
Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nadira. Aku ingin tahu apa yang akan Nadira katakan. Siang ini, sepulang dari Anyer aku langsung menemui Nadira. Aku hanya mengantar Vita sampai rumah saja, lalu aku langsung menemui Nadira di rumahnya.
Nadira menyambutku dengan pelukan hangat seperti biasa, tapi sedikit berbeda. Pelukannya hanya sebentar, biasanya dia lama memelukku, tapi kali ini sebentar saja.
“Ayo masuk, Mas,” ajak Nadira. “Mau minum apa?” tanya Nadira.
“Nanti dulu, aku kangen kamu.” Aku kembali memeluk Nadira, dan membawa Nadira ke dalam pangkuanku, dia duduk di pangkuanku dengan menghadap ke arahku.
Kami saling berhadapan, aku cumbu Nadira dengan penuh gairah yang menyala-nyala. Entah aku sangat merindukan tubuhnya, aku kuasai dia, hingga dia mendesah lirih saat aku cumbu dirinya.
“Aku kangen kamu, Sayang.” Bisikku, lalu kembali mencumbui Nadira. Lalu mengunci pintu rumah Nadira.
“Miss you too,” bisiknya.
Kami semakin panas, aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku terus menguasai tubuh Nadira, hingga aku menanggalkan semua penutup tubuh Nadira tanpa satu pun yang tertinggal di tubuhnya. Kami sama-sama polos dan saling menikmati sentuhan.
“Apa kamu menginginkannya, Mas?” tanya Nadira.
“Bolehkah?”
“Hmmm ... lakukanlah jika kamu ingin, Mas.”
Aku membawa Nadira ke kamarnya, aku rebahkan dia, aku cumbui lagi dirinya yang sudah berada di bawah tubuhku. Erangan dan desahannya membuat aku semakin menginginkannya. Aku mulai dengan permainanku, aku arahkan tubuhku sejajar dengannya, untuk melakukan penyatuan, ini pertama kalinya aku akan melakukannya, Nadira pun demikian.
“Maaf, Nad!” Aku menghentikannya sepihak, aku menyingkir dari atas tubuh Nadira. Aku keluar dari kamarnya, sungguh aku tidak mengerti kenapa ada bayangan Vita di depanku, senyumannya yang membuatku sadar, kalau aku akan melakukan sebuah kesalahan.
Aku ke kamar mandi, membersihkan badanku, lalu aku pakai kembali bajuku setelahnya. Aku sudah benar-benar gila siang ini. Kalau saja bayangan Vita tidak muncul, aku akan menodai Nadira tadi, dan hubunganku dengan Nadira akan ternoda. Ya meski nantinya Nadira akan menjadi milikku, akan aku nikahi setelah berpisah dengan Vita, tapi aku salah jika aku melakukannya sekarang.
Aku kembali masuk ke kamar Nadira. Aku melihat dia sedang menangis, dengan tubuhnya tertutup selimut.
“Maafkan aku, Nad.” Ucapku dengan mendekati Nadira, dan aku memeluknya.
“Iya, tidak apa-apa, memang seharusnya tidak usah kita lakukan, Mas,” jawabnya dengan terisak.
__ADS_1
“Aku belum siap, aku takut. Nanti aku akan melakukannya jika kita sudah menikah, sebentar lagi, dua atau tiga bulan lagi urusanku dengan Vita di pengadilan aka selesai, kamu sabar, ya?” ucapku.
“Bulan depan surat kepindahanku sudah turun, Mas,” ucap Nadira. “Maaf, sepertinya hubungan kita hanya sampai di sini, Mas.”
Ucapan Nadira membuat hatiku tersentak. Maksudnya sampai di sini bagaimana? Putus? Lalu surat kepindahan apa?
“Maksud kamu gimana, Nad?” tanyaku.
Nadira semakin terisak di pelukanku. Aku tidak tahu kenapa dia menangis hingga seperti itu. Ia memelukku erat. “Maafkan aku, Mas,” ucapnya lirih.
“Maaf untuk?”
“Aku dijodohkan orang tuaku. Aku sudah menolaknya, karena aku akan mengenalkan kamu pada mereka. Aku ceritakan yang sebenarnya kamu itu siapa. Tapi ibu dan ayah melarangku, aku tidak boleh merebutmu dari istrimu, meski kamu yang mau berpisah dengan istrimu. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti mereka, Mas. Sebetulnya aku sudah ingin menyampaikan dari beberapa bulan yang lalu kalau aku sudah urus-urus surat kepindahanku. Tapi, karena kamu memang mantap untuk pisah dengan Vita, aku tidak bilang, dan aku terus meyakinkan orang tuaku supaya mau menerima kamu. Ternyata mereka tidak mau tahu, aku harus menerima perjodohan itu. Dan, bulan depan aku sudah tidak di sini, semua barang-barang di rumah ini juga sebagian sudah aku kirim ke rumah ibu,” jelas Nadira.
Aku tidak percaya Nadira akan dijodohkan. Dia tidak pernah cerita apa pun, ternyata dia menyimpannya sendiri.
“Antar aku ke rumahmu, aku akan menikahimu, Nad! Aku gak bisa, aku gak terima kamu dijodohkan!”
“Gak bisa, Mas,” jawabnya.
“Jangan gila, Mas! Aku tidak mau merusak pernikahanmu! Kamu jangan bercerai dengan dia, Mas. Jangan ceraikan Vita, kamu harus batalkan perceraian kamu,” ucap Nadira.
“Tidak, Nad! Aku tetap akan menceraikan Vita, tolong jangan gini, Nad!”
“Maaf, keputusanku tidak bisa diganggu gugat, Mas. Aku akan tetap pulang, pindah mengajar, dan aku akan menerima perjodohanku dengan laki-laki yang dipilihkan oleh orang tuaku,” ucap Nadira.
“Nad, aku mohon, ayo kita ke rumahku. Aku akan bilang pada mama dan papa, aku akan menikahimu, Nadira!”
“Tidak bisa, Mas. Sekali tidak tetap tidak!”
Aku mengusap kasar wajahku. Aku tidak bisa seperti ini. Aku sangat mencintai Nadira, apa pun akan aku lakukan, agar aku bisa menikahi Nadira.
“Anggap saja kita seperti ini yang terakhir, Mas. Lupakan semua tentang kita. Tidak akan ada lagi kita, Mas, aku sudah memberikan keputusan pada orang tuaku, kalau aku menerima untuk dijodohkan, dan bulan depan aku akan menerima lamarannya,” ucap Nadira.
__ADS_1
“Gak, Nad. Aku gak mau, aku akan tetap memperjuangkan hubungan kita,” ucapku.
“Yang harus mas perjuangkan itu hubungan mas dengan Vita, yang sudah jelas. Sedangkan hubungan kita? Hubungan kita tidak jelas sama sekali, Mas! Apa yang harus diperjuangkan? Kamu harusnya memperjuangkan keutuhan rumah tanggamu, Mas. Jangan malah memperjuangkan hubungan kita yang tidak jelas ini, dan sepertinya tidak akan pernah jelas,” ucap Nadira.
Benar kata Nadira, hubunganku dengan dirinya tidak ada kejelasan sama sekali. Kalaupun diperjelas, akan butuh waktu lama, belum lagi keluargaku dan keluarganya, apa akan menyetujuinya? Tentu saja tidak. Sedangkan aku dengan Vita, hubungan kami sudah jelas, hanya saja belum ada cinta dalam hubungan kami.
“Belajarlah mencintai istrimu, Mas. Aku tahu kamu sebetulnya bisa mencintainya. Dia perempuan baik,” ucap Nadira.
“Aku tidak bisa, Nad. Aku mohon kita coba, Nad. Kita harus memperjuangkan hubungan ini,” pintaku.
“Apa yang harus diperjuangkan sih, Mas? Gak ada, Mas!” pekik Nadira.
“Ada, Nad. Hubungan kita harus diperjuangkan, kita sudah memulainya sejak dulu, masa harus berhenti begini, Nad?”
“Memang harus, Mas. Hubungan kita harus sampai di sini saja. Jangan dilanjutkan.”
Aku tidak peduli dengan ucapan Nadira. Aku tetap akan memperjuangkannya. Entah bagaimana caranya, meski Nadira tidak mau.
“Aku akan tetap berusaha memperjuangkan hubungan kita, Nad!”
“Aku tidak bisa, Mas. Maaf aku tidak bisa. Jangan seperti ini, Mas. Kamu jangan sampai menyesal. Vita adalah pilihan terbaik dari orang tuamu. Pun laki-laki itu, yang akan dijodohkan denganku, dia pilihan terbaik dari orang tuaku.”
“Nad, aku tidak bisa!”
“Kamu harus bisa, Mas. Pulanglah, perbaiki semuanya dengan Vita. Kamu harus bisa mencintainya, belajarlah untuk mencintainya. Jangan kecewakan orang tuamu, Mas. Aku juga sama, aku tidak mau mengecewakan orang tuaku.”
Benar kata Nadira, aku harus belajar mencintai Vita, dan aku juga tidak boleh mengecewakan orang tuaku juga orang tua Vita.
“Pulanglah, perbaiki pernikahanmu dengan Vita, jangan bercerai dengannya. Tinggalkan aku, Mas. Aku ingin sendiri,” ucapnya. “Dan, itu yang dari semalam akan aku katakan, tapi kamu tidak menjawab telefonku, rasanya juga gak pantas dibicarakan lewat telefon, jadi aku memilih untuk bicara langsung begini,” ucap Nadira.
“Ya aku akan pulang, aku juga akan bicara pada mama dan papa soal kita. Aku tidak mau hubungan kita sia-sia di tengah jalan seperti ini, Nad!”
“Karena memang harusnya seperti ini hubungan kita mas. Kandas di tengah jalan. Maafkan aku, mau kamu berusaha mempertahankannya, aku tetap tidak bisa!”
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa seperti ini jadinya. Aku kira setelah Nadira tahu aku sudah mengajukan gugatan, Nadira akan senang, dan akan berusaha mempertahankan hubungan ini sampai urusanku dengan Vita selesai. Ternyata dia malah mau pergi, pindah sekolahan juga.