Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Pagi Yang Membuat Mood Berantakan


__ADS_3

Pagi ini aku memilih berangkat ke kantor sendiri. Padahal Mas Dani bilang akan mengantarku. Tapi, rasanya aku tidak perlu, lagi pula aku sudah memesan taksi. Mas Dani sedang aneh perlakuannya denganku. Aku senang, bahkan bahagia dia begitu perhatian padaku, dia juga melakukan hal seperti tadi, menganggapku sebagai istrinya, bersikap seolah romantis padaku, tapi dalam rasa senang dan bahagiaku, terbesit rasa takut, aku takut semakin jatuh hati padanya, dan tidak bisa melepasakannya.


Aku hanya ingat satu tujuan dia sekarang, kenapa Mas Dani sampai baik padaku. Itu semua karena dia sedang ada maunya. Dia sedang mencari celah supaya aku membantunya bicara pada kedua orang tuanya, bahwa dia akan menceraikan aku, dan menikahi Nadira.


Sungguh begitu miris nasibku. Padahal semua orang yang melihat kehidupanku, mereka merasa aku ini bahagia, memiliki mertua yang baik, suami yang tampan, dan bisa menjadi pemimpin di perusahaan mertuanya. Banyak perempuan di luar sana yang mungkin iri dengan posisiku sekarang. Iri karena aku memiliki mertua yang begitu baik dan menyayangiku, iri karena aku yang hanya sebagai menantu, tapi aku mendapatkan tahta tertinggi di perusahaannya.


“Vit ... ayolah berangkat bareng aku?” bujuk Mas Dani.


“Mas lihat sudah ada taksi di depan, dan aku harus segera berangkat,” jawabku. “Sampai jumpa nanti siang di kantor ya, Mas?”


“Ya sudah kamu hati-hati ya, Vit?” ucap Mas Dani dengan wajah sedikit kecewa karena aku tidak mau diantar dirinya.


“Oke, mas juga hati-hati,” jawabku. “Oh ya, Mas. pakai baju yang kerahnya agak tinggian, tuh merah lehernya,” ucapku.


“Iya ih, cerewet kamu!” jawabnya kesal.


Aku hanya menyunggingkan senyumanku. Aku cium tangan Mas Dani sebelum berangkat ke kantor. “Hati-hati ya, Vit? Sampai kantor kabari aku,” ucapnya dengan mengusap rambutku saat aku menunduk mencium tangannya.


“Iya, nanti aku kabari,” jawabku.


“Boleh aku kecup keningmu?” pinta Mas Dani.


Aku hanya menatap dirinya heran. Mas Dani dari semalam kerasukan setan apa, kok berubah begini? Sepertinya ada yang gak beres dengan otaknya. Di kasih kerjaan kantor saja otaknya langsung bergeser?


“Mas sakit? Atau obatnya habis?” tanyaku dengan memegang dahinya dengan punggung telapak tanganku, memastikan suhu badannya.


“Isshh ... kamu itu, pengin cium kening istrinya saja dibilang sakit?” protesnya.


“Ya habis tumben gitu, kan gak ada orang tua kita? Ngapain pakai cium segala? Aneh!” ucapku.

__ADS_1


“Ya memang gak boleh?”


“Bukan gak boleh, kamu itu aneh dari semalam, Mas! Kenapa sih?”


“Gak apa-apa, gak ada yang aneh sih menurutku?” jawab Mas Dani.


“Udah ah, udah siang juga! Sana masuk, terus siap-siap ke sekolah, ketemu ayang di sana!” Aku langsung  meninggalkan Mas Dani. Tidak pedulu tadi yang minta cium keningku.


“Ih tunggu!” Mas Dani meraih tanganku, menarikku ke dalam rumah lagi, lalu ia menghadapkan tubuhku di hadapannya.


“Kamu ini suami pengin cium kening saja gak boleh?”


“Bukan gak boleh, kan mas gak pernah mau?” ucapku.


Mas Dani menatap lekat wajahku. Ia membenarkan rambutku yang mungkin agak berantakan karena aku menggeraikannya, lalu ia kecup keningku dengan lembut, dan cukup lama. Sepertinya ia memang tulus ingin mengecup keningku. Dia tersenyum setelah mencium keningku. Rasanya sungguh berbeda, dengan kecupan dia yang biasanya dia berikan saat di depan orang tua kami. Pagi ini, rasanya hatiku menghangat, hatiku berbunga-bunga, jantungku berdegub kencang mendapat perlakuan seperti ini dari Mas Dani. Mungkin wajahku kali ini sedang merona, karena aku benar-benar merasakan getaran cinta yang mengalir di hatiku, yang sekian lama kosong.


Mas Dani mengangkat daguku, hingga aku sedikit mendongakkan wajahku untuk menatap dirinya. Wajah Mas Dani kian mendekati wajahku. Aku memejamkan mataku, tapi aku tersadar, dengan apa yang akan Mas Dani lakukan. Tidak! Aku tidak boleh terpancing seperti ini! Aku tidak mau dia melakukan lebih, sedang hatinya belum seutuhnya untukku, dan aku yakin Mas Dani sedang bertengkar dengan Nadira, hingga ia melampiaskannya padaku dari semalam hingga pagi ini.


“Kenapa, Vit?” tanya Mas Dani. “Aku gak boleh cium bibirmu?”


“Boleh,” jawabku singkat.


“Lalu kenapa tadi tidak mau?”


“Karena mas tidak mencintaiku, meskipun mas adalah suamiku,” jawabku dengan mengurai senyum padanya.


“Apa harus mencintaimu dulu, untuk mencium bibirmu?”


“Ya, harus!” jawabku tegas. “Aku punya prinsip, siapa yang mencium bibirku, dialah orang yang harus hidup bersamaku, hingga aku menua, dia yang akan mendapatkan seluruh cintaku, dan mendapatkan seutuhnya diriku,” ucapku.

__ADS_1


“Oh ya? Lalu pacarmu?” tanya dia.


“Pacar? Siapa pacarku memangnya? Aku gak pernah punya pacar kok?” jawabku.


Enak saja, pacar siapa? Dari SMP aku sudah diikat oleh orang tuaku gara-gara kamu! Kehidupanku tidak bebas lagi saat orang tuamu memintaku menjadi menantunya. Hidupku setiap hari selalu dipantau ayah, ibu, dan semua kakak-kakakku, juga asisten di rumah ikut-ikuta memata-matai aku. Bagaimana aku bisa pacaran? Bagaimana aku bisa bebas bermain di luar rumah? Mau kerja kelompok saja ditanya dengan siapa, ada teman laki-laki atau tidak? Dan semuanya itu demi siapa coba? Demi  kamu! Sampai kuliah di Luar Negeri pun eyang uti sama eyang kakung menemaniku, juga kadang kakakku. Hingga Firda ikut terkekang juga akhirnya.


“Kamu bukannya punya pacar?”


“Siapa pacarku?” tanyaku.


“Arif?”


Aku tertawa mendengar ucapan Mas Dani, saat menyebut Arif adalah pacarku. “Kalau dia suka aku, ya aku akui memang dia suka aku,” ucapku terkekeh. “Tapi bukan berati aku pacaran sama dia, Mas! Yang namanya pacaran itu sama-sama saling cinta, saling sayang, kita berkomitmen, ya seperti kamu dengan pacarmu lah, sampai sekarang begitu, kan?” ucapku.


“Aku sama Arif, tidak mungkin akan bersama. Ya aku akui dulu aku kagum padanya, aku sempat naksir juga, tapi aku mikir aku ini sudah terikat dari SMP lho mas, gak bebas hidupku karena kamu, Mas! Aku tidak seperti remaja yang pada umumnya, aku ini ke mana-mana selalu saja dibuntuti kakakku, dijaga ke mana pun aku pergi, gak bisa bebas! Mau kerja kelompok saja aku diantar, sampai Firda pun ikut merasakan terkekang, itu semua karena kamu, Mas! Karena sejak SMP aku diminta mama dan papamu untuk dijodohkan denganmu!” ucapku dengan jengkel.


Ya aku jengkel, karena sampai sekarang pun hidupku tidak bebas. Rasanya aku ini akan menikah dengan seorang pangeran dari kerajaan yang kaya raya, hingga aku ini berharga sekali, bak intan berlian. Aku selalu dijaga orang tuaku, kakakku, bahkan semua asisten di rumah ibu juga ikut memantauku. Aku tidak bisa ke mana-mana sendiri. Hanya dengan Firda mereka percaya, hanya Firda teman yang mereka percaya.


“Sekarang mas paham, kan? Jadi tidak usah bahas Arif lagi, tidak usah bilang Arif itu kekasihku. Kalau aku mau, kalau aku menentang seperti kamu, dan kalau Arif tidak menghargaiku dan menghargai keluargaku, mungkin aku akan seperti mas, menentang orang tua, aku akan menuruti kata hatiku untuk tetap dengan Arif, tapi tidak bagi aku, Mas! Karena aku percaya apa yang ibu dan ayah berikan untukku itu yang terbaik untukku!” cetusku dengan jengkel.


“Aku gak mau beedebat lagi, aku berangkat! Malam berdebat denganmu, karena akan membuatku badmood saja!”


Aku pergi meninggalkan Mas Danial. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di otak dia dari semalam. Dia semalam berani sekali tidur di kamarku, berani sekali peluk-peluk aku? Dia maunya apa sebetulnya? Dia masih berhubungan dengan kekasihnya, tapi dia mau aku? Enak saja!


Huh ... aku menyetabilkan emosiku dulu di kantor sebelum aku memimpin meeting dengan beberap divisi di kantor. Mas Dani sangat membuatku kesal pagi ini. Bisa-bisanya mau langsung nyosor gitu saja! Enak banget dia! Kemarin sepulang kerja dapat jatah dari Nadira sampai lehernya banyak tanda merah? Sekarang dia malah mau nyosor nyium aku? Enak sekali dia, mau berbagi wanita? Mau latihan poligami?


Enak saja mau poligami! Nata baju sendiri saja gak pinter mau beristri dua. Mending sudahi saja pernikahanku dengan Mas Dani, mumpung keningku saja yang sudah tidak perawan, yang sering di ciumnya.


Pekerjaanku sangat padat minggu ini, belum minggu depan ada acara di Anyer. Semua persiapan juga harus matang dari sekarang. Untung saja Firda dan Arif, juga Tantri mereka begitu sigap dan kompak. Semoga acaranya bisa berjalan dengan lancar. Ditambah ada Mas Dani di kantor, dan itu juga harus aku pantau dan aku bimbing pekerjaannya. Tapi Mas Dani cepat tanggap saat aku ajari.

__ADS_1


Aku masih memikirkan perlakukan Mas Dani tadi. Sebetulnya kalau Mas Dani gak punya kekasih, dan dulu saat pertama selesai ijab qobul Mas Dani tidak bilang bahwa dirinya tidak mencintaiku, mungkin aku tidak masalah tadi Mas Dani mencium bibirku, bahkan mungkin aku akan membebaskan dia menyentuhku semaunya. Toh dia suamiku, dia berhak atasku. Tapi, karena ucapannya setelah akad nikah selesai, dan ucapan kemarin yang ingin berpisah, aku jadi berpikir keras untuk tidak terjatuh lebih dalam di pelukan Mas Dani. Karena, aku tidak ingin sakit hati. Aku tidak ingin setelah aku benar-benar menyerahkan semuanya, dan semakin mencintainya, aku malah ditinggal pergi Mas Dani.


Tidak mungkin Mas Dani tidak melakukan lebih dengan Nadira. Leher saja banyak gigitan nyamut bergigi putihnya? Tidak mungkin Mas Dani tidak menyentuh Nadira dalam. Bahkan mungkin mereka sudah sering melakukan hubungan layaknya suami istri. Tapi, kalau sudah begitu pasti susah lepasnya. Iya jelas, sekarang pun susah lepasnya? Dan, aku ikhlas jika pernikahanku ini dengan Mas Dani selesai karena aku tak dicintainya, dan suamiku mencintai perempuan lain.


__ADS_2