Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Hati Ini Bukan Mainan


__ADS_3

Aku selesai meeting dengan beberapa kepala divisi untuk membahas soal project yang akan kita adakan di Anyer nanti. Sebetulnya tadi aku ingin langsung pulang saja saat dari kedai soto, aku sudah tidak mood lagi untuk balik ke kantor, tapi pekerjaanku masih banyak sekali, dan sudah mepet deadline nya. Jadi mau kapan lagi aku kerjakan, kalau aku menundanya hanya karena masalah sepele dengan Mas Dani.


Aku tidak menyangka, Mas Dani bilang dengan Nadira kalau dia sedang berusaha mengurus perceraian. Padahal kalau aku bahas soal itu, dia seperti mengalihkan pembicaraan. Tapi, kalau memang sudah harus berakhir, ya sudah, aku bisa apa? Dilanjutkan juga tidak ada gunanya, karena pernikahan kami terjadi tanpa cinta. Toh tadi siang sebelum bertemu Pak Adam, aku juga sudah bahas masalah cerai, dan aku siap jika ia ingin meceraikan aku kapan pun waktunya.


Aku masih berada di ruang meeting, membereskan beberapa dokumen, yang masih menumpuk, dan belum aku kerjakan. Tantri sedang sibuk sekali, jadi aku tidak enak mau merepotkan dia. Mungkin aku akan serahkan sebagian pekerjaanku ini pada Mas Dani saja. Itung-itung dia berlatih, biar dia cepat bisa dan aku bisa lepas dari perusahaan ini.


Jujur, aku kasihan dengan mama dan papa, kalau aku melepaskan semua ini. Mama dan papa mau mengandalkan siapa? Mas Dani? Iya dia bisa, tapi dia juga sambil mengajar, di kantor Cuma setengah hari saja. Padahal jadwal di kantor lebih padat, apalagi perusahaan papa tambah berkembang pesat seperti ini. Para investor juga berlomba-lomba ingin bekerja sama dengan perusahaan papa. Tiada hari tanpa nganggur kalau kerja di kantor. Kalau pengin free kita ya berusaha cari waktu sendiri. Meluangkan waktu untuk quality time sendiri, itu pun konsekuensinya pekerjaan kemarin akan tertumpuk dengan pekerjaan hari esoknya.


Sedangkan Mas Dani hanya bisa setengah hari saja, dia memang harus ada partner kerja, tapi tidak mungkin aku, masa sudah pisah aku harus tetap di sini? Tidak adil sekali sepertinya. Aku dibuang gitu saja oleh suami, tapi aku harus tetap di sini membantu pekerjaan mantan suamiku? Enak sekali kalau begitu?


Aku keluar dari ruang meeting. Baru saja mau masuk ke ruanganku, Tantri memanggilku. “Iya ada apa?” jawabku.


“Ditunggu Pak Dani di ruangannya, Bu,” jawabnya.


“Memang sudah balik ke sini?” tanyaku.


“Ya sudah, sudah setengah jam yang lalu malah,” jawabnya.


Aku langsung masuk ke dalam ruangan Mas Dani. Entah ada apa dia memanggilku, mungkin hanya mau minta maaf, atau tanya soal pekerjaan.


“Ada apa, Mas? Kata Tantri aku disuruh ke ruangan kamu?” tanyaku.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin tanya ini, sudah benar atau belum,” jawab Mas Dani. Tapi, dari gerak-geriknya aku tahu, Mas Dani ingin membahas soal kejadian tadi saat di kedai soto.


“Sudah benar sih,” ucapku sambil terus meneliti pekerjaan Mas Dani. Baru dua hari, dia sudah bisa aku andalkan sepertinya. Dia bersungguh-sungguh belajar rupanya. “Aku minta tolong boleh, Mas? Tolong kerjakan dokumen ini, tiga puluh menit bisa, kan? Aku tunggu di ruanganku kalau sudah selesai,” pintaku pada Mas Dani. Aku ingin mengujinya lagi. Biar saja, biar dia cepat bisa, karena aku juga sudah akan diceraikan dia.


“Iya bisa, Vit,” jawabnya.


“Ya sudah, sudah tidak ada yang ditanyakan lagi, kan? Gak ada keperluan lagi? Aku bali ke ruanganku, ya?” pamitku.


“Iya, Vit,” jawabnya.


Aku langsung melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan Mas Dani. Aku yakin Mas Dani ingin membahas soal tadi saat terjadi insiden tidak enak di kedai soto, tapi ia pasti mikir, kalau harus profesional.


“Vit, tunggu.” Mas Dani menghentikan langkahku.


“Aku minta maaf untuk yang tadi, Vit,” ucapnya.


“Oh masalah itu? Sudah jangan dipikirkan, yang harus kamu pikirkan, bagaimana caranya kamu bisa membuktikan pada papa dan mamamu, kalau kamu mampu menggantikan papa, dan mampu menggantikanku juga. Ingat mas, pernikahan kita gak akan lama lagi, kamu harus memikirkan ini matang-matang,” jelasku.


“I—iya, Vit,” jawabnya.


“Kapan aku terima surat gugatnnya, Mas?” tanyaku.

__ADS_1


“Vit, aku belum memikirkan itu, aku ingin fokus ini dulu.”


Aku tersenyum. Aku mengurungkan niatku untuk keluar dari ruangan Mas Dani, mendekati meja kerjanya lagi, aku heran dengan dia, kenapa plin-plan sekali jadi laki-laki? Tadi, dia bilang pada Nadira kalau dirinya akan segera mengurus perceraian, tapi setelah aku tanya, dia malah bilang belum memikirkannya? Yang benar mana?


“Mas bilang belum memikirkannya? Lantas tadi kamu bilang pada Nadira apa? Kamu akan segera mengurusnya bukan?” tanyaku.


“Ya ... ya ... itu karena aku gak mau dia marah terus, Vit! Kamu tahu kan, kalau kita pisah, akan melibatkan orang banyak, urusannya juga akan panjang? Aku juga harus urus ke Dinas lagi, urus sana-sini, dan lain-lain. Sedangkan aku di sini sedang belajar, Vit?”


“Kamu tahu, dengan kamu bicara seperti itu pada Nadira, itu malah akan menambah harapannya padamu untuk segera pisah dengaku, Mas! Jangan permainkan perasaannya dong, Mas? Aku juga perempuan, aku tahu apa yang dia rasakan!”


“Lantas bagaimana perasaanmu sendiri saat aku menceraikanmu, Vita? Apa kamu akan biasa saja? Apa kamu akan baik-baik saja? Atau tidak baik-baik saja? Aku juga memikirkan perasaanmu, perasaan orang tua kita, kalau kita berpisah, Vit! Banyak aku aku pikirkan, pekerjaanku di sekolah, di kantor, kamu, Nadira, orang tua kita!” cetusnya penuh kebimbangan.


“Semula berawal dari kamu, Mas! Jadi ya ini masalah kamu. Kalau kamu mikir perasaan mama dan papamu, kamu akan menuruti mereka, tidak akan kamu melanjutkan hubungan gelapmu dengan Nadira. Untuk masalah perasaanku bagaimana, mau aku baik-baik saja atau tidak baik-baik saja setelah bercerai denganmu, itu urusanku! Bukan urusanmu!” tegasku.


Sesak sekali rasanya jika membahas soal perpisahanku dengan Mas Dani. Aku tidak akan baik-baik saja, Mas. Tapi aku akan berusaha baik-baik saja di depan semuanya. Aku akan menjelma menjadi ratu drama lagi, aku akan berusaha terlihat baik di mata semua orang yang memandangku.


“Kamu tidak perlu khawatir atau bimbang, Mas. Selama menjalani proses perceraian, kita masih tinggal satu rumah. Aku juga akan terus mengajari kamu soal perusahaan sampai kamu bisa aku lepas sendiri. Setelah selesai, kita baru berpikir bagaimana caranya untuk bilang pada orang tua kita. Gak mungki orang tua kita menghalangi kita pisah, karena kita sama-sama sudah mengantongi bukti cerai. Jadi, mereka tidak akan memaksa kita bersama. Dan setelah itu, kamu bebas. Bebas mau apa saja, mau menikahi Nadira, atau menikahi siapa pun,” ucapku.


Mas Dani hanya diam saja, mungkin dia sedang mencerna ucapanku. Aku langsung keluar dari ruangan Mas Dani. Aku tidak mau lagi membahas hal yang membuat hatiku hancur.


Aku kira dengan aku selalu dekat dengannya seperti ini, akan merubah hatinya, merubah keinginannya. Ternyata dia masih tetap sama, ingin bercerai denganku. Aku bisa apa selain mengiyakan? Mencegahnya untuk tidak mengajukan perceraian juga sangat mustahil? Karena keinginan Mas Dani begitu. Dia ada di kantor saja, karena dia ingin membuktikan pada papanya kalau dirinya bisa, dan satu lagi, tujuan selanjutnya adalah ingin menceraikan aku dan mneikahi Nadira.

__ADS_1


Kenapa kalau ingin berpisah kamu membuatku tambah nyaman, Mas? Kamu bersikap sangat lembut dan perhatian padaku. Apa tujuanmu melakukan hal semalam, memelukku, memerhatikanku, dan menemaniku tidur? Lalu tadi pagi, kamu mencium keningku, cukup lama, dan aku merasakan getaran yang beda dari dirimu. Dan, saat di kedai soto, kamu begitu perhatian, melihat aku kesusahan makan karena rambutku tergerai, kamu rapikan rambutuku dengan jepit rambut, dan aku masih memakainya hingga sekarang. Kamu pikir hatiku ini mainan, Mas? Kau buat aku melambung, lalu kau hempaskan begitu saja? Kalau tidak cinta, jangan perhatian, Mas! Jangan melakukan apa pun yang berhubungan dengan perasaan.


Hatiku terlalu mudah menerima perlakukan lembutmu, apalagi aku sudah jatuh hati denganmu. Diberi perhatian sedikit saja hatiku menghangat, apalagi kamu berikan perhatian yang seperti tadi?


__ADS_2