Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Pagi Bahagia


__ADS_3

“Vi—vita?” Dani melepaskan pelukan Nadira, lalu Vita mendekatinya.


Vita berhambur memeluk suaminya, lalu mencium bibir Dani dengan lembut. “Aku gak mau kamu masih merasakan pelukan Nadira. Karena hanya aku yang boleh memelukmu, dan menciumi, seperti ini.” Vita mencium bibir Dani lagi cukup lama, dan Dani pun membalas kecupannya.


“Sudah, Sayang ... ini di tempat umum,” ucap Dani.


“Biar saja, orang penjaga Vila juga tahu aku ini siapa? Dan, Vila ini milik siapa?” jawab Vita.


“Tapi gak boleh gini, ini tempat umum, Sayang ... Kita nanti puas-puasin di kamar saja,” bisik Dani, tapi masih bisa terdengar oleh Nadira.


“Ayo aku katanya mau beli cemilan, aku juga lapar lagi, Mas,” ajak Vita.


“Oke, ayo kita ke sana,” ajak Dani.


Dani tidak menghiraukan Nadira yang masih berdiri terpaku setelah melihat Vita memeluk dan mencium bibir Dani dengan begitu bergairah. Sebetulnya Dani sedikit tidak enak, meski dia sudah tidak mencintai Nadira, tapi dia juga tetap harus menjaga perasaan Nadira, apalagi Nadira bilang kalau dirinya masih mencintainya.


Tapi saat sudah jauh dari Nadira, raut wajah Vita berubah. Tetap saja Vita cemburu, meski tadi sudah membalas dengan apik kecemburuannya di hadapan Nadira, tetap saja hatinya masih sesak melihat Nadira memeluk suaminya, apalagi Nadira terus bicara kalau dirinya masih mencintai Dani.


“Vita?”


“Iya, kenapa?”


“Kok gitu wajahnya? Kamu marah sama aku?” tanya Dani.


“Marah kenapa, Mas? Aku bangga, aku bahagia, karena kamu benar-benar sudah memilihku, Mas. Karena kamu mencintaiku, tapi aku kesel, aku marah, kenapa dia memeluk kamu, dan kamu membalas pelukannya?” ucap Vita kesal dengan mata berkaca-kaca.


“Ssstt ... sudah kita bahas di kamar ya? Kamu mau beli apa, ayo pilih sepuas kamu, kamu mau beli cemilan apa? Sudah jangan gini, jangan nangis, nangis boleh nanti di kamar saja,” ucap Dani


Vita mengangguk. Dani tahu Vita pasti marah karena tadi Nadira memeluknya dan dirinya juga membalas pelukan Nadira.  Dani tidak menyangka akan bertemu Nadira di Vila, dan pastinya Nadira pun dengan suaminya, kok bisa-bisanya ketemu dengan dirinya berani mengungkapkan perasaannya pada dirinya, juga memeluk dirinya?


“Nadira bisa-bisanya begitu? Tadi dia memelukku, dan pastinya di sini ada suaminya, gak mungkin dia menginap di Vila sendirian? Ada suami saja dia berani seperti itu? Apalagi gak ada?” gumam Dani.


Vita mengambil pembalut, dan mata Dani langsung menajam melihat Vita yang mengambil pembalut. “Kamu haid, Sayang?” tanya Dani.


“Enggak, buat persiapan saja sih, kali saja keluar dadakan, soalnya ini kan sudah jadwalku menstruasi, Mas,” jawab Vita.


“Tapi aku rasa, kamu gak akan menstruasi, karena akan ada Dani junior di dalam perut kamu,” ucap Dani dengan yakin.


“Ih jangan ngarang? Nanti aku sudah senang, aku terlambat datang bulan, aku cek negatif?” ucap Vita.


“Tapi percaya deh, aku yakin kamu hamil, Vit,” ucap Dani.


“Aamiin ... semoga saja ya, Mas? Aku pengin punya anak kembar,” ucap Vita.

__ADS_1


“Mau anak kembar, atau satu, yang penting kamu dan bayimu sehat, Sayang?” ucap Dani.


“Iya sih, itu harus,” ucap Vita.


“Lebih baik, kamu minum susu ini, Sayang. Ini kan susu buat perencana kehamilan, dan beli testpack, ya? Kali saja rezeki kita di bulan ini?”


“Ehm ... boleh, tapi kalau negatif, kamu jangan kecewa ya?” ucap Vita.


“Bukannya kamu yang kecewa dan sampai nangis pas bulan kemarin?” ujar Dani.


“Iya sih, habisnya aku takut mengecewakan kamu, Mas,” ucap Vita.


“Jangan begitu, anak itu juga rezeki, Sayang?”


Nadira kembali ke kamarnya. Dia duduk di sofa dengan mengingat kejadian tadi saat Vita langsung memeluk Dani dan menciumnya. Dani juga memanggil Vita dengan panggilan sayang, dan Nadira melihat dengan jelas sorot wajah mata Dani yang menyiratkan kalau Dani mencintai Vita, sangat mencintainya.


“Kamu cepat sekali melupakan aku, Mas? Aku belum bisa melupakan kamu, Mas, meski aku sudah menyerahkan semuanya pada suamiku, aku begitu karena aku menghormati dia sebagai suamiku, dan karena itu kewajibanku sebagai seorang istri untuk memberikan hak pada suamiku. Aku sungguh masih mencintaimu, Mas Dani. Bahkan bercinta dengan suami pun, aku selalu membayangkan kamu yang sedang menjamah tubuhku,” gumam Nadira.


^^^


Setelah dua minggu pulang dari liburan, Vita belum kunjung datang bulan. Dia tidak yakin mau test, karen takut hasilnya negatif, nanti malah mengecewakan suaminya.


Vita menggeliatkan tubuhnya, meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu mellihat jam di ponselnya. Sudah pukul empat pagi. Vita memang sudah biasa bangun pagi sekali.


“Ke kamar mandi, mau cuci muka, terus ke belakang,” jawab Vita.


“Sudah ada bibi, biar semua yang mengerjakan bibi, kamu gak usah ikut-ikutan. Sini  saja sama aku di kamar, temani aku tidur lagi,” pinta Dani.


“Ehm ... ya sudah,” ucap Vita nurut dengan suaminya.


“Vit, aku rasa kamu kok belum datang bulan setelah dari Vila kemarin, ya? Sudah dua minggu ini lho, Vit?” tanya Dani.


“I—iya sih mas. Aku tahu, aku sadar kalau aku belum datang bulan,” jawab Vita.


“Lalu kenapa gak kamu testpack, Vit?” tanya Dani.


“Takut, takut negatif, nanti kamu kecewa,” jawab Vita.


“Jangan gitu dong, Vit? Ayo mumpung masih pagi, kamu juga baru bangun tidur, cek yuk aku temani?” ajak Dani.


“Yakin mau menemani?” tanya Vita.


“Iya ayo aku temani, katanya kalau pagi kan akurat. Yuk aku temani kamu, biar kamu gak panik sendirian,” ajak Dani.

__ADS_1


Vita beranjak dari tempat tidur, pun dengan Dani. Vita mengambil alat tes kehamilan yang dibelikan Dani kemarin saat di Vila.


“Sudah siapkan semua? Yuk ke kamar mandi,” ajak Dani.


Vita mengangguk, dia berjalan mendahului Dani, dia masuk dulu ke kamar mandi, lalu menampung air seninya ke dalam cawan kecil. Setelah itu dia memanggil suaminya untuk ke dalam.


“Mas, kamu yang mencoba ngetes, aku takut,” ucap Vita.


“Ih mas gak bisa, sudah coba kamu saja, mas di sini kok.”


Vita mencelupkan benda pipih itu ke dalam cawan, tidak hanya satu, tiga benda itu dicelupkan secara bergantian, lalu setelah itu dia menunggu reaksinya beberapa menit.


“Tuh kan negatif semua?” ucap Vita dengan kecewa.


“Sabar ... ditunggu, jangan buru-buru,” tutur Dani.


“Tapi kan memang sat .... Mas kok dua garis?” ucap Vita dengan mata berbinar dan wajah yang berubah menjadi bahagia.


“Tuh kan, mas bilang apa? Sabar, sayang ... tuh lihat dua semua kan garisnya?” ucap Dani.


“Jadi aku ....” ucap Vita dengan mata berkaca-kaca di depan Dani.


“Ya, kamu hamil, sayang. Selamat, kamu akan menjadi ibu,” ucap Dani dengan bahagia, dia memeluk Vita dan tak terasa cairan bening keluar dari sudut matanya.


“Kamu akan jadi ayah, Mas,” ucap Vita.


“Iya, kita akan jadi orang tua. Jaga anakku ya, Sayang? Kamu jangan kecapean, nanti siang aku antar kamu ke dokter, kita tanya berapa usia bayi kita di dalam kandungan kamu,” ucap Dani.


“Iya, Mas. Terima kasih ya, Mas? Aku mencintaimu,” ucap Vita.


“Iya, sama-sama, aku juga mencintaimu, Sayang,” ucap Dani.


Dani memeluk istrinya lagi. Pagi ini, pagi yang bahagia untuk Dani dan Vita.


“Ya Allah, terima kasih, aku diberi kesempatan untuk menjadi seorang ayah,” ucap Dani.


“Sudah subuh, sholat yuk?” ajak Dani.


“Iya, ayo ambil air wudhu,” ucap Vita.


Vita pun bahagia, akhirnya yang ia nantikan tiba juga. Dia bahagia pagi ini, karena sebentar lagi dirinya akan menjadi ibu.


“Terima kasih, Ya Allah ... atas segala nikmat dan karunia-Mu,” ucap Vita dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2