
Vita ... Vita ... kau membuatku seperti ini. Aku benar-benar baru pertama kalinya menatap wajah Vita sedekat itu. Dia cantik, manis, hidungnya mancung, pipinya mulus sekali, benar-benar sempurna sekali. Jantungku kenapa masih begini? Dia sudah pergi, Dan. Kamu tidak boleh begini, ingat tujuan kamu. Dan, kamu tidak mencintainya!
Aku lanjutkan lagi pekerjaanku. Tidak terlalu sulit sebetulnya jika aku sudah paham semuanya. Tapi tetap saja aku masih bingung sekali, aku baru pertama kali diberi tugas seperti ini. Biasanya aku buat laporan dari Dinas Pendidikan, dan laporan segala macamnya yang berhubungan dengan sekolahan. Sekarang malah bikin laporan seperti ini.
Aku masih merasakan bau parfum Vita di bajuku. Wangi vanilla masih lekat di bajuku, membuat aku sedikit rileks untuk kembali bekerja, ditambah wangi kopi yang Vita buatkan. Ya aku harus semangat mengerjakan semua ini. Meski tujuanku memang untuk mempertahankan Nadira, aku tidak peduli. Karena bagaimana pun aku tidak bisa mencintai Vita. Jadi aku juga tidak bisa menahan Vita lama-lama. Aku sudah berusaha mencintai Vita selama delapan bulan ini, tapi tetp saja aku tidak bisa mencintainya.
Sudah dua puluh menit aku mengerjakan semuanya, tapi masih ada beberapa yang belum selesai, karena aku belum paham. Aku menunggu Vita datang, tapi belum juga datang ke ruanganku. Biar saja, aku lihat dulu soal yang Vita kerjakan tadi. Aku koreksi pekerjaan dia, aku samakan jawabannya pada kunci jawabannya, dan tidak aku sangka, semua yang Vita kerjakan tidak ada yang salah. Aku bolak-balik lagi mengoreksi, karena takutnya aku malah yang salah koreksi, tapi ternyata memang benar semua yang Vita kerjakan. Dia benar-benar cerdas, soal sebanyak ini dengan waktu mengerjakan tiga puluh menit, hasilnya seratus, tidak ada yang salah sama sekali.
Aku juga dari tadi belum membuka ponselku. Belum memberikan kabar pada Nadira, kalau mulai hari ini aku menjadi direktur di perusahaan papa. Aku mengambil ponselku, dari tadi memang aku mode diam. Dan setelah kubuka, banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Nadia. Ada kurang lebih puluhan missed call dan pesan dari Nadira.
“Mas, kamu ke mana saja sih? Pulang gugup, ditelfonin gak diangkat? Kamu hari ini aneh tahu!”
“Oh iya, aku tahu kamu hari ini mulai bekerja di perusahaan papamu, ya? Wah bakal dekat-dekat sama istrimu terus dong? Bagus deh, tidak hanya belajar perusahaan saja, tapi belajar jatuh cinta juga dengan istri mas!”
“Mas, nanti malam jadi, kan?”
“Mas, kita sudah lama tidak jalan berdua, sejak kamu ingin belajar perusahaan. Aku tahu kamu seperti ini demi apa, tapi tidak seperti ini, Mas. Tidak gini caranya. Memang hubungan kita tidak bisa dilanjutkan, Mas! Dunia kita beda, kamu sudah beristri. Sekuat apa pun kita menjaga dan melanjutkan hubungan ini, aku yakin akan sia-sia belaka, Mas. Orang tuaku sudah bertanya kapan aku menikah? Aku tidak mungkin menjawab aku menunggu kamu berpisah dengan istrimu, kan?”
Aku membaca satu-persatu pesan dari Nadira. Memang aku akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan pekerjaan di sekolahan, ditambah dengan aku yang semangat untuk belajar, karena aku ingin segera lepas dari Vita. Aku ingin melepaskannya, karena aku pun tahu ia tersiksa dalam ikatan ini. Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai Nadira. Entah Vita mencintaiku atau tidak, itu bukan urusanku. Aku memperjuangkan semua ini demi Nadira, dan Vita juga menyetujuinya.
“Kamu yang sabar ya, Sayang. Beri waktu aku, aku akan selesaikan semua ini. Ini demi kamu, Nadira. Aku sekarang diberi papa amanah menjadi direktur di sini. Papa tidak mengekang aku mau berangkat jam berapa, yang penting aku selesaikan tugasku di sekolahan, kan kita masih bisa bertemu. Nanti pulang kerja, aku ke kamu, kita keluar, kita jalan. Aku kangen sama kamu, Nad.”
Aku tahu dia pasti marah denganku, karena aku sibuk sendiri. Biasanya pulang dari sekolahan kami jalan berdua dulu, makan siang bersama, aku antar dia ke rumahnya, dan di sana juga aku lama, nunggu sore, kadang mengerjakan tugas dari sekolahan, biar malamnya aku bisa santai telfonan dengan Nadira, atau kalau ada waktu kami jalan berdua lagi.
Nadira memang tidak satu rumah dengan orang tuanya. Dia memilih membeli perumahan yang dekat dengan lokasi mengajarnya. Setelah dipindahkan tugas mengajar, dan ternayata satu sekolahan denganku, Nadira membeli rumah yang jaraknya lebih dekat dengan sekolahan. Rumah kedua orang tuanya di kecamatan yang berbeda. Jadi aku bebas kalau di rumah Nadira, mau sampai jam berapa pun, dan selama ini orang tua Nadira belum tahu hubungan kami. Bagaimana aku dan Nadira mau memberitahukan pada orang tua Nadira? Kalau aku saja dari SMA sudah dijodohkan dengan Vita?
“Aku harus menunggu sampai kapan, Mas? Coba kapan, Mas? Aku seperti menunggu yang tidak pasti sampai saat ini. Dari SMA aku masih setia denganmu, meski mamamu bilang denganku bahwa kamu sudah dijodohkan dengan Vita. Kamu dari dulu bilang mau berontak, mau menolak keras, tapi mana? Kamu tidak bisa melawannya bukan? Sampai sekarang tidak ada kejelasan, Mas!”
__ADS_1
Aku tercernung menatap layar ponselku setelah membaca pesan dari Nadira. Iya, aku terlalu lama menggantungkan dia. Aku tidak bisa tegas. Bagaimana aku bisa tegas, kalau mama dan papa tetap menjodohkanku dengan Vita. Aku boleh menolak asal aku mau kerja di perusahaan papa. Aku menolak itu, karena aku tidak suka. Sekarang aku baru sadar, jika dari dulu aku menuruti papa mungkin aku sudah bersama Nadira.
“Aku tidak bisa melawan, karena aku sudah menolak papa untuk terjun di dunia yang sama dengan papa, Nad. Tolong ngertiin keadaan ini, Nad,” balasku.
“Sampai kapaan, Mas? Kalau gitu kenapa tidak dari dulu kamu menuruti jejak papamu menjadi pengusaha? Kan kita bisa bareng?”
“Tidak semudah itu, aku memilih kuliah bareng dengan kamu, dan sampai sekarang masih bareng, karena aku tidak mau jauh dari kamu, Nad!”
“Sekarang apa? Gini, kan? Gak ada kejelasan?! Memang seharusnya kita tidak usah bersama, Mas!”
“Nad, jangan begini dong, Nad. Aku mohon ... kamu sabar ya, Nad? Kasih waktu aku supaya bisa meyakinkan papa.”
Aku benar-benar bingung. Iya harusnya dari dulu aku menuruti papa, jadi aku terhindar dari perjodohan dengan Vita. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tapi aku harus tetap seperti ini, membuktikan pada papa kalau aku bisa, aku bisa menjadi seperti yang papa dan mama mau, dan aku akan mudah berpisah dengan Vita, kalau aku sudah menguasai semua. Aku juga akan segera memperjelas hubunganku dengan Nadira.
Aku letakkan ponselku. Percuma berdebat dengan Nadira lewat chat atau telefon. Nanti aku ke rumahnya juga dia akan luluh lagi kalau aku sudah di sampingnya. Aku paham, dia marah karena aku sibuk, aku tidak pernah ke rumahnya dari kemarin, dan kita jarang keluar berdua.
“Ehem ... maaf mengganggu,” ucapku.
“Eh, Pak Dani? Kok di sini, Vit?” tanya Arif.
“Oh iya, Rif. Mas Dani sudah menggantikan papa di sini, jadi Mas Dani sedang belajar di sini, aku sebetulnya sedang membimbing dia tadi, tapi kamu ke sini untuk membahas proyek baru, jadi aku lupa,” jawab Vita.
“Oh, begitu?” ucap Arif. “Kalau begitu selamat bergabung, Pak Dani.” Arif menyalamiku, aku hanya tersenyum saja.
“Iya, ini sedang belajar,” ucapku.
“Ya sudah, Vit. Nanti dilanjut saja. Oh iya nanti malam jadi dengan Firda juga?” tanya Arif pada Vita.
__ADS_1
“Jadi dong, ini project yang harus gool pokoknya, Rif,” jawab Vita semangat.
“Kamu itu selalu semangat kalau hal begini,” ucap Arif tersenyum bangga pada Vita. “Ya sudah aku pamit pulang, Vit, Pak Dani,” pamitnya.
“Iya, Rif. Hati-hati,” jawab Vit.
“Oh iya,” jawabku singkat.
Arif pulang, dan aku melihat Vita yang pandangannya masih lekat memangdang Arif yang sudah semakin menjauh.
“Arif sudah pergi, gak usah dilihatin terus! Pantas saja kamu sampai setengah jam lebih gak balik ruanganku, ternyata sedang sama mantan! Eh mantan atau pacarnya?” ucapku. Dan, entah kenapa aku jengkel sekali Vita ramah dan sok senyum-senyum sama Arif.
“Aku kerja profesional, Bapak Danial! Tidak seperti kamu dan pacarmu! Kerja tapi mesra-mesraan!” tukas Vita. “Masuk ke ruangan, aku cek pekerjaan kamu!” titahnya.
Sial! Dia semena-mena sekali. Oke dia profesional, tapi aku tahu kalian masih terlihat saling mencintai. Entahlah, aku kok jadi sewot gini lihatnya?! Aku mengekori Vita ke dalam ruanganku, ingin rasanya aku bertanya dia nanti malam mau apa dengan Arif.
“Kau nanti malam mau keluar dengan Arif?” tanyaku.
“Iya, kenapa?” jawabnya santai dengan mengecek pekerjaanku.
“Mau apa?”
“Kepo!” tukasnya yang membuat aku kesal. “Sejak kapan kau mengurusi aku mau ke mana dan mau apa?” lanjutnya.
“Ya gak apa-apa. Aku nanti malam mau ke rumah Nadira, pulang dari sini aku langsung ke rumhanya,” ucapku memberitahukan pada Vita.
“Lalu apa urusannya denganku? Sudah biasanya mau ke sana juga gak bilang, kan? Bilang supaya kalau ada papa aku bisa cari alasan? Tenang itu sudah biasa, Mas. Aku sudah biasa cari alasan bohong, menutupi kamu yang masih bersama Nadira!” jawabnya santai tapi lugas.
__ADS_1
Dia benar-benar perempuan yang sulit untuk di tebak, bahkan aku tidak tahu bagaimana perasaan dia sekarang.