
Gak, aku gak bisa kalau Vita pergi. Aku akan mengecewakan mama dan papa kalau aku dan Vita berpisah, dan aku pun sudah berjanji untuk belajar mencintainya. Aku salah, harusnya aku bisa menjaga sikap saat tadi ada Nadira. Ya aku memang merindukannya, dan benar kata Vita, melupakan orang yang sudah lama singgah di hati tidak mudah, apalagi aku pernah menyentuhnya meski tidak sedalam berhubungan layaknya suami istri. Aku memang dari dulu sering melakukannya dengan Nadira, bahkan sejak kami kuliah.
Aku membenarkan ucapan Vita, melupakan Nadira tentu sangat sulit bagiku, tapi dengan Vita pergi apa aku bisa hidup sendirian di rumah ini? Aku hanya duduk terdiam, dari tadi memikirkan Vita pergi ke mana. Nomornya sudah tidak aktif. Aku tanya Firda, dia bilang sedang tidak dengan Vita. Dia malah sedang di luar kota. Gak mungkin tanya Arif, aku memang menyimpan nomornya, tapi aku lihat postingan statusnya di WhatsApp dia sedang menemani ibunya. Apa aku harus tanya mama atau ibu? Itu tidak mungkin.
“Bagaimana? Ada yang bisa kamu hubungi selain teman Vita, Mas?” tanya Nadira.
“Tidak ada, Nad. Aku tidak bisa tanya mama, nanti malah mama curiga, apalagi tanya ibunya Vita. Sebentar aku tanya Tantri, kali saja Vita bilang dengannya mau pergi ke mana.”
Aku menanyakan Tantri, Vita ada di kantor atau tidak, malah dia menyuruh aku ke kantor. Karena katanya Vita tidak balik ke kantor, dan ada yang harus diselesaikan pekerjaannya sekarang. Karena tidak ada papa juga, Tantri malah ke kantor juga. Papa dan Vita tak bisa dihubungi kata Tantri.
“Iya, aku ke kantor, aku siap-siap dulu,” ucapku.
Aku mematikan panggilanku dengan Tantri. Aku yakin, Vita pergi. Tapi aku tidk tahu dia pergi ke mana. Aku selesaikan dulu urusan kantor, setelah itu aku akan cari Vita. Aku tidak bisa begini, aku harus bicarakan baik-baik dengan Vita.
“Maaf, aku harus segera ke kantor. Di sana gak ada Vita, juga gak ada papa, sebentar lagi klien datang, adanya Cuma sekretarisnya Vita. Firda sahabat Vita sekaligus orang kepercayaannya juga sedang ke luar kota, jadi aku harus ke sana, papa sama Vita tidak bisa dihubungi soalnya,” pamitku pada Nadira dan semuanya.
“Iya, Dan. Kami pamit saja, selesaikan semua baik-baik, dengan tenang. Kamu juga, Nad. Aku sih gak ingin kamu jadi orang ketiga saja, Nad.” Ujar temanku.
“Iya, nanti akan aku bicarakan lagi. Sudah aku mau siap-siap dulu,” ucapku.
Mereka pamit, aku mengantarnya sampai pintu depan. Aku melihat Nadira matanya sembab, dan dia hanya diam saja, tidak ada semangat sama sekali. Biar saja, toh dia akan pergi, dia sudah tidak akan di sini lagi. Aku memang sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangan dia, aku ingin tetap bersama dia, tapi aku sadar, ada Vita. Dia yang harus aku perjuangkan.
Aku bergegas ke kamar, mencuci wajahku, lalu aku ambil bajuku dari lemari. Berantakan. Iya aku tidak bisa mengambilnya, dan aku lihat lemariku jadi berantakan. Aku ingat Vita, kalau ada Vita pasti dia semua yang menyiapkannya, dan tidak akan berantakan seperti ini.
Dasi, kaos dalam, kaos kaki! Vita taruh di mana sih? Aku mencarinya, aku buka setiap laci lemari, dan aku menemukan laci tempat menyimpan dasi, dan di sampingnya di sekat untuk menaruh kaos kaki. Tinggal kaos dalam, rasanya tidak enak tidak pakai kaos dalam. Aku buka lagi laci sebelahnya, benar di laci itu disekat menjadi dua bagian untuk ****** ***** dan kaos dalam. Aku mengambilnya dengan sembarangan, sampai berantakan lagi.
Aku gugup sekali, Tantri malah bikin aku panik, dia menelefon lagi. Tidak ada papa, tidak ada Vita, Firda, dan Arif. Aku harus maju sendirian, dan hanya ditemani oleh Tantri, sekretaris Vita.
__ADS_1
Aku mengemudikan mobilku ke kantor. Lagi-lagi Tanti menelefonku, menanyakan aku sudah berangkat belum dan sampai di mana.
“Sabar, Tantri, aku sedang di jalan!”
“Iya, Pak, tapi klien sudah datang, sudah di ruang meeting.”
“Atur dulu, suruh menunggu beberapa menit lagi,” ucapku.
Aku menambah kecepatan laju mobilku. Ternyata aku merasakan apa yang papa, mama, dan Vita rasakan selama ini, saat dikejar oleh pekerjaan yang mendadak, rapat mendadak, dan apa-apa serba mendadak. Pantas saja tidak Vita, papa, dan mama selalu disiplin soal waktu. Aku saja yang jadi guru gak pernah tepat waktu berangkat ke sekolahan. Kadang datang mepet jam absen pagi. Paling kalau ditegur ya sudah ditegur saja, aku masih menerima gajiku penuh setiap bulan? Malah kadang ada kenaikan gaji meski datang terlambat. Pantas papa selalu bilang orang sepertiku ini menjadi beban negara, karena berangkat kerja saja santai, mepet waktu absen pagi saja tetap aku gajian utuh, bahkan ada kenaikan honor biasanya?
Aku sampai di kantor, aku berjalan dengan cepat menuju ke ruangan Tantri. Tantri langsung memberikan beberapa dokumen yang harus aku tandatangani, karena jika tidak ada Vita, aku yang menggantikannya, bukan papa lagi. Setelah selesai, Tantri langsung mengajakku ke ruang meeting.
“Selamat sore, maaf saya terlambat, karena ada sedikit kendala. Baik meeting sore ini kita mulai.”
Aku mulai membahas kerja sama dengan investor besar, yang katanya proyek ini sangat besar dan menguntungkan. Aku pelajari baik-baik proposal dari mereka, aku diskusikan, untung saja Vita mengajariku untuk lebih hati-hati dan teliti, jadi aku tidak mau ada kesalahan.
“Pak Dani baik-baik saja?” tanya Tantri.
“Agak pusing, Tan. Boleh minta tolong ambilkan air putih hangat?” pintaku.
“Ba—baik, Pak,” jawabnya, lalu dia langsung keluar dari ruangan meeting.
Rasanya pusing dan sakit sekali kepalaku, sampai rasanya berpurtar semua seisi ruangan ini. Untung meeting sudah selesai, dan berjalan lancar. Ternyata papa dan mama mencari uang sekeras ini, terlambat sedikit saja, proyek besar dan menguntungkan akan melayang lepas dari tangan.
“Vit, aku merasakan beban yang kamu rasakan sekarang. Baru beberapa jam aku merasakan bebanmu sangat berat sekali. Belum beban hatimu karena aku. Kamu di mana, Vit? Jangan pergi Vit. Aku minta maaf, aku janji akan perbaiki semua.”
Tak terasa air mataku menetes. Ya aku akui karena Vita, aku tidak mau Vita pergi. Bukan, bukan karena perusahaan ini butuh Vita. Aku pun membutuhkan dia. Kamu di mana, Vita? Tolong pulang, Vit.
__ADS_1
Tantri membawakan minum untukku. Aku meneguk air putih hangat. Tantri dari tadi memerhatikanku.
“Bukannya Pak Dani sedang sakit? Bu Nadira kemarin bilang Pak Dani demam?” tanya Tantri.
“Iya kurang enak badan saja, sudah mendingan tadi, ini tapi mendadak pusing sekali,” jawabku. “Oh iya, Vita ngasih pesan apa sama kamu?” tanyaku.
“Gak bilang apa-apa. Bilangnya tidak ke kantor lagi, dan kalau ada apa-apa aku disuruh hubungi Pak Barata atau Pak Dani,” jawab Tantri.
“Gak bilang kamu mau pergi ke mana?” tanyaku memastikan.
“Enggak, Pak. Memang Bu Vita sedang pergi ke mana?” tanya Tantri.
“Gak tahu, dia pergi ke mana, Tan. Ponselnya gak aktif,” jawabku.
“Biasanya kalau gak ngasih kabar, Bu Vita akan balik cepat sih, tapi kok ini gak? Aku saja bingung pak, pas mau telefon ngasih tahu jam tiga ada meeting Bu Vita gak aktif nomornya, pun Pak Barata, beliua juga tidak aktif,” jelas Tantri.
Ponselku berdering, mama menelefonku. Pasti mau menanyakan soal Vita, atau mungkin Vita sudah menemui mama dan papa. Aku angkat saja, mungkin penting.
“Ya, Ma? Gimana?”
“Kamu di mana, Dan?” tanya mama dengan ketus.
“Di kantor, habis meeting gantiin Vita. Vita sedang keluar, tapi belum balik-balik, Tantri hubungi dia tapi gak aktif ponselnya, papa juga gak aktif, akhirnya Tantri meminta aku yang memimpin meeting tadi. Tapi Dani mau pulang belum bisa, kepala Dani pusing, muter-muter semua, Ma,” jawabku.
“Tunggu mama, mama akan menyusulmu,” ucap Mama.
“Baik, Ma.”
__ADS_1
Padahal aku bicara dengan menyinggung Vita, tapi mama sama sekali tidak tanya soal Vita, mungkin mama tidak tahu soal Vita yang pergi.