
Kau kira aku takut ditantang olehmu? Aku yakin kamu yang akan kalah, Danial! Soal seperti ini mah remahan gorengan, Dan! Soal terberat dalam hidupku adalah bagaimana membuat kamu menerimaku sebagai istrimu, Dan. Bagaimana kamu bisa mencintaiku. Itu adalah soal terberat, dan ujian terberat dalam hidupku.
Aku sudah tidak mau menutupi semua ini dari orang tua kita. Aku sudah lelah, tapi saat kamu semangat untuk mengetahui soal perusahaan, aku menjadi semangat, karena dengan seperti ini, kamu akan lebih dekat denganku, meski hanya setengah hari bersama denganmu di kantor. Setidaknya aku bisa merenggangkan hubunganmu dengan Nadira, dan menjauhkan kamu dari Zina, entah itu Zina tangan, mata, atau apa pun itu dengan Nadira. Aku tidak mau kamu semakin dalam berbuat semaumu dengan Nadira. Ini adalah caraku, supaya kamu tahu, bagaimana aku berjuang untuk keluargamu. Untuk mama dan papamu.
Jika nanti kamu tidak mengerti juga, dan tujuanmu tetap Nadira, di situlah, aku harus rela menerima segala keputusanmu. Aku ikhlaskan segala keputusanmu, jika tetap yang kau pilih adalah Nadira.
Aku sesekali melirik Mas Dani yang sepertinya makin kebingungan, tapi dia tidak berani untuk bertanya padaku, karena kesepakatan kami berdua untuk tidak saling tanya saat mengerjakan tugas. Biar saja, nanti juga dia skip mana yang tidak bisa ia kerjakan, ia tinggal dulu.
Gila, Mas Dani benar-benar ngasih soalnya sebanyak ini, tapi aku tahu sih cara dan jawabannya. Ini benar-benar cukup mudah soalnya. Aku memang menguasai matematika, fisika, dan kimia saat SMA. Tiga mata pelajaran yang menjadi favoritku di sekolahan, dan selalu mendapat nilai yang terbaik di tiga mata pelajaran itu.
Sebetulnya aku sudah selesai mengerjakan soalnya, dan watunya masih tersisa kurang lebih sepuluh menit. Tapi aku cek lagi, kali saja ada yang kelewatan. Tapi, aku yakin Mas Dani belum selesai, buktinya masih ada beberapa tumpukan dokumen di sebelahnya yang belum selesai.
“Okay, time's up! Aku sudah selesai. Silakan diteliti, Pak Guru.”Aku memberikan soal dan jawaban pada Mas Dani.
“Okay, hebat kamu, tiga puluh menit kamu bisa mengerjakan soal matematika ini sebanyak seratus soal,” jawab Mas Dani.
“Kamu salah menantang orang, Mas!” tukasku. “Bagaimana pekerjaanmu? Sudah selesai? Atau masih banyak yang belum selesai?” tanyaku.
“Ada yang belum aku paham, jadi ada yang belum aku kerjakan, Vit. Maklum aku kan belum tahu betul, dan hari ini aku baru pertama kalinya kerja di kantor?” jawab Mas Dani.
“Oke, bagian mana yang belum paham?” tanyaku dengan beranjak dari tempat dudukku, dan menarik kursi untuk aku letakkan di sebelah Mas Dani.
“Nanti dulu, aku kerjakan semua ini, aku selesaikan dulu, lalu aku akan tanyakan yang belum aku pahami,” jawab Mas Dani.
“Oke. Kerjakan dulu, aku juga mau cek laporanku, nanti dua puluh menit lagi aku balik ke sini.” Ucapku, dengan kembali menarik kursiku, menaruh lagi ke tempat semula.
“Kenapa kursinya dibalikin, Vit?” tanya Mas Dani.
“Ya kan aku mau ke ruanganku? Lagian untuk apa di sini? Kamu masih mau mengerjakan semua itu, kan? Ya aku singkirin lagi dong?” jawabku.
“Gak usah biar di sini.”
__ADS_1
“Awww ...!”
Aku terjatuh di pangkuan Mas Dani, saat Mas Dani menarik kursiku dengan cukup keras. Kami saling menatap, cukup sedikit jarakku dengan Mas Dani.
Tuhan, tampan sekali wajahanya, dadaku meronta, jantungku berdendang ria menatap Mas Dani sedekat ini dan berada di pangkuannya.
“Ih gak usah gitu lihatnya! Sudah tahu kursi ada rodanya, nariknya kencang sekali sih!” Aku tersadar, dan langsung menjauhkan wajah Mas Dani supaya aku tidak melihatnya lagi. Padahal aku jantungku sudah loncat dari tempatnya saat aku menatap wajah tampannya.
“Lagian kamu main geser-geser lagi! Kan bisa biar di sini saja kursinya!” jawabnya. “Turun berat banget nih!” Aku sadar, aku masih berada di pangkuan Mas Dani. Aku langsung turun dan menjauh dari Mas Dani.
“Berat memang aku segeda apa sih! Kau tak normal, jadi kau bilang tubuhku berat sekali!” ucapku kesal.
Jelas-jelas dengan Nadira saja badanku lebih ramping? Dia malah lebih berisi sepertinya daripada aku? Main bilang aku berat, gak pakai logika sekali kalau bicara!
“Ya emang berat kok!” ucapnya.
“Sudah jangan banyak bicara! Kerjakan semua itu! Waktu aku potong lima menit!”
“Kok gitu?” protesnya.
Sumpah rasanya jantungku masih belum stabil berdetak. Masih berpacu cepat sekali. Aku bersandar dulu di pintu Mas Dani untuk menyetabilkan detak jantungku dulu. Kenapa harus ada insiden seperti itu sih! Membuat aku grogi gini jadinya kalau aku dekat dengan Mas Dani nanti? Tapi, biar saja, nagpain grogi? Dia suamiku sendiri, dan ini kan tugasku mengajarinya? Tapi, tetap saja ini kan baru pertama kalinya aku menatap Mas Dani sedekat ini? Kan masih terbayang-bayang wajah tampannya? Ya Tuhan ... tolong jauhkan bayang-bayang Mas Dani dari pelupuk mataku?
“Awww ....!” Mas Dani membuka pintu ruangannya, aku terjatuh di pelukannya. Kedua tanganku langsung melingkar di lehernya. Dan, lagi-lagi aku bisa menatap jelas wajahnya yang bersih, yang tampan, matanya yang indah, hidungnya yang sangat mancung, dan bibirnya yang begitu manis. Ya Tahan sesempurna ini Engkau menciptakan orang yang sekarang menjadi suamiku?
“Vita ... kamu kenapa masih di sini sih?! Kenapa sandaran pintu sih?” Mas Dani masih menopang tubuhku, dan menatap lekat wajahku. Aku tidak bisa menjawabnya, aku masih menatap lekat wajahnya, kami saling menatap.
Cletak ...!
Dia menjentikkan jarinya di keningku. “Kau ini ada-ada saja ya tingkahnya? Kenapa sandaran pintu, hah? Lepas berat tahu!” ucapnya dengan menatapku tajam.
“Ih kamu saja yang main langsung buka pintu!” Aku mendorong tubuh Mas Dani, sampai terpental ke pintu.
__ADS_1
“Ahww ... kasar sekali sih, Vit?”
“Lagian kamu sih, ya gantian dong, aku juga kaget pintu tiba-tiba di buka?” jawabku santai.
“Kamu mah enak aku tangkap badanmu? Aku dipentalin ke pintu? Kamu kira aku ini bola bekel?!”
“Lagian siapa suruh nangkap tubuhku?”
“Oh tadinya biar jatuh saja ya sekalian? Eh tapi kalau kamu jatuh, nanti sakit, nanti siapa yang akan mengajariku?”
“Papalah!” tukasku. “Kamu mau apa keliaran keluar? Memang sudah selesai kerjanya?” tanyaku.
“Belum, butuh kopi nih?” jawabnya.
“Di dalam kan ada? Ada pantri pribadi di dalam, gak usah ke belakang!”
“Masa sih, aku gak tahu?”
“Sini aku tunjukkan!” Aku mengajak Mas Dani masuk ke dalam lagi, dan menunjukkan mini pantri yang ada di ruangannya. “Ini di sini,” ucapku menunjukkan pantri.
“Kamu gak ngasih tahu sih?” ucapnya.
“Sudah sana kerja lagi, aku buatkan kopi untukmu.” Aku menyuruh dia bekerja lagi, dan aku buatkan kopi untuknya.
Huh, ada-ada saja hari ini? Baru sehari dia di sini, tapi rasanya sudah begini. Mas Dani sudah berhasil membuat jantungku mau copot dua kali. Dan, sampai sekarang detak jantungku masih tidak karuan, belum stabil.
Aku bawakan kopi buatanku untuk Mas Dani. Harusnya ini adalah pekerjaan sekretarsnya, atau OB, tapi sejak aku pindah dari ruangan ini, dan papa yang memegang ruangan ini, papa tidak lagi memakai sekretaris, karena papa belum tentu ada di sini, papa hanya kalau mau bertemu aku saja ke sini.
“Ini kopinya mas, ada cemilan juga. Kerjakan lagi, ya? Aku deadline dua puluh menit lagi, proposal harus sampai ke klien,” ucapku.
“Iya, Vit, thanks, ya?”
__ADS_1
“Hmm ... sama-sama.”
Aku kemabali ke ruanganku, aku redakan sejenak denyut jantungku yang sudah mulai stabil. Heran saja, kenapa aku harus terjatuh dua kali sih? Pakai ditangkap Mas Dani terus lagi?