memikirkan beban, dan tidak berbekas apa pun. Tapi perempuan, akan kelihatan, dan akan menjadi beban dalam hidupnya. Jangan membuatku terbebani dengan hal itu.”


Vita mengusap pipiku, dia tersenyum menatapku. Matanya semakin mengembun saat menatapku. “Kamu adalah laki-laki yang berhasil memorak-porandakan hatiku, Mas,” ucapnya lirih. Lalu melepaskan pelukanku, dan pergi dari kamar.


Aku masih terdiam, mencerna ucapan Vita tadi. Ya benar, sikapku yang seperti ini, malah semakin membuat dirinya sakit hati. Tapi, entah kenapa aku  berani melakukan itu padanya. Kenapa aku semakin ingin dekat dengan Vita? Padahal sejak awal aku benci dengan adanya dia di dekatku.


Aku keluar dari kamar Vita setelah sekian lama aku tercenung memikirkan ucapan Vita. Aku menuju ke belakang, aku melihat Vita sudah sibuk di belakang, di tempat laundry, aku dengar suara mesin cuci menyala, dan Vita duduk di depan meja yang di atas meja tersebut ada setrikaan dan tumpukan baju yang akan di setrika.


Apa setiap jam segini dia bangun untuk mencuci dan setrika? Pantas saja jam enam kadang sarapan sudah tersedia di meja makan?


“Vit, besok pakai asisten, ya?” ucapku di belakang Vita.

__ADS_1


“Sejak kapan kamu di sini? Aku kira kamu melanjutkan tidur, Mas?” tanya Vita.


“Gak bisa tidur, Vit,” jawabku. “Besok aku suruh Mbok Sum ke sini, ya?” pintanya.


“Untuk apa? Nanti Mbok Sum bilang sama mama papa lho, kalau kita tidur terpisah?” ucap Vita.


“Supaya kamu gak capek, Vit. Masalah tidur kan bisa diatur, Vit?”


“Sudah mas, tidak usah. Aku sudah biasa begini kok,” ucapnya menolak.


“Gak Vit, akan aku carikan asisten, kamu sudah lelah di kantor, seharian di kantor, tapi jam segini kamu sudah bangun, sudah repot mengurus dapur,” ucapku iba.


“Kan tugas peremuan, Mas? Sana mas tidur lagi, nanti subuh aku banguin mas,” ucap Vita.


Memang aku mengantuk, karena aku semalam juga kurang tidur, apalagi tidur dengan duduk di sebelah Vuta. Sebelum kembali ke kamar, aku buatkan Vita segelas cokelat panas, untuk menemani dirinya menyetrika pakaian. Aku benar-benar tidak enak hati dengan dia, dan bodohnya aku baru sadar sekarang, kalau Vita repot seperti ini, apa-apa ia kerjakan sendiri, sedangkan aku hanya enak-enakkan saja, dan tidak pernah menganggap dirinya ada. Padahal adanya baju-bajuku rapi dan wangi, karena dia yang membuat bajuku rapi dan wangi. Bukan Mbok Sum lagi, atau asisten lain di rumah mama yang dari dulu mengurus semua keperluanku.


Aku masuk ke kamarku. Kantukku hilang, setelah  melihat Vita yang masih petang sudah repot mengerjakan pekerjaan rumah. Aku setega itu dengan dirinya. Aku tidak mencintainya saja sudah menghancurkan hidupnya, apalagi sampai menyiksa batin dan fisiknya begini? Ah aku benar-benar manusia tidak tahu malu sekali. Aku sudah membiarkan dia yang berjuang membesarkan perusahaan papa, sedang aku yang anaknya, aku enak-enakan memilih pekerjaan sesuai keinginanku. Aku mengabaikan dia, hanya Nadira, dan Nadira yang aku pikirkan setiap hari, hariku adalah Nadira, sedangkan dia, dia yang memikirkan kebutuhanku setiap hari.


Baju bersih, rapi, wangi. Tempat tidur bersih, seprey wangi dan rapi. Lantai kamar juga selalu bersih, kamar mandiku juga bersih setiap hari, makananku selalu terjaga, dia siapkan semua yang aku perlukan. Dia kerjakan sendiri semuanya, untukku, bukan untuk siapa-siapa. Untuk keluargaku, bukan untuk keluarganya. Dia benar-benar sudah berkorban separuh hidupnya untuk aku dan keluargaku, tapi aku sama sekali tidak menganggapnya. Tidak pernah melihat pengorbanan dan perjuangannya. Tidak pernah merasakan sakit hatinya, tidak pernah merasakan pusing dan lelahnya dia mengurus perushaan papa.


Sedangkan aku setiap harinya, memikirkan wanita lain yang sangat aku cintai. Aku hanya memikirkan Nadira.  Memikirkan perasaannya yang sudah aku tinggalkan. Nadira aku nomor satukan, padahal ada perempuan yang selalu di sebelahku, yang butuh aku, yang selalu menutupi semua kesalahanku di depan orang tuaku, yang selalu mengerti aku, apa yang aku butuhkan, tapi aku tidak melihat dia, aku tidak menganggapnya, bahkan aku membencinya, aku menyakitinya dengan kata-kata kasarku, setiap hari, setiap detik, setiap menit dan setiap jam aku selalu berkata kasar di depannya.


Sepuluh bulan bukan waktu yang singkat untuk menjalani penderitaan yang Vita hadapi selama ini karena aku. Bukan waktu yang singkat untuk menahan rasa sakit yang aku goreskan di hatinya. Mungkin kalau perempuan lain, tidak akan sampai selama ini bertahan di sampingku.


Aku terlalu menyiksa batin dan fisiknya. Iya, benar kata dia tadi, aku sudah berhasil  memorak-porandakan hatinya. Meski dia tegar, tapi sekujur tubuhnya hancur.


Adzan Subuh sudah berkumandang, tapi aku belum juga bisa memejamkan mata setelah melihat Vita yang sibuk di belakang. Aku tidak bisa memejamkan mataku lagi, karena aku masih memikirkan Vita, merasakan penderitaan Vita yang selama ini ia pikul sendiri karena aku.


Aku mendengar pintu kamarku terbuka, aku tahu itu pasti Vita yang akan membangunkanku. Aku memang jarang mengunci pintu kamarku, supaya Vita membangunkan aku setiap pagi. Tapi dia tidak langsung membangunkan aku. Sesekali aku membuka mataku sedikit, dan melihat Vita yang menaruh tumpukan baju yang sudah ia setrika. Lalu ia menatanya dalam lemari gantung. Semua kemeja dan seragam mengajarku ia gantung, dan ia tata sesuai harinya. Dari senin sampai sabtu tertata rapi. Dan untuk kaos dan pakaian lain, dia tata di lemari sebelah. Ia lipat rapi dan ia tata di lemari. Setelah selasai, dia mendekati tempat tidurku, lalu membangunkanku.


Aku merasa Vita mengusap kepalaku, dan menatap wajahku lekat. Lalu ia membangunkanku, ia menyentuh lenganku, menggerakkan tubuhku, untuk membangunkanku.


“Sudah siang, Mas, bangun,” ucap Vita. “Nanti gak kebagian waktu subuh,” bisiknya.


Aku mengerjapkan mataku, aku menggeliatkan tubuhku, pura-pura baru bangun tidur, padahal aku belum tidur lagi setelah dari kamar Vita tadi.


“Hmmm ... iya terima kasih sudah membangunkanku,” ucapku dengan mengulas senyum.


“Ya sudah bangun gih!” ucapnya.


Aku bangun, dan menyandarkan tubuhku di sandaran tempat tidur. Aku melihat Vita keluar dari kamarku, sampai Vita tak terlihat lagi.


Apa ini yang dinamakan pilihan orang tua adalah yang terbaik? Dia terlalu baik denganku, Tuhan. Aku malu sekali dengan Vita. Dia selalu memberikan yang terbaik untukku, tapi aku belum pernah baik dengannya.

__ADS_1


__ADS_2