
Aku seharian di rumah, mengurus Mas Dani yang sakit. Aku tidak tega untuk meninggalkan dia ke kantor, meski ada ibu dan ayah, juga mama dan papa. Masa iya aku malah ke kantor, nanti malah mereka mengira aku ini gak mau ngurus suami yang sedang sakit.
Mama dan papa sudah pulang dari selepas Magrib, begitu juga ibu dan ayahku. Sekarang kami berdua lagi, hanya aku dan Mas Dani yang di rumah. Sepi sekali, padahal tadi lumayan ada ibu dan ayah yang ngajakin keponakanku, dan ada mama dan papa juga. Kapan aku punya anak? Eh, punya anak bagaimana? Disentuh saja belum? Rasanya pengin sekali di rumah ini ada tawa anak kecil, ada semangat baru di rumah ini, tapi rasanya itu tidak mungkin. Kalau Mas Dani benar-benar mau belajar mencintaiku, mungkin akan terwujud. Ya, akan aku buktikan ucapannya, dia akan belajar sungguh-sungguh atau tidak.
“Mas Dani! Ngagetin aja ih!” Aku terjingkat, Mas Dani memelukku dari belakang, saat aku sedang berdiri di depan jendela ruang tamu.
“Lagian kamu dari tadi nutupin tirai lama sekali, malah bengong di sini? Ngapain sih?” tanya Mas Dani.
“Kalau ada anak kecil pasti rame ya mas di rumah ini? Tadi ada Kiki saja rame,” ucapku.
“Kode nih pengin punya baby? Ayo buat,” ajaknya.
“Idih buat apaan? Emang mas sudah siap? Cinta gak?” ucapku, lalu pergi ke kamarku.
“Kan aku lagi belajar, Vit?” jawabnya. “Vit kenapa masuk kamar situ?”
“Ini kan kamarku?”
“Mulai malam ini, aku akan tidur di kamarmu,” ucapnya.
“Jangan macam-macam, Mas!” tukasku.
“Dari tadi siang kan memang aku di kamarmu, karena ada orang kami?” jawab Mas Dani.
“Itu ya tadi, sekarang gak dong?”
“Bagaimana aku bisa belajar, tidur saja kita pisah?”
“Itu kan maunya mas? Kenapa tidak dari awal pindah ke sini tidur bareng? Padahal di rumah mama juga sudah biasa tidur di kamar yang sama, meski tempatnya beda?” ucapku.
“Vit, kan kamu tahu sendiri? Mulai sekarang kita sekamar, ya?” pinta Mas Dani. “Aku gak macam-macam, Vit. Buktiknya kemarin di Anyer aku tidak macam-macam, kan?” ujar Mas Dani.
Iya, benar. Kalau Mas Dani tidak menghargaiku, pasti dia sudah macam-macam denganku. Apa aku izinkan saja dia tidur di kamarku? Kalau seperti itu, pasti aku bisa membuat dia nyaman denganku, dia bisa sedikit demi sedikit mencintaiku.
“Ya sudah, tidur di kamarku saja. Aku bereskan, tadi berantakan sekali soalnya,” ucapku.
Aku masuk ke kamarku, Mas Dani mengekoriku ke dalam kamar. Aku bareskan tempat tidurku, yang biasa aku gunakan untuk tidur sendiri, selama aku menikah dengan Mas Dani. Mas Dani duduk di kursi yang berada di depan meja kerjaku. Dia seperti sedang membaca buku, entah buku apa yang ia baca, aku tidak peduli. Aku memilih membersihkan lantai kamarku, karena sedikit kotor.
Selesai beres-beres, aku ke kamar mandi, mengganti bajuku dengan setelan baju tidur. Aku tidak mungkin pakai gaun tidur malam ini. Ada Mas Dani di kamarku, masa aku mau pakai baju seksi? Nanti dia tidak tahan melihat aku pakai gaun tidur. Atau aku yang akan malu, karena tidak mungkin Mas Dani menyentuhku. Dulu saat belum pindah ke sini, aku pernah tidur dengan gaun tidur yang tipis saja, Mas Dani tidak menghiruakan, padahal waktu itu aku baru spa, baru perawatan rambut. Sekujur tubuhku wangi. Tapi, Mas Dani sama sekali tidak tergoda, ia malah asik bermain hape, bertukar kabar dengan Nadira, senyum-senyum sendiri, bahagia sekali kelihatannya, dan tidak menghiraukan aku yang sudah siap disentuhnya.
Sekarang, aku tidak mau memakai gaun itu lagi di depannya. Biar saja, aku pakai setelan piyama lengan panjang dan celana panjang. Aku tidak mau memancingnya, tapi dia tidak peduli dengan aku yang sedang memberikan umpan padanya. Mungkin sekarang beda. Aku malah takut Mas Dani tergoda, dan melakukannya tanpa cinta, hanya nafsu melihat gaun yang aku gunakan saja.
Aku keluar dari kamar mandi, aku langsung keluar dari kamar, tanpa peduli Mas Dani yang sedang duduk membaca buku. Biar saja aku masih malas menyapanya. Aku mengambilkan baju tidur untuk Mas Dani, karena baju yang Mas Dani pakai sudah kotor, dari siang belum ganti. Aku sengaja mengambil warna yang senada dengan bajuku. Aku bawa ke kamar lagi.
“Mas, ganti baju dulu, ini aku ambilkan,” ucapku.
“Kenapa sih Vit, kamu pendam sendiri?” tanya Mas Dani.
“Maksud, Mas?” tanyaku bingung.
“Ini? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mencintaiku?”
“Kamu baca bukuku, Mas? Lancang sekali kamu?” ucapku kesal.
“Buku ini di sini, ya aku baca, Vit. Kenapa sih Vit, kamu diam saja aku perlakukan seperti itu? Kenapa kamu gak marah, kenapa gak pernah kamu berontak? Dan, kenapa kamu gak bilang kamu mencintaiku, Vit?” ucapnya tatapan nanar.
“Kamu tanya kenapa? Kenapa aku tidak marah dan berontak? Karena, mau aku marah dan berontak bagaimana pun, Mas gak akan peduli!” jawabku penuh penekanan. “Apa mas peduli saat aku berusaha ingin menjadi istrimu seutuhnya? Saat di rumah mama, aku berusaha ingin menunaikan tugasku padamu, tapi kamu menghiraukan, kamu tidak peduli dengan aku yang sudah siap, aku yang sudah ingin kamu sentuh, tapi apa yang aku dapat?! Kamu malah asik dengan ponselmu, tanpa menghiraukan aku di depanmu yang sudah memakai gaun terbaik malam itu! Lalu sekarang kamu tanya kenapa aku tidak bilang, tidak cerita kalau aku sudah mencintaimu? Kamu saja gak peduli aku? Bagaimana aku bilang?”
“Kamu tahu sendiri, bagaimana perasaanku saat itu kan, Vit? Aku benci dengan keadaan kita saat itu,” ucap Mas Dani.
“Sudah tahu seperti itu, untuk apa kamu mempertanyakan kenapa aku tidak ngomong dan tidak berontak? Kalau aku berontak dan bilang aku mencintaimu, aku yakin kamu akan mencaciku lagi, kamu akan bicara dengan begitu menohok padaku? Aku tidak mau ada ribut-ribut, lebih baik aku diam,” jelasku. “Sudah sana ganti baju, jangan kamu sentuh-sentuh lagi bukuku! Kamu gak berhak nyentuh buku atau barang apa pun di kamar ini!” tegasku. “Ini ganti bajumu!” Aku memberikan baju tidurnya dan langsung menyimpan buku milikku yang tadi dia baca ke dalam lemari.
__ADS_1
Aku beranjak ke tempat tidur, aku matikan lampu tidur, dan menaikkan selimut ke badanku. Aku merasa Mas Dani merebahkan tubuhnya di sampingku. Aku memang memunggunginya, karena aku kesal dengan dia. Mas Dani mendekatiku, dan memelukku dari belakang.
“Gak usah meluk-meluk, Mas. Gerah!” Aku menyingkirkan tangan Mas Dani.
“Aku ingin meluk kamu, Vit,” pintanya.
Aku diam, aku biarkan dia kembali memelukku. Dia semakin mendekatkan badannya, dan mendekapku dengan hangat. Aku merasakan nyaman dipelukannya. Biar saja dia memelukku, biar dia merasakan memeluk istrinya.
^^^
Aku merasakan badanku berat sekali. Sampai pagi aku tidur dengan posisi yang masih utuh, pun dengan Mas Dani. Entah aku ini nyaman atau bagaimana, karena aku sama sekali tidak merubah posisi, dan Mas Dani pun sama. Aku mengusap tangan Mas Dani, lalu aku menciumnya. Perlahan aku singkirkan tangan Mas Dani.
“Aku masih ingin memelukmu, Nadira.” Igau Mas Dani yang membuat dadaku sesak.
“Aku bukan Nadira!” Aku singkirkan tangan Mas Dani dengan kasar, dan aku dorong tubuhnya menjauh dariku.
“Ouch ... Sakit!” pekiknya. “Kamu kenapa sih, Vit?”
“Kenapa? Kamu tidur denganku, memelukku, tapi yang kamu sebut nama Nadira? Begitu yang namanya mau belajar mencintai? Awas sana keluar dari kamarku!” umpatku kesal.
“Astaga, Vita ... aku minta maaf, Vit. Aku gak sadar, Vit,” ucapnya.
“Gak sadar saja kamu ingatnya Nadira, bagaimana kalau sadar. Percuma sepertinya aku memberikan kesempatan kamu, Mas!”
Aku cepat-cepat beranjak dari tempat tidurku. Daripada aku harus uring-uringan dengannya.
“Vit, tunggu ... aku minta maaf,” ucapnya dengan meraih tanganku.
“Lepas, sudah siang! Mau bikin sarapan, kamu harus minum obat!” jawabku.
“Aku sudha sembuh, Vit. Ayo gak usdah sarapan, kita cari sarapan di luar saja,” ajak Mas Dani.
“Gak!” tolakku.
“Gak mau! Sana pergi sendiri!” jawabku.
Aku ke kamar mandi untuk mencuci muka. Keluar dari kamar mandi aku sudah melihat Mas Dani memakai kaos oblong dan celana pendek. Dia gak menyerah untuk mengajakku sarapan di luar saja.
“Ayo berangkat.” Ajaknya dengan menarik tanganku.
“Eehh ... asal main narik saja ih. Aku gak mau!”
“Ayo buruan!”
“Aku ganti baju dulu, sana keluar!” usirku.
“Jangan lama-lama aku tunggu di luar.”
“Hmmm ....”
Okelah, aku turuti maunya dia, meskipun aku kesal dengan dirinya yang tadi pagi menyebut nama Nadira.
“Ayo mas,” ajakku.
“Kamu gak salah pakai baju gitu? Itu celana gak ketinggian, Vit? Pahamu kelihatan, Vita ....” protesnya.
Biar saja, aku sebetulnya sengaja, dia protes tidak. “Kan ini satu setel sama kaosnya?” ucapku.
“Iya tahu, tapi gak pendek gini? Ini buat di rumah, Vit! Untuk santai di rumah, bukan untuk keluar!”
“Iya Pak Guru ... Iya ... Ya sudah aku ganti deh!” ucapku.
__ADS_1
Aku ke kamar lagi, ternyata dia peduli juga dengan penampilanku. Aku ganti celana kulot yang selutut, warna hitam.
“Bagaimana, Pak Guru?” tanyaku.
“Kamu umurnya berapa, Vit? Coba deh pakai baju SMA, kayaknya masih pantas?” ucap Mas Dani.
“Ditanyain gimana malah gitu jawabnya?” ucapku kesal.
“Ya habis kamu penampilannya kayak anak SMA gini?” ucapnya.
“Biar saja, biar ditaksir sama berondong tajir!” jawabku.
“Gak ada berondong tajir, adanya berondong yang sukanya morotin uang pacaranya!” ucap Mas Dani kesal.
“Ayo jadi tidak?” ajakku.
“Iya, jadi,” jawabnya. “Berasa jalan sama anak SMA aku?” ucap Mas Dani.
“Aku juga berasa jalan sama Pak Guru?” ucapku.
“Kamu bisa saja, Vit.”
Mas Dani menggamit tanganku. Tidak tahu dia mau mengajak aku sarapan di mana. Aku ikuti sajalah ke mana Mas Dani mengajakku makan.
“Ayo turun,” ajak Mas Dani.
Kami sampai di kedai bubur ayam. Sesuai keinginanku, aku memang sedang ingin makan bubur ayam. Mas Dani mengajakku masuk, dia menggamit tanganku. Lalu mencari meja yang kosong. Kami duduk, dan Mas Dani memanggil pelayan.
“Eh Pak Guru datang, kok tumben gak sama Bu Nadira? Ini siapa, Pak? Adiknya?” tanya pelayan yang menghampiri meja kami.
“Iya, Saya adiknya.”
“Bukan, ini istriku.”
Ucapan kami bersamaan. Tapi, berbeda.
“Eh ... ini yang benar yang mana, Pak? Istri atau adik? Kalau istri bukannya Pak Dani sudah memiliki calon? Bu Nadira kan calonnya?” tanya pelayan tersebut.
“Aku adiknya.”
“Ini Istriku, Pak.”
Jawab kita bersamaan lagi.
“Aduh satu-satu deh jawabnya, jangan bareng tapi gak sama,” pinta pelayan.
“Aku adiknya, Pak. Adik ketemu gede. Dan, benar Mas Dani, aku istri Mas Dani. Kalau Nadira, mungkin kekasih di masa lalunya?” jawabku.
“Nadira mantanku, Pak.” Jawab Mas Dani. “Ini Vita, istriku.”
“Mantan? Empat hari yang lalu bukannya bapak ke sini dengan Bu Nadira pagi-pagi?”
“Ya kan sekolahan kita searah, Pak. Jadi ye ke sini bareng,” jawab Mas Dani. “Ya sudah aku pesan seperti biasnya ya pak, tapi jangan kasih sambal, Pak,” ucap Mas Dani.
“Kalau aku, sama deh dengan Mas Dani, tapi sambalnya dibanyakin sedikit, ya?” pintaku.
Pelayan itu menulis pesanan kami, lalu dia menyiapkan pesanan kami.
“Oh ... jadi ngajakin aku ke sini itu biar tahu ini tempat favorit kamu dan Nadira?”
“Gak gitu, Vita? Lagian aku kan jujur kamu ini istriku, dan Nadira mantanku?”
__ADS_1
“Calon mantan kali? Belum putus beneran?” jawabku.