
Kebahagiaanku sempurna. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Vita sedang hamil, usia kandungannya sudah memasuku bulan ketiga. Aku bersyukur Vita cepat hamil, karena mama dan papa selalu tanya cucu, dari awal aku menikah dengan Vita, mereka selalu tanya, sudah terlambat datang bulan apa belum? Dan, pertanyaan itu membuat bising telingaku saat itu. Padahal kami saat itu belum pernah melakukannya, karena aku masih memiliki kekasih, aku masih berhubungan dengan kekasihku, dan di awal pernikahanku, aku terang-terangan pada Vita, bicara pada Vita kalau aku benci dengannya, aku tidak mau menyentuhnya, dan aku tidak mencintainya.
Pernikahan kami hambar, mungkin itu yang dirasakan Vita, tapi aku tidak, karena aku masih berhubungan dengan Nadira.
Sekarang semua sudah berlalu, aku memutuskan memilih Vita, menjalani rumah tanggaku yang sempurna ini. Apalagi Vita sedang hamil, tentu saja kabar kehamilan Vita menjadi kabar paling membahagiakan untuk mama dan papaku, karena mereka memimpikan cucu. Mama hanya punya aku saja, jadi mama berharap aku bisa memberikan cucu untuk hiburan di masa tuanya. Berbeda dengan orang tua Vita, yang memiliki empat anak, jadi ibu dan ayah cucunya sudah banyak. Vita anak bungsu, tapi dia bukan anak yang manja, dia selalu mandiri, dan tidak pantang menyerah untuk mencapai apa yang diinginkannya.
Pagi ini, aku akan pergi ke kantor, tapi saat pamit dengan Vita, seperti biasa Vita merengek untuk ikut ke kantor. Katanya dia jenuh sekali, karena sudah lama berdiam diri di rumah, tidak ke mana-mana, keluar hanya kalau mau periksa kandungan saja. Vita terus merengek manja, minta ikut ke kantor.
Aku tidak mau Vita kepekan dan akan berimbas dengan kandungannya, itu kenapa aku tidak ingin dia ke kantor lagi. Tapi, namanya Vita ya seperti itu, dia tetap merengek ingin ikut aku ke kantor. Padahal aku sudah melarangnya, aku ingin dia di rumah saja selama hamil, karena aku ingin kandungannya baik-baik saja. Meski kata dokter kandungan Vita kuat, tidak ada masalah, tapi namanya suami tetap saja khawatir, apalagi dia orang yang aktif, yang susah disuruh untuk diam saja.
Kadang colong-colongan sama aku, bantuin bibi di dapur, bersihin kamar, beres-beres lemari, pokonya ada saja alasannya biar dia bisa bergerak gak hanya santai di rumah.
Seperti sekarang dia masih merengek minta ikut ke kantor. Dia memaksaku untuk mengizinkannya. Ya sudah aku biarkan saja dia ikut.
Vita sudah siap dengan pakaian yang rapi yang aku pilihkan tadi. Dres yang membuat aku jatuh hati pada Vita. Dia begitu anggun dan cantik memakai dres itu. Hingga saat pertama kali aku melihat dia memakai baju itu, aku sampai terbayang hingga malam hari. Sampai aku penasaran dengan Vita, dia perempuan yang seperti apa.
Ternyata, dia adalah perempuan yang pesonanya mengalihkan cinta pertamaku. Ya cintaku pada Nadira, pada siapa lagi? Dia cinta pertamaku sejak aku SMA sudah jatuh cinta padanya. Hingga aku menikah hubunganku dengan Nadira masih berjalan, sampai membuat rumah tanggaku akan hancur karena Nadira. Tapi, sejak aku telusuri hatiku sendiri, aku tuntun hatiku untuk memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupku, aku akhirnya memilih Vita. Wanita yang dijodohkan denganku sejak aku masih SMA. Dijodohkan memang tidak enak, itu awalnya, tapi setelah tahu bahwa perempuan pilihan orang tuaku lebih baik dari segalanya, ya begini jadinya. Aku sampai gak bisa jauh-jauh darinya, sebentar saja di kantor, sudah ingin pulang menemani Vita di rumah. Vita bilang aku ini bucin sekali dengannya. Biar saja, bucin dengan istrinya sendiri, bukan istri orang lain.
“Mas, nanti habis dari kantor aku ingin makan nasi campur, mau gak ke sana?” tanya Vita.
“Nasi campurnya Bu Jamilah itu maksudmu?” tanyaku memastikan.
“Iya, aku pengin makan di sana, sudah lama sekali aku gak makan di sana, Firda sekarang sibuk sendiri, gak bisa diajak makan bareng di sana,” jawabnya.
“Oke nanti ke sana, kalau jam makan siang.” Aku mengiyakannya.
Aku ingat kejadian dulu di tempat makan itu. Saat aku pertama kalinya kepergok Vita di sana, aku bawa Nadira makan di situ. Kita berhadapan pula duduknya, karena saat itu gak ada tempat duduk lagi, akhirnya pelayan di sana mempersilakan duduk di tempat Vita, karena meja vita tempat duduknya masih kosong untuk dua orang.
“Ngomong-ngomong soal nasi campur kok aku jadi ingat sesuatu, ya?” ucapku dengan Vita bersamaan.
__ADS_1
“Cie ingat mantan, ya?”
“Lebih ingatnya, kok tega aku begitu di depan kamu, Vit. Jangan makan di sana, ya? Aku semakin merasa bersalah kalau ingat itu,” ucapku.
“Anakmu yang pengin, Mas. Lagian sudah, yang sudah ya sudah, toh sekarang aku ini hanya milikmu satu-satunya, kalau kamu mau mendua ya silakan sih, aku bisa urus anak ini sendiri tanpa kamu,” ucap Vita santai.
“Kok gitu bilangnya?”
“Ya kalau misalnya suami sudah gak mau lagi sama aku, aku bisa apa? Memaksa? Enggak, kan?”
“Jangan bilang gitu lagi, ya? Gak akan pernah aku berpaling darimu, kalau ada niat, mungkin saat Nadira merengek bilang masih mencintaiku, dan tidak bisa tanpaku, aku akan luluh lagi dengannya. Nyatanya, tertarik pun aku tidak? Sedih melihat dia seperti itu pun aku biasa saja? Orang sudah aku kubur perasaanku untuk dia, dan sudah tidak ada rasa lagi, ya sudah mau dia memohon, atau apa, aku gak peduli,” ucapku.
“Iya aku percaya, Mas.”
Ponselku berdering, aku lihat ada telefon dari pihak sekolahan, mungkin soal urusan aku yang akan pensiun dini. Aku angkat telefonnya, dan benar nanti siang aku disuruh menemui kepala sekolah, lalu aku juga harus mengurus syarat lainnya.
“Nanti ikut ke sekolahan, ya? Ada urusan sebentar,” ucapku pada Vita.
^^^
Sesampainya di kantor, mustahil Vita hanya diam. Dia menyalakan komputernya, lalu dia malah mengerjakan semaua pekerjaannya. Dia benar-benar perempuan yang tidak mengenal lelah, sedang hamil pun kalau di rumah dia sambil memantau semua usahanya di luar. Tak heran dia tidak pernah takut untuk hidup sendiri. Tapi, aku sebagai laki-laki, aku harus bisa memberikan yang tebaik untuknya, dan memberikan rasa nyaman untuk Vita.
Aku ini rumah Vita untuk melepaskan segala kepenatan dalam hidupnya. Begitu juga dengan Vita, dia adalah rumah bagiku, sandaran ternyamanku, rumah untuk aku berpulang, mengistirahatkan jiwa dan ragaku, karena letihnya dunia. Rumah untuk hatiku yang sangat mencintainya.
Sebisa mungkin aku akan membuat dia nyaman, dan tentram. Vita adalah segalannya bagiku, apalagi kami akan memiliki anak, sudah aku pastikan anak dan istriku akan aku bahagiakan hingga ujung waktuku. Kebahagiaanku adalah melihat istri dan anakku bahagia.
“Kalau lelah, istirahatlah,” ucapku sambil menaruh susu hamil rasa cokelat untuknya. Tadi pagi Vita gak mau minum susu, jadi aku membuatkannya di kantor.
“Iya ini aku sedang istirahat, aku sedang bersih-bersih email yang sudah lama sih, sama lagi main game,” jawab Vita.
__ADS_1
“Kamu main game?” tanyaku.
“Dua bulan di rumah, aku jenuh, aku habiskan main game, game biasa saja, biar gak bosan saja,” jelasnya.
“Aku kira game yang harus top up saldo atau apa buat beli-beli apa itu namannya?”
“Enggak, game biasa saja kok, biar gak jenuh saja.”
“Ya sudah susunya diminum, aku lanjutin ini dulu, ya?”
“Ih sebentar lagi mau makan lho? Nanti kenyang dong kalau minum susu?”
“Makannya nanti, habis aku dari sekolahan ya, Vit? Soalnya ini aku dihubungi lagi, sebelum jam dua belas harus sudah di sana.”
“Oke gak apa-apa.” Jawabnya santai.
Aku melanjutkan pekerjaanku. Aku lihat Vita sedang asik dengan gamenya. Biar saja, untuk hiburan dia daripada dia ikutan bekerja, nanti malah yang ada kecaepean.
^^^
Urusanku dengan sekolahan dan Dinas sudah selesai. Pengajuan untuk pensiun dini sudah disetujui. Aku resmi sudah tidak mengajar lagi. Meski guru adalah cita-citaku, dan memang impianku adalah menjadi guru, tapi aku sadar bahwa mimpi tidak selamanya harus bisa terwujud. Mungkin itu hanya sekadar mimipi saja, yang mampir dalam tidurku.
Aku ingin meneruskan titah papaku untuk mengurus perusahaan peninggalan papa. Tidak mungkin Vita terus yang akan mengurusnya, karena tugas Vita adalah bahagia di rumah bersama anak-anak, bukan untuk bekerja mencari nafkah. Aku yang harusnya bekerja, menafkahi dia lahir batin, membuat dia dan anakku bahagia. Itulah tugasku sekarang, sebagai suami Vita.
Setelah dari sekolahan, kami melanjutkan niat kami untuk makan di rumah makan nasi campur Bu Jamilah. Tapi, sebentar lagi mau sampai, Vita berubah pikiran, dia minta makan soto saja.
“Ini mau sampai lho? Yakin ganti menu?” tanyaku memastikan.
“Iya, aku sudah membayangkan bau bawang putihnya, pasti menyengat. Yuk makan soto saja?” jawabnya.
__ADS_1
Aku menurutinya. Biar saja, ibu hamil sudah biasa begitu, yang tadinya pengin mangga muda, giliran sudah dibelikan mangga muda gak mau, maunya malah asinan kedondong. Kan serba salah? Seperti saat ini, yang diinginka makan nasi campur, giliran sudah mau sampai, berubah penginny makan soto. Gak apa-apa, asal kamu bahagia, Sayang.