
Aku tidak tahu, kenapa aku ingin melihat Vita tersenyum bahagia. Ya, Vita terlihat begitu bahagia malam ini, namun dalam bahagianya, dia menyimpan sejuta kesedihan. Sedih karena aku, aku yang membuatnya sedih dari kemarin malam. Malam ini aku hanya fokus untuk membahagiakan Vita, karena setelah ini tidak akan lagi yang seperti ini lagi. Mungkin ini adalah awal sekaligus akhir aku membahagiakan Vita.
Vita sudah berada di kamar, dia masih belum mengganti bajunya. Dia begitu cantik malam ini, dengan gaun berwarna maroon. Ia berdiri di depan meja, dengan mencium bunga yang aku berikan tadi. Mawar putih untuk Vita, perempuan yang masih suci, berhati bersih, baik, dan elegant. Seperti layaknya mawar putih itu, bersih, suci, cantik, dan elegant. Aku tahu dia baru saja menangis, tapi ia cepat-cepat menyembunyikan tangisnya ketika aku datang.
“Kamu suka mawarnya?” tanyaku dengan memeluknya dari belakang.
“Suka, ini sangat cantik,” jawabnya.
“Seperti kamu malam ini, Vit,” ucapku.
“Kamu bisa saja, sebenarnya gak hanya malam ini saja aku terlihat cantik, sepertinya setiap hari aku merasa aku ini cantik, tapi mas gak pernah melihatnya,” ucapnya dengan tersenyum, lalu menaruh bunganya, dan melepaskan tanganku yang ada di perutnya. “Terima kasih ya, Mas?” ucap Vita, dengan mencium tanganku. “Untuk malam ini, malam yang mungkin selanjutnya tidak akan ada lagi.”
“Iya, sama-sama. Ya sudah ganti bajumu, lalu kita tidur,” ucapku.
“Oke, mas juga ganti bajunya,” ucapnya.
“Habis ini kita lanjut di ranjang, ya? Mama sama papa kan minta cucu? Ibu dan ayah juga?” ucapku.
“Lanjut di ranjang? Sadar mas, kamu sudah menggugatku lho? Lagian belum menggugat juga, aku tidak mau melakukannya sebelum kamu benar-benar mencintaiku. Aku tidak mau, kalau anakku lahir di dunia ini bukan karena cinta kita, hanya karena nafsu saja, dan karena orang tua kita menginginkan cucu. Banyak alasan yang bisa kita berikan pada orang tua kita, kenapa kita belum memiliki anak, tapi apa ada alasan untuk anak kita, ketika dia bertanya kita saling cinta atau tidak?” ucap Vita.
“Iya, kamu benar, Vit. Ya sudah aku belajar mencintaimu dulu boleh?” tanyaku.
“Lalu Nadira?” tanya Vita.
Aku terdiam. Iya, bagaimana dengan Nadira kalau aku belajar mencintai Vita? Dari kemarin malam aku sama sekali tidak mengingatnya, hanya Vita, Vita, dan Vita yang ada di kepalaku setelah aku memberikan surat gugatan padanya. Aku bahkan tidak tahu ponselku sekarang di mana, ada panggilan dari Nadira atau tidak, aku tidak memedulikannya.
__ADS_1
“Kok gak jawab, Mas? Kamu kan punya dia, mencintai dia, sudah melakukan hal yang seperti itu pula? Kok bisa-bisanya kamu bilang mau belajar mencintaiku?” ucap Vita.
“Sudah lupakan itu, Vit,” ucapku.
“Jangan bilang kamu akan menikahinya tanpa menceraikan aku? Aku tidak sudi dimadu, Mas!” ucapnya penuh penekanan.
“Iya enggak lah Vit, masa mau poligami?” ucapku.
Bagaimana bisa poligami yang sah, paling bisanya aku menikahi nadira dengan nikah siri? Kalau sah jelas tidak bisa, aku ini PNS, tidak bisa menikahi dua wanita yang sah sesuai negara dan agama.
“Ya sudah lepaskan aku, nikahi Nadira. Lagian mumpung aku dan mas belum terlalu dalam,” ucap Vita.
“Iya, nanti itu kan sedang di urus. Ya sudah aku ke kamar mandi dulu, aku mau ganti baju.”
Vita mengangguk, lalu aku mengambil baju ganti, aku bawa ke kamar mandi, tidak mungkin aku ganti baju di depan Vita, yang ada dia teriak seperti tadi pagi saat aku hanya pakai handuk saja yang aku lilitkan di pinggangku.
“Enak ya, sedang sama istri sampai lupa sama aku yang katanya akan diperjuangkan?”
“Sudahlah, tidak usah sok membuat hatiku tenang, dengan kamu bilang mau menceraikan Vita secepatnya? Sampai sekarang saja kamu gak ada kabar, Mas? Kamu malah seprtinya senang bersama dengan Vita. Oh iya, kalian nginep di hotel, kan? Pasti kalian tidur sekamar, enak dong bisa mantap-mantap dengan istri? Begitu yang bilang mau memperjuangkan aku, tapi lupa saat di hotel bersama istrinya?”
Banya sekali pesan dari Nadira, dia marah denganku. Memang aku salah, aku memang lupa dengan dia, terakhir aku kasih kabar dua jam sebelum aku memberikan surat gugatan pada Vita. Aku memang belum bilang sama Nadira kalau aku sudah mengajukan gugatan cerai pada Vita. Aku sudah mengurus cerai dengan dibantu temanku yang pengacara. Aku mengambil surat gugatannya, dan aku foto, lalu aku kirim ke Nadira.
“Aku sudah mengurusnya, tinggal menunggu sidang saja, Nad. Maaf aku sibuk sekali, banyak sekali pekerjaan, Nad. Aku mohon kamu ngerti aku di sini kerja, bukan senang-senang, dan lihat surat gugatan itu sudah ditandatangani Vita, artinya Vita setuju untuk pisah. Tenang saja, kamu sabar ya? Tinggal nunggu jadwal sidang saja. Aku sangat mencintaimu, Nad. Aku mohon kamu sabar ya, Sayang?”
Aku membalasnya seperti itu. Memanga kenyataannya seperti itu, aku sudah mengajukan gugatan cerai, Vita menyetujui, dan aku juga sibuk dengan pekerjaanku. Kalau untuk makan malam tadi, itu hanya selingan saja, karena aku ingin membahagiakan Vita sebelum kita berpisah. Hanya itu tujuanku, aku memang ingin belajar mencintai Vita, tapi benar kata Vita, bagaimana dengan Nadira? Tidak mungkin aku meninggalkan Nadira karena aku sangat mencintainya, sedangkan dengan Vita, aku hanya kagum, dan baru ingin mencoba belajar mencintainya.
__ADS_1
Aku melihat balasan dari Nadira. Dia membalas pesanku tapi seakan di menyuruhku untuk tetap dengan Vita.
“Terlambat, Mas. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang. Aku sadar, aku ini tidak pernah diterima oleh orang tuamu, dari dulu mamamu juga sudah bilang padaku kalau kamu sudah dijodohkan. Aku sadar, aku ini salah. Jangan cerai, Mas. Cukup di sini saja hubungan kita. Maaf.”
Aku gak tahu kenapa Nadira mengirim pesan seperti itu. Tidak biasanya dia seperti itu. Yang ada dia itu selalu marah kalau aku balas pesan terlambat, apalagi tidak angkat telefonnya? Dia marah dan tidak mau membalas pesanku lagi. Dia membalas seperti ingin melepaskanku. Aku yakin dia sedang tidak baik-baik saja, dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku mencoba menghubunginya, tapi dia tidak mua mengangakatnya, dia malah mengiri pesan lagi padaku.
“Besok aku ingin bicara penting dengan mas. Bisa luangkan waktu sebentar kan, Mas?”
“Sekarang saja, angkat telefonnya!”
“Besok saja, Mas. Aku tidak bisa kalau sekarang. Lagian sudah mau jam satu, aku ngantuk.”
“Kita biasa telfonan sampai subuh, Nad. Jangan alasan sudah larut malam dan sudah ngantuk!”
“Aku dari tadi pagi sibuk, Mas. Nanti besok saja, aku bersih-bersih rumah sampai sore, aku benar-benar ngantuk. Besok ya, Sayang?”
“Terserah kamu, Nad! Kamu ini aneh tahu!”
“Sudah besok saja, selamat malam, selamat istirahat mas. Aku sangat mencintaimu.”
“Nad, kamu baik-baik saja, kan?”
“Iya, aku baik-baik saja, Mas. Ya sudah istirahat, sampai ketemu besok ya, Sayang?”
__ADS_1
“Iya sayan, mimpi indah. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”
Aku tidak tahu, rasanya Nadira aneh sekali. Dia marah-marah tapi ujungnya begini. Apa yang akan dia sampaikan padaku besok? Dia ini kenapa? Ada apa dengan Nadira? Sepertinya ada yang dia sembunyikan.