
“Aku pulang ....” Vita masuk ke dalam, dan langsung melihatku yang sedang memeluk Nadira dan menciumi keningnya. “Eh maaf, ada tamu rupanya,” ucap Nadira dengan tersenyum ramah.
Aku langsung melepaskan pelukan Nadira, aku tidak tahu Vita pulang, karena aku sama sekali tidak mendengar suara motor Vita masuk ke halaman rumah. Mungkin aku tidak mendengar, karena aku sedang kangen sekali dengan Nadira, sedang memeluknya.
“Vit ka—kamu pulang pakai apa?” tanyaku gugup.
“Ya sepeda motor, Mas? Kan aku berangkat pakai sepeda motor, ya pulangnya juga pakai sepeda motor lah?” jawab Vita.
“Kok aku gak dengar, Vit?” tanyaku.
“Gimana mas mau dengar? Kan sedang ada tamu, sedang ngobrol, dan sedang kangen-kangenan sama pacarnya?” jawab Vita. “Oh iya, mas sudah makan? Sudah diminum obatnya?” tanya Vita.
“Belum, Vit.”
“Oh, tapi sepertinya gak usah makan dan minum obat juga sudah sehat? Iya kan, Pak, Bu? Mas Dani sudah kelihatan sehat? Kan sudah dijenguk oleh pacar tercinta? Beda lah, pasti langsung sembuh?” ujar Vita. “Terima kasih Bu Nadira, sudah membuat suami saya langsung sembuh, mari saya ke dalam dulu,” pamit Vita dengan tetap tersenyum ramah pada tamuku.
Vita ke belakang dengan membawa kantung plastik, mungkin itu makanan untukku. Aku tahu dia marah, pasti sangat marah padaku.
“Mas, aku gak enak sama Vita,” ucap Nadira.
“Dani ... Dani ... kamu pasti dilema, kan? Pilih istri atau Nadira?” ujar Heru.
“Kalau sudah begini sih mending lepaskan salah satunya, Dan,” ujar Irsya.
“Saya yang akan pergi, Pak Irsya. Sebetulnya bulan depan saya sudah harus pindah ke sekolahan lain, yang ada di dekat rumah orang tua saya, dan saya mungkin dua bulan lagi akan menikah,” ucap Nadira.
“Kamu yakin, Nad?” tanyaku.
__ADS_1
“Iya, Mas. Maaf tadi aku benar-benar kangen sama kamu, dan aku tahu kamu sampai sakit karena aku, maafkan aku. Kamu harus melanjutkan pernikahanmu dengan Vita, Mas. Aku akan bicara baik-baik dengan dia. Biar aku yang pergi, bagaimana pun aku ini dalam posisi yang salah,” ucap Nadira. “Dan, kalian tahu kan kalau aku sama Mas Dani sudah lama menjalin hubungan? Sejak SMA aku dan Mas Dani menjalin hubungan, tapi orang tua Mas Dani menjodohkan Mas Dani dengan Vita saat kami masih SMA, kami sudah mencoba meminta restu pada kedua orang tua Mas Dani, tapi keputusan orang tua Mas Dani tidak bisa diganggu gugat, dan kami sampai sekarang menjalin hubungan di belakang mereka, aku tahu ini salah, tapi aku sangat mencintai Mas Dani,” ucap Nadira dengan terisak.
Aku memeluk Nadira, aku tahu juga perasaan dia. Dia pun malu sampai ketahuan Vita sedang aku cium dan aku peluk. Aku tahu perasaannya. Nadira pun sangat hancur saat ini. Dia terpaksa dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya, karena tidak ada kepastian dariku.
“Sudah jangan nangis, sebetulnya aku tidak bisa menerima keputusanmu, Nad. Semua sia-sia, Nad. Aku sudah mengajukan gugatan cerai, tapi kamu malah pergi? Apa tidak bisa dipikirkan lagi?” ucapku.
“Gak bisa, Mas. Kamu harus dengan Vita, dia pilihan orang tuamu. Belum tentu jika kita bersama, kamu akan bahagia. Bagaimana pun hubungan kita gak akan pernah direstui oleh orang tuamu, Mas,” ucap Nadira.
Benar kata Nadira, aku memang harus mempertahankan hubunganku dengan Vita. Semalam juga aku sudah bilang dengannya, kalau aku akan belajar mencintainya. Tapi sekarang, hatiku goyah lagi, karena ada Nadira. “Aku ke belakang dulu, ya?” pamitku.
Aku melihat Vita masih di dapur. Dia membuka tempat sampah dan akan membuang kantung plastik yang ia bawa. “Jangan dibuang, itu makanan bukan?” ucapku menghentikan Vita yang akan membuang sesuatu ke tempat sampah.
“Iya untuk apa kalau gak dibuang? Kan kamu tidak butuh ini mas?” jawab Vita.
“Aku belum minum obat, Vit. Biar aku makan. Sini, jangan dibuang ya?” Aku mengambil kantung plastik yang berisi kotak nasi atau apa aku tidak tahu.
“Iya, belum.”
“Ya sudah tunggu sebentar aku ambilkan.”
Vita ke kamar, mengambilkan obatku. Aku membuka makanan yang Vita bawa. Dia membelikan nasi rames kesukaanku. Padahal dia tidak pernah tahu aku suka nasi rames ini, tapi dia seperti tahu apa yang sedang aku inginkan.
“Ini mas, diminum dulu.” Vita memberikan obat yang diminum sebelum makan padaku.
“Makasih ya, Vit?”
“Iya.”
__ADS_1
Vita menarik kursi dan duduk di depanku. Dia menatapku dengan tatapan sendu dan penuh arti. Dia tiba-tiba mengambil tanganku, menggenggamnya lalu dia mencium tanganku.
“Mas, aku rasa, memang kita harus berpisah. Lanjutkan saja perceraian kita, Mas. Aku tahu perasaanmu, hatimu, kasih sayangmu, dan cintamu untuk siapa. Jangan dipaksakan untuk tetap bertahan dalam pernikahan ini, Mas. Karena, belajar mencintai itu sangat sulit, apalagi masih ada sisa cinta masa lalu yang tertinggal di hatimu. Aku yakin akan sulit bagimu untuk mencintaiku, selama nama Nadira masih melekat erat di hatimu,” ucap Vita.
“Vit, tapi aku sudah memutuskan untuk menarik gugatan itu. Aku akan meninggalkan Nadira, aku akan belajar mencintaimu, Vit. Aku janji.” Ucapku.
“Jangan janji padaku, Mas. Berjanjilah pada hatimu sendiri. Kamu harus berjanji pada hatimu, untuk melupakan Nadira, membuang semua rasa untuk Nadira, membuang cinta untuk Nadia, dan janji pada hatimu untuk bisa mencintaiku, menerima aku di hatimu. Bukan janji padaku, Mas. Karena suatu hari kamu akan mengingkarinya kalau kamu ingat Nadira yang masih ada di hatimu.”
Benar kata Vita, aku harus janji pada diriku sendiri, pada hatiku untuk bisa melupakan Nadira, dan mencintai Vita.
“Sudah lima belas menit, makan gih!” titah Vita.
“Iya aku makan, kamu sudah makan?” tanyaku.
“Belum, nanti deh makannya, sekalian ke kantor lagi beli makan,” jawab Vita.
“Aku suapi, ya?” ucapku.
“Gak usah nanti saja. Buruan habiskan, lalu minum obatnya. Teman-teman mas kan nungguin?” ucap Vita.
Aku tetap memaksa Vita untuk makan bersama. Aku yakin dia sibuk di kantor dan belum makan. “Ayo buka mulutmu, aku suapi,” pintaku.
“Jangan, sini aku makan sendiri saja.” Vita mengambil alih sendoknya dan dia makan sendiri. Dia hanya mekan beberapa suap saja.
“Sudah aku tahu mas suka sekali dengan makanan ini. Mas habiskan saja, aku sudah,” ucap Vita.
Selesai makan, aku meminum obat yang Vita sediakan. Aku langsung keluar lagi menemui teman-temanku yang masih menungguku. Vita langsung membereskan meja dan alat-alat makan, setelah aku selesai makan. Sungguh aku dilema sekali, disatu sisi aku masih sangat mencintai Nadira, dan belum rela melepaskannya. Di sisi lain ada Vita yang begitu indah untuk aku kagumi, dan aku tidak tahu perasaan apa yang ada di hatiku, saat aku mengingat Vita.
__ADS_1