Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Aku Harus Bagaimana, Vit?


__ADS_3

Pagi ini aku belum melihat Mas Dani keluar dari kamarnya. Sudah pukul tujuh lebih lima belas menit Mas Dani belum juga keluar dari kamarnya.


Kemarin setelah pulang dari Anyer, Mas Dani langsung pergi, mungkin dia menemui Nadira, memberitahukan Nadira kalau dia akan menceraikan aku, dan sudah mengajukan gugatan cerai. Biar saja, toh itu sudah keinginannya.


“Mas, sudah siang, kamu gak ke sekolahan?” Aku mengetuk pintu kamar Mas Dani, tapi tidak ada sahutan dari Mas Dani.


Aku membuka pintu kamarnya, kali saja dia kesiangan. Nanti malah dia marah kalau gak aku bangunkan. Aku melihat Mas Dani masih tidur dengan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya terlihat pucat sekali, aku coba sentuh dahinya, panas sekali badannya.


“Mas, kamu demam?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya. Aku pegang tangannya, dingin sekali telapak tangannya, tapi badannya panas sekali.


“Vit ....” Mas Dani mengerjapkan matanya memandangiku dan memanggilku.


“Iya, Mas, gimana? Aku telefon dokter, ya?” ucapku.


“Badanku sakit semua, perutku juga sakit, Vit,” desah Mas Dani dengan kesakitan.


“Aku telefon dokter sebentar,” ucapku sedikit panik.


Aku menghubungi dokter keluarga kami, lalu mengambil air hangat untuk mengompres Mas Dani. Mungkin dia kecapekan, kemarin pulang dari Anyer langsung pergi lagi, dan pulang cukup larut.


^^^


“Bagaimana, Dok?” tanyaku.


“Asam lambungnya naik, mungkin kecapekan, saya berikan obat, dan harus dihabiskan. Tidak usah panik ya, Bu?” ucap Dokter.


“Baik, Dok,” jawabku.


Selepas Dokter Wira pergi, aku membuatkan bubur untuk Mas Dani. Mungkin dia kecapekan, tapi dari kemarin dia tidak telat makan? Semalam aku hanya lihat Mas Dani murung, pulang langsung masuk kamar, tidak menyapaku, dan diam saja. Sepertinya dia sedang ada masalah, mungkin dengan Nadira.


Aku kembali ke kamar Mas Dani, aku membangunkannya, karena dia tidur lagi setelah minum obat sebelum makan


“Mas, bangun ... Makan bubur dulu, ya?” Aku membangunkan Mas Dani.


“Vit, mulutku pahit, gak usah makan, Vit,” ucapnya.


“Gak mau makan gimana, Mas? Kamu harus minum obat. Ayo buka mulutnya,” paksaku.


“Gak enak tahu, Vit. Malah mual pengin muntah,” ucap Mas Dani.


“Mas, tahan dong? Jangan gitu? Kamu gak pengin sembuh? Tadi dengar kan dokter bilang apa?” bujukku.


“Iya sudah, sekali saja, ya?”


“Iya, ayo buka mulutnya,” paksaku.

__ADS_1


Aku suapi Mas Dani, mau tidak mau aku paksakan dia untuk makan. Biar saja, aku paksa saja, biar dia cepat sembuh.


“Vit udah dong? Katanya sekali, kok malah sampai mau habis buburnya?” ucap Mas Dani.


“Ya biar kamu sembuh, kalau gak dipaksa ya kamu gak mau makan, Mas? Ayo sekali lagi nih?” paksaku lagi.


“Mnnch ... Kamu maksa banget sih, Vit?”


“Kalau gak aku paksa kamu gak makan, kamu pasti galau ya, pasti marahan lagi sama Nadira,” ucapku.


“Gak usah bahas dia, Vit,” ucapnya.


“Ya sudah minum obatnya.” Aku mengambilkan obat untuk Mas Dani.


Pasti ada masalah dengan Nadira. Buktinya aku bahas Nadira saja dia langsung bicara begitu. Gak mau membahasnya. Paling Nadira marah karena kemarin Mas Dani ikut ke Anyer, dan Mas Dani jarang ngasih kabar padanya.


“Vit?”


“Iya, kenapa? Mau apa? Pengin apa?” tanyaku


“Sini saja, ya? Gak usah ke kantor dulu ya?” pinta Mas Dani.


“Iya aku temani kamu di sini,” ucapku. “Kenapa, Mas? Nadira marah?” tanyaku.


“Dijodohkan?”


“Iya, Vit. Bulan depan dia tidak mengajar di sini lagi. Gak tahu, kenapa dia memutuskan itu, tanpa bicara dulu denganku,” ucap Mas Dani.


“Ya mungkin memang sudah seharusnya dia dijodohkan, karena menunggu kamu terlalu lama?” jawabku.


Biar saja aku jawab begitu. Bagus dong dia mau dijodohkan? Jadi aku masih ada kesempatan untuk bisa memperbaiki rumah tanggaku, meski Mas Dani sudah menggugatku, apa salahnya aku masih mengharapkan rujuk dengannya? Tapi ya aku tidak mau kepedean dulu. Kali saja Nadira hanya pura-pura saja? Tapi kalau pura-pura, tidak mungkin Mas Dani sampai sakit gini?


“Aku gak tahu kenapa dia tidak bilang apa-apa denganku. Padahal dia sudah mengajukan pindah dari sebulan yang lalu,” ucap Mas Dani.


“Ya mungkin belum saatnya dia bilang dengan mas,” jawabku. “Kenapa mas tidak membujuknya lagi supaya dia gak pergi?” tanyaku.


“Sudah, tapi itu sudah keputusannya. Perabotan di rumahnya saja sudah sebagian di bawa pulang,” jelasnya.


“Ya ajak bicara baik-baik dong. Kalian berdua kan sudah seperti suami istri mungkin, kenapa gak bisa bicara dari hati ke hati? Pelan-pelan bicarakan dengan kepala dingin, pasti bisa kok,” tuturku.


Meski aku senang mendengar Nadira mau dijodohkan, tapi tetap saja aku basa-basi bicara begini. Biar disangka aku ini peduli dengan dirinya. Padahal aku ingin Nadira cepat pergi, gak usah nunggu sebulan lagi.


Aku yakin, rumah tanggaku akan baik-baik saja setelah Nadira pergi dan menikah dengan laki-laki yang dijodohkan. Ya pasti rumah tanggaku dan Mas Dani akan selamat. Tapi ya tidak tahu nanti bagaimana.


“Vit, jangan pergi ya?”

__ADS_1


“Aku mau pergi ke mana sih? Kalau aku pergi ya nanti mama dan papa jadi curiga dong?” jawabku.


“Nanti bilang sama mereka, ya? Kita ke parisnya kalau aku sudah sembuh,” ucapnya.


“Kalau sudah sembuh? Mungkin kita sudah bukan suami istri. Lalu mau apa ke Paris?” ucapku.


Mas Dani diam saja. Mungkin dia baru ingat sudah mengajukan gugatan cerai. Mana bisa ke Paris dalam keadaan aku ini bukan istrinya lagi?


Mas Dani menyandarkan kepalanya di bahuku. Tidak tahu kenapa dia tiba-tiba bersandar di bahuku. Mungkin dia lelah. Tapi, memang dia orangnya manja, jadi ya begini.


“Vit, aku harus gimana?” tanya Mas Dani.


“Gimana apanya?”


“Apa aku harus merelakan Nadira?”


“Ya terserah kamu. Kalau mau kejar terus ya kejar saja. Bilang sa orang tuanya.”


“Tapi aku ini masih suamimu?”


“Ya itu urusan kamu, Mas?” jawabku


Biar saja, biar dia mikir sendiri bagaimana? Aku percaya sekali Mas Dani tidak akan berani menghadap orang tua Nadira.


“Orang tua Nadira tahu, Nadira menjalin hubungan denganku, tapi aku ini kan sudah memiliki istri, Vit?” ucap Mas Dani.


“Lagian, sperti tidak ada laki-laki lain saja? Suka sama suami orang? Ya memang sih aku dan mas dijodohkan? Dan, mas sendiri tahu, saat orang tua mas berniat menjodohkan mas dengan aku, mas belum mengenal Nadira, kan?”


“Iya, aku belum mengenal dia, tapi aku tidak mau dijodohkan, aku ingin cari sendiri, menentukan sendiri siapa yang akan menjadi istriku kelak,” jawab Mas Dani.


“Tapi, kenyataannya bagaimana? Mas tetap menikah denganku bukan? Kenapa mas gak memaksa orang tua mas untuk membataalkan perjodohan kita? Dan, mas bawa Nadira ke rumah?” ucapku.


“Sudah, Vit. Kami sudah pernah  berterus terang saat dulu, saat aku masih SMA kelas tiga, tapi mama tetap saja tidak mau membatalkannya. Dan, mama bilang sendiri sama aku dan Nadira, kalau aku ini sudah punya calon istri, jadi mau sedekat apa pun hubungan aku dan Nadira, tidak akan pernah bersatu,” jelas Mas Dani.


“Lagian sudah jelas begitu kamu dan dia malah memperumit sendiri. Serumit itu ya, hubungan percintaan mas dengan Nadira? Kadang cinta gak pakai logika juga sih, susah kalau sudah bahas soal cinta,” ucapku. “Sudah kamu istirahat, gak usah mikir macam-macam, masih ada satu bulan, kan? Kamu bisa selesaikan masalahmu dengan dia.”


Aku beranjak dari tempat tidur Mas Dani. Sebetulnya aku sudah tidak bisa menahan tangisku, saat mendengar Mas Dani menceritakan soal Nadira, dan dia kebingungan harus bagaimana? Karena Nadira mau pergi, dan mau dijodohkan, Mas Dani sampai sakit seperti ini. Mas Dani sampai kepikiran sampai segitunya. Bahagia sekali menjadi Nadira? Apa kalau aku yang pergi Mas Dani akan seperti ini? Akan merasakan kehilangan yang teramat dalam, hingga dia kebingungan mencari aku ke mana? Ah, tapi rasanya tidak akan mungkin. Siapa aku? Aku bukan orang yang ia cintai, aku hanya sebatas istri, yang tidak pernag dicintainya.


“Mau ke mana, Vit?” tanya Mas Dani dengan meraih tanganku saat aku akan beranjak dari tempat tidur.


“Ma—mau naruh mangkuk, Mas,” jawabku gugup.


“Nanti saja, kamu di sini saja, aku pinjam bahumu ya, Vit?” pinta Mas Dani.


“Iya.” Jawabku tanpa menolak. Biar saja, mungkin dia sedikit tenang dengan bersandar di bahuku. Dia masih membutuhkanku, untuk menguatkan hatinya yang mungkin sedang patah hati karena Nadir akan pergi.

__ADS_1


__ADS_2