Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Bukan Daerah Kekuasaanku


__ADS_3

Malam ini, ibu dan ayah tidur di rumahku. Dari tadi siang ibu terus membujukku untuk tidak melayangkan surat gugatan cerai. Aku sudah lelah, tapi apa aku harus menyerah? Aku terlanjur mengalah, demi dua orang yang saling cinta. Untuk apa aku hidup dengan Mas Dani, kalau ternyata dia tidak bisa mencintaiku, dan masih terbelenggu dengan masa lalunya?


“Kamu benar mau menggugat Dani?” tanya Ayah.


“Iya, Yah. Maafkan Vita, Vita gagal dalam berumah tangga. Mumpung Vita belum sampai jauh dengan Mas Dani, Yah,” jawabku.


“Apa tidak dipikirkan dulu, Vit? Jangan mengambil keputusan saat sedang seperti ini. Dinginkan dulu pikiranmu, jangan langsung begitu,” tutur ayah.


“Apa aku harus menyiksa lebih dalam batinku dulu baru aku berpisah dengan Mas Dani, Yah? Aku tidak mau ketika aku sudah nyaman, sudah bahagia, lalu malah terjatuh lagi. Cukup sudah hatiku diombang-ambingkan oleh Mas Dani, Yah. Aku akan tetap mengajukan gugatan cerai, dan besok aku akan menemui temanku yang pengacara.”


Aku kekeuh pada pendirianku, aku akan tetap menggugat Mas Dani, sebelum aku jatuh terlalu dalam dengan perasaan ini. Aku mencintai Mas Dani, tapi kalau dia tidak mencintaiku untuk apa aku bertahan?


“Vit, bukan ibu tidak berpihak pada kamu, tapi benar yang ayahmu katakan. Kamu itu perlu menentramkan hatimu dulu, biar tidak gegabah ambil keputusan. Oke, keputusan terbaik kamu adalah berpisah, tapi beri jeda dulu, kamu harus memikirkan lagi, itu benar-benar keputusan terbaik atau bukan, jangan langsung kamu memutuskan cerai, besok kamu langsung ke pengadilan agama. Lebih baik, kamu tenangkan dulu pikiranmu, kamu refreshing ke mana kek, yang dan pikirkan lagi, bagaimana baiknya,” tutur ibu.


Aku tahu, semua tidak ingin aku berpisah dengan Mas Dani. Aku pun tidak ingin, tapi Mas Dani tidak mencintaiku. Buktinya saja, dia ingin belajar mencintaiku, tapi bertemu Nadira saja sampai lupa apa yang semalam baru ia katakan padaku? Dia langsung bahagia sekali kedatangan Nadira di rumah, Mas Dani langsung peluk dia, cium dia, dan lupa akan aku yang ia janjikan, bahwasannya dirinya akan belajar mencintaiku.


Mungkin benar kata ibu, kalau aku harus menenangkan pikiranku dulu. Karena yang ada di otakku saat ini, cerai, cerai, cerai, lalu aku akan memberitahukan pada Arif masalah ini, biar dia simpati padaku. Padahal kalau aku sampai begini, aku akan menjatuhkan martabatku sebagai seorang wanita. Tidak, aku tidak boleh begini, aku harus memikirkannya lagi dengan pikiran yang jernih dan tidak kacau seperti saat ini. Aku harus melihat bagaimana perjuangan Mas Dani saat menginginkan aku pulang.


Dari tadi dia tidak lelah mengirimkanku pesan, dan memintaku untuk pulang. Dia hanya menuliskan kata maaf di setiap pesannya, dan meminta aku untuk pulang ke rumah. Mungkin sudah ratusan pesan dari Mas Dani yang hanya aku baca saja, tidak aku balas. Mungkin telefonnya juga sudah ratusan kali, tapi tidak aku jawab. Aku yakin dia di rumah sedang kacau memikirkan aku. Biar saja, aku tidak boleh lemah, biar aku kasih dia pelajaran dulu.


Mama juga mengirimku pesan. Mama  meminta aku pulang. Mas Dani dari tadi katanya hanya duduk di atas tempat tidur sambil memandangi fotoku dan menangis. Aku hanya tersenyum mama bilang begitu di chatnya tadi. Biar saja, biar dia merasakannya. Biar Mas Dani tahu betapa sakitnya sekarang saat aku tidak kembali pulang dan aku tidak menginginkan pernikahan ini kembali utuh.


“Ma, bilang saja sama Mas Dani, untuk apa pulang? Untuk menjadi pembantu saja di rumah? Melayani keperluannya Mas Dani, bersih-bersih, masak, nyuci baju, nyuci piring, ngepel? Kenapa gak Nadira saja yang gantiin? Dia yang layak melakukan itu, karena dia yang dicintai Mas Dani. Sedangkan aku? Aku ini istrinya, disayang dan dicintai tidak malah jadi pembantu!”


Aku tidak peduli, aku kirim pesan ke mama begitu, aku ini lelah. Mama padahal tadi menyetujui aku untuk menggugat cerai Mas Dani, tapi sekarnag melihat keadaan Mas Dani yang katanya miris, memintaku pulang? Gak ngertiin banget sih sama hatiku? Ibu sama ayah juga, malah menyuruhku menunda perceraian ini. Aku tidak mau, tekadku sudah bulat, aku harus berpisah dengan Mas Dani.


^^^


Siang ini aku selesai menemui pengacara, aku sudah mengajukan gugatan cerai, aku tidak mau lama-lama menunda waktu. Biar saja tidak kubicarakan dulu dengan ibu dan ayah, juga mama dan papa. Sebelum aku berpisah dengan Mas Dani juga, aku harus menyelesaikan semua tugasku di kantor papa, sebelum semua dialihkan pada Mas Dani, atau papa lagi. Aku harus profesional, aku tidak boleh menjadi pengecut.


Aku langsung ke rumah Mas Dani setelah menemui pengacara dan ke pengadiln Agama mengajukan gugatan. Aku tahu Mas Dani di rumah, mama bilang Mas Dani tidak berangkat ke sekolahan, karena sedang tidak enak badan. Mama juga tidak bis menamani, karena mama menemani papa ke luar kota sejak tadi pagi. Aku menghentikan mobilku di depan rumah Mas Dani. Benar mobil Mas Dani di luar, aku turun dan aku masuk ke dalam. Pintunya tidak di kunci, aku lihat ke dapur, ada masakan, mungkin mama memasakkan untuk Mas Dani, dan aku tengok ke kamar. Aku lihat Mas Dani duduk di atas tempat tidur dengan menghadap jendela. Aku mendengar isakan tangisnya, dan sesekali menyebut namaku.


“Vita,  maafkan aku. Pulang, Vit. Aku janji aku akan mencintaimu, pulang ya, Vit? Tolong jangan pergi, jangan ceraikan aku, Vita ....”


Mas Dani terus mengulang kata-kata itu berkali-kali, dia menangis sambi memandangi foto pernikahan kami, dan foto saat kita di Anyer kemarin. Aku juga melihat makanan Mas Dani masih utuh di atas meja kecil di kamarnya. Dia sedang sakit, dia juga harus minum obat, tapi makanannya utuh. Mama di sini malah seperti tidak peduli dengan keadaan Mas Dani. Padahal anaknya sedang sakit.


“Mas ....” Aku panggil Mas Dani, dia perlahan memutar tubuhnya untuk mencari sumber suara.


“Vi—Vita? Benar ini tidak mimpi? Kamu pulang, Vit? Kamu Vita, kan? Aku tidak mimpi?” Ucapnya dengan bergetar. Tubuhnya bergetar, wajahnya kuyu, matanya sembab, dan berantakan sekali rupa suamiku yang tadinya gagah, tampan, dan begitu menggoda.


“Iya, ini aku Vita, Mas,” jawabku.


“Yakin? Kamu tidak bohong? Dan, aku gak mimpi, kan?”


“Enggak, Mas,” jawabku.


Mas Dani turun dari tempat tidurnya, dia berjalan ke arahku dengan sempoyongan, dan akhirnya sampai di hadapanku. Dia langsung memelukku erat, menciumi pipiku, lalu memelukku lagi, dan menangis, meraung sambil meminta maaf. Lalu ia turunkan badannya, ia bersimpuh di kakiku, dan akan mencium kakiku, sambil meminta maaf.


“Mas, jangan gini.” Aku langsung berjongkok, dan memeluknya.


“Aku minta maaf, aku minta maaf, Vita. Aku mohon jangan pergi lagi, ya? Jangan pergi, Vit.” Ucapnya dengan tatapan yang nanar, dan penuh harap.


Aku tidak tega melihatnya, apa aku harus memberikan surat gugatan ini? Di saat keadaan Mas Dani seperti ini?


“Jangan pergi Vita, aku mohon. Akan aku perbaiki semuanya. Aku janji. Aku mencintaimu, Vita. Sungguh mencintaimu. Aku mohon tetap jadilah istriku, jangan pergi, jangan ceraikan aku,” ucapnya di sela-sela tangisannya.


“Aku di sini, iya aku gak pergi. Aku masih kerja di kantormu, siapa bilang aku pergi, pagi ini aku juga ke kantor. Makasih untuk kemarin, sudah menggantikan aku memimpin rapat,” ucapku. “Sudah yuk bangun, mas belum makan, kan?” tanyaku.


“Belum.”


“Ya sudah yuk bangun, mau aku pesankan makanan, atau makanan yang ini di meja?” tanyaku.


“Itu mama yang buat, tapi biasa mama cepat-cepat mau pergi, urusan pekerjaan, mama taruh di situ saja, lalu pergi,” jawab Mas Dani.

__ADS_1


Mama selalu gak ada waktu untuk Mas Dani, pantas saja Mas Dani tidak begitu dekat dengan mama?


“Papa yang minta mama cepat-cepat, jadi gak menyuapi aku dan baru saja membujuku papa langsung meminta mama untuk ikut papa, padahal mama sepertinya masih ingin di sini,” ucap Mas Dani.


Masih saja papa gak peduli dengan Mas Dani. Mungkin papa sudah terlanjur kecewa dengan Mas Dani, yang selalu menentangnya, jadi papa begitu dengannya.


“Ya sudah aku suapi, Mas. Minum dulu obat sebelum makannya, ya? Aku ambilkan sebentar.” Aku mengambil kotak obat yang masih aku tinggal di dapur dari kemarin siang, saat ada Nadira.


“Ayo minum dulu.” Aku memberikannya pada Mas Dani.


Mas Dani meminumnya, setelah itu, dia menarik lenganku, dan memintaku duduk di sebelahnya. “Jangan pergi sini saja,” pinta Mas Dani.


“Iya aku di sini.” Jawabku.


Mas Dani menyandarkan kepalanya di lenganku. Dia memelukku dengan erat, seperti takut aku akan pergi lagi.


“Vit, apa kamu akan tetap menceraikanku?” tanya Mas Dani.


“Mungkin, Mas,” jawabku.


“Apa tidak ada kesempatan lagi untukku, Vit?” tanya Mas Dani.


“Apa jika aku beri mas kesempatan, mas tidak akan mengulanginya lagi? Tidak akan menemui Nadira lagi?”


“Dia sudah pergi, kemarin sore. Dia sudah resmi dipindahkan tugas, dan hari ini dia sudah tidak mengajar di sini lagi,” jawab Mas Dani. “Aku mohon kita mulai dari awal ya, Vit?” pinta Mas Dani.


“Aku tidak janji, Mas,” jawabku.


“Baiklah, kalau itu sudah keputusanku. Tapi, aku minta selama kamu mengurus proses perceraian, kamu di sini ya?”


“Gak bisa dong mas? Aku gak bisa di sini, tapi aku masih menyelesaikan tugasku di kantor kok, jadi kita masih bisa ketemu,” jawabku. “Maaf, sebetulnya aku tadi menemui pengacara, aku sudah mengajukan gugatan, Mas,” ucapku.


Mas Dani terdiam, aku dengar isakan tangisnya, dia menggengam tanganku lalu menciumnya. “Maafkan aku ya, Vit. Aku terima keputusan kamu. Aku tahu perasaanmu, aku terlalu banyak menggoreskan luka di hatimu. Maafkan aku,” ucap Mas Dani dengan terisak.


Aku mengambil tasku, dan mengeluarkan amplop cokelat berisi surat gugatan cerai. “Ini mas.” Aku memberikannya pada Mas Dani.


“Nanti aku tanda tangani, Vit,” ucapnya.


“Ya sudah, aku suapi mas, ya?” Aku mengambil makanannya, dan aku menyuapinya.


“Masakannya hambar, Vit,” ucapnya.


“Kamu lagi gak enak badan, Mas. Jadi ya makanannya hambar,” jawabku.


“Bukan badanku yang sakit, hatiku pun sakit, Vit.”


“Karena kepergian Nadira?”


“Bukan, karena kamu akan pergi,” jawabnya. “Aku mencintaimu, Vit.”


“Secepat itu, Mas?” tanyaku.


“Ya, memang ini yang aku rasakan, sebetulnya sejak malam di Anyer itu, aku sudah jatuh cinta denganmu, Vit,” jawab Mas Dani.


“Jatuh cinta macam apa itu? Kamu saja kemarin siang masih bilang sangat mencintai Nadira, di depan Nadira?” ucapku.


“Aku tidak tahu, aku memang sulit memilih antara kamu dan dia. Dia cinta pertamaku, dan kamu pilihan terbaik dari orang tuaku. Sejak kita sering bersama, aku sudah merasakan nyaman, merasa takut kamu pergi, merasa hati ini tenang saat denganmu, dan aku yakin aku sudah bisa mencintaimu, ternyata benar. Kamu pergi rasanya berbeda dengan aku melepaskan kepergian Nadira,” jelas Mas Dani.


Aku hanya diam. Aku benar-benar tidak menyangka Mas Dani bilang mencintaiku. Tapi, aku lihat dia sungguh-sungguh. Biar saja, aku akan tetap pada pendirianku, berpisah dengannya.


“Bolehkan aku mencintaimu meski kita sudah berpisah nantinya, Vita?” tanya Mas Dani.


“Itu hak kamu, Mas. Mau mencintai aku sampai kapan kamu mau, aku tidak melarangnya,” jawabku.

__ADS_1


“Apa kamu masih mencintaiku, Vit?” tanya Mas Dani.


“Ya aku masih sangat mencintaimu, Mas,” jawabku jujur.


“Lalu kenapa kamu minta cerai?” tanya Mas Dani.


“Karena aku tahu hati kamu masih labil. Aku hanya takut saat kita sudah baik-baik saja menjalani rumah tangga, kamu kembali bertemu Nadira, dan melanjutkan kisah kalian lagi. Aku pasti yang akan kalah, karena dia cinta pertamamu,” jawabku.


“Tidak akan, Vit. Aku tidak akan seperti itu. Demi Tuhan aku sangat mencintaimu, Vit. Aku pilih kamu, kupilih hatimu, Vit,” ucap Mas Dani tulus.


“Tapi aku akan tetap ingin pisah, Mas. Karena aku terlalu takut sakit hati lagi,” jawabku.


“Ya sudah kalau memang itu keputusamu,” ucap Mas Dani.


“Ayo satu suap lagi, habis itu minum obatnya, dan aku kompres badan mas,” ucapku.


“Kamu mau mengompres badanku?”


“Ya, aku ini masih sah istrimu, sebelum pengadilan memutuskan kita bercerai,” jawabku.


Aku ke belakang, menaruh piring dan menyiapkan air hangat setelah menyuapi Mas Dani, dan mengambilkan obatnya. Aku tahu, Mas Dani sungguh-sungguh mengungkapkan perasaannya tadi, tapi aku sudah memutuskan untuk pisah saja, daripada nantinya aku sakit hati lagi, karena dia yang labil. Buktinya, kemarin bilang mau belajar mencintaiku, tapi dia malah begitu dengan Nadira?


Aku masuk ke kamar Mas Dani lagi, aku menaruh air hangat yang ada di dalam wadah untuk membersihkan tubuh Mas Dani. “Sini aku seka dulu wajah mas.” ucapku.


Setelah bersih wajahnya, aku meminta Mas Dani membuka bajunya. Aku tidak memperbolehkan dia mandi, karena suhu tubuhnya tinggi lagi seperti kemarin.


“Maaf ya, Vit,” ucapnya.


“Iya. Aku izin bersihkan tubuhmu, ya?” ucapku.


Ya Tuhan, kenapa jadi aneh begini rasanya. Aku tidak boleh gugup, aku hanya membantu membersihkan tubuhnya saja.


“Mas bisa ke kamar mandi, kan?” tanyaku.


“Bisa, kenapa, Vit?”


“Emm ... yang bawah bersihin sendiri di kamar mandi, ya?”


“Kenapa gak sekalian?”


“Ish ... bukan daerah kekuasaanku, Mas,” jawabku.


“Tapi ini milikmu, Vit.”


“Ngarang! Orang punyamu juga? Sudah ah sana ke kamar mandi! Aku siapkan bajumu, ini handuknya. Sekalian gosok gigi,” ucapku.


“Iya, Sayang ....”


“Sayang pala lo peyang!” tukasku.


“Gak mau dipanggil sayang?”


“Sayangmu palsu!”


“Kalau asli gimana? Mau, kan?”


“Sudah sana ke kamar mandi, sebelum aku berubah pikiran untuk pergi lagi!” Ancamku.


“Ih jangan dong, iya aku ke kamar mandi.”


Mas Dani bergegas ke kamar mandi, aku mengambilkan bajunya. Dan, aku terkejut dengan keadaan lemarinya yang berantakan sekali.


“Astaga ... baru ditinggal aku sehari saja begini? Apalagi sebulan?” umpatku kesal dengan melihat keadaan lemari Mas Dani.

__ADS_1


__ADS_2