
Aku langsung masuk ke ruangan Vita. Dia terlihat sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya.
“Mas, untung kamu sudah datang. Ayo ikut aku meeting, papa gak bisa ke sini, papa keluar kota. Tantri sedang banyak pekerjaan,” ajak Vita.
Baru saja datang dia mengajakku meeting. Aku belum ada persiapan apa pun, dan aku sama sekali tidak bisa. Bagaimana bisa aku menemani dia menemui klien?
“Kamu gak salah, Vit?”
“Salah gimana, Mas?” jawab Vita dengan menatapku.
“Ya gak salah kamu ajak aku menemui klien?” tanyaku memastikan lagi.
“Gak lah, memang salahnya di mana?” jawab Vita santai. “Ayo temani aku, aku gak bisa ajak Tantri, biasanya kan sama papa atau mama, mereka ada urusan katanya di luar kota,” sambungnya.
“Aku gak bisa apa-apa lho Vit?”
“Nanti juga bisa dan terbiasa. Ayo, setengah jam lagi aku harus sampai, Mas!” ajaknya dia langsung menarik tanganku, tapi di ambang pintu dia menatapku dan mengembuska napasnya dengan berat.
“Ih Mas Dani berantakan banget sih?” ucapnya sambil membetulkan dasi yang belum aku pakai. “Kenapa dasinya masih begini, Mas?”
“Sengaja biar dipakaikan kamu, Vit,” jawabku asal. Tapi, memang seperti itu. Aku sengaja biar mendapatkan perhatian Vita, karena semarah dan sejengkel apa pun Vita dengaku, dia pasti masih peduli padaku.
“Alasan gak masuk akal!” tukasnya. “Sudah rapi, gini dong Pak Direktur? Masa berantakan?” Ucapnya dengan memegang bahuku selesai memakaikan dasiku.
“Makasih Bu Revita Adriyana,” jawabku dengan menyimpulkan senyuman di depan Vita.
“Ayo berangkat!” ajaknya.
Vita berjalan cepat di depanku. Padahal dia pakai high heels, tapi bisa berjalan secepat itu. Langkahnya tegap dan pasti, tidak menghiraukan kanan kiri yang mungkin dan menghiraukan rintangan di depannya. Itulah ciri perempuan yang tegas, berani, dan tidak mudah menyerah. Aku mempercepat jalanku, aku benar-benar tidak bisa mengimbangi langkahnya, padahal aku ini laki-laki, harusnya lebih tegap dan tegas dalam melangkah.
“Huh ... kamu jalan cepat sekali, Vit?” ucapku dengan terengah.
“Kamu saja yang lelet, Mas!” jawabnya.
“Ya sudah, masuk Vit!”
__ADS_1
Vita masuk ke dalam mobilku, aku memasang seat betl sedangkan Vita malah sibuk dengan ponselnya, tidak memasang seat beltnya.
“Mas, kok gak jalan-jalan? Ayo buruan!” ucap Vita dengan menatapku. “Idih malah lihat-lihat aku lagi?”
Aku mendekati Vita, sengaja biar Vita ketakutan seperti tadi pagi saat akan aku cium. “Mas ... ih mau apa?” Satu tangan Vita mendorong dadaku yang semakin mendekatinya, dan satu tangannya lagi dia mendorong wajahku.
“Pakai seat beltnya, Vita ... bagaimana aku bisa melajukan mobil ini, kalau kamu belum pakai ini?” Ucapku dengan memekaikan seatbeltnya.
Aku tatap lagi wajah Vita dengan lebih dekat. Napas Vita terlihat naik turun di dadanya, napasnya begitu hangat mengenai wajahku, dia begitu cantik sekali, mungkin kalau aku hanya mementingkan nafsu, sudah aku ciumi dia, dan mungkin aku sudah melakukan tugasku sebagai suami. Tapi, aku tidak mau melakukannya, karena aku belum mencintainya, tapi entah nanti.
Vita memejamkan matanya, namun ia memalingkan wajahnya. Aku mencium pipinya, dan dia lansung menatapku tajam.
“Gak usah marah, Cuma cium pipi saja, Vit. Aku gak akan mencium bibirmu. Sudah yuk berangkat,” ucapku.
“Jangan ulangi hal seperti ini, Mas! Kalau mau cium aku, boleh di depan orang tuamu atau orang tuaku, seperti perkataanmu di awal kita menikah. Masih ingat kamu mengatakan apa padaku, kan?” ucap Vita dengan menundukkan wajahnya.
Aku tahu dia kecewa saat aku mengatakan seperti itu. Iya, dulu aku bilang dengan dia kalau aku tidak mencintainya, pernikahan hanya sekadar pernikahan, aku tidak mau menyentuhnya, dan aku bilang aku mencium dia hanya di depan orang tuaku atau orang tuanya saja. Diluar itu, tidak akan ada ciuman kening atau apa pun, tapi hari ini aku melanggarnya sendiri. Bagai menjilat ludah sendiri. Dan, aku baru ingat sekarang, kalau Vita tidak mengingatkan apa yang aku katakan setelah menikahinya.
“Sudah ingat apa yang kamu ucapkan, Mas?” tanya Vita.
“Tolong jangan diulangi lagi,” ucapnya lalu ia memalingkan wajahnya. Ia menatap ke samping, keluar jendela.
Mungkin dia kecewa denganku, tapi aku yakin dia mencintaiku, kalau aku rayu dia pun dia pasti mau melakukannya, tapi dia memang perempuan yang susah untuk didapatkan. Susah untuk dirayu. Aku ini suaminya, kami suami istri, mungkin kalau pasangan lainnya, meski suaminya sudah mengatakan hal seperti itu, terus dirayu-rayu lagi, pasti pasrah. Tidak seperti Vita, dia kekeh dengan pendiriannya, dia menjaga apa yang diucapkannya, dan apa yang aku ucapkan.
“Mas, nanti minggu depan bantu aku di Anyer bisa, kan? Kamu gak ada acara dengan Nadira, kan?” tanya Vita.
“Enggak ada sepertinya,” jawabku.
“Weekend, Mas. Ada acara gak? Kalau gak ada ya sudah aku bisa cari orang lagi,” ucapnya.
“Weekend, gak ada. Gak ada acara apa-apa dengan Nadira. Lagian dia sedang ngambek,” jawabku.
“Oh, ngambek kenapa? Seperti ABG saja,” ucapnya. “Semalam habis dikasih jatah masa ngambek. Atau mungkin kurang jatahnya?” lanjut Vita.
“Apaan sih Vit! Jangan begitu bicaranya,” ucapku.
__ADS_1
“Ya kalau gak begitu harus gimana? Begini?” ucapnya.
Aku terdiam, Vita benar-benar tenang aku membicarakan Nadira, dan dia juga tenang sekali, saat bicara soal semalam.
“Mas, kalau mas sudah berlebihan dengan dia. Kenapa gak sekarang saja mas urus perceraian denganku. Jangan menggantung dia terlalu lama, kalau mas sudah menyentuhnya. Nanti aku bicarakan baik-baik dengan orang tua kita, kalau kita sudah berpisah. Kamu gak kasihan sama Nadira? Kamu sentuh dia, tanpa ada kepastian? Aku juga merasakan apa yang Nadira rasakan, Mas.”
Ucapan Vita membuat hatiku terketuk. Iya benar, aku menggantung dia tanpa kepastian, tapi mana bisa aku menceraikan Vita? Nanti papa dan mama bagaimana? Aku sudah mengecewakan mama dan papa karena aku memilih jadi pengajar. Kalau aku menceraikan Vita, apa tidak mengecewakan papa dan mama lagi?
“Gak usah memikirkan papa dan mama, Mas? Aku tahu mereka pasti akan kecewa, tapi untuk apa kita melanjutkan pernikahan kita yang tanpa cinta? Dan pernikahan kita menyakiti perempuan lain,” ucap Vita.
“Aku tidak tahu, Vit. Aku memang tidak mencintaimu, aku sangat mencintai Nadira. Aku sudah melakukan hal yang lebih dengannya. Tapi, apa aku tidak mengecewakan mama dan papa kalau aku mengakhiri pernikahan ini?” ucapku.
“Mama dan papa kecewa sudah pasti. Tapi, pasti mereka akan mengerti kok, bahwa cinta gak bisa dipaksakan, Mas,” ucapnya.
Aku melihat Vita dari tadi sedikit menyeka sudut matanya. Aku yakin dia menangis, dia sakit sekali hatinya mengatakan semua ini, apalagi aku tahu, dia mencintaiku. Ya, aku melihat di buku kecil di atas meja. Dia mencurahkannya semua di sana. Aku tidak mengerti dia akan bicara seperti ini.
“Lalu nanti kantor bagaimana?”
“Kamu boleh melepaskan kantor. Toh aku di kantor papa hanya beberapa tahun saja menjabat CEO, kalau masa kerjaku sudah habis ya sudah, nanti terserah papa bagaimana? Kalau kamu mau belajar ya aku ajari. Mumpung ini aku masih mau mengajari mas, tolong belajar sungguh-sungguh, Mas,” ucapnya.
“Aku akan sungguh-sungguh, Vit. Tapi untuk menikahi Nadira, aku harus berpisah dengan kamu dulu,” ucapku.
“Ya kamu siapkan saja berkasnnya. Aku siap kamu lepaskan kapan pun, Mas,” ucapnya.
Vita kembali diam. Dia melihat ke jendela mobil lagi. Aku yakin dia bicara seperti itu dengan hati yang tidak baik-baik saja. Aku melihat Vita menyeka air matanya. Tubuhnya semakin bergetar, aku tahu dia menangis setelah mengatakan semua itu.
“Vita, kamu baik-baik saja?” tanyaku dengan mengusap bahunya.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawabnya dengan suara parau.
“Kamu nangis?”
“Hanya mengeluarkan air mata saja. Aku lega bisa bicara seperti ini, aku tidak mau semakin tersiksa dalam ikatan yang tidak jelas ini, Mas. Lepaskan aku, kamu tidak mencintaiku, apa gunanya pernikahan ini. Aku siap untuk kamu lepaskan, Mas. Aku siap jika kita berpisah,” ucapnya dengan menyeka air matanya.
Ya Tuhan ... aku tidak tega melihat dia menangis, aku tahu perasaan dia bagaimana. Dia begitu rapi menyimpan perasaannya padaku. Dia begitu tenang, meski dia menangis. Apa aku harus menceraikannya sekarang?
__ADS_1