Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Harap Tenang, Sedang Ada Ujian


__ADS_3

Aku hari ini resmi menjabat direktur di kantor papa. Padahal aku belum bisa apa-apa, dan harus belajar terus dengan papa atau Vita. Dari tadi Vita mengajariku, dia dengan telaten mengarahkan bagaimana cara kerjaku, apa yang harus aku kerjakan. Tidak salah papa mengandalkan dia, karena dia begitu cerdas.


“Ini kamu coba kerjakan semuanya ya, Mas? Sudah paham dengan yang tadi aku ajarkan, kan? Paham dong ya? Mas kan pintar,” ucap Vita dengan memintaku untuk mengerjakan setumpuk dokumen.


Aku tergugu melihat beberapa dokumen yang Vita kasihkan ke aku, dan menyuruh aku mengerjakannya. Secepat itu aku diuji olehnya? Oke, akan aku tunjukkan kalau aku bisa mengerjakan semua itu.


“Oke, sipa ibu Revita!” jawabku semangat, tapi sedikit jengkel karena baru saja diajari langsung dikasih pekerjaan banyak seperti ini.


“Ya sudah saya tinggal ke ruangan saya, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sore ini,” ucap Vita dengan melangkahkan kaki untuk keluar dari ruanganku.


“Eits tunggu dulu!” Ucapku dan berhasil menghentikan langkah kaki Vita yang sudah di depan pintu.


“Apa lagi, Mas?” tanya Vita.


“Soal matematika!” Aku mendekati Vita dengan membawa soal matematika yang kemarin dia minta. “Rasanya tidak adil, jika aku mengerjakan setumpuk dokumen, tapi kamu malah santai!”


“Kau kira aku santai gitu?! Dengan mengejari kamu itu aku santai, hah?!” jawabnya dengan ngegas. Aku tahu mungkin dia memang sedang ada pekerjaan yang harus selesai hari ini.


“Sabar Bu Vita, jangan pakai otot kalau bicara,” ucapku dengan tersenyum puas melihat dia begitu kesal.


“Kau jangan main-main, ya! Ini masih jam kerja, sini soal matematikanya, nanti aku kerjakan setelah selesai pekerjaanku! Aku akan kerjakan di ruanganku!” Dia meminta soal matematikanya dariku, tapi tidak dengan mudah aku memberikan soal itu.


“Jangan dong, harus di sini ngejainnya! Masa ujian ngerjainnya di ruangannya sendiri? Nanti curang! Pasti nanti buka google!” ucapku dengan menantang.

__ADS_1


“Duduk kerjakan dokumen itu, atau aku bilang papa kamu mau belajar perusahaan karena untuk menikahi Nadira!” ancamnya dengan mata melotot, sepertinya dia mulai kesal denganku.


Entah kenapa aku akhir-akhir ini senang sekali melihat dia kesal seperti itu. Jarang sekali melihat dia galak, dan naik pitam seperti ini. Biasanya dia tidak pernah sekesal dan semarah ini, paling kalau aku bentak dia, dia hanya menunduk dan menangis. Kalau tidak menangis ya bicaranya sok tegas dan tegar banget, dan sampai kamar, mukanya ditutup bantal, keluar kamar matanya jadi sembab.


“Oh ibu mengancamku?!”


“Ya, kenapa?” jawabnya tegas dengan melipat kedua tangannya di atas perut. “Sini soalnya! Berapa soal? Aku kerjakan sekarang! Dan, sekarang aku tantang kamu! Kerjakan dokumen itu selama tiga puluh menit, dan aku pun sama akan aku kerjakan soal matematika dari Pak Guru selama tiga puluh menit!”


Wah ... dia belum tahu ini ada seratus soal! Gak mungkin bisa dia mengerjakan soal ini dalam waktu tiga puluh menit! Tapi apa aku sanggup mengerjakan tumpukan dokumen itu selama tiga puluh menit? Aku gak pernah menjamah pekerjaan kantor selama aku hidup. Tapi, Vita kan juara  olimpiade matematika tingkat internasional? Dia pun juara Fisika tingkat Internasional? Gila kok aku yang jadi tremor nantangin dia? Nih orang gak ada takut-takutnya ternyata. Kau perempuan seperti apa sih Vit sebetulnya?


Kok aku jadi penasaran sih? Dia benar-benar membuat aku bingung, soal matematika sebanyak seratus soal, aku cari soal tersulit saja sampai dua malam? Dia menantang mau ngerjain tiga puluh menit?


“Bagaimana Pak Danial? Sanggup tidak? Tidak sanggup, ya? Cemen!” ejeknya.


“Oke, tiga puluh menit dari sekarang juga kamu kerjakan dokumen itu! Dan ingat! Karena ini ujian, jadi dilarang bertanya!” tegasnya.


Ini maksudnya apa?  Aku baru mengenal dokumen itu, dan aku tidak boleh bertanya kalau aku gak paham? Kok jadi aku yang merasa tertantang sekali, ya?


“Eh gak bisa dong! Aku kan baru tahu soal pekerjaan ini?” protesku.


“Ya sudah aku kerjakan ini di ruanganku,” jawabnya.


“Oke, tidak ada yang tanya, dan tiga puluh menit dari sekarang!” ucapku.

__ADS_1


“Baik, deal!” Vita bersalaman denganku, dan sepertinya dia benar-benar siap untuk mengerjakan soal-soal dariku.


Vita mendekati meja kerjaku, dia mendekti rak buku, dan mencari-cari beberapa kertas.


“Kamu cari apa?” tanyaku.


“Harap tenang ada ujian!” jawabnya dengan menatap tajam padaku. “Kertas bekas, buat oret-oretan! Lagian pak guru gak ngasih oret-oretan buat ngitung!”


Vita berlalu dan duduk di depanku. Dia memilih duduk di depanku saat ini, dan langsung membuka soal-soal yang aku berikan. Bola matanya bergerak naik-turun saat sedang membaca soal. Dia langsung mengerjakannya dengan cekatan, aku tidak menyangka dia semudah itu mengerjakannya, dan sepertinya di masih ingat segala rumus matematika, yang kadang aku sendiri membuka buku lebih dulu untuk memastikan benar atau tidak.


“Hah, soal SD ternyata!” ucapnya. “Kerjakan jangan lihatin aku, waktu terus berjalan, Pak Dani!”


Sejak kapan dia melihat aku sedang melihat dia? Dia sama sekali gak melirik aku, dan hanya fokus dengan soal itu?


“Matamu banyak, ya? Kelihatannya gak lihat atau gak lirik aku, tapi kamu bilang aku sedang ngelihatin kamu!” ucapku.


“Harap tenang, Pak Dani. Sedang ada ujian!” tukasnya.


Aku lansung membuka-buka dokumen yang Vita kasihkan padaku, dan menyuruh aku mengerjakan semua. Memang ini sesuai yang dengan apa yang aku pelajari tadi sih. Iya mudah soalnya aku masih ingat dengan apa yang Vita ajarkan tadi. Satu persatu aku mulai mengerjakan semuanya, aku teliti ulang barang kali ada yang salah aku mengerjakannya, karena aku tidak mau kalah dengan Vita. Aku tidak mau malu di depan Vita karena aku tidak bisa mengerjakan semua ini.


Mudah sih, tapi kok ini banyak sekali tumpukannya, sedangkan aku masih belum terbiasa dengan semua ini. Gila makin ke sini aku makin gak mengerti, biar saja yang tidak aku tahu, aku kerjakan belakangan, setelah waktu habis, dan aku akan tanya pada Vita lagi, karena aku belum paham soal ini, takutnya aku kerjakan nanti malah salah kaprah.


Sesekali aku melirik Vita, dia semakin fokus dengan soal yang ada di hadapannya. Gila dia sudah menjawab dua puluh delapan soal, dalam waktu belum ada lima belas menit.

__ADS_1


Vita ... Vita ... otakmu  terbuat dari apa sih? Bisa-bisanya dia cepat sekali mengerjakan soal itu? Bodoh sekali kamu, Dan! Dia kan juara Olimpiade Matematika Tingkat Internasional? Ya jelas lah soal itu tidak ada apa-apanya? Kau seperti sedang menantang seorang Ahli Matematika saja, Dan!


__ADS_2