Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Dia Selalu Bisa Menjaga Diri


__ADS_3

Vita langsung menyiapkan makanan untukku setelah bersih-bersih dan ganti pakaian, pun aku, aku pun sama. Aku sudah ganti baju dengan baju santai. Vita menyiapkan sate ayam yang tadi dibelinya, dan mengambilkan nasi untukku.


“Jangan banyak-banyak nasinya, Vit. Sudah malam soalnya, ini makan saja Cuma buat ganjal perut yang dari tadi sudah lapar,” ucapku.


“Oke,” jawab Vita.


Vita menata makanannya di atas meja makan, lalu dia duduk di sebelahku, menemani aku makan malam sendirian. “Kamu benar gak mau makan lagi?” tanyaku.


“Enggak, nanti minta satenya saja satu atau dua tusuk. Ayo mas makan dulu, harus cobain ini enak lho?” ucap Vita dengan mengambilkan satu tusuk sate padaku. Aku langsung mencicipinya, benar rasanya enak. Makannya laris manis sekali sepertinya, tadi saja yang makan di sana bermobil semua?


“Hmmm ... ini enak sekali, Vit,” pujiku. Memang benar-benar enak sate ayam langganan Vita dan teman-temannya. Pantas saja yang beli orang-orang bermobil semua.


“Iya kan enak? Ya sudah habiskan kalau enak,” ucap Vita.


“Nih kamu mau, ayo aaa ....” Aku menyuapi Vita, Vita ragu untuk membuka mulutnya, tapi aku paksa untuk membuka mulutnya. “Ayo buka mulutnya, ini sayang lho sudah di depan mulutmu?” bujukku.


Vita mmebuka mulutnya, aku suapi dia, dia tersenyum di depanku, dan mengunyah satenya dengan perlahan. Dia benar-benar sempurna menjadi wanita.


“Hai, jangan lihatin aku terus, itu satenya sini aku habiskan,” pinta Vita dengan menyentuh lenganku.


“Ah iya, maaf,” jawabku. Aku suapi Vita lagi, supaya satu tusuk habis dimakannya. “Ih belepotan nih, kek anak kecil kamu,” ucapku dengan reflek mengusap bibirnya dengan jari telunjukku.


“Ah maaf, biar aku bersihkan sendiri,” ucap Vita gugup dengan menundukkan wajahnya yang sudah merah merona.


“Biar aku saja, pakai tissue,” ucapku. Tapi, Vita malah mengambil tissue yang sudah aku ambil. “Aku bisa sendiri, Mas. Mas lanjut makannya,” ucapnya sambil mengambil tissue dari tanganku.


“Ya sudah, aku lanjut makan lagi ya?” ucapku.


“Oke, tapi aku minta dua tusuk lagi, ya?” pinta Vita.


“Hmmm ... iya silakan, Vit. Besok ajak aku makan di sana, ya?” pintaku.

__ADS_1


“Yakin? Gak malu makan sama aku di pinggir jalan?”


“Ih malu kenapa? Orang sama istrinya?” jawabku.


“Is—istri? Sepertinya aku benar-benar terhormat sekali dianggap kamu istri, mas?” ucap Vita.


“Ya ... benar kan kamu istriku?” ucapku dengan gugup. Entah kenapa aku merasa aneh saja dengan diriku, dan reflek bicara seperti itu. Memang dia istriku tapi aku tak pernah menganggapnya, dan baru malam ini aku terang-terangan bilang seperti ini.


“Sekarang diakui istri nih? Sudah ditalak lho kemarin?” ucapnya.


Aku diam, mulutku juga berhenti mengunyah makanan. Aku tersadar, kemarin aku meminta cerai dari dia. Iya aku bicara seperti itu, aku ingin bercerai dengannya, karena aku ingin menikahi Nadira, tapi kenapa malam ini aku bicara seperti ini, aku menyuapi dia juga?


“Lupa ya sudah menjatuhkan talak padaku? Sadar gak kemarin pengin cerai dariku karena mau menikahi kekasihmu?” ucapnya dengan tersenyum, tapi manik matanya terlihat sendu menatapku. “Ah sudah mungkin kamu lupa, tapi aku ingat kok,” ucapnya lagi.


“I—iya, kemarin aku bicara seperti itu, tapi bukan maksudku untuk ....”


“Untuk apa? Sudah tidak usah dipikirkan, iya besok aku temani kamu makan di sana,” ucapnya. “Kan sampai belepotan makannya?” ucapnya dengan mengusap bibirku. “Ih kok sampai ke leher, Mas? Ups ... bukan sambal ternyata, tapi ... ah ya sudah lanjut makannya, Mas.”


“Vit, mau lagi gak?” tanyaku supaya Vita tidak diam lagi.


“Sudah, buat mas saja. Nanti mas kurang,” jawabnya dengan suara sedikit parau.


“Kamu sudah ngantuk, Vita?” tanyaku.


“Ya belum sih,” jawabnya.


“Ini mau lagi gak, ayo aku suapi lagi,” bujukku lagi. Aku yakin Vita tidak enak hati melihat bekas merah di leherku. “Ayo buka mulutnya, aaa ....”


“Ih maksa banget mas ini!” ucapnya, tapi dia membuka mulutnya. “Lagi nih, habiskan.” Aku suapi Vita lagi. Vita meneguk air putih di depannya, padahal itu air putih milikku. Aku mengambil sisa air putihnya lalu aku meminumnya.


“Itu sudah aku minum, kenapa mas minum?” ucapnya.

__ADS_1


“Gak apa-apa, lagian kamu ambil Cuma satu gelas?” jawabku.


Vita hanya senyum saja, pasti dia masih memikirkan tanda merah itu. Aku ini benar-benar gak bisa banget jaga perasaan Vita.


“Vita?” panggilku.


“Iy, Mas?”


“Maaf kamu jadi lihat tanda merah di leherku, tadi aku ....”


“Gak usah dilanjut, Mas. Aku tahu kok,” jawabnya dengan tersenyum nanar.


“Tapi gak sampai lebih, Vit.”


“Lebih pun gak apa-apa, itu kan hakmu, dosamu sendiri dengan kekasihmu, Mas?” jawabnya lugas. “Aku ke kamar ya, Mas? Ngantuk,” ucapnya lalu langsung meninggalkanku.


Aku tahu dia marah. Memang seharusnya tadi aku dan Nadira tidak usah melakukan itu. Tapi, kenapa aku gak enak hati banget sama Vita? Padahal biasana aku menyakiti dia, tapi malam ini aku tidak tega melihat Vita yang langsung seperti itu wajahnya.


Aku melihat ponsel Vita tergeletak di meja makan, dia pasti lupa membawanya. Ponselnya dari tadi bergetar, seperti ada pemberitahuan chat atau apa. Aku penasaran dengan ponsel Vita, aku ambil dan aku buka tombol kuncinya. Ada kata sandinya, kira-kira apa kata sandinya? Ulang tahunnya? Atau apa? Kalau ulang tahunnya, aku tidak tahu tanggal dan bulan lahirnya? Aku coba pakai tanggal ulang tahunku, dan ternyata tidak bisa juga. Sudah pede sekali aku? Aku kira pakai sandi tanggal lahirku? Apa tanggal pernikahan kita? Iya, mungkin saja. Aku coba, dan benar sandinya pakai tanggal pernikahan kami. Apa begitu berarti pernikahan ini, hingga dia memakai tanggal pernikahan kami untuk kata sandinya? Sedangkan selama dia menikah denganku, aku selalu jahat dengannya?


Aku membuka aplikasi yang bergambar icon kamera. Ada DM dari akun yang bernama Arif, aku buka dan aku baca. Dia chat biasa saja, tanya kerjaan, tanya kabar saja, tanya project, dan tidak ada yang lebih dari itu. Katanya mereka saling suka, chat kok bahas kerjaan saja? Aku beralanjut buka aplikasi WhatsApp dan aplikasi chat lainnya. Huh! Gak ada yang menarik, adanya Cuma tanya soal pekerjaan dan pekerjaan. Dan terakhir, aku buka aplikasi warna biru dengan simbol huruf F. Banyak sekali inbox dia dengan Arif. Aku scrool ke atas terus, sampai dari awal mereka chat mungkin? Aku baca satu perasatu. Aku melihat chat Arif, yang menyatakan cinta, dan memanggilnya sayang.


Dan tanggapan Vita begitu santai sekali, lalu Vita membalasnya, “Jangan cintai aku, aku sudah dipingit, aku sudah bukan permpuan bebas, aku sudah terikat, dan tolong hargai pertemanan kita, Rif.”


Dan setelah itu, hanya chat biasa saja. Meski Arif sering memancing romantis dalam chatnya, Vita hanya menanggapi biasa saja. Dan, satu lagi saat Arif mengajak dia jalan, Vita selalu melibatkan Firda, untuk diajak bersama.


“Kamu tahu sendiri, Rif? Aku ini sudah dijodohkan, mau tidak mau aku harus mau, aku tidak mau menentang orang tuaku. Dan, kenapa aku ajak Firda, karena aku menghargai keluarga calon suamiku. Aku tidak bebas jalan dengan laki-laki, berdua saja, meski hanya sekadar teman. Karena kalau ada salah paham, pasti akan sulit dijelaskannya.”


“Iya, aku paham itu. Oke tidak masalah ajak Firda, sama siapa lagi, biar rame-reme, Vit.”


Sepertinya inbok ini dari mereka kuliah, atau SMA. Sudah lama sekali, tapi masih tersimpan rapi. Padahal chat biasa saja. Dia begitu menjaga dirinya. Bukan hanya dirinya saja, tapi nama baik keluarganya, dan nama baik keluargaku.

__ADS_1


__ADS_2