
Tidak aku sangka pernikahanku dengan Mas Dani yang sudah berada di ujung tanduk menjadi seperti ini. Menjadi sebuah kebahagiaan yang tak ternilai dalam hidupku. Benih cinta dari Mas Dani sudah tumbuh di rahimku. Aku lihat Mas Dani begitu bahagia, dia menjadi suami yang siaga. Tidak kusangka seorang Danial yang dingin, galak, dan pemarah itu akan menjadi selembut itu padaku. Apalagi sejak tahu aku sedang hamil, dia menjai suami yang super baik, super sabar, super siaga. Dia semakin over protektif juga denganku. Aku tidak boleh ke kantor, tidak boleh kecapen, pokoknya dia terus menjagaku dua puluh lima jam. Sampai pekerjaan kantor dia bawa ke rumah, hanya untuk menemamiku di rumah.
Sekarang usia kandunganku sudah memasuki bulan ketiga. Masa-masa ngindam yang tak begitu parah, karena aku mual hanya di pagi hari saja, setelah siang, biasa saja. Makan pun aku tak banyak pilih-pilih makanan, aku doyan makan sejak hamil, hingga tubuhku berubah menjadi berisi.
Mas Dani sudah memutuskan untuk tidak mengajar lagi. Dia memilih mengurus kantor karena dia tidak mau aku kecapean. Sekarang Mas Dani sedang mengurus pensiun dini, yang katanya sudah memenuhi persyaratannya untuk itu. Padahal aku masih bisa ke kantor, karena aku sehat, aku tidak ada masalah dengan kandunganku, kandunganku kuat, aku tidak ngidam berlebihan, dan aku doyan makan pula. Tentu saja aku hamil dalam kondisi yang sehat, tapi tetap saja Mas Dani melarangku ke kantor, kadang aku kesal dengannya yang over protektif sekali. Aku ini sehat, aku bisa bekerja, tapi Mas Dani melarangnya, sampai aku jenuh sekali di rumah terus selama aku hamil.
“Kamu di rumah saja, Sayang? Orang aku ke kantor Cuma meeting saja kok? Setelah itu kerjaan aku bawa ke rumah buat menemani kamu,” jawab Mas Dani, saat aku meminta ingin ikut ke kantor.
Seperti ini setiap pagi, aku tidak diperbolehkan ikut ke kantor, padahal di sana ya aku hanya duduk saja, tidak ngapa-ngapain, karena semua pekerjaanku Mas Dani yang mengerjakan sekarang, aku hanya dibutuhkan untuk tanda tangan, atau saat ada klien yang memang harus aku temui.
“Jenuh ... sudah dua bulan lho aku di rumah, tega ih mas, ngurung istrinya terus di rumah?” ucapku kesal.
“Nanti kamu kecapean, Sayang ....” Ucapnya dengan lembut sambil mengusap kepalaku.
“Di sana Cuma duduk masa capek? Sama kan di rumah juga gini-gini saja? Aku ini sehat lho mas? Hamilku gak kebanyakan drama seperti perempuan hamil pada umumnya? Aku tidak terlalu parah mual-mualnya, paling pagi saja, itu pun kalau sudah makan aku tidak akan mual dan muntah lagi? Please ... ikut ya? Lama sekali gak ke kantor, Mas, aku ikut ya?” rengekku pada Mas Dani. Aku rayu dia, jurus rayuan mautku aku keluarkan semua supaya Mas Dani mengizinkan aku ikut ke kantor.
“Tapi di sana gak usah memberatkan dirimu untuk bekerja, ya? Nanti kamu kecapekan, Sayang?”
“Ya Allah, Mas .... Cuma duduk capek di mananya? Yang ada aku ini kurang gerak, Mas! Jadi kaku sekali badanku,” protesku.
“Ya sudah yuk ikut, kasihan istriku gak lihat dunia luar selama dua bulan?” ucapnya. Akhirnya dia luluh, dan memperbolehkan aku ikut ke kantor.
“Yeah ... benar ya boleh?”
“Iya Sayang, boleh,” jawabnya.
“Aku mau siap-siap dulu, ya?”
“Gak usah girang begitu, hati-hati jalannya, jangan lari, Vita!”
“Ih siapa yang lari sih, Mas? Aku ini jalan kok?”
“Itu tadi jalannya cepat, kek mau lari?” jawabnya.
Aku memilih bajuku untuk ke kantor, tapi Mas Dani dengan cepat mengambilkan dres selutut, dengan lengan tiga perempat, berwarna cokelat muda. Dres favoritku, aku tersenyum menerimanya, karena aku memang sedang cari dres itu, ternyata malah Mas Dani yang menemukannya lebih dulu.
“Tahu banget aku mau pakai baju ini?”
“Tahulah, ini kan cocok buat ibu hamil muda, pakai ini, kamu pasti cantik sekali,” ucap Mas Dani.
__ADS_1
“Oke, terima kasih,” jawabku.
“Aku jatuh hati pertama padamu. Saat kamu pakai baju ini. Aku selalu suka kalau lihat kamu pakai baju itu. Itu yang kamu pakai saat di anyer juga, kan?”
“Salah, ada lagi model yang sama kek gini. Ini yang lama, pas di anyer itu beli baru, tapi modelnya memang sama, bedanya hanya ada tali saja di bagian samping,” jawabku.
“Oh ya? Coba aku lihat?” pinta Mas Dani.
“Sebentar aku ambilkan.”
Aku ambil baju yang modelnya sama dengan yang tadi diambilkan Mas Dani. Bajuku memang kebanyakan sama modelnya, kadang malah sama juga warnanya, jadi mungkin orang lain tahunya bajuku itu-itu saja, padahal tidak, kadang beli tiga model sama, warna hampir senada.
“Yang ini, Mas?” tanyaku.
“Iya benar, yang ini,” jawab Mas Dani. “Sama kok? Apa bedannya?”
“Ini samping ada tali, dan model lengannya beda,” jawabku.
“Oh iya, tapi bagus yang ini.” Tunjuk Mas Dani pada dres yang pertama diambilkannya.
“Ya memang bagus yang ini, nyaman yang ini juga dipakainya,” ucapku.
“Buruan pakai bajunya. Aku suka sekali kamu pakai baju ini, baju yang membuatku terpesona dengan kecantikanmu, Vit. Yang buat aku jatuh cinta denganmu,” ucapnya.
“Kamu pasti gak percaya, aku sampai ikutin kamu ke depan waktu itu, hanya demi lihat kamu yang cantik sekali dan anggun pakai baju ini,” ucapnya serius.
“Sampai lupa Nadira ya?” sindirku.
“Ya, aku akui iya. Sampai di sekolahan pun aku masih ingin lihat kamu. Kamu ingat, kan pas aku video call sama kamu, tapi kamu sedang gugup mau meeting, ya itu karena aku masih ingin lihat kamu,” jelasnya.
“Terus Nadira dicueki gak?”
“Iya, hari itu, aku cuek dengan dia. jujur saja iya, kamu benar-benar. Jujur kamu mengalihkan duniaku saat itu. Entah mantra pikat apa yang kau rapalkan, sampai aku ini terpikat dengamu, dan ingin terus melihat kamu seharian itu. Tapi, kamu terlalu sibuk sekali. Ya sudah aku bisa apa? Dan pada akhirnya aku menunggu kamu pulang saja di rumah. Kamu pulang masih dalam bentuk yang cantik dan anggun dengan balutan gaun itu. Kamu tahu sampai malam aku tidak bisa gara-gara tersihir baju ini,” jelasnya.
“Wah ... baju ini ternyata bersejarah juga buat kamu ya, mas?” ucapku.
Awal pernikahan yang penuh dengan air mata akhirnya bisa menyambut bahagia. Mas Dani benar-benar membuktikan ucapannya. Dia sama sekali tidak berkutik hatinya saat Nadira kembali muncul di hadapannya, merengek, menangis di hadapannya, dan bilang masih sangat mencintainya. Nadira bilang tidak bisa mencintai suaminya. Mas Dani begitu ingin menghindarinya, tapi Nadira malah terus memohon dan bilang masih mencintai Mas Dani.
Aku kira Mas Dani akan luluh lagi dengan Nadira saat itu, ternyata sama sekali tidak. Dia teguh pada janjinya padaku. Untuk tidak kembali dengan Nadira, dan dia tetap akan bersamaku. Dia buktikan janjinya, aku melihat sendiri, bagaimana Mas Dani berusaha untuk menghindari Nadira saat itu.
__ADS_1
“Sudah buruan pakai bajunya,” titah Mas Dani.
Aku mengangguk, dan langsung memakai baju yang dipilihkan Mas Dani. Setelah itu, aku memoleh make up tipis pada wajahku, dan lip cream warna nude. Mas Dani memelukku dari belakang, lalu menciumi leherku. “Kamu cantik sekali,” bisiknya dengan menatap wajahku di pantulan cermin.
Tangannya mengusap perutku yang masih datar dengan lembut. Setiap hari dia tidak pernah absen untuk mengusap perutku ini. “Baik-baik di perut ibu, ya? Jangan nakal, biar ibu tetap sehat,” ucapnya.
“Iya, Ayah ... ayah juga gak usah nakal dulu ya sama ibu? Biar aku kuat dulu di perut ibu, nanti baru ayah nakalin ibu lagi,” ucapku.
“Ih apa aku nakal? Itu saja kamu yang minta? Aku malah takut mau nakalin kamu, Sayang?” protes Mas Dani. “Ibumu yang minta dinakalin ayah, Nak. Kok kamu nyalahin ayah?”
“Habis mas menggodaku,” ucapku.
“Kapan aku menggodamu? Yang ada kamu yang mulai?”
“Ya udah lagian kan sesekali saja kok,” ucapku.
“Tapi aku takut, nanti kandunganmu kenapa-napa?”
“Buktinya enggak apa-apa, kan? Anak kamu kuat, seperti ibunya, mau diterpa sejuta masalah masih tetap kuat,” ucapku.
“Iya, anakku harus kuat seperti ibunya, pintar, sabar, dan tentunya harus cantik seperti ibunya kalau perempuan,” ucap Mas Dani.
“Tentunya juga kalau laki-laki harus tampan seperti ayahnya,” lanjutku.
“Tapi, jangan menyakiti perempuan ya, Nak? Jangan seperti ayah,” ucap Mas Dani.
“Ini meluk terus mau ke kantor kapan jadinya, Mas?” tanyaku.
“Oh iya, ya sudah yuk berangkat. Kamu sudah siap, kan?”
“Sudah, sini aku pakaikan dasinya.” Aku mengambil dasi dan memakaikannya.
Aku mengambil sepatuku, aku pakai yang berhak cukup tinggi, tapi Mas Dani langsung memintaku untuk melepasnya. Mas Dani malah mengambilkan flat shoes milikku yang warnanya senada dengan dresku.
“Kamu sedang hamil, jangan pakai hak tinggi, Sayang? Pakai ini.” Ucapnya dengan memberikan sepatu tipis yang memang nyaman untuk di pakai, apalagi aku sedang hamil.
“Oke, tidak masalah. Jadi kek mau main, gak ke kantor pakai sepatu begini?”
“Kalau kamu gak hamil gak masalah pakai sepatu haknya tinggi, kamu itu lagi hamil, Sayang ... nurut ya sama aku?”
__ADS_1
“Iya iya ....”
Begitu suamiku sekarang, yang dulu bilang tidak cinta sekarang bucin setengah mati. Dulu bilang benci setiap hari, sekarang gak pernah lelah mengucapkan cinta, gak pernah lelah bucin denganku. Seperti itulah hidup, yang tadinya sengsara sekarang tumbuh bahagia. Aku bahagia Mas Dani bisa membuka hatinya untukku, dia bisa menerimaku di hatinya, dan bisa mencintaiku sedalam ini.