
POV Nadira.
Salahkah aku mencintai Mas Dani, yang sudah menjadi milik wanita lain? Salahkah aku jika aku ingin yang lebih pada Mas Dani? Aku begitu mencintainya, tapi aku sadar dia sudah menikah. Meskipun dia sangat mencintaiku, tapi tetap saja aku takut. Aku takut dia tidak bisa melepaskan istrinya. Aku belum siap kehilangan dia, aku belum siap untuk melepaskannya. Benar-benar belum siap.
Kami memang pernah berkomitmen untuk menyudahinya. Tapi, kami tidak bisa, tidak kuat untuk tidak memberikan perhatian, tidak kuat untuk saling diam, dan kami sama sekali tidak bisa. Apalagi kami satu profesi, dan bekerja di tempat yang sama, setiap hari bertemu. Satu ruangan, meja bersebelahan, berangkat dan pulang mengajar selalu bersama. Tidak salah kami tidak bisa saling melepaskan, dan saling ikhlas untuk mengakhiri hubungan kami.
Sejak aku tahu Mas Dani sudah dijodohkan dari SMA, aku sebetulnya sudah menyerah, apalagi mamanya Mas Dani benar-benar menasihatiku supaya ikhlas, bahwa Mas Dani sudah dijodohkan dengan Vita, dan tidak bisa diganggu gugat. Cinta yang bermula dari masa putih abu-abu hingga sekarang masih terjalin, dan masih abu-abu, belum ada tanda warna lain dalam hubungan kami.
Aku masih duduk di depan meja tugasku. Mas Dani yang pulang begitu saja, tanpa menawariku pulang bersama. Mungkin karena tadi aku sempat menolak, jadi dia tidak menawariku lagi. Tapi, biasanya tidak seperti itu. Kalau aku ngambek dan gak mau, pasti dia membujukku sampai aku mau? Sekarang, dia malah pergi begitu saja, dia seperti gugup dan tidak mau membujukku lagi.
Biar saja, nanti dia juga bakalan balik lagi, akan kembali membujukku? Aku sudah terlanjur marah karena semalam. Aku sudah memasrahkan diriku sepenuh hati, tapi dia tidak meresponku, malah menolakku. Untuk apa dia repot-repot untuk belajar perusahaan demi untuk berpisah dengan Vita dan nantinya akan meresmikannya denganku, kalau cara instant yang cepat dan pasti saja bisa? Seperti semalam, kalau dia mau, dan aku hamil, bukankah itu mempermudah dirinya akan bersamaku?
Iya, aku memang seperti tidak ada harga dirinya kalau begitu. Tapi, bukankah harga diriku juga sudah runtuh karena aku mencintai suami orang, dan berani menjalin hubungan dengan suami orang? Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja aku jatuhkan harga diriku di depan Dani? Tapi Dani begitu sok suci, tidak mau melakukannya, padahal setiap bertemu kami saling menyentuh hingga kadang sampai mencapai puncak bersama, meski tanpa melakukannya. Aneh kalau tidak mau, aku yakin Dani sudah mulai penasaran dan ingin dekat dengan istrinya.
Laki-laki mana yang tidak tertarik dengan Vita? Vita ke sini saja, semua mata laki-laki tidak berkedip, dan semua mengagumi sosok Vita. Tapi, aku bangga, karena Mas Dani memilih mencintaiku daripada dia. Mas Dani juga rela melakukan semua itu demi untuk menikahiku. Aku akui usaha Mas Dani begitu keras untuk mendapatkan simpati kedua orang tuanya, lalu berlanjut untuk menceraikan Vita.
Sekarang aku lebih memilih diam, sejak Mas Dani ada niatan untuk mempelajari soal bisnis dan mengelola perusahaan. Apalagi dia akan dekat setiap hari dengan istrinya. Bagaimana dia tidak dekat dengan istrinya. Perusahaan milik orang tua Mas Dani berada di genggaman istri Mas Dani. Jadi kalau Mas Dani mau belajar soal perusahaan pasti dengan Vita. Tidak mungkin dengan papa atau mamanya.
“Bu Nadira, kok Pak Dani gak ngajak pulang bareng?” tanya Bu Wulan.
__ADS_1
“Mungkin dia gugup, Bu Wulan,” jawabku.
“Kita cari tempat ngobrol yang enakan, Bu.” Ajak Bu Wulan yang sepertinya dia tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang.
Aku dan Wulan berteman sejak kami sama-sama dipindahkan tugas di sekolahan yang sekarang. Kalau di dalam kantor, dan masih di area sekolahan, kami memang tidak berani memanggil dengan nama saja. Kecuali kami sudah tidak memakai pakaian dinas dan berada di luar. Kami masih menghargai cara memanggil kalau di dalam kantor dan area sekolahan. Kami memutuskan untuk pulang, dan Wulan ikut ke rumahku. Aku bonceng dia, dia memakai sepeda motor. Biasanya dia bersama Pak Heru, teman guru, yang tak lain suami dia, tapi dia hanya dinikah siri, karena Pak Heru sudah memiliki istri, dan dua orang anak.
Kami sampai di rumahku. Aku langsung mempersilakan Wulan masuk. Aku ambilkan minuman dan cemilan, buat teman mengaobrol. Aku mengganti seragamku dulu dengan pakaian rumah.
“Kamu mau pesan makan gak, Nad? Aku pesanin makanan sekalian, ya?” tanya Wulan.
“Iya terserah kamu, aku ikut, Lan,” jawabku dari kamar.
“Nadira ... lehermu banyak banget bekas gigitan?” Mata Wulan menajam melihat sekitar leherku.
“Semalam, biasa Dani,” jawabku santai, karena Wulan sudah tahu aku dan Dani seperti apa.
“Sudah begitu?”
“Belum, Lan. Dia menolak, aku padahal sudah pasrah, aku sudah menyerahkan harga diriku, dan semalam benar-benar jatuh sekali harga diriku di depan Dani. Kalau Dani mau, aku tidak masalah, karena kita sama-sama melakukannya. Tapi, Dani menolak, itu yang membuat aku merasa harga diriku jatuh sekali di depan Dani,” ucapku dengan pandangan yang menerawan keluar.
__ADS_1
“Dani menolak? Laki-laki dikasih enak menolak? Ih ... sok suci sekali dia!” tukas Wulan kesal.
“Itu kenapa sehari ini aku diami dia, dan dia malah begitu, gak peduli sama sekali. Lihat saja setengah jam dia meninggalkan aku yang lagi ngambek saja, sampai sekarang dia tidak chat aku, Lan?”
“Ya mungkin dia sedang sibuk, Nad?” ucap Wulan.
“Mungkin,” jawabku singkat. “Apa aku sudahi saja semunya, Lan? Sudah tidak ada harapan sepertinya. Mau nunggu sampai kapan? Gak mungkin juga aku nikah seperti kamu dengan Heru, Lan. Orang tuaku tidak mungkin mengizinkannya,” ucapku bimbang, dengan mata berkaca-kaca.
“Ya kalau be—lum, jangan Nad! Jangan menikah seperti aku. Percuma, yang ada kita makan hati setiap hari, Nad. Oke, secara finansial aku terpenuhi, tapi aku merasa aku ini seperti layaknya kloset, yang Heru butuhkan untuk membuang hajatnya. Setelah puas, dia kembali ke pelukan istrinya. Rumah tangga utuh, kalau bosan dengan istri, dia ke aku. Jangan, Nad. Gak ada enaknya jadi kedua,” tutur Wulan.
“Aku sebetulnya bangga dengan sikap Dani yang seperti itu, dia benar-benar berjuang untuk mendapatkan aku secara baik-baik. Ia komit dengan istrinya, sama sekali tidak menyentuh istrinya, hanya karena ia masih sangat mencintaiku. Ia berusaha keras, supaya bisa mengemban tugas papanya yang selama diemban oleh Vita, hanya karena ia ingin bercerai dengan Vita, dan mau menikahiku. Tapi, kapan Lan? Tambah ke sini, umurku terus bertambah? Aku perempuan biasa yang mengidamkan pernikahan yang sempurna dengan orang yang sangat aku cintai,” ucapku.
“Sama, Nad. Aku juga ingin memiliki pasangan yang tidak umpet-umpetan. Aku sebetulnya ingin lepas dari Heru, tapi aku tidak bisa. Aku seperti sudah terjerat dia, Nad. Itu sebabnya aku bilang sama kamu, mumpung belum terlanjur, kamu jangan sepertiku. Kamu tunggu Dani saja bagaimana, aku yakin dia benar-benar memperjuangakanmu kok, Nad?” ujar Wulan.
“Tapi kalau lama bagaimana? Sedang ibu dan ayah sudah mau mengenalkan aku laki-laki, Lan? Itu semua karena aku belum mengenalkan laki-laki, jadi mereka yang nyariin. Mereka mengira selama ini aku belum punya kekasih, Lan.”
“Ya kalau itu, aku memilih menurut sama orang tua, Nad. Kamu ini masih utuh, kamu ini belum pernah tersentuh laki-laki. Beda dengan aku, dan kamu jangan sampai seperti aku, Nad. Kalau aku jadi kamu, aku sudah urut sama ibu dan ayah. Kalau aku masih perawan, mungkin aku mau kalau orang tuaku menjodohkanku, aku ini udah nikah siri sama suami orang, gak ada status, kalau pun dijodohkan akan dipertanyakan suamiku. Kamu masih gadis, tapi sudah tidak gadis. Perawan bukan janda pun bukan? Jangan sampai kamu begitu, Nad. Cukup aku yang merasakan,” tutur Wulan.
Aku terdiam mendengar penuturan Wulan. Aku kira, Wulan akan menyuruhku seperti dirinya, menjadi simpanan, menjadi istri siri, ternyata Wulan malah mendukung aku dijodohkan. Tapi apa aku bisa melupakan Mas Dani? Apa aku bisa melepaskannya? Tapi, aku harus bisa, aku memang harus melepaskannya, aku tidak boleh begini terus. Aku salah, kenapa dulu saat sudah berkomitmen untuk pisah dengan Mas Dani, malah kami saling berkomunikasi lagi.
__ADS_1
Aku pikir, momen paling menyayat hati, ketika aku dan Mas Dani memutuskan untuk berpisah, untuk menyudahi semuanya. Namun ternyata, ada yang lebih menyayat hati, ketika pertemuan pertama kami, dalam keadaan Mas Dani sudah menjadi miliki wanita lain. Mas Dani sudah menikah. Di jari manisnya tersemat cincin yang bertanda kalau dia sudah dimiliki sepenuhnya oleh istrinya.