Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Ancaman Papa dan Mama


__ADS_3

Kami sampai di rumah Nadira. Aku melihat rumah Nadira terbuka dan ada mobil pick-up yang parkir di depan rumah Nadira, yang sudah bermuatan perabotan rumah Nadira. Aku yakin Nadira sudah mulai lagi membawa barang-barangnya untuk di bawa ke rumah orang tuanya.


Aku melihat Nadira sedang bicara dengan sopir mobil tersebut, dan memberikan secarik kertas juga uang padannya. Benar, Nadira pasti sudah mulai menyicil membawa perabotan rumahnya untuk di bawa ke rumah orang tuanya.


Kami turun, saat sopir mobil Pick-up sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Nadira.


“Mas Dani?”  panggil Nadira lirih. “Ibu, bapak, silakan masuk.” Nadira menyalami mama dan papa dengan sopan.


Mama dan papa masuk, begitu juga aku. Nadira ke belakang, lalu membuatkan kami minum. Setelah itu, Nadira menyuguhkan minuman dan kue di depan kami.


“Silakan, Pak, Bu, diminum dulu, adanya seperti ini.” Ucapnya dengan ramah. Aku yakin Nadira tahu kedatangan kami ke sini untuk apa. Dan untuk membahas apa.


“Maaf sebelumnya, ini Mas Dani kok sama ibu-bapak?” tanya Nadira.


“Tentunya kamu sudah tahu kami ke sini mau apa,” jawab mama. “Kami ke sini ingin melamar kamu. Bukankah kalian masih saling berhubungan? Sebentar lagi Vita akan menceraikan Dani, dan selanjutnya, kalian bebas, kalian menikah!” tegas mama.


“Bisa undang papa dan mamamu ke sini? Secepatnya?” pinta papa.


“Maaf, Pak, Bu, ini kenapa jadi begini, ya? Melamar saya? Maaf, saya sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Mas Dani, sejak saya memutuskan untuk menikah dengan pria pilihan orang tua saya. Jadi saya mohon maaf, tidak usah memperpanjang masalah ini lagi Pak, Bu. Saya dan Mas Dani sudah selesai,” ucap Nadira.


“Ini bisa dijamin kalian benar-benar selesai. Atau kamu menikah dengan pria lain hanya untuk kedok saja? Nanti lanjut selingkuh lagi dengan suami orang!” sarkas mama. “Saya lihat penampilanmu lebih baik dari Vita. Kamu menutupi tubuh kamu, tapi kenapa kamu membukannya di depan suami orang?”


“Bu, maaf itu urusan pribadi saya. Mau saya berpakaian seperti apa, mau saya bagaimana, bukan urusan ibu. Saya bisa jamin saya tidak akan kembali dengan anak ibu. Saya jamin itu!” tegas Nadira.


“Tapi kalau sampai kejadian lagi, kamu mau menanggung konsekuensinya? Kalian itu para abdi negara, pekerjaan kalian sangat mulia, apa mau pekerjaan kalian hancur karena saya laporkan kepada kepala Dinas? Saya tahu orang dalam semuanya! Mau kamu kehilangan jabatan kamu yang sudah membuat orang tuamu bangga hanya karena kamu jadi orang ketiga dalam rumah tangga orang? Banyak sekali para PNS yang harus dipecat atau dipindah tugaskan di daerah terpencil karena mereka ketahuan selingkuh, atau menjadi istri siri dari suami orang. Apa kamu mau menyusulnya?” ancam papa.


“Saya minta tolong, kalau kehadiran ibu dan bapak hanya mau membahas soal ini, tolong sudah, cukup! Saya jelaskan lagi, saya akan pergi dari sini, saya juga sudah bilang dengan Vita, sudah meminta maaf dengannya, saya juga sudah bilang kalau saya akan pergi, karena saya sudah pindah tugas, dan akan menikah. Jadi tolong jangan diperpanjang lagi masalah ini. Apalagi tadi mau melamarku, supaya aku menikah dengan Mas Dani? Itu tidak mungkin, Bu. Mungkin kalau dulu ibu menerimaku, aku mau, sekarang saya tidak mau, karena saya sadar, saya harus punya ibu mertua yang bisa menerimaku, dan bahkan sayang denganku. Seperti ibu menyanyangi Vita,” ucap Nadira.


“Ma, Pa, dengar sendiri apa yang Nadira bilang, kan? Sudah ma, untuk apa diperpanjang. Ayo pulang,” ajakku.

__ADS_1


“Yakin bisa jamin kamu tidak akan kembali hadir di depan anakku?”


“Iya yakin, saya jamin itu tidak akan mungkin, Bu!” jawab Nadira dengan tegas.


Aku tidak mau perselisihan ini berlanjut. Aku tidak ingin mama marah-marah di sini, nanti kalau tensinya mama tinggi yang ada aku yang kena masalah lagi, papa pasti marah besar denganku.


“Ma, sudah ya? Ayo pulang?” ajakku.


“Bagus kalau kamu bisa jamin. Jangan sampai orang Dinas menghapus namamu dari daftar Pegawai Negeri Sipil!” tegas papa. “Atau saya kasih surat peringatan saja dari Dinas? Saya hubungi orang dalam untuk membuatkan surat pernyataan dan surat peringatan untuk kalian berdua?” ancam papa.


“Tolong jangan diperpanjang masalah ini, Pak,” ucap Nadira merendah.


“Papa, sudah, ayo pulang,” ajakku.


“Pulang ya, Nad. Aku minta maaf untuk kejadian ini,” ucapku.


“Iya, sudah kamu baik-baik, Mas. Kamu cari Vita. Tolong terima dia, jangan kecewakan dia, jangan sakiti dia lagi,” ucap Nadira.


“Mas, besok aku sudah tidak mengajar lagi di sekolahan, aku sudah pindah. Ternyata aku diterima untuk mempercepat kepindahanku, dan hari ini aku terakhir di sini. Aku minta maaf kalau selama ini aku banyak salah, Mas,” ucap Nadira.


“Iya, good luck di tempat kerja baru, ya? Semoha kamu sukses dan bahagia,” ucap Dani. Aku tidak bisa memungkiri, melihat Nadira hati ini sakit, apalagi dia pamit denganku dalam keadaan begini. Aku tidak peduli ada mama dan papa. Aku raih tubuh Nadira, aku memeluknya. “Maafkan aku, sudah membawamu ke kehidupanku sejauh ini. Kamu harus bahagia, Nad,” ucapku.


“Kamu juga. Ya sudah, kamu cari Vita gih, jangan sampai kamu pisah dengan perempuan sebaik Vita,” ucap Nadira dengan melepaskan pelukanku.


“Iya, Nad. Aku akan cari Vita,” ucapku.


“Pak, Bu, saya minta maaf sebesar-besarnya. Dan saya pamit, saya akan jamin saya tidak akan kembali merusak rumah tangga Mas Dani dengan Vita. Jika itu terjadi saya siap dengan apa pun konsekuensinya,” ucap Nadira.


“Iya, sukses di tempat yang baru, ya? Buktikan kalau kamu bisa bahagia tanpa Dani. Maafkan ibu juga, sudah bicara kasar dengamu,” ucap mama.

__ADS_1


“Kamu harus bisa hidup bahagia, Nadira. Perkara tidak bisa hidup dengan orang yang kita cintai itu bukan perkara sulit. Kamu akan menemukan kebahagiaan dengan orang baru yang akan tulus mencintaimu. Nikmati setiap prosesnya, saya yakin kamu akan menemukan titik kebahagiaan dalam kehidupanmu di masa depan,” tutur papa.


“Iya, Pak. Terima kasih atas nasihatnya,” ucap Nadira.


“Ya sudah, kami pamit,” ucap mama.


“Iya, hati-hati, Pak, Bu,” ucap Nadira.


Kami diantar Nadira sampai ke depan. Aku sedikit lega melepaskan Nadira. Yang masih membuatku bingung di mana Vita sekarang?


“Kamu kok di belakang, Dan?” tanya papa.


“Papa saja yang nyetir, kepalaku pusing,” jawabku. Padahal tadi aku pusing, muter-muter kepalanya, tapi dari kantor aku bisa nyetir sampai rumah Nadira.


“Kamu ini aneh, tadi bisa nyetir sampai sini?” tanya papa.


“Sudah, papa saja yang nyetir, antar aku pulang ya, Pa? Papa bawa mobil Dani saja, kepala Dani sakit, Pa,” pintaku.


“Iya papa antar kamu pulang.”


Aku melihat sekeliling jalan, barangkali aku melihat mobil Vita. Mama bilang Vita pergi lagi setelah bilang semuanya pada mama. Aku harus cari dia ke mana? Aku tidak bisa begini, aku sudah yakin dengan hatiku, kalau aku mencintai Vita. Aku mengambil ponselku, lalu aku hubungi Vita. Terhubung, tapi tidak diangkat Vita. Aku coba terus untuk menelefon Vita, dan tetap saja tidak diangkat olehnya. Aku coba kirim pesan padanya.


“Pulang ya, Vit? Jangan pergi, aku mohon, Vit.”


“Vita ... pulang, Vit. Jangan ceraikan aku.”


Pesanku hanya dibaca Vita saja. Tapi, tidak dibalasnya. Aku telefon tidak diangkat juga.


“Vita ... kamu di mana?” ucapku dengan terisa. “Ma, Pa, pasti mama tahu di mana Vita, kan? Ma, tolong jangan diam saja? Di mana Vita? Aku yakin mama dan papa tahu Vita di mana?” tanyaku pada mama dan papa.

__ADS_1


“Maaf, Dan. Mama tidak bisa mencegah Vita pergi, memang tadi kami bertemu, dengan ayah dan ibunya Vita juga, tapi setelah itu Vita pamit pergi, katanya mau menenangkan diri,” jelas mama.


Aku tidak bisa membiarkan dia pergi begitu saja. Aku harus bisa menemukan Vita, aku yakin dia masih ada di sini, paling dia pulang ke rumah ibu.


__ADS_2