
Hari ini ternyata Vita ulang tahun. Aku sama sekali tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Kalau tahu ini hari bahagia dia, aku tidak akan memberikan surat gugatan itu. Aku akan buat dia bahagia, meski aku belum bisa mencintainya, setidaknya dengan membuat dia tersenyum di hari bahagianya, bukan seperti tadi, melihat dia hancur, menangis di pelukan Firda.
Bukan, bukan karena alasannya yang bilang Firda tidak lagi mengucapkan selamat yang pertama karena sekarang akulah yang pertama. Bukan itu. Aku tahu dia menangis karena telah menerima surat gugatan dariku. Malam ini aku benar-benar menyesal, aku merasa bersalah sekali mengambil keputusan ini, harusnya aku pikirkan dulu, aku hanya memikirkan Nadira, aku tahu aku sudah menggantungkan hubunganku dengan Nadira, hingga aku tidak memikirkan hati Vita. Aku tahu dia sangat hancur malam ini, benar-benar hancur.
Harusnya aku memikirkan perasaan dia, meski aku tidak mencintainya. Apalagi dari kemarin aku selalu memberikan perhatian lebih, pun Vita, sejak aku di kantor, Vita benar-benar perhatian denganku. Ya meski hari-hari setelah pernikahan dia juga perhatian padaku, tapi tidak lebih seperti sekarang setelah aku mau belajar soal perusahaan.
Aku masuk ke dalam kamar menyusul Vita. Aku lihat dia sedang berdiri di depan jendela yang menghadap ke pantai, ia membuka jendelanya hingga hawa dingin masuk ke dalam kamar kami.
Aku mendekatinya, lalu memegang pundaknya. “Vit, anginnya kencang, sudah malam, jendelanya ditutup lalu istirahat,” ucapku.
“Kalau mas mau istirahat, istirahatlah. Aku belum pengin tidur, mungkin aku kebanyakan tidur siang tadi,” jawabnya.
Aku beralih ke depan Vita, aku tatap wajahnya yang sendu, matanya sembab dan merah, masih terlihat sisa air mata di sudut matanya. Aku tahu dia pasti habis menangis lagi. “Dingin, Vit. Tutup ya jendelanya? Nanti kamu masuk angin.”
“Hmm ....” jawabnya hanya bergumam.
Vita masih berdiri di sebelahku yang sedang menutup jendela lalu menutup tirainya.
“Vit, aku minta maaf,” ucapku.
“Untuk?”
“Aku tidak tahu ini hari bahagiamu, harusnya aku tidak memberikan surat itu tadi. Aku minta maaf, Vit,” ucapku dengan menggenggam tangannya.
“Sudah, mau memberikan surat ini sekarang atau nanti, juga sama saja, Mas. Mas gak usah minta maaf, kan memang kesepakatannya kamu mau belajar soal perusahaan, dan akan menceraikan aku? Ya lebih cepat memang lebih baik juga, kasihan kekasihmu, sudah sering disentuh gak dihalalin, nanti kalau hamil bagaimana? Bukan hanya kamu yang malu, tapi keluarga besarmu dan keluarga besarnya dia,” ucap Vita.
“Demi Tuhan, aku tidak pernah menyentuhnya sedalam itu, Vit,” ucapku.
“Ya mau dalam atau tidak bukan urusan aku, Mas. Kalau sudah sampai banyak tanda merah, mana mungkin gak sampai dalam? Iya, kan?”
Ya benar juga apa yang Vita katakan. Mungkin kalau kemarin saat Nadira memasrahkan semuanya aku pun mau, pasti sudah kejadian yang seperti itu. Untung saja aku masih bisa mengendalikan hawa nafsuku, ditambah sekelebat bayangan perempuan tergambar di pelupuk mataku. Aku ingat kamu saat itu, Vit. Entah kenapa bayangan kamu terlintas saat malam itu, saat aku hampir saja melakukan hal yang seharusnya tak kulakukan pada Nadira.
“Ya sudah mas, istirahat, sudah larut malam. Besok kita masih banyak kegiatan, mas juga harus istirahat,” ucapnya.
Kami sama-sama ke tempat tidur. Malam ini kami tidur satu ranjang. Aku sebetulnya sudah ingin memesan kamar, kebetulan kamar full, tidak ada kamar kosong di resort yang kami sewa. Mau tidur di sofa, sofanya terlalu kecil, badanku juga butuh tempat yang nyaman, apalagi besok seharian akan ada acara. Aku tahu Vita tidak nyaman aku tidur di sebelahnya, tapi mau bagaimana lagi, memang kita harus tidur satu ranjang malam ini.
“Kalau kamu gak nyaman, aku tidur di lantai ya, Vit,” ucapku.
“Jangan mas, nanti kamu masuk angin,” jawab Vita. “Tadi aku coba pesan tambahan bed, katanya sudah tidak ada, pesan kamar pun sudah tidak ada kamar kosong.”
__ADS_1
“Sama, aku juga tadi sudah pesan, tapi tidak ada yang kosong,” ucapku.
Kami terdiam, sama-sama menatap langit-langit kamar. Aku masih melihat Vita yang belum memejamkan matanya. Aku tidak bisa tidur, pun dengan Vita, mungkin dia juga tidak bisa tidur.
^^^
Aku bangun lebih dulu dari Vita. Aku melihat Vita yang tidur dengan menghadap ke arahku. Aku sibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Dia masih tertidur pulas, wajahnya benar-benar bersih, natural, cantik, dan manis. Tidak salah banyak laki-laki yang mengagumi dan menyukainya, mungkin aku saja yang bodoh. Punya istri sesempurna ini malah aku sia-siakan, aku anggurin seperti ini.
Aku beranjak dari tempat tidurku, aku tidak mau terlalu lama memandangi wajah Vita yang begitu terlihat sangat cantik. Aku langsung menyalakan teko, memasak air untuk membuat teh untuk Vita, dan kopi untukku. Sambil menunggu air mendidih, aku ke kamar mandi, untuk membersihkan badanku.
Aku lilitkan handukku di pinggang. Aku tidak memakai kaosku lagi, karena gugup kali saja airnya sudah mendidih, dan benar airnya sudah mendidih. Aku tuangkan air ke dalam cangkir, harumnya kopi tercium di indra penciumanku, nikmat sekali harumnya.
Aku melihat Vita yang mengeliat di tempat tidur, lalu ia bangun. Ia mengerjapkan matanya sambil menatapku.
“Mas Dani! Ngapain pakai begitu?” Vita reflek menutup wajahnya dengan bantal.
“Maaf, aku belum pakai baju, aku gugup kali saja sudah mendidih airnya,” ucapku.
Aku langsung berjalan ke arah lemari, aku ambil kaos dan celana pendek, aku pikir nanti saja aku pakai baju kerjanya, karena masih terlalu pagi.
“Sudah, aku sudah pakai baju, buka bantalnya,” ucapku. Vita membuka bantalnya perlahan. “Aku masih telanjang, Vit,” ucapku bercanda.
“Sudah, aku sudah pakai baju. Buka bantalnya, ini aku sudah buatkan kamu teh. Ngeteh yuk, di balkon sambil lihat pemandangan pagi,” ajakku.
“Hmm ... aku cucia muka dulu,” jawabnya.
“Rambutnya diikat, Vit, biar gak berantakan,” ucapku.
“Iya ini aku ikat.
Aku membawa teh dan kopi ke balkon. Aku taruh di atas meja. Aku juga mengambil cemilan yang kemarin bawa dari rumah. Vita menyusulku ke balkon. Ia duduk di kursi yang ada di sebelahku, hanya tersekat meja kecil saja. Ini adalah pagi pertama yang langka, yang tidak pernah terjadi di dalam pernikahanku dengan Vita. Kami tidur satu ranjang, dengan nyaman meski tidak saling sentuh. Ya aku merasa nyaman dengan adanya Vita di sebelahku semalam.
Bangun tidur, yang kulihat wanita cantik, yang masih terlelap dengan tenang dan damai. Biasanya yang aku tatap pertama layar ponsel, melihat ada pesan atau tidak dari Nadira. Dan dari semalam aku sama sekali tidak peduli dengan ponselku, di mana ponselku pagi ini saja aku tidak tahu?
“Vit?”
“Ya, gimana, Mas?”
“Kamu mau kado apa?” tanyaku asal. Padahal aku hanya ingin membuka percakapan biar tidak saling diam.
__ADS_1
“Kado? Apa, ya?” jawabnya.
“Ya apa mintanya? Terserah kamu,” ucapku.
“Kalau aku minta, batalkan perceraian kita bagaimana?” pintanya dengan tersenyum menantang.
“Ehhmm oke! Aku batalkan sekarang!” jawabku yakin.
“Enggak bercanda. Yang sudah terjadi ya sudah, Mas. Mungkin ya begini nasib pernikahan kita. Kalau untuk kado, masa kado ditawarin, terus aku minta? Gak kejutan dong? Gak kreatif nih Pak Guru,” ucapnya.
Aku kira dia benar-benar ingin aku mencabut gugatan cerai, kalau iya dia mau, ya aku akan cabut sekarang, aku juga masih bimbang untuk melepaskannya. Ternyata dia tidak sungguhan. Tapi melihat raut wajahnya yang tadi, Vita sepertinya tidak menginginkan pernikahan ini berakhir.
“Ya sudah nanti aku pikirkan mau kasih kado apa untuk kamu,” ucapku.
“Harus hari ini lho?” pintanya.
“Oke, hari ini, tapi ada syaratnya,” pintaku.
“Apa?”
“Kita bermalam di sini lagi,” pintaku.
“Ih mau apa? Gak ah, nanti kamu macam-macam,” ucapnya.
“Ya itung-itung bulan madu, liburan, atau apalah,” ujarku.
“Bulan madu gimana? Gak ah!”
“Please ... semalam lagi, ya? Aku gak akan macam-macam, Vit. Ya aku sih pengin liburan sehari lagi lagi, dari kemarin kita kan kerja gak kenal waktu, Vit?” pintaku.
“Boleh sih liburan, tapi kamar beda, ya?”
“Gak usah sini saja, toh semalam aku juga gak ngapa-ngapain, kan?”
“Iya semalam, gak tahu kalau nanti malam?”
“Gimana, mau tidak?” tanyaku memastikan.
“Boleh deh, iya sih memang masih butuh refreshing.”
__ADS_1
Yes! Vita mau bermalam di sini lagi. Rencanaku berhasil, nanti malam aku ingin membuat kejutan untuknya. Aku akan menebus rasa bersedihnya semalam. Aku merasa sangat bersalah, mungkin dengan rencanaku nanti malam, aku bisa menebus rasa bersalahku semalam.