
Aku sudah sampai di rumahku. Aku masuk ke dalam, dan aku akan menunggu mama dan papanya Mas Dani, juga ibu dan ayahku. Aku tidak mau lagi menyembunyikan semua ini, biar semua tahu penderitaanku selama menikah dengan Mas Dani.
“Vita ... ini rumah siapa?” tanya mama.
“Iya ini rumah siapa? Lalu kamu akan bicara apa, Nak?” tanya papa.
“Iya pakai acara ngundang ibu dan ayah juga? Terus ini rumah siapa, Vita?” tanya ibu.
“Sebentar-sebentar, ini ko desainnya sesuai impian kamu ya, Vit? Apa ini rumahmu, Nak?” tanya Ayah.
“Ayo masuk dulu, nanti Vita jelaskan,” jawabku.
Aku mengajak mereka duduk di ruang keluarga. Aku yakin saat aku menjelaskan semuanya pada mereka, mereka akan marah dan kecewa. Tapi, aku harus menceritakan semuanya pada mereka, tanpa aku tutup-tutupi semuanya. Ini sudah saatnya, mau kapan lagi kalau tidak aku ceritakan sekarang?
“Kamu ingin bicara apa, Vita?” tanya mama penasaran.
“Ma, Pa, Ibu, Ayah ... ma—maafkan Vita yang sudah gagal,” ucapku dengan menunduk.
“Gagal? Gagal bagaimana Vita?” tanya papa.
“Aku ingin cerai dengan Mas Dani,” ucapku lirih dengan terisak.
“Cerai? Ini kenapa kamu tiba-tiba ingin bercerai dengan Danial? Apa dia menyakitimu?” tanya papa.
“Iya, sejak awal pernikahan kita sudah tidak baik-baik saja. Aku hanya menjalani saja pernikahanku dengan Mas Dani, tanpa adanya cinta, dan tanpa adanya hubungan suami istri. Itu kenapa aku belum bisa ngasih kalian cucu, karena aku masih virgin. Aku masih perawan, belum pernah disentuh Mas Dani, karena Mas Dani tida mencintaiku. Bahkan saat malam pertama kami, Mas Dani bilang pernikahan hanya formalitas saja, karena dia tidk mencintaiku. Dan, selama menikah, kami tidur terpisah,” ucapku dengan isakkan yang semakin keras.
“Astaga Dani ....” ucap papa dengan wajah penuh rasa kecewa.
“Kenapa kamu sembunyikan semua in, Vita? Kenapa kamu gak bilang sama mama, atau cerita sama ibumu?” ucap Mama.
__ADS_1
“Rasanya tidak pantas aku mengumbar masalah rumah tanggaku, Ma,” ucap Vita.
“Vita ... maafkan ibu, Nak.” Ibu memelukku erat, seakan tahu aku ini butuh kekuatan. Pelukan ibu benar-benar membuatku merasakan tenang.
“Kenapa Dani sampai hati bilang seperti itu di depan kamu?” tanya papa.
“Mas Dani masih mencintai wanita masa lalunya, Pa,” jawabku.
“Siapa? Pacar dia saat SMA itu? Siapa namanya? Nadira?”
“Iyaa, Ma.” Jawabku.
“Astaga .... Dani, Dani ... padahal mama sudah bilang baik-baik dengan Nadira supaya dia menjauhi Dani, tapi kenapa sampai sekarang?”
“Restui hubungan mereka, Ma, Pa. Biar aku mengajukan gugatan cerai,” ucapku. “Sebetulnya Mas Dani saat di anyer sudah mengajukan gugatan cerai. Tapi, Mas Dani mencabutnya lagi kemarin, karena ingin berpikir lagi mungkin? Tapi, aku tidak mau, terus hidup engan orang yang tidak mencintaiku,” ucapku.
“Berarti Dani sudah menalakmu?” tanya ayah.
“Mama gak bisa merestui mereka, Vit! Mama gak bisa! Mama hanya ingin kamu menjadi menantu mama! Bukan perempuan lain!”
“Tapi mereka sudah melakukan diluar batas, Ma. Tidak mungkin aku memaksa Mas Dani untuk mencintaiku, sedangkan dia masih mencintai perempuan lain di hatinya. Mama tolong ngerti aku. Aku gak mau tersiksa batinku ini. Aku ini istrinya, bukan aku sebagai istri Mas Dani yang disentuh, tapi Mas Dani menyentuh perempuan lain! Aku tida mau ma,” ucapku.
“Kamu bilang Dani menyentuh perempuan lain?”
“Ya, mereka sudah melakukannya sejauh itu, meski belum dalam, Ma. Jangan biarkan hubungan mereka makin tidak karuan, Ma, Pa. Restui mereka. Vita mohon, jangan paksa Vita untuk menjadi istri Mas Dani lagi. Vita nyerah, Vita sudah tidak sanggup lagi untuk mendampingi suami yang tidak mencintai Vita. Vita lelah meyakinkan Mas Dani untuk mencintai Vita, Vita lelah mencintai Mas Dani sendirian. Yang ada batin ini tersiksa.”
“Tapi kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu terlihat baik-baik saja, Vita?” tanya ibu.
“Vita tidak mau mengecewakan ibu dan ayah, juga mama dan papa.” Jawabku.
__ADS_1
“Sudah, tenangkan hatimu dulu. Nanti mama dan papa akan bicara dengan Dani. Mama tidak mau kamu pisah sama Dani, tapi kalau memang itu yang terbaik, mama bisa apa, Vit? Mama sudah terlanjur menyayangimu, mama itu sudah anggap kamu anak mama sendiri. Mama gak mau kamu pergi, mama gak rela kalau Dani menikahi perempuan lain. Gak rela, Vit?” mama terisak lalu memelukku.
“Mama harus bisa menerimanya. Kasihan Mas Dani juga kalau tetap denganku, karena dia sangat mencintai kekasihnya. Kalau kita bersama terus, yang ada mereka masih selalu berhubungan di belakangku, Ma? Apalagi mereka satu profesi, dan mengajar di sekolahan yang sama?” jelasku.
“Pantas saja dia ngotot mau jadi guru, karena perempuan itu sama-sama jadi guru.” Ucap papa.
“Kamu tenangkan dulu dirimu. Kamu butuh sendiri, kamu butuh ruang untuk berpikir lagi, Vit. Papa akan bicara baik-baik dengan Dani.” Ucap papa.
“Silakan papa dan mama bicara baik-baik dengan Mas Dani, tapi jangan paksa Vita untuk kembali dengan Mas Dani lagi, Vita tetap ingin pisah dengan Mas Dani,” ucapku.
“Mama tahu perasaanmu, maafkan mama yang memaksamu untuk menikah dengan Dani. Mama pamit pulang, mama akan bicara dengan Dani,” ucap Mama. “Ayo, Pa, kita ke rumah Dani,” ajak mama pada papa.
“Ma, Pa, jangan kasih tahu aku ada di sini. Aku ingin menenangkan pikiranku dulu,” pintaku.
“Iya, mama tidak akan memberitahukan soal kau yang di sini,” jawab mama.
Mama dan papa pulang dari rumahku. Aku yakin mama akan marah besar dengan Mas Dani, mereka pasti kecewa dengan Mas Dani.
“Bu, kalau aku pisah dengan Mas Dani, ibu setuju, kan?” tanyaku pada ibu.
“Apa pun yang terbaik untuk kamu, ibu akan menyetujuinya, Nak. Maafkan ibu, harusnya ibu peka dengan masalah yang menimpamu. Maafkan ibu,” ucap ibu.
“Ibu gak salah, ayah pun tidak. Di luar sana banyak sekali menikah karena dijodohkan, dan semuanya baik-baik saja, karena akhirnya saling menerima dan saling cinta. Aku awalnya percaya akan hal itu, tapi hampir satu tahun, rasanya masih sama saja, Bu, Yah. Mas Dani tetap menemui perempuan itu. Vita sudah tidak sanggup lagi,” ucapku.
“Sudah, lebih baik kamu istirahat. Ini masalah keluarga, jadi selesaikan dengan cara kekeluargaan, selesaikan masalahmu dengan Dani, pasti ada jalan yang terbaik, Vit. Entah terbaiknya pisah atau tidak. Tenangkan pikiranmu dulu, ibu buatkan kamu teh ya? Supaya lebih tenang,” ucap ibu.
Ibu ke belakang membuatkan teh untukku, hanya aku dengan ayah yang sedang duduk bersisian. Ayah memelukku, beliau menangis memelukku. “Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayah,” ucap ayah dengan terisak.
“Ayah tidak salah, doakan Vita supaya Vita bisa melalui ujian ini, Yah,” pintaku.
__ADS_1
“Iya, Nak.”
Aku masih memeluk ayah, aku kembali teringat tadi saat aku akan pergi dari rumah Mas Dani. Mas Dani memintaku jangan pergi, tapi saat aku pergi, dia sama sekali tidak mengejarku, atau bagaimana. Hanya bilang jangan pergi, tapi tangannya masih menggamit tangan Nadira. Secinta itukah kamu dengan Nadira, Mas?