Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Bertemu Mantan


__ADS_3

Mereka sudah sampai di Vila milik eyangnya Vita. Vila yang tidak cukup jauh dari kota mereka, cukup bila dijangkau satu sampai dua jam saja. Bagi Vita, tidak usah jauh-jauh untuk menikmati liburan, yang penting liburannya dengan orang yang tersayang.


Suasananya cukup dingin kalau malam, karena vila milik eyangnya Vita berada di area perkebunan teh milik eyangnya juga, yang sampai sekarang ini masih dikelola oleh saudara eyang.


“Jalan yuk, Vit,” ajak Dani.


“Ke mana? Dingin-dingin gini malah keluar?” jawab Vita. “Eh tapi enak sih, sambil cari jagung bakar. Biasa ada yang jualan jagung bakar.”


“Ya sudah yuk, kamu pakai sweternya,” ucap Dani.


Vita pakai sweter yang kerahnya berbulu, berbahan tebal, dari kain woll pilihan. Dulu sweter itu hadiah ulang tahun dari kakak perempuan Vita saat dia ke Australia dia membelikannya untuk hadiah ulang tahun Vita.


Vita terlihat begitu cantik, ia memasukkan rambutnya ke dalam sweter. Dani menggamit tangannya lalu berjalan bersisian untuk keluar, menikmati malam.


“Itu penjual jagung bakar, Mas, yuk ke sana?” ajak Vita.


“Oke, kita ke sana, kamu masih maut buat makan jagung bakar? Tadi baru saja makan lho?” tanya Dani.


“Aku butuh tenaga buat nanti malam mas,” jawab Vita dengan berbisik.


“Hmm ... gitu? Nanti malam mau berapa kali?”


“Sepuasnya kamu saja, Mas. Sudah yuk aku pengi beli itu,” ajak Vita dengan bergelayut manja.


Selesai membeli jagung bakar, mereka duduk di bangku yang ada di depan Vila, yang menghadap ke arah perkebunan teh. Mereka menikmati jagung bakar dengan berbincang ringan.


^^^


Keesokkan harinya, Dani dan Vita sedang menikmati udara pagi di tengah hamparan hijau kebun teh. Mereka terlihat bahagia, sesekali mereka bercanda, dan Vita juga terlihat begitu manja dengan suaminya.


Sepasang mata melihat dua insan yang sedang dirundung bahagia. Dengan mata yang berkaca-kaca mereka menyaksikan kebahagiaan dua insan yang baru saja meneguk madu bahagia pernikahan, padahal usia pernikahan mereka sudah menginjak satu tahun.

__ADS_1


“Kamu begitu bahagia dengan dia, Mas. Sedangkan aku? Aku sama sekali tidak bahagia. Aku tidak mencintai suamiku, Mas Dani,” ucapnya dengan sesekali menyeka air matanya.


Perempuan itu adalah Nadira. Dia sedang bersama suaminya. Seperti biasa setiap weekend suaminya mengajak Nadira untuk bermalam di Vila, di hotel, atau liburan ke mana pun Nadira mau. Padahal suami Nadira begitu mencintainya, tapi Nadira masih saja belum bisa melupakan Danial.


Dani mengajak Vita ke kamar. Sudah cukup hangat, berjemur di bawah hangatnya mentari pagi yang samar tertutup kabut. “Ayo kita mandi, sudah cukup hangat kan badannya?” tanya Dani.


“Oke, kita jangan mandi dulu, aku mau lagi, Mas,” pinta Vita.


“Ya sudah yuk,” ajak Dani.


Mereka ke kamar lagi, melanjutkan ritualnya, dan selesai itu mereka membersihkan diri, lalu istirahat, karena siang akan pulang.


“Mas aku kok pengin cemilan,” pinta Vita.


“Aku belikan di luar, ya? Pengin  beli apa?” tanya Dani.


“Apa saja yang penting cemilan, lihat ini cemilan kita sudah habis, Mas,” ucap Vita.


“Enggak ah, aku pengin di sini saja, capek,” jawab Vita.


Dani keluar untuk membelikan cemilan untuk Vita. Untungnya ada mini Market yang dekat dengan vila, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Vita baru sadar, kalau dia juga harus membeli sesuatu, setelah melihat kalender, dia baru sadar kalau sekarang adalah jadwal dia menstruasi. Tepat di mingu sekarang, bisa kemungkinan maju, bisa kemungkinan mundur tangalnya.


“Aduh, aku lupa bawa cadangan lagi? Kalau bocor  sekarang-sekarang bagaimana? Mana Mas Dani sudah keluar lagi? Kalau belum kan aku bisa nitip pembalut? Ya sudah mending aku susul saja keluar, kalau titip juga aku malu, kasihan juga Mas Dani, masa laki-laki disuruh beli pembalut?” ucap Vita.


Vita keluar dari kamarnya, dia berjalan melewati sebuah lorong yang menggabungkan ke Vila kedua dan ketiga milik eyangnya. Namun, seketika langkahnya terhenti saat mendengar seorang laki-laki sedang bicara dengan seorang perempuan, dan suara laki-laki itu sangat familiar sekali di telinga Vita.


“Kamu harus bisa mencintai suamimu, Nadira. Kamu jangan seperti ini. Kamu yang memutuskan untuk pergi, kan? Sekarang, aku sudah damai, tentram, dan nyaman hidup dengan Vita, aku harap kamu juga begitu dengan suamimu, Nad,” ucap Dani.


“Tapi, Mas ... aku tidak bisa, aku masih sangat mencintaimu, Mas Dani. Aku mencintaimu, aku harus bagaimana?” ucap Nadira.

__ADS_1


“Ya harus melupakan aku, Nad? Harus pokoknya! Seperti aku melupakan kamu,” jawab Dani.


“Begitu cepat kamu melupakanku, Mas!”


“Ya karena memang harus! Aku sudah punya Vita, jadi aku harus melupakan kamu, meski awalnya memang sulit, dan akhirnya aku bisa melupakanmu?” jawab Dani.


“Aku kira kamu akan lama untuk bisa melupakanku, Mas. Ternyata semudah itu kamu melupakan aku,” ucap Nadira.


“Nadira, dengar aku. Kamu yang memulai memintaku menyudahi semuanya, kamu yang meminta aku untuk mencoba mencintai Vita, kamu yang meminta aku mempertahankan Vita. Sekarang, aku sudah lakukan semua yang kamu minta itu, dan ternyata aku sangat mudah melupakan kamu. Aku sangat menyesal sebenarnya, kenapa aku tidak menuruti permintaan kamu itu dari dulu, sejak awal aku menikahi Vita, atau sejak awal kami dijodohkan. Aku menyesal, kenapa baru kemarin aku menuruti permintaan kamu. Coba dari awal, atau dari dulu aku menuruti semuanya, aku pasti jauh akan lebih bahagia, dan mungkin aku tidak terlalu menyesal karena sudah banyak melukai Vita!” ucap Danial dengan penuh penekanan. “Jadi kamu sudah paham sekarang, bahwa aku sudah tidak mencintaimu, Nadira! Aku sangat mencintai istriku!” tegas Dani.


Vita yakin di sana ada suaminya dan Nadira. Vita berjalan pelan mendekati suara tersebut. Ya, benar ada Nadira dan Dani di lorong depan. Vita bersembunyi di balik pilar, lalu dia mengendap pelan dan terus mendekat supaya lebih jelas lagi apa yang akan mereka lakukan dan katakan selanjutnya.


“Apa benar dunia ini selebar daun kelor? Kenapa mesti ketemu Nadira lagi? Tapi, apa benar yang Mas Dani katakan tadi, kalau dia sudah tidak mencintai Nadira, dan dia sangat mencintaiku? Apa dia mengatakannya tulus dari hati? Aku bahagia mendengar ucapan Mas Dani tadi, karena dia bilang dia sangat mencintaiku, dan sudah tidak lagi mencintai Nadira. Kata-katanya terdengar begitu jelas dan lugas. Apa betul di hati Mas Dani sudah tidak ada Nadira?” batin Vita.


Vita melihat mereka lagi, dan menguping pembicaraannya lagi, apa yang akan mereka katakan lagi. Nadira semakin mendekati Dani, Vita sebetulnya kesal sekali, dari tadi Nadira tidak melepaskan tangannya yang memegangi tangan Dani. Padahal Dani sudah berusaha melepaskan, tapi Nadira kembali meraih tangan Dani lagi, menggenggamnya, bahkan menciumnya.


“Aku tidak bisa, Dani ... aku masih sangat mencintaimu,” ucap Nadira, lalu memeluk Danial.


“Lepaskan, Nad! Jangan seperti ini!” Dani memaksa Nadira untuk melepaskannya, tapi Nadira semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku masih sangat mencintaimu, Mas Dani,” ucapnya di sela-sela isak tangisnya.


“Nadira, aku tidak bisa. Maafkan aku. Aku sangat mencintai istriku,” ucap Dani.


Vita mendengarnya cukup lega, tapi dia marah sekali, karena Nadira masih memeluk Dani, malah semakin mengeratkannya, dan Dani juga membalas pelukan Nadira meski Dani ragu-ragu.


“Ih Mas Dani kok pakai acara meluk juga sih! Dasar pelakor!” umpat Vita kesal.


Dani melepas paksa Nadira, dia tidak mau lama-lama berurusan dengan Nadira, apalagi dia berada di kawasan Vila milik keluarga Vita, bisa-bisa ada yang melihat lalu melaporkan pada Vita.


“Ehem .... enak ya ketemu mantan?” Vita akhirnya keluar dari persembunyiannya karena tidak tahan melihat mereka berpelukan. “Pakai acara pelukan juga lagi?”

__ADS_1


__ADS_2