
Kandungan Vita sudah memasuki bulan ke sembilan. Dani semakin siaga untuk mempersiapakan kelahiran putra pertamanya. Ya anak mereka laki-laki sesuai hasil USG terakhir Vita kemarin dengan dokter kandungan. Vita sudah mulai drama untuk tidur, dia sudah tidak nyaman untuk tidur, posisinya sudah semakin susah. Dani kadang bingung sendiri, karena Vita tidak bisa tidur dengan nyaman, kadang Vita malah nyamannya tidur dengan duduk dan bersandar di tubuh Dani.
“Sayang ... Perutku kok kencang, ya?” Ucap Vita dengan meringis. “Mules juga rasanya.” Ringis Vita.
“Kamu mau melahirkan sayang?”
“Mungkin, sayang. Ahhh... Tambah mules sayang,” pekik Vita.
“Sayang .... Tahan ya? Sebentar aku siapkan mobil.” Dani berlari ke belakang, memanggil pembantunya untuk menemani Vita yang sedang merasakan kontraksi.
“Bi sakit....”
“Sabar ya bu? Aduuuhhh ini ba pak kok lama sekali sih ambil mobil nya?” ucap bibi panik.
“Bi bi .... Sakit ....” Pekik Vita.
“Pak ... Ce pat dong pak?” ujar bibi.
“Iya bi, ayo sayang.” Dani menggendong Vita, dia meminta Bibi untuk membawakan koper yang sudah dia siapkan sebelumnya, supaya saat nanti vita kontraksi, langsung membawa koper tersebut.
Dani memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menyalakan lampu emergency di mobilnya. Dani panik sekali, dari tadi vita menangis kesakitan.
“Ya Allah ... Selamatkan Vita, mudahkanlah persalinannya,” ucap Dani.
Sesampainya di rumah sakit, Dani langsung memanggil tenang medis untuk menangani Vita. Vita langsung di bawa ke ruangan bersalin, dan langsung ditangani oleh dokter kandungan yang menanganinya.
“Sakit, Mas ....” erang Vita.
“Sabar ya, Sayang ... Kamu boleh genggam tanganku sekuatnya. Kamu harus kuat demi anak kita, Sayang,” ucap Dani.
“Mas, kalau aku kenapa-napa, jaga anak kita, ya?”
“Jangan bicara seperti itu, Sayang ... Pasti kamu bisa, pasti kamu kuat, sabar ya? Berdoa, kamu pasti kuat.” Dani sangat takut dan panik, apalagi ucapan Vita tambah ngawur. Tapi kata perawat dan dokter memang banyak pasien yang bicara seperti itu saat sedang kontraksi dan menunggu jalan lahir.
“Ibu .... Ayo persiapkan, pembukaannya sudah sempurna, ayo bu, ikuti instruksi saya,” ucap dokter.
Vita mengikuti instruksi dari dokter, dia menarik napasnya dan buang perlahan. Seperti itu, hingga dia terus berusaha mengejan sekuat tenaga.
“Gak, aku gak kuat, Mas!”
“Ayo ibu, jangan menyerah, ini kepalanya sudah terlihat lho? Ayo Bu Vita, pasti ibu bisa,” ucap dokter.
“Sa kiiit ....” Pekik Vita.
“Ayo sayang, kamu pasti bisa. Kamu kuat, kamu harus bisa demi anak kita, demi aku juga. Ayo sayang.” Dani terus memompa semangat istrinya hingga Vita tidak jadi menyerah, dia terus mengejan, dan akhirnya bayi laki-laki lahir dari perut vita. Tangisan putra pertama dani dan vita memecahkan heningnya ruang bersalin.
“Alhamdulillah .... Selamat anak ibu dan bapak laki-laki,” ucap dokter.
“Terima kasih, Syang ... Kamu sudah berjuang untuk buah cinta kita,” ucap Dani.
“Sama-sama, Mas.”
“Aku mencintaimu, Sayang ....”
“Aku juga mencintaimu.”
Dani mengecup kening Vita cukup lama, dia masih menangis membayangkan perjuangan Vita tadi.
Setelah selesai persalinan, Vita keadaannya juga sudah cukup membaik, dan sekarang dia di pindahkan di ruang perawatan. Mamanya Dani dari tadi menggendong cucu pertamanya. Cucu yang sudah lama dinantikannya.
“Akhirnya, aku punya cucu, Pa,” ucapnya dengan bahagia.
“Iya, akhirnya papa dipanggil opa,” ucap Barata.
“Iya mama juga sudah dipanggil oma ya , Pa?” ucap Tamara.
“Akhirnya Dani juga jadi ayah, Pa, Ma,” ucapnya dengan bahagia.
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Vita meminta putranya dari gendongan mama mertuanya. Vita memangku putranya lalu menciumnya.
“Terima kasih, sudah hadir di antara kami, Nak. Jadi lah lelaki yang hebat, yang menyayangi ibumu, istrimu, dan adik-adik perempuanmu nanti. Ibu tidak mau muluk-muluk minta kamu untuk jadi orang hebat. Ibu hanya minta, kelak kamu bisa menghargai perempuanmu, karena orang yang hebat, orang yang bisa menghargai perempuanmu, yaitu istrimu kelak. Dengan kemu menghormati ibumu, menghargai perempuanmu, dunia akan menggenggammu menjadi orang hebat, Nak,” ucap Vita.
Dani tidak menyangka Vita berkata seperti itu. Dani begitu kagum dengan ucapan Vita, karena sekarang Dani sedang merasakannya. Sekarang Dani merasa dunia menggenggamnya setelah ia benar-benar menghargai Vita. Dani merasa karier Dani semakin melambung setelah menyayangi Vita. Dia percaya dengan ucapan Vita itu.
“Mas, sudah siap nama?” tanya Vita.
“Sudah, kan sudah kasih tahu ke kamu, Sayang?” jawab Danial.
“Jadi namanya Faren Adijaya?” tanya Vita.
“Ya kalau kamu mengizinkan,” jawab Dani.
“Iya, aku suka namanya,” ucap Vita.
__ADS_1
“Bagaimana , Ma, Pa? Yah, Bu?” tanya Dani.
“Bagus papa suka,” jawabnya.
“Kami setuju,” jawab orang tua mereka.
^^^
POV Vita.
Akhirnya putraku lahir dengan selamat, sehat, tanpa kurang satu apa pun.
Bahagia sekali aku memiliki keluarga yang sempurna. Suami yang begitu baik, mencintaiku, menyayangiku, dan bertanggung jawab dalam keluarga. Mas Dani berhasil menjadi suami dan ayah siaga.
Aku sangat bersyukur, pernikahanku dengan Mas Dani bisa selamat dari masalah yang hampir saja akan memecah dan mencerai beraikan pernikahan kita. Kami bersatu kembali dan sama-sama melupakan semua masa lalu.
Pelajaran yang berharga untuk diriku sendiri, bahwa menikah dengan orang yang masih terikat dengan masa lalunya akan membutuhkan kesabaran yang panjang untuk mengalihkannya dari masa lalu itu. Akhirnya Mas Dani bisa melepas masa lalunya, dan hidup bahagia denganku, masa depannya yang cerah dan bahagia.
^^^
POV Danial.
Akhirnya jagoanku lahir, anak pertamaku laki-laki. Aku bersyukur sekali, Vita melahirkan dengan lancar, dia sehat, anakku juga sehat, selamat, dan tidak kurang satu apa pun.
Aku bersyukur memiliki istri seperti Vita. Aku tidak tahu bagaimana jika aku sampai berpisah dengan wanita sebaik Vita. Mungkin akan menyesal seumur hidupku. Aku yakin akan begitu.
Sekarang lengkap sudah hidupku. Memiliki anak laki-laki yang tampan, istri yang sangat cantik dan anggun, yang pesonanya bisa mengalihkan cinta masa laluku.
Aku akan mencintai Vita, hingga aku menutup mata karena Tuhan yang mengambil nyawaku.
Benar kata Vita, laki-laki hebat adalah laki-laki yang bisa menghargai perempuannya. Karena dengan menghargai, mencintai, dan menyayangi perempuannya, dia akan menggenggam dunia, benar-benar dimudahkan jalan rezekinya. Sekarang aku akan menjaga keluargaku dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Ternyata melepaskan masa lalu tidak membuat hidup kita sengsara, justru membawanya ke dalam masa depan yang indah dan bahagia.
Terima kasih, Ma, Pa. Kalian sudah memberikan jodoh terbaikku. Perempuan yang hebat, dan pastinya akan melahirkan generasi yang hebat pula.
Aku sangat mencintai Vita. Aku janji akan menjaga keluarga kecilku ini dengan penuh cinta.
Terima kasih, Ma, Pa. Kalian sudah memberikan jodoh terbaikku. Perempuan yang hebat, dan pastinya akan melahirkan generasi yang hebat pula.
Aku sangat mencintai Vita. Aku janji akan menjaga keluarga kecilku ini dengan penuh cinta.
Sekarang, aku paham. Perkara cinta memang tidak harus memiliki, dan impian juga tidak selamanya harus terwujud.
TAMAT.
Yuk ramaikan cerita baru selanjutanya... Judulnya bukan mauku.
Blurb
Amira tidak menyangka, kesalahan satu malam itu berbuntut rumit. Ia sekarang berbadan dua, dan anak yang ada di kandungannya bukan anak suaminya. Tidak mungkin bayi yang di kandungan Amira itu anak suaminya, pasalnya suaminya sedang bertugas di Surabaya selama tiga bulan, dan ini baru dua bulan Amira ditinggal Romi ke Surabaya, sekarang ia tengah berbadan dua.
“Aku hamil, Re.” Dengan tangan bergetar Amira memberikan benda pipih sepanjang jari telunjuknya pada Regi –Adik Iparnya– yang menunjukkan dua garis merah pada benda tersebut.
“Ha—hamil? Maksudnya ini bagaimana, Mbak?” ucap Regi tidak percaya.
"Re, bagaimana kalau Mas Romi tahu soal ini? Soal malam itu? Mas Romi belum pulang aku sudah hamil, Re! Ini anak kamu, Re!"
Kesalahan terbesar malam itu di antara mereka membuat semuanya berubah. Akankah Amira memberitahukan semuanya pada Romi? Dengan cara menutupi usia kehamilannya? Atau Amira akan menggugurkan bayi yang tidak berdosa itu? Benih kesalahan dirinya dengan adik iparnya?
BUKAN MAUKU BAB 1
Amira menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bias mentari pagi menyusup lewat celah tirai yang sedikit terbuka. Menyilaukan mata Amira yang masih terpejam. Ototnya yang kaku sudah sedikit lemas. Ia mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang menerpa wajah cantiknya sebelum ia sadar dan merasakan perutnya tertindih sesuatu.
Amira melihat tangan kekar yang melingkar di perutnya. Padahal suaminya sudah dua minggu tidak di rumah, karena sedang berada di luar kota. “What! Tangan siapa ini?” pekik Amira terperanjat. Lalu manik matanya bergerak, melihat siapa yang memeluknya.
“Regi? I—ini kenapa aku tidur sama Regi?” Amira tertegun melihat Regi sang adik ipar yang sedang memeluknya dengan bertelanjang dada, dan ia pun sama. Tubuhnya yang polos hanya tergulung selimut tebal, bersama dengan Regi. Dalam satu selimut.
Tubuhnya bergetar, setelah mengingat-ingat apa yang terjadi semalam dengan adik iparnya. Amira melihat baju yang ia kenakan semalam berserakan di lantai, bersama baju milik Regi. Amira terus mengingat kejadian semalam. Kejadian panas di atas ranjang yang biasa ia gunakan untuk bercinta memadu kasih dengan Romi, suaminya. Semalam ia melakukannya dengan Regi, yang tak lain adalah adik kandung suaminya.
Amira mengingat semalam begitu liar bermain dengan Regi. Sekelebat bayangan semalam muncul, dan terngiang juga racauan mulutnya saat mengeluarkan ******* kecil, ketika tubuh Regi menguasai tubuhnya.
“Ti—tidak! Ini tidak mungkin!” pekiknya dengan mata mengembun.
“Regi! Bangun, Regi!” Amira mengguncang-guncangkan tubuh Regi, hingga Regi bangun.
Regi menggeliat, lalu matanya mengerjap perlahan. Setelah separuh nyawanya berkumpul, matanya terbuka lebar, seakan bola matanya akan lolos keluar, saat melihat Amira, sang kakak ipar berada di sebelahnya dengan tubuhnya terbungkus selimut putih bersama dirinya.
“Mbak Mira? I—ini kenapa aku di kamar, Mbak?!” tanya Regi, dia pun kebingungan, tidak sadar dengan keadaan.
“Semalam apa yang kita lakukan, Regi?” desah Amira kacau dengan berlinang air mata.
Regi menerawang, masih mengumpulkan sisa nyawanya. Regi kembali mengingat kejadian semalam yang membuat dirinya bisa tidur di kamar kakaknya, dan bergulung satu selimut dengan tubuh polos bersama kakak iparnya. Yang ada diingatan Regi adalah, semalam dia habis pesta minuman dengan teman-temannya. Biasa, kalau ada yang merayakan sesuatu, pasti pesta minuman keras. Biasanya hanya minuman beralkohol rendah yang disedikan, tapi semalam minuman yang disediakan temannya adalah minuman yang memiliki kadar alkohol cukup tinggi, hingga dirinya mabuk berat.
__ADS_1
“Oh, Shitt! Apa yang sudah aku lakukan semalam?!” erang Regi dengan meremas kepalanya frustrasi. Manik matanya tertuju pada Amira yang masih terisak di sebelahnya dengan keadaan kacau dan berantakan. “Ma—maafkan aku, Mbak,” ucap Regi dengan suara parau.
Amira masih menunduk, mencengkram selimutnya, dan menangis. Ia juga mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, kenapa pagi ini dia berdua di kamar dengan adik iparnya, dalam keadaan berantakan, tubuh polos, dan bergulung di dalam satu selimut bersama adik iparnya.
Semalam Amira mendapatkan izin suaminya untuk pergi hangout dengan teman-teman kuliahnya dulu. Seperti biasa, setiap malam minggu pasti geng mereka kumpul. Kadang pasangan mereka juga ikut berkumpul, tapi semalam semua teman Amira tidak ada yang membawa pasangan.
Semalam Amira memang minum minuman yang berlakohol. Dan, ia tahu kadar alkohol dalam minuman itu cukup tinggi. Amira ingat semalam dia minum minuman tesebut karena harus menerima tantangan dari temannya. Mereka bermain truth or dare. Bagi siapa yang tidak bisa menjawab dengan jujur, maka akan diberikan tantangan oleh teman-temannya.
Semalam Amira mendapat giliran kedua setelah Citra dari permainan itu. Putaran kedua, ujung botolnya mengarah ke Amira.
“Yeay ... Amira, Nyonya Romi yang makin hari makin seksi saja,” ucap Alya girang. “Truth or dare, Beib?”
“Truth dong,” jawab Amira dengan yakin.
“Oke, aku tanya nih, berapa kali kamu orgasme, saat bercinta dengan Romi dalam waktu semalam?” tanya Alya dengan terbaahak.
“Pertanyaan macam apa ini? Ini privasi banget lho?”
“Hmmm ... sudah biasa kali ... ayo jawab, kau juga tahu soal aku dan Dion?” desak Alya.
“Okay, aku jawab. Tapi berapa kali, ya? Satu, dua, tiga .... ah ... aku lupa, beib. Yang jelas Mas Romi selalu hebat di atas ranjang,” jawab Amira dengan terkekeh.
“Dasar gila, lo! Jawabanmu ambigu sekali, kau harus menerima tantangan dari kami,” seloroh Citra.
“Ih kok gitu? Kan aku jawab sebenar-benarnya?”
“Kalau jawab sebenar-benarnya, itu jawabannya pasti, beib? Kau tadi jawab lupa, kan?” ujar Alya.
“Ayo terima tantangan dari kami!” cetus Citra dengan semangat. “Nih, kau harus meminum ini!” Citra menuangkan minuman ke dalam sloki untuk Amira. “Gak ada suami, kan? Aman deh kalau kau mabuk nanti saat pulang?” ujar Citra.
“Gila ... ini alkoholnya agak banyak, Cit? Gak ada yang lebih rendah dikit?” tanya Amira.
“Sudahlah, paling beda tujuh persen saja kok, dari yang biasa kita minum kalau kumpul?” ujar Dian.
“Haduh, Di ... kalau aku mabuk gimana?” tanya Amira.
“Sudah biasa teler juga!” tukas Citra. “Mumpung gak ada suami, kamu mau balik teler mah bebas. Aku ada suami saja biasa saja?” imbuhnya.
“Beda dong, Cit? Aku kan sedang promil, masa mau minum gini?”
“Sudah Cuma malam ini saja kok. Kesepakatan lho, kalau jawabannya kurang pas kan harus terima tantangan? Lagian tadi Citra sudah minum satu sloki saja belum teler tuh,” ujar Dian.
“Okay ... okay ... sini aku minum!” Amira mengambil sloki yang sudah terisi minuman tersebut. Sekali tegukkan langsung tandas. “Sudah, ini habis, kan?” Amira membalikkan slokinya, supaya temannya melihat minumannya sudah tandas habis diteguk olehnya.
“Wah ... okay, kita lanjut!” ucap Citra dengan semangat.
Mereka berempat memang satu geng dari SMA, hingga kuliah, dan sampai sudah berkeluarga juga masih solid persahabatannya. Mereka juga melanjutkan minum-minuman hingga tambah satu bolot lagi untuk menemani perbincangan mereka yang sudah semakin kacau.
Pukul satu malam mereka pulang. Sopir pribadi Dian mengantarkan satu persatu temannya. Amira berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya, sepatu hak tingginya ia jinjing, mulutnya meracau tidak keruan. Dan di saat yang sama, Regi juga baru pulang dari pesta minuman bersama temannya. Ada teman Regi yang berulang tahun, mereka pesta minuman seperti biasanya, sampai mabuk berat.
Regi juga mengingat, semalam ia pulang pesta minuman dengan temannya dalam keadaan mabuk. Ia masuk ke rumah kakaknya dengan langkah yang gontai, mulut meracau tidak jelas, dan dia melihat Amira yang juga berjalan gontai. Dengan langkah yang gontai juga Regi langsung memapah Amira ke kamarnya. “Kau mabuk, Mbak? Mentang-mentang suamimu tiga bulan di Surabaya, Mbak?” racau Regi.
“Kau juga mabuk, Regi! Mentang-mentang Masmu gak di rumah?” jawab Amira dengan suara khas orang mabuk, dengan cekikikan tidak jelas.
Mereka masuk ke dalam kamar Amira. Regi menidurkan Amira, tapi tubunya menindih Amira, dan karena seperti itu, perbuatan mereka berlanjut lebih panas dan brutal lagi, hingga pakaian yang mereka kenakan berserakan di lantai.
Regi dan Amira masih saling diam, masih sama-sama mengingat kejadian semalam. Mengingat kenapa sampai seberantakkan ini keadaannya.
“Kau sudah melakukannya padaku, Regi ...,” desah Amira pilu.
“Mbak, aku semalam tidak sadar, dan mbak juga sama, kan? Mbak juga mabuk. Kita sama-sama terpengaruh oleh alkohol, Mbak!” jawab Regi.
“Re, kamu tahu mbak sedang program hamil, kan? Dan, mbak baru selesai haid seminggu yang lalu. Kamu tahu sekarang adalah masa suburku, Re?” ucap Amira ketakutan.
“Iya, aku tahu semua itu, Mbak. Mbak takut kalau mbak hamil?” tanya Regi, dan Amira hanya menjawabnya dengan menganguk saja.
“Tidak mungkin mbak hamil. Kita melakukannya sekali, Mbak. Mbak yang berkali-kali dengan Mas Romi, dan sudah tujuh tahun pula, sampai sekarang tidak hamil, kan?” cetus Regi.
“Kau bicara seolah aku ini mandul, Re!” pekik Amira pilu. “Aku normal, rahimku sehat!” cetus Amira dengan menangis.
Regi merengkuh tubuh Amira, ia peluk Amira yang sedang kacau. Iya, dirinya mengaku salah sudah bicara seperti itu, barangkali benih yang ia semai di rahim kakak iparnya semalam adalah benih yang berkualitas, dan benih yang produktif.
“Aku akan tanggung jawab, kalau mbak hamil,” ucap Regi.
“Kau ini gila, hah?!” erang Amira. “Aku ini istri kakakmu, Regi ...!” pekik Amira.
Regi terdiam. Iya benar, Amira adalah istri kakaknya. Bagaimana bisa dirinya bertanggung jawab kalau Amira hamil anaknya?
Yang lebih membuat Amira bingung, jika dia hamil, Romi belum pulang dari Surabaya. “Mana baru dua minggu Mas Romi di Surabaya? Kalau satu minggu lagi pulang kan aku bisa cepat-cepat bercinta dengannnya, supaya kalau aku hamil, juga tahunya anak Mas Romi? Kalau nanti Mas Romi pulang, terus aku hamil bagaimana? Ini adalah masa suburku, kalender masa subur sudah menunjukkan hari-hari ini adalah masa suburku. Dan, kenapa aku semalam begitu liar, sepertinya aku menikmati permainan semalam dengan Regi, hingga aku ingat, aku orgasme berkali-kali dengan Regi, dan kami melakukannya tanpa jeda. Apa aku harus menyusul Mas Romi ke Surabaya? Tapi itu tidak mungkin!” batin Amira.
Regi masih diam terpaku, memikirkan yang terjadi, dan mengingat kejadian semalam. Regi memang sedang menginap di rumah Romi, karena rumahnya masih di renovasi untuk beberpa bulan ke depan. Biasanya tidak ada masalah, mau Regi menginap di rumah Romi sampai berbulan-bulan, dan tidak ada masalah juga, meskipun kadang Romi meninggalkan Amira bertugas di luar kota bersama Regi di rumah, tidak pernah ada kejadian semacam sekarang.
“Bagaimana bisa aku semalam bermain dengan kakak iparku? Dan dia begitu liar, hingga membuat aku semakin panas. Ya aku ingat, dia pun mengendalikan permaiannya di atas tubuhku dengan begitu bergairah,” batin Regi.
__ADS_1