
Kami sudah sampai tujuan. Kami bertemu klien di cafe yang cukup terkenal. Sebelum turun, Vita memrapikan penampilannya lagi. Ia sedikit memoles wajahnya dengan make up, khususny dibagian kelopak matanya supaya tidak terlihat smbab karena habis menangis.
“Ayo mas turun.” Vita mengajakku ke dalam, dia terlihat begitu tenang, padahal aku tahu hatinya begitu hancur, saat tadi bicara seperti itu padaku.
Vita langsung mengajakku menuju nomor meja yang sudah dipesan oleh kliennya. Sudah ada dua orang pria yang menunggunya di meja tersebut, mungkin mereka adalah orang yang akan Vita temui.
“Selamat siang, Pak Adam ....” Vita menyapa kliennya yang bernama Adam yang sudah sampai lebih dulu. Mereka saling berjabat tangan.
“Selamat Siang Bu Revita,” ucapnya dengan ramah. “Silakan duduk, Bu.”
“Mohon maaf, saya terlambat, Pak,” ucap Vita.
“Tidak masalah, kami beru datang lima menit yang lalu, jadi belum lama,” ucap Pak Adam. “Oh iya, perkenalkan ini anak saya, Airlangga.” Pak Adam mengenalkan putranya pada Vita.
“Senang bertemu dengan kamu lagi, Revita Adriyana.” Dia menyebut nama lengkap Vita, dan pasti dia teman Vita atau sudah mengenal Vita sejak lama.
“Sebentar, Arilangga?”
“Airlangga Dewanata,” sergahnya dengan menyimpulkan senyuman di depan Vita.
“Astaga ... ya saya ingat, jadi ini putra Pak Adam?” tanya Vita.
“Ya betul, Bu Vita,” jawabnya.
“Masih ingat Vit?”
“Ya masih. Orang yang selalu gak mau jadi nomor dua, betulkan begitu, Pak Airlangga?” ucap Vita, “Oh iya perkenalkan ini suami saya, Danial.” Vita memperkenalkanku di depan mereka. Dan, aku tidak menyangka dia akan memperkanalkan aku dengan mereka.
“Oh ini putranya Barata? Salam kenal, saya Adam, saya dengan ayahmu sudah kenal baik sejak kami masih bujangan. Sampai sekarang, menjalin hubungan bisnis dengan baik. Tadi Barata bilang, tidak bisa bertemu dengan saya, katanya semua diserahkan sama anak dan menantunya. Kalian sangat kompak sekali, serasi sekali,” puji Pak Adam pada kami.
“I—iya, Pak. Sebetulnya saya baru saja terjun di dunia bisnis, saya belajar banyak dengan istri saya,” ucapku jujur.
“Lho kenapa? Apa tidak tertarik? Jangan seperti anakku, Airlangga juga saya paksa, supaya tahu dunia yang papanya geluti dari dulu. Dia malah lebih tertarik menjadi Dosen, tapi tetap saya paksa dia supaya tahu,” jelas Pak Adam.
“Iya saya malah lebih memilih mengajar, saya seorang guru, guru di Sekolah Dasar,” ucapku.
Oh jadi anaknya Pak Adam itu Dosen? Gak hanya aku saja yang melawan papa untuk menentukan masa depanku sendiri?
“Masa depan kan kita sendiri yang menentukan, betulkah begitu Pak Danial?” ucap Airlangga.
“Ya betul sekali. Tapi, bagaimana pun, aku juga harus tahu, apa yang selama ini papa perjuangankan, toh aku dari kecil hidup dari jerih payah papa dan mama untuk membesarkan perusahaan. Dan, saya berterima kasih sekali dengan istri saya, yang mau ikut terjun membangun perusahaan papa lebih maju. Sekarang mungkin giliran saya untuk belajar, untuk membantu istriku, meski dari jam dua siang aku baru di kantor, karena peraturan sekarang, absen pulang untuk guru SD yang PNS kan jam dua siang,” jelasku.
“Ya betul peraturannya seperti itu, Pak Danial,” ucap Airlangga.
“Tuh Pak Danial saja mau belajar, kamu ini susah sekali diajak kerja sama dengan papa,” ucap Pak Adam.
“Ya belum pengin saja, Pa,” ucap Airlangga. “Oh iya Vit, Aku kira kamu memilih jadi dosen matematika, fisika, atau kimia gitu? Ternyata malah terjun di dunia bisnis. Aku kira juga kamu masih single, Vit?”
“Ya memang ketiga mata pelajaran itu adalah pelajaran favoritku. Kita dari SMP juga bersaing untuk tiga mata pelajaran itu, bukan?” ujar Vita.
“Ya, dan aku selalu kalah, untuk mewakili olimpiade matematika, fisika, atau kimia, karena nilaiku lebih rendah dari kamu. Tapi, bangga sih, kamu dari SMP sampai SMA, selalu mengharumkan nama Sekolahan kita. Sekarang malah terjun di dunia bisnis begini?”
“Ya aku kuliah ambil Management, jurusan yang jauh dari impianku, tapi aku menikmati. Beginilah hidup, kadang apa yang kita inginkan dan kita impikan tidak harus terwujud,” jelas Vita.
“Kalian teman dari SMP?” tanya Pak Adam pada Vita.
“Ya, kami teman dari SMP, Pa. Tapi dia rival terberatku, dan aku selalu kalah,” jawab Airlangga.
“Ya memang, kenyataannya. Sekarang saja kamu kalah hebat dengannya,” ucap Pak Adam. “Ya sudah bagaimana, Bu Vita, project kita ke depan? Apa masih bisa kita lanjutkan?” tanya Pak Adam.
“Sebentar ini proposal dari saya, mungkin Pak Adam bisa pelajari dulu untuk hubungan kerja sama kita selanjutnya,” jawab Vita.
“Saya baca dulu boleh?”
“Silakan, Pak,” ucap Vita.
Setelah Pak Adam mempelajari proposal dari Vita, akhirnya Pak Adam setuju dengan tawaran kerja sama selanjutnya.
“Oke, deal!” Pak Adam menjabat tangan Vita, dan menyetujui kerja sama dengan kami.
__ADS_1
“Mudah-mudahan kerja sama kita selanjutnya berjalan sukses lagi, Pak.” Ucap Vita dengan sopan.
“Pasti, Bu Vita,” jawab Pak Adam. “Saya selalu puas dengan proposal Profit Sharing yang anda tawarkan, Bu Vita,” lanjutnya.
“Terima kasih, Pak. Pak Adam masih mempercayakan perusahaan kami,” ucap Vita.
“Karena perusahaan kamu ini perusahaan yang hebat. Kamu yang membuat perusahaan Barata berkembang pesat, Vita. Saya bangga dengan cara kerja kamu, dari awal kamu ikut Barata, menjadi asisten pribadi, sampai kamu diangkat menjadi CEO, kamu selalu terbaik di mata saya dan perusahaan saya,” puji Pak Adam.
Selesai bertemu Pak Adam dan putranya, kami kembali ke kantor. Tapi, aku ingin sekali ajak Vita makan siang, aku merasa lapar, kali saja Vita mau aku ajak lunch bareng.
“Kamu sudah makan siang, Vit?” tanyaku.
“Belum, Mas,” jawab Vita.
“Makan siang bareng yuk?” ajakku.
“Gak salah ngajak makan siang bareng?” tanya Vita.
“Iya, kamu belum makan, aku pun belum. Yuk makan siang di mana gitu?” ajakku.
“Boleh,” jawabnya.
“Mau makan di mana?” tanyaku.
“Aku pengin makan soto daging, gimana?”
“Boleh, kita ke sana, ya?”
Vita hanya mengangguk. Baru kali ini aku menawari perempuan mau makan apa, dan dijawab langsung yang dia mau. Kebanyakan perempuan ditanya mau makan apa jawabnya terserah. Sama seperti Nadira, apalagi sedang ngambek, dan gak enak hati, kalau ditanya mau makan apa, jawabannya selalu terserah. Selalu bikin pusing, dibawa ke restoran sana gak mau, sini gak mau, dan akhirnya berdebat. Sekarang Vita, padahal tadi berangkat dia nangis, hatinya tidak baik-baik, ditawari mau makan apa langsung jawab yang ia pengin.
“Oke, sudah sampai, turun yuk?” ajakku.
“Oke.”
Kami turun, dan berjalan bersisian masuk ke dalam kedai soto daging yang Vita mau. Kalau aku pikir-pikir selera makan kami lumayan sama, dia juga suka nasi campur, aku pun sama. Kemarin dia belikan sate ayam madura, aku pun suka, dan ini soto daging. Aku juga sering makan di sini, sama teman-teman guru, ya dengan Nadira juga sih.
Aku menyuruh Vita duduk dulu, lalu aku memesankan makanan untuk kami. Aku menyusul Vita setelah memesakan makanan, aku lihat Vita dia masih sibuk dengan ponselnya.
“Ya, tapi gak sering banget lah,” jawab Vita.
Dia begitu tenang, kalem, dan biasa saja, seperti sedang tidak memiliki beban. Padahal aku tahu, beban di pundaknya begitu banyak, apalagi ditambah beban dariku, yang tadi sempat membuat dia menangis.
Pesanan kami sudah datang. Vita langsung menikmatinya, sepertinya dia memang sedang ingin makan soto daging. Dia langsung menyantapnya.
“Hmm ... ini segar sekali, aku lama tidak ke sini, jadi mumpung diajak kamu, dan ditraktir kamu, aku minta ke sini,” ucap Vita. “Ayo dimakan, jangan dilihatin saja, ini enak lho, kuahnya segar, daginnya kerasa banget,” ucap Vita.
“Ini aku mau makan, tapi jangan belepotan begini makannya, Vita?” Aku mengusap bibirnya dengan tissue.
“Ih biar aku sendiri, saking menikmatinya tahu, Mas! Ayo buran makan,” ucapnya.
Dia cantik sekali ternyata. Pantas tadi Airlangga lihat Vita sampai seperti itu, tidak berkedip lagi? Lihatin Vita terus, eh ujungnya minta nomor telefon Vita, untung saja Vita tidak memberikan nomornya, dengan alasan dia sudah menikah dan tidak bisa memberikan nomor telefon sembarangan pada orang, apalagi lawan jenis, dan untung saja Pak Adam langsung menegur Airlangga, saat minta nomor telefonnya Vita, juga membenarkan pernyataan Vita, kalau Vita tidak asal sembarangan memberikan nomor telefon pada orang lain, apalagi pada lawan jenis.
Pak Adam juga sangat memuji Vita yang bisa menjaga nama baiknya, hanya karena Vita menolak dengan sopan saat Airlangga meminta nomor telefonnya. Iya benar apa yang Pak Adam katakan, Vita memang bisa menjaga diri, dan menjaga nama baik suaminya. Apa aku harus melepaskan perempuan yang sangat baik seperti Vita?
Aku lihat Vita sedikit kesusahan dengan rambutnya yang tergerai saat sedang makan. Dia memang jarang mengikat rambutnya kalau sedang bekerja, dia membiarkannya tergerai, tapi sangat rapi. Entah berapa uang yang ia keluarkan untuk perawatan rambutnya agar selalu terlihat rapi.
“Vit, bawa ikat rambut, atau jepit rambut?” tanyaku.
“Ada di tas, untuk apa?” jawab Vita.
“Sini berikan padaku, aku pinjam,” ucapku.
“Sebentar aku ambilkan.” Vita langsung mengambilkan jepit rambut dan memberikannya padaku. “Untuk apa sih, Mas?” tanya Vita.
“Sudah sini aku pinjam,” pintaku.
Aku beranjak dari tempat dudukku setelah menerima jepit rambut dari Vita. Aku mendekati Vita, lalu ke belakang Vita.
“Ih mas, mau apa?” tanya Vita.
__ADS_1
“Aku lihat kamu makan susah sekali dengan rambutmu. Biar aku jepit dulu,” ucapku.
“Oh, terima kasih,” jawab Vita canggung.
Aku kembali melanjutkan menghabiskan sotoku. Memang enak dan segar sekali sotonya. Cocok dimakan saat siang hari, saat cuaca seperti sekarang. Setelah selesai, aku membayar ke kasir, dan Vita masih menunggu di tempat duduknya. Aku antre di belakang perempuan yang sedang membayarnya, aku seperti mengenalinya dia Wulan, dari tadi berarti ada Wulan di sini, entah dengan siapa dia di sini.
“Wulan?” sapaku.
“Hai, Dan? Sama istri, ya? Romantis sekali, katanya gak cinta?” ucapnya.
“Kamu dengan siapa di sini? Dari tadi?” tanyaku.
“Tuh dengan orang yang ada di belakangmu,” jawabnya. Aku menoleh, dan ada Nadira di belakangku.
“Enak ya? Kerja bebas, makan siang berduaan, romantis lagi, begitu perlakuannya dengan istri yang katanya tidak kamu cintai? Ya namanya sering bersama, gak mungkin gak saling cinta nantinya. Emang benar aku yang harus pergi, Dan!” ucap Nadira.
“Nad, aku bisa jelaskan semua ini. Kami baru saja menemui klien, ke sini makan siang karena kami belum makan siang,” jelasku.
“Gak usah dijelaskan, Mas. Sudah jelas kok!” ucapnya. “Ayo pulang, Lan!”
“Nadira tunggu!” Aku menghentikan Nadira, tapi dia tidak menghiraukannya. Aku gak mau ribut dilihat orang banyak, apalagi Vita sudah melihatku dan mendekatiku. “Mbak meja nomor sembilan, ini saya bayar, kembalian buat mbak saja.” Aku langsung mengejar Nadira, dan aku juga melihat Vita berjalan cepat mendatiku.
“Nadira, tunggu! Aku bisa jelasin!”
“Untuk apa sih, Mas? Memang aku yang harusnya pergi, Mas. Aku ini bukan siapa-siapanya kamu, dia istrimu! Aku tidak mau mengganggu rumah tangga orang, Mas!”
“Nadira, aku bilang sama kamu, sabar, Nad. Butuh proses untuk aku berpisah dengan Vita!” ucapku dengan mencengkeram lengan Nadira.
“Lepasin, Mas! Sakit tahu!” ucapnya.
“Aku memang mau menceraikannya, kamu sabar dong, Nad!” pekikku.
“Iya, Nad. Kamu yang sabar. Aku sedang menunggu Mas Dani mengajukan gugatan cerai kok, kami di sini, karena kami habis menemui klien, kebetulan kami sama-sama belum makan siang, jadi ya kita makan siang dulu,” jelas Vita. “Kamu bisa sabar menunggunya, kan? Gak semudah membalikkan telapak tangan untuk kita berpisah, Nad,” imbuhnya.
“Kamu dengan dia bilang apa kan, Nad?”
“Sudah mas, antar dia pulang. Selesaikan masalah kalian dulu, aku balik ke kantor sendiri saja,” ucap Vita.
“Kamu gak apa-apa balik sendiri?” tanyaku.
“Ya gak apa-apa, lagian kan dekat?” jawabnya.
“Ayo, Nad! Pulang sama aku,” ajakku.
“Gak usah! Aku sama Wulan saja!”
“Ayo Nadira, biar kamu gak negatif terus pikirannya sama aku!” ajakku memaksa.
Aku melihat Vita sudah menghentikan taksi. Setega inikah aku dengan dia? Dia istriku tapi aku memprioritaskan pacarku. Aku bingung, tidak tahu harus bagaimana. Aku kesal dengan Nadira yang seperti ini, tapi aku juga tidak enak dengan Vita.
“Mas duluan, ya?” pamit Vita.
“Ehm ... i—iya Vit,” jawabku.
Bodoh sekali aku, aku malah membiarkan dia pergi sendirian, pulang sendirian ke kantor. Harusnya tidak seperti ini? Hanya karena Nadira yang merajuk seperti itu, aku membiarkan Vita pulang sendiri. Aku mengantarkan Nadira pulang ke rumahnya. Tapi, pikiranku ke Vita. Aku yakin dia tidak baik-baik saja sekarang.
“Kita sudah saja, Mas. Jangan dilanjutkan hubungan ini, aku sadar aku ini siapa. Kamu lelaki bersuami, harusnya kita tidak usah memulai hubungan ini lagi setelah kamu menikahi Vita,” ucap Nadira.
“Aku sudah membahas cerai dengan Vita. Aku hanya tinggal mencari pengacara, sore ini memang aku mau menemui temanku yang pengacara untuk mengajukan gugatan, Nad. Aku mohon kamu sabar, Nad,” ucapku.
“Tidak usah bercerai, itu artinya aku merusak rumah tangga orang, Mas,” ucapnya.
“Aku dan Vita tidak saling mencintai, jadi tidak mungkin kita meneruskannya,” ucapku.
“Gak bisa gitu, Mas. Aku tahu kamu belum sentuh dia, tapi aku tidak mau merusak rumah tangga orang.”
“Tolong, Nad. Aku minta kamu sabar,” ucapku.
Aku dan Nadira saling diam setelah membicarakan soal rencana perceraianku dengan Vita. Aku tidak tahu, saat dengan Nadira aku gelisah memikirkan Vita, tapi saat dengan Vita, aku tidak peduli Nadira, padahal Nadira sedang marah denganku dari tadi pagi. Sekarang aku melepaskan Vita pulang sendiri, rasanya begitu sesak dadaku, apalagi melihat raut waja Vita saat tadi pamit untuk pulan lebih dulu.
__ADS_1
Aku mengantar Nadira sampai depan rumah saja. Aku bilang pada Nadira kalau aku masih ada pekerjaan, jadi aku langsung balik ke kantor. Aku lajukan mobilku dengan cepat, karena aku ingin tahu Vita bagaimana. Aku menghubungi nomor Vita, aktif, tapi tidak diangkat. Mungkin dia sedang tidak mau bicara denganku.
Sesampainya di kantor, aku langsung menemui Vita di ruangannya. Tidak ada Vita di dalam ruangannya. Aku tanya Tantri, dan kata Tantri Vita sedang ada di ruang meeting. Syurkur dia sudah sampai di kantor. Aku begitu khawatir dengannya. Aku menunggu dia di ruanganku, dan meminta Tantri untuk menyampaikan pada Vita, kalau selesai meeting suruh ke ruanganku.