Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Istri Idaman


__ADS_3

Seperti ini rasanya menjadi seorang suami. Memiliki istri yang begitu sempurna, cantik, dan pintar seperti Vita. Bodoh sekali, kenapa gak dari dulu aku begini? Kenapa aku terlalu egois mementingkan perasaanku sendiri, mementingkan keinginanku sendiri untuk tetap bersama Nadira saat itu. Tanpa melihat Vita yang tersakiti karena sikapku.


Sekarang, aku benar-benar tidak mau jauh dari Vita, hanya beberapa jam saja tidak bersama rasanya begitu rindu ingin selalu dekat dengannya. Dia begitu besar hatinya untuk memaafkan kesalahanku. Mungkin kalau perempuan lain, sudah tidak sudi lagi menerima suami yang sudah menyakitinya, menorehkan banyak luka di hatinya, dan mengkhianatinya. Tapi, Vita begitu besar hatinya untuk memaafkanku, menerima segala kekuranganku, dan kesalahanku. Aku laki-laki yang sudah berlumuran dosa di masa lalu pun Vita masih berbaik hati menerimaku dengan ketulusan hatinya.


Sudah satu bulan kami memulai hidup baru, membuka lembaran baru dengan istriku, Vita. Selama satu bulan ini kami benar-benar sibuk dengan pekerjaan kami, aku sibuk di sekolahan, Vita di kantor, dan pulang dari sekolahan pun aku tetap masih sibuk dengan pekerjaan kantor, membantu Vita. Meski satu kantor, kami tetap profesional dengan pekerjaan kami, apalagi Vita adalah perempuan yang sangat disiplin, kecuali ada waktu senggang aku bisa bermanja dengannya. Itu pun Vita selalu tidak enak, karena di kantor bukan untuk bermesra-mesraan. Kata dia ada tempatnya sendiri untuk bermesraan, di rumah, di kamar, atau kadang kami sengaja bermalam di hotel, menghabiskan malam bersama di sana, mencari ketenangan untuk bercinta.


Pantas saja, Vita banyak sekali yang menyukainya. Ternyata guru baru di sekolahanku yang bernama Eric itu pernah satu SMA dengan Vita, dan dia rivalnya Arif. Katanya mereka berdua berlomba mendapatkan hatinya Vita, tapi setelah tahu kalau Vita sudah dijodohkan denganku, mereka menjauhi Vita, dan tidak berani mendekati Vita. Hanya Arif saja, karena dia bisa menempatkan diri, meski dia suka dengan Vita, tapi dia bisa rapi menyimpan perasaannya.


Kadang aku yang masih cemburu, kalau Arif bertemu Vita, dia masih melayangkan pandangan kerinduan pada Vita. Tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku jadi ingat saat Arif mengancamku akan mengambil Vita jika aku masih terus menyakitinya dan masih berhubungan dengan Nadira. Ternyata dia tahu dari Firda, kalau aku masih berhubungan dengan Nadira saat itu. Meski Arif tahu soal itu, dia bisa menjaga jarak dengan Vita, dia sama sekali tidak mendekati Vita, ingin bertemu dengan Vita untuk membahas pekerjaan saja dia menghubungiku dulu. Dia begitu menghargai Vita yang sudah bersuami, meski dia tahu aku tidak mencintainya. Bukan malah menjadikan semua itu untuk ajang kesempatan dia mendekati Vita, karena aku tak menganggap Vita.


Seperti tadi, dia mau menemui Vita tanpa Firda saja dia tanya aku dulu, mau ke kantor jam berapa, supaya saat bertemu Vita ada aku di sana. Kalau memang urgent kenapa harus menunggu aku? Memang sih Tantri sedang cuti sehari, jadi Vita di kantor sendirian, dan Firda masih mengurus pekerjaan yang lainnya. Mungkin kalau ada Tantri, dia minta ditemani dengan Tantri.


Aku sudah siap-siap mau pulang, sekarang aku ke kantor Vita tidak lagi jam dua. Sejak aku tidak bisa jauh dengannya, kalau sudah tidak ada jam mengajar aku langsung pulang, kecuali ada rapat di sekolahan.


“Sekarang pulangnya awal terus, ya? Absen pulangnya sekalian pulang ngantor? Dulu waktu ada Nadira, jam tiga saja masih betah di sini?” sindir Heru.


“Sekarang beda dong? Masa mau gitu lagi?” jawabku.


“Tapi gak yakin aku, paling ketemu Nadira lagi kamu balikan lagi sama Nadira?”


“Enak yang halal ternyata, Her. Ngapain balik lagi, kalau Vita sudah memiliki segalanya yang aku inginkan?”


“Masih baru, masih anget, jadi ya bilang begitu!” tukas Heru. “Kalau nanti sudah punya anak, sudah gak bisa merawat diri, paling cari yang lain?”


“Itu mah kamu, Her! Kasihan Bu Wulan, jadi pelampiasan kamu saja!” bisikku dengan sedikit menekankan kata-kataku. “Aku memang pernah berbuat dosa, dengan masih berhubungan dengan Nadira saat sudah menikahi Vita, tapi aku ini tidak selingkuh! Tidak seperti kamu! Karena aku ini sudah pacaran dengan Nadira sejak lama. Sekarang aku dan Nadira sudah punya kehidupan masing-masing, ya sudah itu masa lalu, dan aku tidak akan lagi menjamah masa lalu itu, karena masa depanku lebih baik!”


“Oke, kamu bisa bicara seperti itu denganku, suatu hari nanti kamu pasti merasakan bosan, Dan. Bosan dengan istrimu, apalagi sudah punya anak, dan tidak pandai merawat diri, tentunya perlu penyegaran lagi yang lebih fresh di atas ranjang,” ujar Heru.


“Itu mah dasar kamu saja yang tukang selingkuh!” tukasku.


“Lagian Pak Heru, kalau Pak Dani sampai begitu dengan Vita, aku orang pertama yang akan merebut Vita dari Pak Dani, mau Vita udah punya anak sepuluh sekali pun, aku akan rebut Vita dari Pak Dani!” ujar Eric.


“Jangan main-main kamu, ya!” tukasku pada Eric.


“Ya coba berani nyakitin Vita, kamu akan berhadapan denganku, juga Arif!” tegas Eric.


“Istrimu padahal lempengan saja badannya, Dan? Gak ada seksi-seksinya, dadanya kurang, pantatnya juga kurang? Malah lebih seksi Nadira an Wulan? Kok jadi primdona, ya?”


“Iya Vita memang primadona, dia pintar, cantik, berwibawa, dan bisa menjaga martabatnya sebagai seorang wanita!” jawab Eric.


“Wah omonganmu sudah main fisik ya sekarang? Dia seperti itu tapi dia wanita terhormat, Her! Gak terima aku kamu bilang begitu soal istriku!”


Aku benar-benar emosi sekali dengan Heru. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu, sampai bicara soal fisiknya Vita. Benci sekali aku dengannya, benar-benar ingin sekali aku melayangkan pukulan ke wajahnya, kalau aku gak ingat dengan tempat, aku mungkin sudah berkelahi dengan Heru. Dia sama saja sudah melecehkan istriku.


Aku menarik kerah baju Heru, sampai ia berjinjit di depanku. “Sekali lagi kamu bilang istriku seperti itu, kamu akan terima resikonya!” ancamku.


“Pak Dani, stop! Ini ada apa sih?!” lerai Wulan.


“Ajari sopan santun suamimu!”

__ADS_1


“Suami?” tanya Eric.


“Dia istri sirinya!” jawabku lalu langsung meninggalkan mereka.


Biar saja, biar semua yang ada di sekolahan tahu, dan ada yang melaporkannya ke Dinas, kalau mereka sudah nikah siri sejak lama. Memang hanya aku dan Nadira yang tahu soal itu, mungkin ada yang tahu lagi beberapa guru di sini.


Aku meredakan emosiku dulu sebelum melajukan mobilku ke kantor Vita. Dari tadi Vita pasti sibuk karena Tantri tidak berangkat, Firda juga sedang mengurus pekerjaannya yang lain. Ada Arif, tapi dia tidak berani ke kantor kalau hanya ada Vita saja. Setelah emosiku cukup reda, aku berangkat ke kantor Vita. Aku tahu dia pasti sibuk dan tidak sempat untuk makan siang. Aku mampir membelikan makanan kesukaannya dulu, biar nanti kita makan bareng di kantor, apalagi ini pas sekali jam makan siang.


^^^


Sesampainya di kantor, aku langsung masuk ke ruangan Vita. Benar Vita sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya.


“Ah syurkurlah, Mas ... kamu sudah datang,” ucap Vita dengan lega.


“Bagaimana ada yang bisa aku bantu?” tanyaku.


“Sini mas, tolong bantuin selesaikan ini.” Vita memberikan dokumen padaku untuk diselesaikan.


“Harus selesai jam dua mas soalnya,” ucapnya.


“Oke, jam dua kan? Nanti aku bantu, masih ada waktu satu jam lagi, kita makan siang dulu sebentar,” ajakku.


“Nanti saja ini juga belum selesai,” tolak Vita.


“Sayang ... kalau kamu gini nanti kamu sakit, ayo makan dulu. Ya sudah kalau kamu mau sambil kerja, aku suapi, ya? Aku gak mau kamu sakit,” ucapku merayu Vita supaya mau makan dulu.


“Mnch ... mas itu, selalu begitu? Aku saja biasa makan siang jam tiga kok kalau lagi gini?”


“Ya sudah,” ucap Vita menyerah. “Memang mas bawa makanan apa?” tanyaku.


“Nih aku bawakan ayam kremes, pakai sambal dan lalapan juga. Kamu pasti suka, sini makan dulu, atau mau aku suapi?” tanyaku.


“Ya sudah yuk ke pantri? Mau dong disuapi suami,” ucap Vita.


“Ya sudah yuk.” Kami ke pantri. Ada mini pantri di ruangan Vita, untuk ngopi atau untuk makan siang kalau sedang tidak ingin keluar dari kantor.


Vita mengambil dua piring, dan dua gelas, tapi aku melarangnya. “Kita pakai satu piring saja, kan aku mau suapi kamu, ngapain pakai dua piring? Pakai gelasnya juga satu saja, Vit,” ucapku.


“Oh gitu? Ceritanya biar romantis nih?” ucap Vita.


“Iya dong? Ayo buruan sini.”


Aku menyiapkan makanan di piring, lalu kami makan bersama. Sesekali aku menyuapi Vita, dan Vita juga menyuapiku. Aku ingat ucapan Heru tadi, tidak terima sekali Vita dibandingkan dengan Wulan dan Nadira. Dia wanita baik-baik, Vita wanita yang terhormat, dan aku sangat beruntung bisa memilikinya.


“Mas, kok bengong? Kenapa?” tanya Vita.


“Gak apa-apa, kamu cantik sekali, suka aku lihatnya,” jawabku, karena memang dia terlihat begitu cantik.


“Gombal!” tukas Vita.

__ADS_1


“Ih memang gitu, kok?” ucapku. “Pulang kerja kita jalan ya, Vit? Kita ke Vila yuk, kan besok weekend? Katanya mau ajak ke Vila milik eyang kamu?”


“Boleh, malam ini berangkat?” tanya Vita.


“Kalau pekerjaan kamu sudah selesai, kita berangkat,” jawabku.


“Bisa, aku akan percepat kerjanya,” jawab Vita.


“Semangat sekali, Bu?” ucapku.


“Semangat dong, kan mau diajak kencan sama suami? Aku kangen berduaan, dari kemarin kita kan gak sibuk terus, Mas?” ucap Vita.


“Iya, jatahku sekarang juga makin berkurang, kamunya sibuk terus?” ucapku.


Aku menyelesaikan makan siangku dengan Vita, setelah itu kami kembali bergelut dengan pekerjaanku. Aku semakin kasihan sama Vita, dia tanggung jawabnya besar sekali. Harusnya aku full di sini, aku yang mengerjakan semua pekerjaan ini, dan Vita hanya di rumah saja, biar Vita tidak capek, apalagi aku ingin punya anak, biar tidak sepi di rumah, sepertinya kalau ada anak kecil di rumah pasti akan ramai, bahagia, penuh tawa. Ya aku harus bisa memantapkan diriku untuk pensiun dini. Masa jabatanku sudah memenuhi syarat untuk pensiun dini, kalau pun belum dibolehkan, ya sudah aku keluar saja sebagai PNS, karena kalau aku membagi pekerjaan yang ada Vita makin repot.


Nanti aku coba urus semua itu. Aku tidak mau Vita kecapean, lagi-lagi mengurus masalah kantor? Aku juga ingin anakku kelak, tidak jauh dari ibunya. Kalau Vita terus begini, yang ada nanti anak-anakku akan seperti aku, kurang perhatian dari mama, dan lebih dekat sama pembantu. Aku tidak mau anakku kurang perhatian dari ibunya. Walau bagaimana pun ibu adalah guru pertama untuk anak-anaknya.


^^^


Selesai dari kantor, aku dan Vita langsung pulang untuk mempersiapkan perjalanan kita ke Vila. Aku dan Vita malah belum sempat bulan madu karena pekerjaanku yang begitu banyak. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berbulan madu dengan Vita.


Tapi, meskipun kami sibuk di kantor, harus kejar-kejaran dengan pekerjaan, kami tidak pernah absen untuk ritual malam, meski hanya sekali saja, karena badan kami sudah benar-benar lelah.


Vita menyiapkan beberap baju untuk dibawa ke Vila. Aku membantunya dan sesekali aku memancing Vita untuk bicara soal keinginanku bahwa aku ingin berhenti menjadi pengajar, karena aku tidak ingin dirinya capek mengurus pekerjaan kantor.


“Vit, sepertinya keputusanku sudah bulat. Aku akan berhenti menjadi guru,” ucapku.


“Kenapa? Kok gitu? Bukankah itu impian kamu?”


“Mimpi gak selamanya harus terwuju kan, Vit?”


“Iya sih, tapi kenapa kamu mau berhenti mengajar?” tanya Vita.


“Demi kamu, Sayang. Aku gak mau kamu lelah sendiri mengurus apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Aku gak mau dengan kamu seperti ini, kamu akan kelelahan dan stres, nanti akan berimbas ke hormon kamu, dan nantinya akan mengganggu kesuburanmu. Aku pengin punya anak, Sayang. Dan, setelah kita punya anak, aku ingin kamu fokus dengan anak-anak. Aku tidak mau saja anakku bernasib sama seperti aku, jauh dari mama, karena mama terlalu sibuk kerja, dan sampai sekarang mama juga masih sibuk bisnis terus sama papa? Gak ingat mereka kalau mau punya cucu?”


“Ya iya juga sih? Aku juga ingin hamil, Mas. Aku ingin saat aku punya anak, aku ingin merawatnya sendiri. Aku malah tidak mau pakai suster, aku mau anakku ya aku yang didik, aku yang merawatnya? Karena aku berani Sekolah tinggi juga karena bekal untukku nanti saat sudah punya anak. Perempuan kan harus memiliki pendidikan tinggi, karena akan menjadi seorang ibu. Guru pertama anak-anak kita adalah ibu. Jadi, aku sih sudah memikirkan ini sebetulnya, tapi mau bahas selalu lupa. Ya karena pekerjaan gini, numpuk dari kemarin.”


“Kamu benar-benar istri idaman, Sayang,”


“Ih gombal lagi?”


“Aku gak gombal, itu kenyataan, Sayang?”


“Jadi kamu setuju dengan usulku? Setuju kalau aku berhenti mengajar?” tanyaku lagi.


“Ya kalau itu yang terbaik, ya memang harus begitu? Lagian ini perusahaan kamu, kamulah yang harusnya memegang kendali, bukan aku yang hanya sebagai menantu?” ucapku.


“Baiklah, aku akan persiapkan syarat-syarat untuk pengajuan pensiun dini. Kalau belum memenuhi syarat, ya aku akan berhenti saja, dengan baik-baik, karena gak mungkin juga aku akan begini terus? Kasihan kamu, kamu itu perempuan, seharusnya aku yang berjuang untuk istriku, bukan malah kamu,” ucapku.

__ADS_1


“Aku dukung apa pun keputusan suamiku,” ucap Vita.


Rasanya lega sekali sudah membicarakan hal ini dengan Vita. Aku tidak mau melihat dia kerepotan lagi. Aku harus bisa menjadi suami yang siaga dan bertanggung jawab pada keluarga kecilku. Aku tidak boleh begini, membiarkan Vita berjuang sendiri, sedangkan aku asik dengan pekerjaanku sendiri, dan membiarkan Vita kelimpungan dengan beban pekerjaannya.


__ADS_2